


oleh Nenghally · 150 Bab
“Kamu hancur karena cinta? Dia hancur karena hidup.” Nur bukan tokoh utama dalam cerita cinta manis, dia adalah gadis desa yang dipaksa dewasa sejak dunia memutuskan untuk tak berpihak padanya. Ditelantarkan orang tua, dibesarkan oleh kakek-nenek dalam kemiskinan, dan dijadikan bahan ejekan oleh orang-orang di sekitarnya. Tetapi Nur tak pernah benar-benar menyerah. Setiap luka yang dia terima tak pernah sembuh, hanya tertutup, lalu dibuka lagi oleh kenyataan baru yang lebih menyakitkan. Namun, dia masih berdiri. Bukan karena dia kuat. Tapi karena tak punya pilihan.
Dewi sama sekali tak menduga, kunjungan yang seharusnya santai ke rumah saudara justru jadi titik balik hidupnya. Ia hanya ingin bersantai sejenak, melepas rindu, tertawa bersama keluarga, dan menikmati masakan kampung yang selalu terasa menenangkan setelah penat merantau.
Tetapi keluarganya punya rencana lain.
Menjelang malam, rumah Pak Rasman dipenuhi suara tawa, piring-piring berdenting, dan aroma opor ayam memenuhi setiap meja. Dewi duduk bersama sepupunya di serambi, tertawa kecil saat membayangkan masa kecil mereka yang konyol.
Namun, hati dia mulai tidak tenang saat mendengar suara ibunya memanggil dari dalam rumah.
“Dewi, sini sebentar.” Suara Bu Wati terdengar lembut. Dewi tahu, nada itu tidak biasa. Itu suara seorang ibu yang hendak menyampaikan sesuatu, pastinya sudah dipikirkan matang-matang.
Dengan ragu, Dewi beranjak. Langkah kaki itu pelan, seperti sedang menuju sesuatu yang tidak dia inginkan.
Begitu tiba di ruang tamu, matanya melirik ke sosok pria yang duduk dengan tenang di antara para paman dan kakak sepupunya. Kemeja sedikit lusuh, rambut sedikit acak, tetapi raut wajahnya tenang dan penuh hormat.
“Ini Bimo,” kata ibunya, “anak Pak Rasman. Keluarga sudah bicara. Kami pikir, kamu dan dia bisa saling mengenal.”
Bimo tersenyum kecil. Tatapannya tidak memaksa, seperti ada ketulusan.
Dewi menahan napas. Dia paham betul arah pembicaraan ini. Pasti pernikahan. Jodoh pilihan, masa depan yang sudah ditentukan tanpa berdiskusi dengannya lebih dulu.
“Aku belum berpikir untuk menikah, Bu,” katanya pelan, mencoba tetap hormat meski hatinya berontak.
Ibunya menghela napas, seolah sudah menduga jawaban itu. “Nak, kita ini perempuan. Kadang, hidup bukan soal memilih apa yang kita suka, tapi terbaik. Kamu harus jalani, Bimo anak baik. Kami semua percaya dia bisa menjadi kepala keluarga dan membimbingmu.”
Saat itulah Bimo bicara jujur, suaranya terdengar gugup. “Saya nggak mau Dewi merasa terpaksa. Tetapi kalau memang ini takdir kita, saya janji akan belajar jadi suami yang bisa diandalkan.”
Waktu berlalu dengan tekanan, keluarga setiap hari semakin memaksa Dewi. Bisik-bisik tetangga, harapan yang diletakkan di pundaknya, rasa bersalah karena mengecewakan orang tua. Semua bergulung menjadi keputusan yang harus ia ambil, meski pikiran dan hati belum siap.
Pernikahan mereka diadakan sederhana di balai desa. Dewi berdiri anggun menggunakan kebaya putih, senyum tipis menutupi kesedihan. Di sebelahnya, Bimo tampak gugup, tetapi penuh niat baik. Mereka resmi menjadi pasangan suami istri, meski perasaan mereka belum menyatu.
Malam itu, di kamar yang baru, Dewi duduk diam di sisi ranjang. Kebaya pengantinnya belum sempat dilepas. Bimo masuk perlahan, langkahnya hampir tak bersuara.
“Dewi?” Bimo memanggil pelan.
Dewi menoleh sekilas, lalu kembali memandang ke arah jendela.
“Aku tahu kamu belum sepenuhnya terima ini. Aku juga bukan orang sempurna, tapi aku ingin kamu tahu, aku nggak akan menyentuhmu tanpa izin. Aku cuma ingin kita bisa saling percaya.” Suara Bimo seperti bisikan.
Dewi menarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca. “Beri aku sedikit waktu, Mo. Aku belum siap.”
Bimo mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Malam itu, meski mereka berbagi ranjang yang sama, rasanya seperti dipisahkan oleh jarak tak kasat mata.
