


oleh Dayunie · 40 Bab
Rayya hanya ingin menghindari perjodohan dengan Johan, orang yang nyaris merenggut kesuciannya. Namun, lelaki yang dia bayar untuk berpura-pura sebagai pilihan hatinya ternyata terlalu lihai bersandiwara. Rayya terjebak dalam dua pilihan: jujur dan menerima Johan, atau meneruskan sandiwara bersama lelaki yang mungkin adalah penipu ulung.
Rayya mengemudikan mobilnya menuju area parkir. Dia melihat kedua sahabatnya mengobrol di kursi taman. Rayya bergabung, duduk di samping Dian dan minum softdrink yang terletak di antara mereka.
“Sudah datang tanpa salam, minum tanpa ijin pula.” Dian protes minumannya ludes.
“Pelit! Ini yang kamu sebut sahabat rasa saudara?“
“lya iya, bercanda. Ambil deh sebanyak yang kamu mau.” Dian mendadak ingat betapa royal temannya itu.
“Telat.”
“Kamu kenapa sih, Ayy? Perasaan dari minggu lalu nggak semangat banget. Kusut banget tuh muka.” Lisa bosan juga melihat tingkah sahabatnya.
Rayya tidak menjawab. Dia memutar bola mata malas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Untung saja dia berhijab. Kalau tidak, bisa kusut rambutnya diacak karena kesal.
“Tau tuh si Ayy, disuruh kawin kok malah sedih. Kalau aku langsung embat aja. Kan asik ada yang nemenin bobo.” Dian nyerocos sok tahu.
“Itu kamu, dasar mesum!” Rayya mencubit lengan Dian.
“Aww, sakit, Ayy. Astaga, cantik-cantik ganas.”
“Makanya, mulut tuh pake filter. Ngomong seenak udel. Bukannya ngasih solusi juga.” Lisa ikutan ngomel.
“Loh, justru aku tuh ngasih solusi. Rayya disuruh nikah sama cowok tampan. Apa susahnya, coba.” Dian lalu memutar tubuhnya menghadap penuh pada Rayya. Dia memberikan ide yang menurutnya amat brilian. “Sudah waktunya kamu berburu cowok untuk dibawa ke depan papamu.”
“Berburu? Kamu pikir aku nyari binatang?” Rayya menatap Dian dengan galak. Dia tersinggung dengan diksi temannya itu.
“Yang bilang gitu siapa?” Dian jadi emosi. “Maksud aku tuh, kamu harus mulai nyari cowok ganteng tajir yang sesuai kriteria papamu.”
Rayya tampak ingin protes, tapi buru-buru Dian lanjut bicara, “Iya, aku tahu kamu anti pacaran. Aku nggak nyuruh kamu nyari pacar beneran kok. Tapi pacar pura-pura. Yaa semacam pacar sewaan gitu, jadi kamu yang nentukan aturannya. Gimana?” Dian berhenti bicara dan tersenyum sambil menaik turunkan alis, merasa puas dengan solusinya.
Memangnya dia se-tidaklaku itu?
Ini Rayya, anak bungsu seorang konglomerat dari Jakarta yang hijrah ke Kalimantan, berwajah cantik, kulit putih mulus, berpenampilan sopan. Apa lagi yang kurang, coba? Rekan bisnis ayahnya saja mengantri untuk memintanya jadi menantu dan istri.
Fakta itulah yang membuat Rayya jengkel. Papanya merasa tak enak hati selalu menolak dengan alasan masih kuliah, padahal Nadya—putri pertama Rizal Wijaya—menikah dengan dosennya, dan ya saat statusnya masih mahasiswi. Kini dia sudah berbahagia dengan keempat anaknya. Ditambah lagi teror penculikan gadis-gadis cantik yang rata-rata adalah mahasiswi selama dua tahun terakhir. Bagaimana orang tuanya tidak khawatir?
Masalahnya, lelaki yang disodorkan papanya adalah Johan, orang yang nyaris memperkosanya dua tahun lalu. Tidak ada yang percaya saat Rayya keukeuh menceritakan segala keburukan lelaki bejat itu, termasuk kelakuan minusnya saat masih berseragam putih abu. Bahkan orang yang disangka pelaku percobaan pemerkosaan masih mendekam di penjara. Keluarganya malah menuduhnya mengada-ngada karena tak ingin dijodohkan dengannya.
Bukannya dipuji, Dian malah dapat toyoran di kepala. “Dasar teman gak guna. Bisa-bisanya kamu nyuruh aku nipu orang tuaku.”
Dian menatap Lisa mencari dukungan, yang ditatap hanya mengedikkan bahu.
