Kedua kaki Syera mundur dengan perlahan. Bulir bening yang sedari tadi dia tahan mulai meluruh dari kedua kelopak matanya. Syera merasakan sesak yang seolah menghantam dadanya. Tatapan Syera menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam kepada seorang lelaki di hadapannya.
“Maaf, Syera. Aku benar-benar minta maaf.”
Syera mencoba menarik kedua sudut bibirnya meskipun isak tangis masih mengudara. “Aku tidak menyangka. Ternyata kamu memang sejahat itu, Ethan.”
“Aku tahu dan aku minta maaf. Ini memang salahku.”
“Kenapa harus aku, Ethan? Kenapa bukan orang lain saja yang kamu bodohi?” Syera tertawa hambar, dia menahan Ethan agar tidak mendekat.
“Jangan menyentuhku. Kamu menjijikkan.”
Ethan mengepalkan jemari tangannya di sisi celana. Dia mengembuskan napas panjang setelahnya. “Aku bisa menjelaskan semuanya, kita bisa bicara baik-baik, Syera. Jangan seperti ini.”
“Maaf, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku harap kamu bisa bahagia dengan gadis itu. Dan sekali lagi aku minta maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untukmu.”
“Syera?” Ethan menatap Syera dengan sorot sendu. Menyesal, khawatir, semuanya menjadi satu.
Syera tertawa pahit. “Kita tidak ditakdirkan dan kenyataannya kamu lebih memilih dia. Lalu apalagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah selesai, Ethan.”
“Vania sakit, dan dia membutuhkanku. Aku tidak bisa meninggalkan dia, tapi aku juga tidak mau kehilanganmu. Kamu yang aku cintai, Syera. Bukan Vania,” jelas Ethan, mencoba menggapai tangan Syera. Namun, segera ditepis kasar oleh gadis itu.
“Basi. Bukankah sudah jelas jika dia lebih kamu prioritaskan? Lucu sekali jika kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku, tapi juga menyayangi gadis lain? Sudahlah, lebih baik aku pergi saja agar kalian bisa bahagia.”
Senyuman Syera memudar. Tergantikan dengan helaan napas panjang. “Kita sampai di sini, Ethan. Kamu bukan takdirku, dan aku tidak pantas untukmu. Maaf aku pergi. Tolong, jangan temui aku lagi.”
Ethan memejamkan matanya sejenak, merasakan kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir Syera. Lelaki itu membuka matanya kembali ketika mendengar suara derap langkah menjauh. Ethan melihat Syera yang berlalu pergi meninggalkan dirinya.
Ethan menatap punggung Syera dengan hati yang tercabik-cabik. Dia berteriak sekencang mungkin. “Syera! Berhentilah, Syera! Aku mohon! Aku mohon berhenti, Syera!”
Sayangnya, teriakan itu tidak mampu menggoyahkan hati Syera untuk berbalik. Syera tetap meneruskan langkahnya sampai suara Ethan tidak terdengar lagi. Syera menahan tangis, isakan, serta rasa sakit yang menusuk hatinya karena seorang lelaki yang telah membuatnya kecewa.
Syera baru menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah bangku kecil yang berada di taman. Syera mendudukkan dirinya dan menumpahkan semua yang ditahannya. Syera menangis, sepuasnya, dan tidak memedulikan seberapa dinginnya air hujan yang mulai jatuh mengenai tubuhnya.
“Aku memang bodoh, sangat-sangat bodoh hingga mau mempertahankan lelaki seperti dia. Aku sungguh menyesal dan sia-sia karena telah mengenalnya,” lirih Syera dengan kepala menunduk.
Suara petir menggelegar, angin kencang, serta derasnya air hujan yang mengguyur tidak mampu membuat Syera beranjak sedikit pun.
Syera membiarkan bulir bening itu jatuh bersama dengan hujan yang seolah ikut meratapi takdirnya yang menyakitkan, serta nasibnya yang begitu menyedihkan.