Namun, dari obrolan singkat penuh kehati-hatian, muncul harapan kecil. Mungkin, meski pernikahan ini tak diawali dengan cinta, bukan berarti cinta tak bisa tumbuh. Asalkan keduanya bersedia membuka hati dan memberi waktu, segalanya mungkin berubah.
Kini, meskipun mereka telah sah sebagai suami istri, hubungan antara Dewi dan Bimo masih terasa asing. Bimo berusaha mendekati Dewi dengan penuh kesabaran, menyapanya dengan senyum setiap pagi, dan menawarkan bantuan meski sering ditolak.
Tetapi Dewi masih diliputi rasa enggan, hatinya belum siap. Ia merasa pernikahan membuat hidup berubah total, seolah semua keputusan diambil tanpa kompromi lebih dulu.
Hari-hari awal pernikahan mereka berjalan canggung. Percakapan pun tak pernah lebih dari sekadar basa-basi. Dewi, yang terbiasa mengatur hidup sendiri, merasa seperti kehilangan pijakan.
Sementara itu, Bimo terus berusaha. Ia tahu Dewi bukan perempuan mudah ditaklukkan, tetapi justru itu yang membuatnya ingin bertahan.
Lambat laun, tembok di antara mereka mulai retak. Dewi mulai melihat sisi lain dari Bimo. Lelaki sederhana, pekerja keras, tidak banyak bicara, tetapi selalu memikirkan keluarganya. Bimo pun mulai paham bahwa di balik sikap keras kepala sang istri, ada hati yang lembut dan rapuh.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Kecurigaan perlahan masuk ke pikiran Dewi. Sikapnya menjadi semakin protektif, bahkan posesif. Ia mulai menaruh curiga setiap kali Bimo pulang larut malam dari ladang.
"Kenapa baru pulang?" tanyanya suatu malam, suaranya datar tapi tajam.
"Ada kayu jati yang harus dipindahkan. Kalau bukan sekarang, bisa rusak terkena hujan," jawab Bimo sambil melepas topi, peluh masih menetes di dahinya.
Dewi menyilangkan tangan di dada. "Kamu nggak bisa kabarin dulu? Aku nungguin, khawatir."
"Maaf, aku keasyikan kerja, lupa," ucap Bimo pelan. "Tapi ini semua buat kita, Wi. Supaya kamu bisa hidup enak."
Namun, kata-kata itu tak cukup meredakan rasa gelisah di hati Dewi. Apalagi ketika gosip dari tetangga mulai masuk ke telinganya. Konon, ada gadis dari desa sebelah yang sering datang ke tempat Bimo bekerja.
"Aku dengar ada perempuan sering ke ladang," ucap Dewi suatu siang, nadanya menekan.
Bimo mengernyit. "Perempuan mana?"
"Tidak usah pura-pura! Benar atau tidak?!"
Bimo menghela napas berat. "Itu Siti, anak Pak Karta. Dia cuma antar makanan buat kakaknya. Aku kebetulan yang terima."
"Kenapa harus kamu terus yang terima?! Itu cari perhatian namanya."
Kesabaran Bimo mulai diuji. "Dew, jangan seperti itu. Aku kerja serius, bukan buat main-main."
Namun, Dewi tak bisa semudah itu percaya. Ia mulai sering datang ke ladang tanpa memberi tahu, hanya untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan. Semakin hari, sikapnya semakin mengekang.
Bimo mencoba memahami, apalagi saat Dewi mulai hamil. Semakin lama ia semakin lelah, merasa dikurung, tak lagi bebas bahkan di rumahnya sendiri.
"Aku ini istrimu, Mo! Aku juga butuh perhatian!" semprot Dewi saat Bimo pulang malam dan langsung membersihkan diri tanpa banyak bicara.
Bimo menatapnya dengan mata sayu. "Wi, aku capek. Setiap hari kerja buat kamu, dan calon anak kita juga."
"Atau jangan-jangan kamu udah nggak butuh aku lagi? Lebih milih kerja, atau … burung-burung itu?" sindir Dewi, suaranya mulai bergetar.
Ya, burung. Bimo memang sangat menyayangi burung-burung peliharaannya. Setiap pagi, ia memberi makan sambil menikmati kicauan mereka. Bahkan saat pulang kerja, langkah pertama selalu ke sangkar, bukan ke dalam rumah. Bagi Dewi, itu seperti luka kecil yang terus digaruk.
Dan suatu sore, ketika emosinya tak lagi bisa ditahan, Dewi berdiri di depan sangkar-sangkar burung itu. Matanya merah, dada naik turun menahan marah.
"Lihat saja! Kalau kalian lebih penting dari aku, lebih baik pergi sekalian!" serunya, suaranya pecah di antara angin sore.

Nenghally
88 Pengikut · 18 Novel