Sejak kecil, aku sudah menyadari bahwa dunia yang kulihat tidak selalu sama dengan dunia yang dilihat orang-orang di sekitarku. Beberapa kali aku melihat sosok berdiri diam di sudut ruangan, menatapku tanpa bergerak. Ketika kutanyakan kepada orang lain, mereka selalu mengatakan tidak ada siapa-siapa.
Bukan hanya penglihatan. Aku juga sering mendengar suara langkah kaki di belakangku, seseorang memanggil namaku, tangisan dari tempat yang tidak diketahui, bahkan suara orang berbicara tepat di belakang tubuhku. Anehnya, tidak seorang pun pernah mendengar suara-suara itu.
Awalnya aku menganggap semuanya hanya khayalan masa kanak-kanak. Aku meyakinkan diri bahwa imajinasiku terlalu kuat dan semua kejadian itu akan hilang ketika aku dewasa.
Ternyata aku salah.
Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sedang mengandung anak pertamaku, seseorang datang ke kehidupanku dan membuat semua kejadian yang pernah berusaha kulupakan kembali terasa nyata.
Namanya Victoria.
Aku tidak pernah mengenalnya semasa hidupnya. Aku bahkan tidak pernah mendengar namanya sebelumnya. Akan, tetapi pada malam itu, untuk pertama kalinya aku melihatnya dengan sangat jelas.
Saat itu kandunganku mulai membesar dan tubuhku lebih cepat lelah. Setelah salat Isya, aku masuk ke kamar lebih awal. Suamiku masih berada di ruang depan, sementara suara televisi terdengar samar dari ruang keluarga.
Setelah meletakkan mukena, tiba-tiba tanganku berhenti bergerak.
Bulu kudukku berdiri.
Udara kamar mendadak terasa dingin. Aku menoleh ke arah jendela. Tirai bergerak sedikit, tetapi tidak ada siapa-siapa.
Aku menarik napas dan mencoba menenangkan diri.
“Mungkin aku hanya terlalu lelah. Aku sedang hamil. Sebaiknya aku tidak memikirkan hal-hal aneh.”
Aku mengambil Al-Qur’an di atas meja, lalu duduk di tepi tempat tidur dan mulai membaca beberapa ayat.
Untuk beberapa menit, semuanya terasa normal.
Sampai tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakangku.
“Rani, jangan takut. Aku hanya ingin berbicara kepadamu.”
Tanganku langsung kaku.
Suara itu terdengar begitu dekat, seolah-olah seseorang berdiri tepat di belakangku. Aku tidak langsung menoleh. Setelah beberapa detik, rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutan.
Aku berbalik perlahan.
Seorang gadis berdiri tidak jauh dari pintu.
Kulitnya pucat. Rambut kecokelatannya panjang, sebagian dikepang dan sisanya terurai melewati bahu. Pakaiannya terlihat sangat kuno. Akan, tetapi bukan pakaian itu yang membuatku terdiam.
Wajahnya.
Gadis itu sangat cantik. Tidak ada darah, luka, atau wajah menyeramkan. Hanya ada kesedihan mendalam yang terpancar dari matanya.
“Siapa kamu?” tanyaku dengan suara bergetar. “Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Bagaimana kamu bisa berada di kamar ini?”
Gadis itu tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada perutku.
Aku spontan meletakkan tangan di atasnya.
“Apa yang kamu inginkan dariku?”
Perlahan, gadis itu tersenyum tipis.
“Aku Victoria,” katanya lembut. “Aku datang karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, Rani.”
“Victoria?” Aku mencoba mengingat nama itu, tetapi tidak menemukan apa pun. “Aku tidak mengenalmu.”
Victoria mengangguk.
“Aku datang untuk menemanimu. Aku tahu kehadiranku membuatmu takut, tetapi aku tidak datang tanpa alasan.”
“Menemaniku? Mengapa?”
“Aku sudah lama menunggumu.”
Dadaku terasa sesak.
“Sejak kapan kamu mengetahui tentang aku?”
Victoria kembali menatap perutku.
“Aku ingin memastikan bahwa kamu dan anakmu tetap aman. Ada sesuatu yang belum kamu ketahui, dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian.”
Aku menatapnya penuh kebingungan.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Victoria menundukkan kepala sebelum menjawab lirih, “Aku seorang gadis Belanda.”
Aku terdiam.
“Aku berasal dari keluarga Belanda yang pernah tinggal di tempat ini jauh sebelum kamu mengenal rumah ini. Ada bagian dari masa laluku yang masih terikat dengan tempat ini.”
“Kalau begitu, mengapa kamu datang kepadaku?”
“Ada sesuatu yang harus kulakukan.”
“Apa?”
Victoria menatapku cukup lama.
“Aku sudah tidak berada di dunia kalian. Aku sudah meninggalkan kehidupan manusia sejak lama. Tubuhku sudah tidak hidup seperti tubuhmu. Karena itu, hanya orang tertentu yang masih dapat melihat keberadaanku.”