Syera memejamkan mata, merasakan dinginnya air hujan yang menusuk kulit putihnya. Namun, Syera terkejut ketika tiba-tiba dia tidak lagi merasakan itu semua. Tubuhnya bahkan terasa hangat seperti diselimuti oleh kain tebal. Serta suara seseorang yang seketika membuat Syera membuka matanya.
“Hai?”
Syera terkesiap, dia mengerjapkan mata beberapa kali. Seorang lelaki berdiri di hadapannya dengan payung yang dipegangnya. Syera refleks mendongak, melihat dia kini telah terlindungi dari hujan karena payung yang lelaki itu bawa.
“Mari berteduh, nanti kamu sakit.”
Lelaki itu berkata lagi, yang membuat Syera tidak sanggup membalasnya. Syera masih bergeming, menatap lelaki bertubuh tinggi dengan alis tebal itu tanpa berkedip. Syera tiba-tiba merasakan sentuhan aneh pada tubuhnya.
“Jangan bengong, ayo berdiri.” Lelaki itu menyentuh lengan Syera dengan pelan.
“Eh, apa? S–siapa kamu?” tanya Syera yang seketika tersadar dan langsung membelalakkan matanya.
“Oh iya, namaku. Gavyn Arshaka.”
Syera terdiam sebentar, sebelum membalas jabatan tangan Gavyn. “Aku ... Syera Faelyn.”
“Syera? Hai, Syera?” Gavyn tertawa kecil. Membuat Syera tertegun melihatnya.
“Hai. Kamu kenapa di sini?”
“Menjemputmu supaya mau berteduh,” jawab Gavyn.
Syera mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kenapa kamu peduli? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”
Gavyn tidak menjawab ketika suara petir kembali terdengar dan hujan semakin turun dengan lebat. Syera menunggu jawaban Gavyn, tapi lelaki itu justru merangkul pundaknya dan menyuruhnya untuk berdiri. Gavyn membawa Syera ke depan sebuah ruko yang sedang tutup.
Gavyn kemudian meminta Syera untuk duduk berjongkok di sampingnya. “Duduklah, aku akan menjaga jarak.”
Syera menurut. “Terima kasih.”
Gavyn hanya mengangguk. Kemudian dia teringat sesuatu. “Apa yang tadi kamu katakan?”
“Ah, tidak. Tidak jadi,” balas Syera, dengan sengaja melupakan pertanyaannya yang belum sempat Gavyn jawab.
Gavyn terdiam. Dia tidak lagi menjawab dan memilih menatap hujan deras di depan sana. Langit yang semakin gelap, serta beberapa lampu yang menyala membuat Gavyn menoleh lagi ke arah Syera yang tampak melamun.
“Rumah kamu di mana? Setelah hujan reda aku akan mengantarmu.”
Syera tersentak, dan reflek menoleh. “Heum?”
Gavyn menghela napas pelan. “Alamat rumahmu.”
“Untuk apa?”
“Aku akan mengantarmu pulang setelah hujan reda, sebentar lagi hari sudah gelap, dan aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Boleh aku tahu di mana alamat rumahmu?” jelas Gavyn kembali mengulangi pertanyaannya.
Syera terkejut, kerutan tipis spontan tercetak di dahinya. “Kenapa? Maksudnya, aku bisa pulang sendiri. Kenapa kamu peduli denganku?”
Gavyn tersenyum simpul. “Karena kamu perempuan. Aku tidak tega jika terjadi sesuatu denganmu saat di jalan nanti, aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan terluka.” Syera benar-benar tertegun. Matanya melihat sorot ketulusan dari kedua mata Gavyn.
Senyumannya juga tampak hangat dan menawan. Syera tidak bisa membuka mulutnya lagi. Dia menatap cukup lama, sebelum Gavyn lagi-lagi menyadarkannya.
“Bagaimana? Kamu masih mau bengong lagi?” Gavyn sedikit tertawa kecil.
Syera mengerjap beberapa kali dan berdeham. Dia salah tingkah. Merutuki dirinya sendiri dalam hati. “Ah, i–iya. Rumahku ada di Komplek Mawar nomor 15.”