


oleh reevaluna · 20 Bab
"Kalau aku pergi sekarang, kamu bakal nyari aku, Kael?" Kaelan menatapnya lama. Dingin. Seolah pertanyaan itu tidak perlu dijawab. "Jangan tanya hal yang jawabannya sudah kamu tahu." Thea tersenyum, getir. Dia memang selalu tahu. Pernikahan mereka hanya sekadar status. Kehangatan yang dulu ia harapkan dari Kael tak pernah ada. Tapi ketika takdir membawanya kembali ke masa lalu—ke saat pertama kali mereka bertemu—Thea berpikir ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Atau … kesempatan untuk akhirnya belajar melepaskan?
Suasana ruang makan hari itu, seperti biasanya, terasa hampa. Ruang makan yang didominasi warna monokrom abu-abu itu semakin terasa sunyi.
Pelayan menyajikan sarapan dalam diam, mereka semua tertunduk saat Thea menuruni tangga utama menuju ruang makan.
“Selamat pagi, Nyonya.” Sang pelayan membungkukkan kepalanya pada Thea yang dibalas anggukan kecil.
“Pagi Maria, apa Kael sudah pergi?” Thea duduk di meja makan oval besar itu sambil menyomot sepotong roti dan mengoleskan selai strawberry di atasnya. “Apa dia bilang sesuatu?”
Maria menggeleng pelan. “Tuan Kael pergi dalam diam seperti biasa, Nyonya.”
Thea mendesah pelan dan melanjutkan sarapannya saat Maria membawakan jus apel yang sehari-harinya menemani pagi Thea.
“Terima kasih Maria, kamu bisa kerjakan yang lain, aku akan langsung pergi ke kantor setelah sarapan.”
“Baik Nyonya, akan kuminta Jo bersiap untuk mengantar Nyonya.”
Maria undur diri dari hadapan Thea dan pergi menghilang ke arah garasi.
Selesai dengan sarapannya, Thea beranjak keluar rumah megah itu.
Saat melewati ruang tengah, ditatapnya sebentar foto pernikahannya Kael yang terpampang memenuhi dinding utama.
Pernikahan mereka baru 3 tahun, tetapi terasa sudah seperti puluhan tahun yang memudar.
Thea memperhatikan tatapan mata Kael di foto itu, tetap dingin dan tajam dengan muka datarnya, sedangkan dirinya sedikit tersenyum berharap hasil foto akan bagus.
“Kamu benar-benar nggak berubah Kael, bahkan sampai detik ini aku bertanya-tanya untuk apa lamaran romantis itu.”
Thea bergumam pelan dan melanjutkan langkahnya menuju mobil yang siap mengantarnya ke kantor, neraka kedua Thea setelah rumahnya sendiri.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang cukup padat. Thea menyandarkan punggungnya di kursi penumpang sambil mengamati jalanan kota.
Saat berhenti di lampu merah dia melihat sepasang kekasih, yang sepertinya karyawan kantor juga, bergandengan tangan dan menikmati pagi bersama. Thea tersenyum samar. Perasaan hangat yang sesaat timbul buru-buru dihempaskannya.
Selama ini Kael hanya memegang tangannya saat bertemu dengan partner atau di depan keluarga, di luar formalitas itu, tangan Thea hanya menggenggam udara hampa.
Sesampainya di pintu utama kantor, seorang keamanan membukakan pintu untuk Thea.
Dibalut dengan celana straight cut putih dan blus warna navy, Thea berjalan anggun memasuki kantor.
Sejumlah karyawan menyapa Thea yang dibalas dengan anggukan dan senyum ramah. Thea berjalan menuju lift VIP menuju ruangannya dan tentu saja ruangan Kael.
Saat ini posisi Thea adalah sekretaris Kael, posisi yang hanya dipercayakan Kael untuknya, entah memang untuk menjaga privasi Kael, atau untuk mengawasi Thea. Namun, Thea tidak keberatan dengan alasan Kael, apa pun itu, selama dia bekerja dan penghasilannya bisa untuk menghidupi keluarganya itu sudah cukup.
