Pagi di Desa Karangjati selalu memiliki aroma yang sulit dijelaskan seperti wangi embun yang bercampur dengan harum bunga kenanga, suara ayam jantan yang berkokok sebelum matahari benar-benar naik, dan tawa anak-anak yang bersiap berangkat ke sekolah.
Di halaman rumah bambu yang kini telah diperluas menjadi rumah bata sederhana, Cinta Wulandari sibuk menyiapkan bekal kecil untuk anaknya, nasi goreng kampung, telur dadar berbentuk hati, dan sepotong pisang goreng hangat.
“Razka, Sayang. Nak, ayo sarapan dulu. Nanti terlambat sampai ke TK!” teriak Cinta sambil menata sarapan di meja.
Suara lembut itu menggema ke seluruh ruangan. Dari kamar, muncul sosok bocah lelaki berusia lima tahun dengan rambut hitam agak ikal dan mata jernih secerah langit setelah hujan. Ia mengenakan seragam TK berwarna merah muda dengan kombinasi hijau yang membuatnya tampak seperti bunga mawar yang berjalan.
“Ma, aku sudah siap!” serunya sambil membawa tas bergambar naga kecil.
Cinta tersenyum melihat semangat anaknya.
“Wah, anak Mama keren sekali hari ini. Siap bertemu teman baru, ya?” ucapnya sambil mengusap kepala sang buah hati dengan lembut penuh kasih.
Razka mengangguk mantap. “Iya! Aku mau jadi yang paling baik dan paling kuat!” serunya riang.
Raka Pratama, yang baru saja turun dari loteng tempatnya menulis laporan desa, ikut tersenyum. Rambutnya sedikit memutih di sisi, tapi sorot matanya tetap hangat.
“Yang penting sopan dan tidak usil, ya, Nak,” katanya sambil menepuk pundak kecil itu. “Kalau ada teman yang menangis, tolong ditenangkan.”
Razka mengangguk lagi, tapi bibirnya menyunggingkan senyum nakal.
“Kalau ada yang nakal, aku boleh usir pakai mantra, nggak, Pa?”
Cinta hampir tersedak ketika meneguk air putihnya.
“Mantra?” tanyanya bingung.
Razka menunjukkan batu kecil berwarna biru kehijauan yang tergantung di lehernya, batu pemberian nenek gaib penjaga hutan saat ia lahir. Batu itu kadang berpendar lembut pada malam hari.
“Katanya batu ini bisa bantu aku kalau ada yang jahat,” ujarnya polos.
Raka dan Cinta saling berpandangan. Mereka tahu, cepat atau lambat, Razka akan mulai merasakan panggilan energi itu. Namun, untuk sekarang, biarlah dunia anak-anak tetap menjadi taman bermain baginya.
Jalan menuju TK Karangjati dihiasi bunga-bunga liar. Anak-anak berlarian, beberapa digandeng orang tuanya. Ada suara tawa, derit sepeda, dan debu yang menari di udara pagi.
Ketika keluarga kecil itu melewati pohon beringin tua di pertigaan jalan, angin tiba-tiba berputar kecil. Daun-daun bergoyang lembut seolah menyapa.
“Selamat pagi, Penjaga Kecil,” bisik samar terdengar.
Hanya Razka yang menoleh ke arah pohon itu, tersenyum tipis, dan membalas dengan suara kecil, “Pagi juga, Eyang Beringin.”
Cinta menoleh. “Kamu bicara apa, Nak?”
“Enggak, Ma. Cuma pohonnya kayak ngedipin aku,” jawabnya polos.
TK Karangjati berdiri di pinggir sawah, dikelilingi pagar bambu dan mural warna-warni bergambar hewan-hewan desa. Begitu memasuki gerbang, Razka langsung disambut riuh suara anak-anak yang bermain.
“Selamat pagi, Razka!” sapa Bu Mira, guru muda yang ramah dengan senyum manis dan pita biru di rambutnya.
“Selamat pagi, Bu Guru!” jawab Razka lantang. Namun, saat ia melangkah ke ruang kelas, sesuatu yang aneh terjadi.
Di pojok kelas, sebuah boneka kain duduk sendirian di kursi kecil. Wajahnya tersenyum, tapi matanya seperti menatap langsung ke arah Razka.
Boneka itu bergetar pelan, padahal tidak ada angin. Razka mengerjap, dan batu di lehernya memancarkan cahaya lembut.
Bu Mira menepuk tangannya.
“Ayo, anak-anak! Kita mulai bernyanyi dulu!”
Suara nyanyian anak-anak menutupi segala keanehan, tapi sesekali Razka menoleh ke arah boneka itu. Ia tahu, sesuatu yang tak terlihat baru saja menyapanya.
Waktu istirahat tiba. Anak-anak makan bekal, bermain ayunan, dan berlarian di halaman. Razka duduk di bawah pohon jambu sambil membuka kotak bekalnya.
“Eh, kamu baru, ya?” tanya seorang anak perempuan dengan dua kepang rambut dan wajah bulat seperti bulan.
“Iya. Aku Razka,” jawabnya.
“Aku Lila! Ayo main petak umpet!” ajaknya.
Mereka mulai bermain bersama. Namun, ketika Lila bersembunyi di belakang gudang kecil, udara tiba-tiba berubah dingin. Razka merasakan sesuatu. Ia berjalan mendekat perlahan. Dari sela papan gudang, muncul asap tipis berwarna abu-abu.
“Jangan ganggu temanku,” bisiknya pelan.
Asap itu bergetar, lalu memudar seperti tertiup angin.
Saat itu, Bu Mira datang menghampiri dan melihat Razka berdiri sendirian.
“Kenapa, Razka?” tanyanya sambil menatap sekeliling, tapi tak menemukan hal aneh.
“Nggak apa-apa, Bu. Cuma tadi ada bayangan yang pengin main juga,” jawab Razka polos.
Bu Mira tertawa, mengira anak itu sedang berimajinasi. Namun, dari jendela, sekelebat wajah boneka tadi tampak tersenyum tipis.
Sore harinya, Cinta menjemput anaknya.
“Gimana hari pertama di TK?” tanyanya sambil menggandeng tangan kecil itu.
Wajah Razka tampak senang. “Menyenangkan, Ma. Aku punya teman baru, namanya Lila. Tadi di sekolah juga ada yang nggak kelihatan, Ma. Katanya dia pengin eksis,” ujarnya polos sambil mengunyah permen dari guru.
Cinta berhenti sejenak. “Eksis?”
Razka mengangguk. “Iya, katanya udah lama nggak ada yang lihat, jadi dia mau main biar nggak dilupain.”
Cinta terdiam. Ia tahu, dunia lama belum sepenuhnya tertutup dari mata anaknya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Raka yang menunggu di teras segera menyambut mereka.
“Mau cerita apa hari ini, Penjaga Kecil?” tanyanya.
Razka tersenyum dan menggenggam batu biru di dadanya.
“Teman baruku, Pa. Yang satu manusia, yang satunya ... hantu pengin eksis.”
Raka tertawa kecil, tapi dalam hatinya ia berbisik kepada Cinta,
“Sepertinya perjalanan kita baru dimulai lagi.”
Dari balik bayangan senja, sesosok lembut dan transparan tampak muncul di halaman rumah mereka dengan senyum hangat, seolah ikut bangga menyambut generasi baru sang penjaga.