Perlahan aku memahami kenyataan yang sejak tadi kutakuti.
Victoria bukan manusia.
Ia sudah meninggalkan dunia manusia, dan entah mengapa hanya aku yang dapat melihatnya.
Malam itu menjadi awal perubahan besar dalam hidupku. Setelah Victoria menghilang, aku masih duduk di tempat tidur dengan tubuh gemetar. Al-Qur’an terbuka di sampingku. Aku mencoba tidur dan meyakinkan diri bahwa semuanya sudah selesai.
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu.
Aku membuka mata. Dari luar kamar terdengar suara langkah kaki yang mendekat dan berhenti tepat di depan pintu.
“Mas?” panggilku. “Apakah kamu di luar?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian gagang pintu perlahan bergerak dan pintu terbuka dengan sendirinya.
Aku langsung merapat ke kepala tempat tidur.
“Ya Allah, lindungi aku dan anakku dari segala sesuatu yang tidak dapat kulihat dan tidak mampu kuhadapi sendiri,” bisikku sambil membaca istighfar. “Astaghfirullahal'adzim.”
Setelah beberapa saat, aku memberanikan diri membuka mata.
Di ujung lorong, di bawah cahaya lampu yang redup, berdiri Victoria. Tatapannya langsung tertuju kepadaku. Ia mengangkat tangan dan menunjuk perutku.
“Ada apa?” tanyaku gemetar. “Mengapa kamu terus memperhatikan perutku?”
Victoria tidak menjawab. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang terdengar.
Anehnya, aku dapat memahami maksudnya.
Jaga dia.
“Siapa yang harus kujaga?”
Victoria kembali menunjuk perutku.
Aku langsung memahami.
“Anakku?”
Victoria mengangguk.
“Kenapa? Apa yang akan terjadi kepada anakku? Apakah ada sesuatu yang mengincarnya?”
Wajah Victoria tiba-tiba berubah. Senyum tipisnya menghilang. Tatapannya berpindah ke belakang tubuhku.
Ia mundur satu langkah, kemudian satu langkah lagi, seolah-olah sesuatu di belakangku membuatnya takut.
Aku perlahan menoleh. tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba lampu berkedip dua kali, lalu padam.
“Mas!”
Suamiku segera masuk sambil membawa ponsel.
“Ada apa, Rani?”
Aku menunjuk lorong. “Tadi ada seseorang di sana. Aku melihatnya dengan jelas.”
Suamiku mengarahkan cahaya ponsel ke lorong yang kosong. “Siapa?”
“Victoria.”
“Victoria siapa?”
Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa seorang gadis Belanda yang telah meninggal datang ke rumah kami dan memintaku menjaga anakku?
Malam itu aku belum mengetahui bahwa Victoria bukan satu-satunya sosok yang akan datang.
Keesokan paginya aku berusaha menjalani hari seperti biasa. Aku tidak menceritakan semuanya kepada suamiku. Aku hanya ingin kehidupanku kembali normal. Menjelang siang, ketika menyapu ruang tengah, aku melihat sebuah benda kecil di bawah meja.
Sebuah kancing tua berwarna putih kekuningan.
Aku mengambilnya.
Seketika kepalaku terasa pusing. Ruangan berputar dan pandanganku berubah.
Aku seperti berada di sebuah ruangan asing dengan dinding putih dan meja kayu tua. Di dekat jendela berdiri Victoria dengan pakaian yang sama seperti malam sebelumnya. Kali ini ia menangis.
Kemudian terdengar suara seorang laki-laki.
“Kamu tidak boleh pergi dari tempat ini. Kamu tidak memiliki izin untuk meninggalkan rumah ini.”
Victoria hanya menangis.
Aku ingin menolongnya, tetapi tubuhku tidak dapat bergerak.
Beberapa detik kemudian, pandangan itu menghilang. Aku kembali berada di ruang tengah sambil terengah-engah. Kancing tersebut terlepas dari tanganku.
“Apa sebenarnya benda ini?” bisikku.
Aku tidak berani menyentuhnya lagi.
Dari mana kancing itu berasal? Apakah milik Victoria? Siapa laki-laki yang mengancamnya? Mengapa Victoria menangis? Apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia meninggal?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiranku.
Saat itu aku belum mengetahui jawabannya. Aku hanya mulai menyadari bahwa Victoria tidak datang sekadar untuk menakutiku.
Ia sedang berusaha memberitahuku sesuatu.
Sesuatu tentang dirinya, masa lalunya, dan mungkin bahaya yang perlahan mendekati keluargaku.
Aku juga belum mengetahui bahwa kehamilanku memiliki hubungan jauh lebih dalam dengan kedatangan gadis Belanda itu.
Sejak Victoria pertama kali memanggil namaku dan meminta aku menjaga anak yang masih berada di dalam kandungan, hidupku perlahan bergerak menuju sebuah rahasia besar. Sejak malam itu, aku tahu hidupku tidak akan pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya.