


oleh Dylla · 24 Bab
Ady, seorang wanita muda yang dikutuk sekaligus dianugerahi kemampuan melihat masa depan lewat mimpinya. Setiap kali ia tertidur, kejadian demi kejadian datang menghampirinya dalam potongan-potongan samar—beberapa mengerikan, beberapa menyedihkan, semuanya nyata. Awalnya, Ady mencoba mengabaikannya. Tapi saat satu per satu korban mulai berjatuhan persis seperti yang ia lihat, ia sadar: ini bukan mimpi biasa. Namun kekuatan itu bukan hanya menarik perhatian orang-orang yang ingin menolong. Sebaliknya, dunia sekitarnya mulai berubah. Mereka memanfaatkannya. Ady dijadikan alat—untuk keuntungan, untuk kekuasaan, bahkan untuk membunuh. Mimpinya disusupi. Hidupnya dikendalikan. Dan ketika ia mulai memberontak, satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah melarikan diri. Diburu oleh masa lalu yang ia lihat terlalu jelas dan masa depan yang tak bisa ia ubah, Ady terjebak dalam permainan gelap antara manipulasi, harapan, dan pengkhianatan. Dalam dunia yang tak mempercayai kebenaran kecuali jika bisa dimanfaatkan, mampukah Ady menemukan kendali atas kekuatannya sendiri—atau justru terbangun dalam mimpi yang bukan lagi miliknya.
"Lagi-lagi mimpi aneh. Siapa wanita itu?" Ady bangun dari tidurnya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan dengan berat. Rambut panjang berantakan, dan mengenakan tanktop putih dengan sedikit bolong di bagian perut.
Ady turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela sebelum membuka gorden putih yang belum juga dicuci sejak sebulan yang lalu. Ady melihat keadaan kamar hotelnya yang sudah tidak karuan bentuknya. Rokok berserakan di meja samping kasur, dan beberapa botol bir kosong tergeletak di lantai.
Tiba-tiba handphone-nya berdering dan membangunkan lamunannya. Ady berjalan ke arah kasur untuk meraih handphone tersebut. Dahinya mengerut ketika melihat nama "Freak" muncul di layar. Dia lalu menggeser tombol hijau dan menjawabnya.
"Apa?" tanya Ady ketus. Pria itu hanya menghela napas sebelum menjawab.
"Kau pasti melihatnya di mimpimu, 'kan?"
"Kau ini sebenarnya sia–"
PIIIP.
Belum selesai Ady berbicara, pria itu mematikan telepon begitu saja.
"Hah! Dasar enggak sopan!" Ady melempar handphone ke kasur dengan kesal.
Ady terus teringat dengan mimpi tadi.
"Suara teriakan wanita yang memekakkan telinga. Tapi di wilayah hotel ini ada banyak gang sempit. Apa aku harus mengeceknya satu per satu?" pikirnya.
Ady menyalakan sebatang rokok dan menatap langit pagi dari balik jendela. Ady sudah lupa rasanya hidup normal. Dia berkelana dari satu kota ke kota lain bukan sebagai pahlawan.
Uang.
Hanya untuk itu.
Rokoknya belum habis, tapi dia sudah menghancurkan ujung rokoknya ke asbak sebelum berjalan ke kamar mandi. Setelah berada di kamar mandi, dia melepaskan pakaiannya dan berkaca di cermin.
Dia mengusap wajahnya perlahan, sambil memperhatikan kantung mata yang tidak kunjung sembuh–dan bola mata miliknya yang mempunyai warna berbeda. Mata kiri adalah miliknya dengan warna coklat gelap, sedangkan mata kanan–entah milik siapa–berwarna hijau tua.
Dia selalu penasaran siapa yang telah memberikannya mata hijau itu secara gratis.Tapi telepas dari mana itu, pikiran lebih tertuju kepada wajahnya.
"Mana ada pria yang mau dengan wanita urakan sepertimu, Ady? Mirip gembel,” Ady menghela napasnya dan berjalan memasuki shower tab.
Setelah berpakaian, Ady membuka tas ransel kecil yang selalu dia bawa. Di dalamnya ada tumpukan foto-foto korban dari mimpi-mimpi sebelumnya. Mereka semua mati.
"Apa kali ini aku bisa menyelamatkannya?" gumamnya sambil berjalan ke arah pintu dan menyusuri lift menuju basement hotel.
Ady mengenakan jaket jeans hitam dan celana jeans yang bagian lututnya sudah koyak. Lift bergerak perlahan turun, menurunkan tubuhnya bersamaan dengan pikiran amburadulnya.
TING!
Pintu lift terbuka. Cahaya remang dari basement menyambutnya, dan suasana sunyi yang yang menyesakkan. Langkahnya menggema di antara mobil-mobil terparkir yang sepi, hanya suara gesekan sol sepatu yang terdengar jelas.
Motor sewaan tua itu berdiri di pojokan, Ady menarik jaketnya rapat dan menyalakan mesin. setelah memasang helm sambil menarik napas panjang.
Ady melaju perlahan keluar dari basement, masuk ke jalan raya. Orang-orang sibuk dengan rutinitas mereka.
Setelah hampir satu jam berkeliling, Ady tiba di sebuah taman kecil yang tak jauh dari stasiun. Ady duduk di bangku besi berkarat, membuka handphone, dan membuka folder yang di beri nama: "Vision." Di dalamnya ada rekaman suara mimpi terakhir yang sempat direkam begitu bangun. Terkadang Ady mengigau, berteriak, dan menghancurkan sesuatu di dalam tidurnya. Jadi, sebelum tidur Ady selalu memasang rekaman suara. Berharap ada petunjuk di dalam igauannya.
Ady memutarnya pelan setelah menghubungkan earphone ke handphone-nya.
"Tolong."
"Tinggalkan aku sendiri."
"Aku bakal lakuin apa pun, tolong pergi!"
"Chandra!"
Ady membuka matanya perlahan. Nama itu bergema di kepala Ady.
Chandra.
Dia belum pernah mendengar nama itu di mimpinya sebelumnya. Ini pertama kalinya seseorang dalam mimpinya menyebutkan nama pelaku. Biasanya hanya jeritan, ratapan, atau potongan kata tak jelas.
Perutnya tiba-tiba merasa lapar, Ady mengeluarkan beberapa lembar uang kertas sebelum dia merasa pundaknya disentuh. Refleks, dia bangkit dan mundur setengah langkah, tangannya otomatis merogoh ke balik jaketnya, di mana sebuah pisau lipat kecil selalu dia simpan.
Namun, yang ada di depannya cuma seorang anak kecil, kira-kira usia delapan atau sembilan tahun. Bocah laki-laki, mengenakan kaos oblong pudar dan celana pendek.
"Kamu siapa, Dek?" tanyanya kepada bocah itu sambil berlutut berjongkok di hadapannya. Namun, tiba-tiba anak itu merampas dompetnya dan kabur ke arah kerumunan.
"HEI! TUNGGU!!" teriaknya kepada anak kecil itu. Ady berlari mengejarnya secepat mungkin.
"Brengsek! Masih kecil larinya udah sekencang ini?!"
Ady berlari membelah kerumunan orang, menabrak beberapa bahu dan hampir terjatuh saat kakinya tersangkut tas seorang pejalan kaki. Anak kecil itu berkelit dengan lincah, masuk ke gang-gang sempit. Napas Ady sudah mulai memburu, tapi tekadnya lebih keras daripada rasa lelah. Dompet itu bukan hanya soal uang, di dalamnya ada foto-foto, catatan penting, bahkan bukti-bukti yang berhubungan dengan kasus-kasus mimpinya.
Anak itu berbelok ke sebuah lorong kecil, dan berakhir di dinding bata kusam.
Buntu.