***
“Ayy, gimana ideku tadi. Bagus, kan?” Dian bertanya sambil menuang sambal ke dalam mangkuk bakso.
“Bagus apanya? Yang ada kalau ketahuan bisa digantung aku,” jawab Rayya sambil mencelupkan pentol bakso ke dalam kecap manis yang tadi dituangnya di atas piring kecil. Anak sultan selera jelata.
“Berarti fix, kamu terima aja tawaran papa kamu. Entar seserahannya biar kami yang nyusun. Karena kita setia kawan, biar ikutan dapat, kita buat semuanya rangkap tiga.”
Lisa tertawa mendengar kata rangkap tiga. “Itu seserahan atau makalah?”
“Bukan, soal ujian. Ujian hidup Rayya, hahaha.”
Rayya menatap sebal kedua sahabatnya. “Seneng, ya, liat sahabat sendiri menderita.” Dia melempar remasan tisu ke arah Dian.
“Bercanda, Ayy. Eh, ada Faisal, Ayy.”
Rayya mengikuti arah pandangan Dian. Faisal, lelaki jebolan pesantren idola Rayya, tengah asyik menikmati sepiring gado-gado. Kemeja bermotif kotak-kotak yang kancingnya dibiarkan terbuka menampilkan kaos berwarna abu muda. Celana kain yang ujung bawahnya hanya sampai mata kaki sempurna mengekspos sneakers yang menutupi kaki, jangan lupakan kabel kecil menjuntai dari dalam telinga kanannya terhubung ke ponsel yang terletak di atas meja. Rayya menebak-nebak, kalau bukan murottal, lelaki itu mungkin sedang mendengarkan ceramah dari ponselnya.
Rayya mengenal Faisal sejak hari pertama masuk SD. Bocah ceria berambut ikal yang meminjaminya pensil saat kotak pensilnya tertinggal di mobil papanya. Mereka berteman hingga lulus. Mereka berpisah saat Rayya memilih sekolah umum sedangkan Faisal memilih masuk pesantren.
“Idaman banget ya, Ayy,” kata Dian membuyarkan memori Rayya.
Lelaki itu masih di sana. Memasukkan suapan terakhir ke mulutnya lalu meneguk air putih dari botol minumnya sendiri. Rayya ingat, dia dulu sering berbagi bekas bibir di mulut botol yang sama. Mungkinkah dia punya kesempatan mengulang kenangan manis itu?
“Buruan, Ayy, ajak dia ketemu papamu. Buktikan kekuatan cinta mengalahkan harta dan tahta.” Dian terus saja nyerocos, tidak tahu perang dalam batin Rayya.
Faisal, lelaki yang kini tidak akan menatapnya lebih dari lima detik. Bagaimana mungkin dia menggandeng tangannya tanpa status halal?
Rayya menarik napasnya, tepat ketika Lisa melakukan hal yang sama. Dia tahu, di meja itu bukan dia satu-satunya yang menaruh harapan.
***
Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter, seorang gadis cantik mengerjapkan mata. Dia memindai sekeliling. Ada sebuah meja rias, jendela dan pintu yang tertutup rapat. Gorden berwarna hijau, dinding kamar berwarna abu muda. Ini jelas bukan kamarnya.
Handle pintu tiba-tiba bergerak. Gadis itu menutup mata, pura-pura belum sadarkan diri.
“Bangunlah, kamu butuh makan.”
Suara bariton itu membuatnya membuka mata. Percuma berpura-pura, dia sudah ketahuan.
“Tidak usah sok perhatian padaku! Lepaskan aku!” Gadis itu menolak sepiring makanan yang tampak lezat di atas meja.
“Jangan membuatku menggunakan cara kasar, makan atau aku yang akan memakanmu.”
Lelaki itu meletakkan jempolnya di pipi kiri dan jari lainnya di pipi kanan gadis itu, sedikit memberi tekanan. “Habiskan makanmu, kau perlu stamina untuk tugas pertamamu.” Lalu lelaki itu melangkah keluar dan mengunci pintu.
Dia berjalan melewati koridor, lalu memasuki kamar yang lebih besar. Meja kaca menjadi tujuannya. Dia duduk di kursi yang empuk sambil menyusun beberapa foto di atas meja. Semua berparas cantik dan masih muda. Beberapa foto telah dicoret, hanya menyisakan tiga lembar foto yang masih utuh.
“Selanjutnya giliranmu, Cantik,” gumamnya pada selembar foto. Ada tulisan Virayya Inayah Rizal di baliknya.

Dayunie
10 Pengikut · 2 Novel