


oleh Kejora_ · 9 Bab
Terlahir di keluarga kerajaan dan di tempat di mana sihir adalah segalanya, Zhen Tianba yang tidak memilikinya adalah sebuah petaka besar. Kaisar merasa kalau dia adalah aib sehingga memutuskan untuk menyegelnya di Gua Kematian. Semua orang berpikir Zhen Tianba tidak akan bisa bertahan. Namun tidak disangka, di Gua Kematian, tidak hanya masih hidup setelah sepuluh tahun berlalu, tetapi Zhen Tianba juga memiliki sihir ranah biru tingkat dua. Setelah menjadi yang terkuat dan menjalani hidup dalam Gua Kematian dengan segala macam kebencian, Zhen Tianba memutuskan untuk membalas dendam. Ledakan terjadi dan cahaya menakutkan menyelimuti seluruh langit Kerajaan Aestheria.
“Putri Pertama, Zhen Tianba, sebagai seorang Putri, tidak melakukan tugasnya dengan baik. Tidak memiliki sikap dan bakat selayaknya Putri Kerajaan. Tidak mampu melindungi dan berkontribusi dalam kesejahteraan rakyat. Kaisar, sebagai Sang Penguasa yang Agung, selalu memikirkan rakyat di atas segalanya. Dengan ini menyatakan bahwa Putri Pertama, Zhen Tianba, akan dikurung di Gua Rahasia dan tidak diperbolehkan menunjukkan diri lagi untuk meminimalisir adanya bencana.” Suara lantang Kasim Bojing memenuhi Balairung Istana.
Semua orang yang mendengarnya tanpa sadar menahan napas dan menatap sosok gadis kecil yang berlutut di barisan paling depan. Beberapa di antara mereka sebenarnya merasa kasihan, tapi mereka juga tidak bisa melakukan apa pun. Dekrit Kaisar sudah diturunkan dan tidak ada siapa pun yang bisa menyingkirkannya.
Kasim Bojing melipat dekrit yang dipegangnya lalu menyerahkannya kepada Zhen Tianba. “Putri, silakan terima dekritnya!”
Tubuh Zhen Tianba yang kurus dan kecil bergetar hebat. Air matanya mengalir deras, membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Ia masih terpaku di tempatnya, sama sekali tidak bergerak.
Melihat itu, Kasim Bojing memperingatkannya dengan halus. “Putri.”
Namun, Zhen Tianba tetap diam. Dengan menggigit bibir bawahnya supaya isakannya tidak keluar, ia mengarahkan pandangannya kepada Kaisar Longwei yang duduk dengan agung di kursi emasnya.
“Ayahanda, kenapa melakukan ini kepadaku?” tanya Zhen Tianba dengan suara yang lemah dan bergetar.
Kasim Bojing menatap Zhen Tianba dengan mata yang melebar. Sebelum kemarahan Kaisar menguar, ia segera kembali memberinya peringatan dengan pelan.
“Putri, tolong terima dekritnya dengan tulus. Anda tidak boleh mempertanyakan keputusan Kaisar.”
Dengan kata lain, Kasim Bojing memberitahu Zhen Tianba tentang di mana keberadaan mereka sekarang dan apa status yang mereka pegang.
Di Balairung ini, tidak ada yang namanya hubungan pribadi. Semuanya menjadi bawahan yang patuh kepada Kaisar. Semua pendapat dan curahan hati harus ditekan dalam-dalam agar tidak menyinggung perasaan sang Pemimpin Kerajaan. Menentang keputusan Kaisar dan menolak dekrit yang ditujukan kepadanya adalah kesalahan besar yang pantas dihukum mati.
“Berhenti memanggilku Putri! Aku di sini bukan sebagai Putri Kerajaan, tapi sebagai anak dari Ayahanda Kaisar!” teriak Zhen Tianba yang kemudian menegakkan badannya, mencoba menatap Kaisar Longwei dengan berani.
“Lancang!” teriak Kaisar Longwei menggelegar.
Dengan marah ia berdiri dan melayangkan tamparan menggunakan sihirnya, membuat Zhen Tianba jatuh ke samping dengan darah segar yang mengalir dari sudut bibir kecilnya. “Dekrit sudah mengatakannya dengan jelas dan kau masih bertanya? Putri Tianba, terima dekritnya dan jalani semuanya dengan tenang!”
“Tidak!” Zhen Tianba berusaha bangkit, tapi tubuhnya sangat lemah dan memuntahkan seteguk darah.
Melihatnya yang seperti itu, Kasim Bojing pun merasa tak berdaya. Dengan menggertakkan giginya, ia kembali berkata, “Putri, tolong jangan membuat Kaisar marah. Segera bersujud dan terima dekritnya.”
Namun, Zhen Tianba yang keras kepala berusaha untuk bangun. Ia mengusap tetesan darah yang mengalir dari sudut mulutnya dan menatap Kaisar dengan sorot mata terluka.
“Aku adalah anak kandung Ayahanda dengan mendiang ibunda Permaisuri. Di dalam tubuhku, ada darah naga Ayahanda yang mengalir deras. Apakah tidak ada sedikit pun rasa sayang kepadaku? Apakah Ayahanda benar-benar membenciku sampai ingin menyingkirkanku?”
