


oleh Yellow Flower · 96 Bab
Kehidupan Nayla kecil jauh dari kata normal. Ia tumbuh di rumah yang penuh kekerasan, menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya dengan kasar. Di sekelilingnya, kekerasan bukan hal asing seperti pembunuhan dan jeritan minta tolong. Lingkungan yang keras membentuk Nayla menjadi pribadi yang pendiam, waspada dan penuh luka. Saat beranjak dewasa, hidup kembali mengkhianatinya. Ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dan hanya satu pria yang datang menolong meski tak mampu menghapus trauma yang tertinggal. Nayla mencoba bertahan, meski bayangan masa lalu terus menghantui. Sosok misterius mulai muncul, melindunginya dari bahaya. Siapa dia? Sosok yang membela kaum perempuan?
Sore itu, langit menggantung kelabu di atas rumah kecil Nayla. Ayam-ayam berlarian di halaman, mengejar bayangan mereka sendiri. Nayla duduk di bawah pohon jambu, menggambar di tanah dengan ranting. Usianya baru tujuh tahun tetapi badannya paling tinggi di antara teman seusianya.
Di dalam rumah, suara benturan terdengar lagi. Nayla berhenti menggambar. Ia tahu suara itu. Sudah terlalu sering. Ia merangkak pelan ke arah jendela, mengintip dari celah tirai.
Hana-Mamanya, sedang berdiri gemetar di sudut dapur. Joko-Papanya, mendekat dengan langkah berat. Kata-kata kasar meluncur dari mulutnya, lalu tangan itu terangkat. Nayla menutup mulutnya, menahan suara tetapi matanya tetap terbuka.
Malam-malam seperti ini bukan hal baru. Malam itu berbeda.
Nayla terbangun lagi. Kali ini, suara dari kamar sebelah bukan hanya benturan. Ada suara yang menjerit tertahan. Ia mendekat, mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Di sana, ia melihat mamanya dalam posisi setengah telanjang. Membuat tubuh kecil Nayla membeku.
Joko memperlakukan Hana dengan cara yang kasar, penuh amarah dan tak manusiawi. Nayla tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi tetapi ia tahu satu hal, itu bukan cinta. Itu kekerasan.
Ia mundur perlahan, lalu berlari ke kamar. Di bawah selimut dan bantal, ia menangis tanpa suara.
Pagi harinya, matahari menyelinap masuk lewat celah jendela tetapi tak membawa kehangatan. Hanya cahaya pucat yang menyentuh lantai kamar Nayla, menyinari boneka kelinci yang sudah kehilangan satu telinga.
Ia duduk memeluk lutut, menatap kosong ke arah dinding. Suara ayam berkokok tak lagi terdengar lucu. Semuanya terasa menjengkelkan.
Di meja makan, Hana menyajikan nasi dan telur dadar. Tangannya gemetar saat menuang kecap. Ada lebam samar di bawah matanya, disamarkan bedak tipis yang tak cukup menutupi. Joko duduk di ujung meja, mengunyah tanpa suara, seperti tak terjadi apa-apa semalam.
Nayla menatap piringnya. Ia tak lapar tetapi ia tahu harus makan. Kalau tidak, papanya bisa marah.
“Habiskan!” Joko menatap tajam, suaranya tajam seperti ancaman. Nayla mengangguk cepat, menyuap perlahan. Di seberang meja, Hana tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan.
Setelah sarapan, Nayla berangkat sekolah. Langkahnya pelan, tasnya bergoyang di punggung. Di jalan setapak menuju sekolah, ia bertemu Susi-teman sekelasnya. Susi mengenakan pita merah muda di rambutnya tetapi matanya sembap.
“Kamu kenapa?” tanya Nayla pelan.
Susi mengangkat bahu. “Papa mukulin Mama lagi tadi malam,” bisiknya. “Aku sembunyi di bawah meja. Mama nangis terus.”
Nayla berhenti berjalan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kata-kata Susi seperti gema dari malam yang baru saja ia alami. Ia ingin memeluk Susi tetapi tubuhnya kaku. Ia hanya menggenggam erat tali tasnya.
“Kenapa Papa kita kayak gitu, ya?” tanya Susi, menatap tanah.
Hari itu di kelas, Nayla tak bisa fokus. Suara Ibu Guru terdengar seperti bisikan jauh. Ia menatap papan tulis tetapi yang ia lihat adalah bayangan kamar semalam.
Mamanya. Papanya. Jeritan itu. Ia menggambar di buku tulisnya, bukan huruf, bukan angka tetapi garis-garis gelap yang berputar seperti pusaran air.
Setelah jam istirahat, Susi tak masuk kelas. Katanya sakit perut, tetapi Nayla tahu itu bukan karena sakit perut. Itu karena takut.