Secara materi Kael terhitung sangat memenuhi kebutuhan Thea, tanpa komplain. Bahkan Kael membuatkan satu black card khusus untuk Thea.
Sesampainya di ruangan kerjanya, Thea segera memeriksa agenda yang sudah disusunnya kemarin dan mengecek bahan rapat Kael hari ini.
Sesaat teleponnya berbunyi. Tidak biasanya Kael meneleponnya, biasanya Thea yang sibuk menghampiri dan mengingatkan agenda Kael.
“Thea.”
“Ya Kael, ada yang kamu butuhin?”
“Agenda malam ini kosong 'kan? Aku akan pergi ke tempat Saka.”
Thea tersentak. Saka? Ketua mafia di area mereka? “Kamu ada urusan apa dengan Saka, Kael?” tanya Thea dengan hati-hati.
“Mireille. Untuk hal ini cukup diam.” Nada dingin Kael menyergap perasaan Thea.
“Kaelan, kamu mempertaruhkan apa dengan bertemu orang itu? Kamu punya transaksi apa dengan mereka?” Perasaan Thea terusik, khawatir Kael bertindak di luar logikanya.
“Althea Mireille.” Thea tahu saat Kael sudah memanggil nama lengkapnya, berarti Kael benar-benar tidak ingin diganggu gugat urusannya apa pun itu.
“Baiklah, jadwalmu kosong malam ini.”
Kael menutup telepon tanpa mengucapkan apa pun. Thea dengan getir meletakkan teleponnya dan melanjutkan bekerja.
—-----------------------
Dalam ruangannya yang besar tapi minimalis, Kael bersandar di meja kerjanya setelah menelepon Thea. Dia mendesah pelan, mengingat pertanyaan Thea sebelumnya terkait Saka.
Kael memijat tulang hidungnya, sambil menempelkan siku di meja. Pendulum di mejanya bergerak teratur, tetapi tidak dengan pikiran Kael. Ponselnya bergetar saat Kael sedang meninjau laporan hari itu.
Bagaimana pertemuan kita malam ini, Kael?
Sudah diatur. Waktu malamku kosong.
Tidak ada yang ikut campur bukan, termasuk istrimu?
Jangan bawa Thea, Saka.
Haha, apabila di akhir ada pihak yang melibatkan wanita itu, kupastikan itu kamu Kael.
Kael mengepalkan tangan sebelum membalas pesan Saka.
Sampai ketemu nanti malam.
Kael menjauhkan ponselnya dan kembali fokus ke pekerjaan. Terdengar ketukan pelan di pintunya.
“Masuk.” Suaranya terdengar datar.
Thea melangkah perlahan membawa dokumen untuk ditandatangani Kael. Kael menerima dokumennya tanpa menoleh ke arah Thea.
“Ada lagi?” Pandangannya kembali menuju layar PC nya.
“Tidak ada Kael, kamu mau makan siang apa hari ini? Sudah jam 11.”
Kael menoleh, Thea berdiri di depan mejanya. Kael tahu tatapan itu, tatapan yang akhir-akhir ini semakin intens Thea lemparkan padanya.
“Reservasilah di restoran Jepang favoritmu, kita pergi jam 12 nanti.”
Thea tertegun sejenak. “Kita makan berdua, Kael?”
Tahun ini adalah pertama kalinya Kael mengajak makan siang berdua di luar formalitas makan siang dengan klien yang memang membuat mereka makan siang berdua — disertai orang lain. Kael mengangguk pelan tanpa suara.
“Baiklah, akan aku reservasi untuk jam makan siang.”
Saat berbalik arah, sekilas Kael melihat senyum tipis Thea. Sedikit menggetarkan hati tapi Kael tahu dia tidak bisa memuji Thea begitu saja.
Tidak saat ini, saat Kael berpotensi mengecewakan Thea.

reevaluna
12 Pengikut · 1 Novel