“Putri Pertama! Siapa yang memberimu nyali hingga bisa seberani ini? Lancang! Sungguh lancang! Sekalipun aku adalah Ayahandamu, aku tetaplah Kaisar! Berani sekali kau mengajukan pertanyaan seperti itu? Tidak menerima dekrit, memberontak, dan mempertanyakan keputusan Kaisar, adalah kejahatan serius. Mulai sekarang, tidak ada satu orang pun yang boleh membicarakan Putri Pertama! Pengawal, bawa Putri Pertama dengan paksa!”
Kemarahan Kaisar sudah mencapai puncaknya. Wajahnya terlihat mengeras dengan aura keganasan yang mengelilinginya, membuatnya terlihat sangat mulia dengan wibawa khas seorang sang penguasa dunia.
Segera, dua pengawal yang memang ditugaskan untuk mengantarkan kepergian Zhen Tianba datang dan masing-masing memegangi lengannya.
“Tidak! Ayahanda, tidak! Ayahanda tidak bisa memperlakukanku seperti ini!” Zhen Tianba langsung memberontak. Namun, tenaganya kalah jauh dengan kedua pengawal yang memeganginya.
Tubuhnya yang kecil, ditambah dengan tidak adanya sihir yang dimiliki, membuatnya dengan mudah dibawa keluar. Seketika, Balairung dipenuhi dengan suara teriakannya.
“Kenapa Ayahanda tidak membunuhku saja? Akan lebih baik untuk memenggal kepalaku agar aku bisa bereinkarnasi dengan cepat! Mengurungku hanya akan menambah penderitaanku! Ayahanda!” teriak Zhen Tianba sebelum tubuhnya benar-benar meninggalkan Balairung.
Kaisar Longwei hanya menatapnya dengan dingin lalu dengan mengibaskan lengan jubahnya, ia berjalan meninggalkan Balairung diikuti oleh Kasim Bojing dan para Menteri.
Di luar Balairung, Zhen Tianba dihadapkan dengan beberapa selir tingkat atas, Permaisuri, Pangeran Keempat, Pangeran Keenam dan Putri kecil.
Seketika ia menghentikan langkahnya. Ekspresinya berubah dan air matanya pun berhenti mengalir saat melihat wajah-wajah bahagia dari wanita-wanita menawan di depannya. Terutama Permaisuri.
“Putri Pertama, surga selalu memiliki jalannya. Kau tidak boleh putus asa. Kehidupan masih panjang dan ada banyak pilihan di dalamnya. Namun, kasih sayang orang tua tidak ada tandingannya. Kaisar sangat menyayangimu, semoga kau bisa mengerti,” ucap Permaisuri Jing, Huang Jiefan dengan lembut dan penuh kasih.
Wajah cantiknya terlihat sendu. Ketika ia melangkah maju dan memegang wajah kecil Zhen Tianba, kesedihan menguar kuat dari tubuhnya. “Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Zhen Tianba tidak membuka suara. Mulutnya tertutup rapat dan sorot matanya menjadi dingin. Permaisuri Jing sedikit terkejut saat melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat tatapan dingin yang menusuk tulang seperti ini. Mau tidak mau ia mulai merasakan perasaan aneh yang menyusup ke hatinya.
Zhen Tianba … memikirkan bagaimana akhir dari gadis kecil ini, membuatnya segera menepis perasaan itu jauh-jauh.
Pada akhirnya, Putri Pertama, putri sah Kaisar dan mendiang Permaisuri, Zhen Tianba, hanya akan berakhir pada kematian yang menyedihkan.
Kesepian, kebencian, dan keputusan asaan akan menemaninya sampai menutup mata.
Memikirkan ini, senyum kecil Permaisuri Jing langsung terlihat.
Di saat itu, Kaisar datang, membuat semua yang ada di sana membungkuk untuk memberi salam.
“Berikan penghormatan untuk Putri Pertama!” titah Kaisar Longwei.
“Selamat jalan, Putri! Semoga kebahagiaan dan keberuntungan selalu menyertaimu!”
“Bawa dia!” titah Kaisar Longwei kemudian.
Zhen Tianba kembali dibawa pergi.
Baru beberapa langkah, Zhen Tianba berhenti dan berbalik. “Apakah Ayahanda tidak akan memberiku kesempatan terakhir? Aku akan belajar lebih keras lagi dan tidak akan membiarkan Kerajaan menanggung malu.”
“Tidak! Cukup sampai di sini saja usahamu! Kau sudah cukup bekerja keras selama ini dan sekarang, waktunya kau beristirahat. Kau pasti lelah,” sahut Kaisar datar.
Zhen Tianba terdiam sejenak lalu ia mengangguk pelan dan berbalik, melanjutkan langkahnya. Air matanya kembali jatuh, meluncur bebas di wajah putih pucatnya.
Apa yang ia harapkan?
Di istana ini dan bahkan di dunia ini, tidak ada yang benar-benar peduli dengannya selain mendiang ibunya.
Tidak akan ada kesedihan mendalam karena kepergiannya dan tidak akan ada pemberontakan karena tidak menyetujui keputusan Kaisar.
Semua orang hanya bisa menonton dengan kepala berpaling dan hati yang puas.
Kaisar Longwei menatap punggung kurus Zhen Tianba yang terlihat sangat rapuh dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kejora_
0 Pengikut · 1 Novel