Malamnya, rumah kembali sunyi. Joko belum pulang. Hana duduk di ruang tamu, menjahit baju yang robek. Nayla duduk di lantai, memeluk lututnya.
“Mama,” katanya pelan. “Kenapa Papa suka marah?”
Hana berhenti menjahit. Ia menatap anaknya, lalu tersenyum lemah. “Papa capek, Sayang. Kerja keras buat kita.”
“Di bawah mata Mama, sakit?" tanya Nayla khawatir.
“Sudah, Nayla. Jangan pikirin itu. Kamu jadi anak pintar, ya? Nanti kalau sudah besar, kamu bisa jagain Mama.”
Nayla mengangguk. Di dalam dirinya, sesuatu berkata, kenapa harus nanti? Kenapa bukan sekarang?
Malam itu, ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah rumah yang gelap. Semua pintu tertutup tetapi dari balik salah satu pintu, terdengar suara tangisan. Ia mendekat, mengetuk pelan.
Nayla terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan mata lagi tetapi matanya tetap terbuka.
Keesokan harinya, kabar itu menyebar cepat di sekolah. “Papanya Susi semalam kecelakaan,” bisik seorang anak.
“Jatuh dari tangga,” kata yang lain.
Ada yang bicara. “Kepalanya bocor.”
Nayla berdiri di depan kelas, mendengarkan. Tangannya mengepal. Ia menoleh ke arah bangku kosong Susi. Hatinya berdebar.
Nayla pulang sekolah dengan langkah pelan. Langit mendung, seperti menahan hujan yang tak jadi turun. Di tangannya, buku tulis penuh coretan gelap. Ia tak tahu kenapa ia menggambar pusaran itu tetapi ia tak bisa berhenti.
Di rumah, Hana menyambutnya dengan senyum lelah. “Gimana sekolahnya, Sayang?”
“Biasa,” jawab Nayla singkat. Ia masuk kamar, meletakkan tas, lalu duduk di lantai. Boneka kelinci itu masih di sana, diam, seperti tahu segalanya.
Malamnya, Joko pulang lebih awal. Bau rokok dan keringat memenuhi ruang tamu. Hana buru-buru menyajikan teh. Nayla duduk di sudut, memperhatikan. Ia tak bicara. Ia hanya mengamati.
Joko menyalakan televisi, lalu mengomel soal pekerjaan. Hana mengangguk-angguk, mencoba menenangkan tetapi Nayla tahu, badai akan datang. Ia bisa merasakannya.
Tak lama kemudian, suara bentakan kembali memenuhi rumah. Hana terdiam. Nayla berlari ke kamar, menutup pintu, lalu duduk di bawah meja. Ia memeluk boneka kelinci itu erat-erat.
Di luar, suara pecahan piring. Jeritan pendek. Lalu sunyi.
Nayla menutup telinga tetapi suara itu tetap masuk. Ia menggambar lagi di lantai, pusaran, garis tajam. Tangannya bergerak sendiri. Ia tak tahu kenapa.
Malam itu, ia tak bermimpi tetapi saat terbangun, ada bekas goresan di lantai kamarnya. Goresan yang ia tak ingat membuatnya.
Pagi harinya, Hana tak bicara banyak. Di bawah matanya, lebam baru. Joko sudah pergi. Rumah sunyi.
Di sekolah, Susi kembali masuk. Ia duduk diam, tak bicara. Nayla mendekat.
“Kamu nggak apa-apa?” bisiknya.
Susi menatapnya. “Papa di rumah sakit. Kata Mama, dia jatuh sendiri tetapi kata Papa ada lelaki bertubuh tinggi besar memakai baju hitam mendorongnya.”
Nayla mengangguk lalu bertanya. “Kapan Papamu jatuh?”
“Semalam,” jawab Susi.
Nayla duduk di bangkunya, menatap jendela kelas yang buram oleh embun. Di luar, daun-daun trembesi berguguran pelan, seperti hujan yang tak jadi turun.
Ia tak tahu kenapa tetapi malam itu terasa berbeda. Sejak mimpi itu, sejak suara tangisan dari balik pintu. Sejak pagi tadi, saat ia melihat goresan-goresan di lantai kamarnya tajam, melingkar, seperti ditulis oleh tangan yang bukan miliknya.
Di rumah, Hana menyisir rambut Nayla sebelum tidur. “Besok hari Jumat. Boleh bawa bekal yang kamu suka,” katanya, mencoba terdengar ceria.
Nayla mengangguk tetapi pikirannya melayang. Ia tak bisa berhenti memikirkan Susi dan papa Susi.
Malam itu, sebelum tidur, Nayla berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri. Lama.

Yellow Flower
66 Pengikut · 5 Novel