


oleh Aulia Hazuki · 93 Bab
Mau bertahan di sekolah swasta terbaik Adiguna Jawara? Buktikan dirimu dengan menjadi siswa terbaik di kelasmu. Dua peringkat terbawah akan mendapat konsekuensi mengerikan, diasingkan dan dianggap tidak ada. Sampai akhirnya, ada seorang siswa yang muak dengan sistem ekstrim itu dan mulai menggalang perlawanan terhadap sekolah.
"Gila, ada ujian masuk segala?!" kata seorang cowok berusia 14 tahun berpenampilan sedikit urakan dengan celana jins pendek sobek dan kaus panjang putih.
"Wajar, Rak. Sekolah swasta unggulan," jawab lawan bicaranya, seorang cowok tampan dan manis berkacamata berusia sama, rambut sedikit berantakan, dengan pakaian rapi kaos pendek santai dan celana pendek. Dia sedang memutar bola basket di tangannya.
Keduanya sedang berada di pinggir lapangan basket di kompleks perumahan mereka. Hanya ada mereka saja di sana.
"Untung aku nggak sepintar kamu, Dri. Aku nggak bisa bayangin bakalan semual apa aku baca semua buku itu," balas Raka, sambil menatap ngeri tumpukan buku di atas meja belajar Adrian, sahabatnya.
Adrian tersenyum lebar.
"Ah lebay ah, nggak segitunya kok," katanya.
Raka mendengkus.
"Nggak segitunya buatmu, maksudnya. Buat aku sih jelas itu masalah besar. Untung ayah sama ibuku tahu kalo aku nggak terlalu pintar di pelajaran, jadi nggak diforsir, awikwokwok," katanya satir.
Adrian cengengesan.
"Aku nggak tahu harus nanggapin gimana kata-kata sarkas kamu itu," balasnya.
"Tapi kamu jago mekanik. Harusnya emang kamu masuk di SMK," lanjutnya.
Raka akhirnya ikut cengengesan.
"Kamu emang pengertian," balasnya.
Adrian langsung merinding mendengar kata-katanya.
"Hiyyy, jijik kali sama omonganmu, Rak!" katanya.
Raka langsung ngakak.
"Wkwkwk ayolah main satu kali lagi, Dri. Sebelum kamu susah diajak ngapa-ngapain. Lagian kenapa juga si Keenan sama Febri nggak bisa datang, kan jadi nggak seru," katanya. Dia lalu berdiri.
Adrian ikut berdiri.
"Wajar. Mereka lagi dihukum gara-gara nilai mereka di ambang nilai kelulusan kan, nggak boleh main-main sampai pengumuman lulus SMA," jawabnya.
"Yoklah sebelum sore. Nanti aku traktir minum es teler Pak To," lanjutnya.
"Horeee!!! Thanks!!!" sorak Raka dengan girang seperti anak kecil.
Mereka lalu bermain basket bersama lagi. Keduanya tampak penuh semangat. Sesekali mereka tertawa dan saling ejek.
Ketika jam menunjukkan pukul empat sore, mereka akhirnya mengakhiri permainan.
"Gila. Capek banget," kata Raka ngos-ngosan.
"Jangan lupa es teler Pak To," tambahnya yang membuatnya langsung dilempar bola basket oleh Adrian, yang untung segera sigap ditangkap olehnya. Dia segera terkekeh.
"Kalo udah masuk ke sana, kira-kira bakalan bisa sering kumpul bareng nggak, kita?" tanyanya kemudian, tiba-tiba melamun.
Adrian menenggak air putih dalam tumblernya.
"Aku usahain, tapi nggak janji," balasnya.
Raka langsung tampak merengut.
"Keenan sama Febri juga ngomong gitu," keluhnya.
Adrian lalu menepuk pundak sahabatnya.
"Tenang aja, Rak. Aku bakal usahain ada waktu," balasnya.
Raka mengangguk.
"Tapi aku dengar SMA Adiguna Jawara itu ketat banget? Setelah sekolah masih ada les tambahan dan ekstrakurikuler," katanya dengan ragu.
Adrian mengangguk.
"Yah, sesuai sama apa yang dibayarkan sih ya. Les sama ekskul itu termasuk fasilitas dari sekolah juga," katanya.
"Jadi nggak perlu les di luar lagi karena pengajarnya udah terjamin," tambahnya.
Raka gantian mengangguk.
"Oiya uang pangkalnya berapa?" tanyanya tiba-tiba.
Adrian mendengkus lalu segera mendekatkan mulutnya ke telinga sahabatnya itu.
Raka segera tersentak.
"Anjir buset 25 juta?!!!" serunya lalu ditambah segala makian yang tidak pantas dikeluarkan oleh bocah seumur dirinya.
Adrian langsung terkekeh.