Ketika Ady akhirnya mencapai lorong itu, anak kecil itu sudah berdiri membelakanginya, memandangi dompet yang ada di tangannya dengan napas yang berat
"Balikin," kata Ady setengah menggeram.
Anak itu berbalik perlahan melihat wajahnya.
"A-Aku butuh makan, Kak." Matanya memelas dan seperti ingin menangis.
"Kalau mau makan, ya minta baik-baik! Jangan mencuri! Balikin!" Ady berjalan ke arah anak itu dengan geram dan merampas dompetnya. Dia mengeluarkan 2 lembar 5000 dan menaruhnya ke tangan anak itu.
"Ini, jangan mencuri lagi. Kau–” Belum selesai Ady menceramahi anak itu, tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri di belakangnya. Ady menoleh ke belakang perlahan dan melihatnya dengan bingung.
Pria itu mengenakan jaket hoodie merah dengan kaos oblong putih di dalamnya, dan celana jeans biru. Tatapannya kosong terhalang oleh poni rambutnya yang lurus. Anak laki-laki tadi berlari ke arah pria itu dan bersembunyi di belakang kakinya.
"Kau siapanya anak ini? Ayah? Abangnya?" tanya Ady dengan kesal.
"Temannya," jawabnya singkat.
"Bang Chandra, kakak itu ngejar aku tadi,” Anak laki-laki tadi melihat ke arah pria tersebut dengan wajah takut.
"Ya, jelaslah aku ngejar! Kamu curi uang aku tadi! Wah, kecil-kecil udah playing victim," gertaknya dengan geram.
Ady tiba-tiba terdiam ketika anak itu menyebut nama "Chandra". Dia melihat pria tersebut dengan seksama. Chandra melihat Ady dengan tatapan yang sama sekali tidak terbaca. Kosong, tapi sedikit arogan.
"Kau Chandra?"
"Kenapa?"
"Langsung ke intinya aja. Kau lagi bermasalah dengan wanita, 'kan?"
Chandra terdiam dengan ekspresi wajahnya yang datar, tak lama kemudian dia menyipitkan kedua matanya kepada Ady.
"Tio, pergi pulang ke rumah." Chandra mengingatkan anak lelaki tadi yang sejak tadi terus memeluk kakinya. Tio mengangguk dan berlari arah berlawanan menuju ujung gang.
"'Wanita apa? Hm?" Chandra menurunkan sedikit kepalanya untuk melihat Ady. Ady menarik napas panjang sebelum dan memikirkan kata-kata yang masuk akal agar bisa memancingnya.
"Pokoknya nyawanya terancam. Dia akan dibunuh oleh seseorang." Ady tahu besar kemungkin Chandra yang akan membunuh wanita itu.
"Lalu? Kau mau apa? Menjadi pahlawan kesiangan?" tanya Chandra kepada Ady dengan nada yang mengejek.
"Enggak. Aku enggak tertarik menolong nyawa orang. Aku melakukannya karena uang."
Chandra hanya diam mengamati gerak gerik bola matanya. Bola matanya tidak bergerak, tapi jelas ada yang sedang dia sembunyikan. Chandra menjauhkan sedikit kepalanya dari Ady. Dia meletakkan telapak tangannya yang besar ke pipi Ady secara perlahan, lalu menutup mata.
Genangan air.
Gang sempit.
Suara wanita.
Kumpulan foto orang yang tewas
Dan suara seseorang yang menyebut nama "Chandra".
Dia membuka matanya dan mendapati wajah Ady yang bingung melihatnya. Namun, alih-alih menjauhkan tangannya dari pipinya, Ady hanya diam mengamatinya.
"Ngapain?" Ady bertanya dengan suara yang pelan dan penuh kebingungan.
Ada jeda yang panjang sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut.
"Kau bisa melihat masa depan, ya?" tanya Chandra dengan tangannya masih menempel di pipinya.

Dylla
27 Pengikut · 1 Novel