"Koleksi kata makian kamu tambah mantap aja, wkwkwk," balasnya.
"Ya udah ayo segera makan es, kita," katanya sambil menepuk pundak Raka.
***
Malamnya, Adrian mulai membuka buku-bukunya. Belum lima menit dia belajar, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
"Masuk, Bun," katanya.
Bunda Adrian lalu masuk sambil membawa nampan yang di atasnya ada segelas susu putih dan soft cookies sepiring penuh.
"Jangan terlalu forsir diri kamu, Dri. Bunda nggak mau kamu sakit sebelum ujian," kata beliau lembut. Bunda Adrian adalah seorang wanita cantik di usianya yang sudah memasuki empat puluh tahun.
Adrian segera menggeleng.
"Nggak apa-apa, Bun. Toh biar bikin bangga Bunda sama Ayah juga," katanya.
Bundanya segera tersenyum.
"Ayah kamu pasti bangga, Dri. Tapi beneran ya, jangan terlalu memforsir diri kamu." Beliau memperingatkan sekali lagi.
Adrian mengangguk. Ayahnya adalah seorang pebisnis yang sering dinas di luar negeri. Biasanya beliau pulang sebulan sekali dengan durasi menginap selama seminggu. Walaupun begitu, keluarga mereka tetap rutin berkomunikasi lewat panggilan video maupun telepon. Ayah Adrian juga rutin memberikan semangat dari jauh kepada anak laki-laki satu-satunya itu.
"Siap Bun, makasih," kata Adrian lalu tersenyum.
Tiba-tiba seseorang masuk dan sebuah tangan terulur mengambil soft cookies milik Adrian.
"Eeeh! Masuk-masuk main ambil makanan orang aja!" seru Bunda sambil menepuk si pemilik tangan usil itu.
Amara, adik Adrian, segera mengusap tangannya. Dia adalah gadis berusia sepuluh tahun, cantik, dengan rambut bergelombang sepanjang bahu.
"Ish, Bunda. Kan aku lapar," katanya membela diri.
Bundanya segera memelototinya.
"Kamu udah ambil dua jatah punya Bunda, lho! Masa masih lapar?" tegur beliau jengkel.
Amara segera nyengir sambil mengunyah kue di mulutnya.
"Nggak apa-apa Bun, kan masih masa pertumbuhan," balasnya ketika sudah menelan makanannya.
"Awas gendut, Ra," kata Adrian tiba-tiba.
Amara langsung memelototi kakaknya.
"Ish Kakak! Jangan ngomong gitu, ih! Aku ideal, lho!" katanya membela diri.
Adrian segera ngakak.
"Nanti kalo kamu sering ngemil, beneran jadi gendut, lho," godanya lagi pada adiknya.
Amara lalu cemberut.
"Bilang aja pelit, nggak mau bagi-bagi makanan enak," balasnya pedas.
Bundanya segera memukul pelan lengannya.
"Kamu udah ambil dua jatah Bunda, lho, emangnya itu masih juga kurang?" gerutu beliau.
Adrian langsung ngakak lagi.
Karena merasa disudutkan oleh kedua anggota keluarganya, Amara segera merasa jengkel. Setelah menghabiskan kuenya, dia segera mengeloyor pergi sambil terus menggerutu.
"Anak itu, ya! Makan terus kerjaannya! Giliran disuruh bantu cuci piring ada aja alasannya!" keluh Bunda kemudian.
Adrian segera cengengesan.
"Ntar dia juga paham, Bun. Dia belum sadar apa itu tanggung jawab dan berbagi pekerjaan rumah," katanya.
Memang, Adrian dan Amara bertugas membantu Bunda di rumah. Bunda memasak, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Adrian mencuci baju di mesin cuci, sementara Amara ditugaskan mencuci piring. Dengan begitu Bunda mereka tidak akan terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Ya udah, Bunda keluar dulu, Dri. Jangan begadang, ya," kata Bunda memperingatkan.
Adrian segera mengangguk.
"Siap, Bun!"
Setelah Bunda pergi, Adrian meneruskan belajarnya. Sekitar jam setengah sepuluh, dia berhenti dan meregangkan tubuhnya yang kaku dan capek. Dia lalu memandang kalender meja di atas meja belajarnya. Angka 20 Mei dilingkari dengan spidol merah.
"Sebentar lagi ujian masuk. Aku harus bisa," tekadnya lalu mengangguk.
Dia lalu memandang tumpukan buku di depannya sambil melamun.
"Kalau aku berhasil masuk, ke depannya gimana, ya? Apa SMA Adiguna Jawara benar-benar semengerikan itu?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hanya detik jam yang kemudian terdengar memenuhi telinganya.

Aulia Hazuki
32 Pengikut · 6 Novel