"Kamu pikir, hidup kita ini bisa berubah cuma dengan berdoa, Bu?"
Anum menatap sawah yang retak-retak di bawah matahari sore.
"Orang miskin seperti kita cuma didengar kalau sudah mati."
Desa Karangjati, tahun 1806, bukanlah tempat yang ramah bagi mereka yang terlahir tanpa nama, tanpa harta, tanpa darah Eropa. Rumah-rumah papan berdiri goyah di atas tanah becek, dindingnya dilapisi anyaman bambu, dan atapnya bocor bila hujan tiba.
Di sudut desa, seorang gadis duduk menyulam kain sobek sambil sesekali memandangi ibunya yang terbaring batuk-batuk di tikar pandan.
"Minum obat, Bu! Jangan terlihat kaya benar-benar miskin!" ucap Anum.
Itulah Anum Sulastri. Usianya dua puluh lima tahun, tapi sorot matanya menyimpan beban hidup jauh lebih tua. Wajahnya bersih, kulitnya sawo matang, dan rambut hitam panjangnya selalu dikuncir ketat ke belakang. Bukan gadis desa biasa—itu jelas. Bukan karena kecantikannya semata, tapi karena cara ia melihat dunia dengan nyala api kecil yang enggan padam.
"Ibu cuma ingin kamu jadi perempuan baik-baik, Num," ujar ibunya pelan, menggigil karena demam.
Anum menggigit bibirnya. “Perempuan baik-baik tidak pernah kenyang di desa ini!" katanya tegas dan serius. "Coba saja, lihat perempuan di sini! Lusuh, tidak bermartabat, dan pendidikan yang kurang!" lanjutnya.
Ia sambil memandangi sawah yang dibagi-bagi oleh Menir Belanda. Setiap petani hanya diberi jatah sempit, sementara hasil panennya disetor penuh ke gudang milik Tuan Verbeek, tuan tanah Belanda yang menguasai desa mereka. Para lelaki bekerja dari pagi hingga senja dengan kaki penuh lumpur, tapi tetap kelaparan di malam hari.
Anum pernah menyaksikan salah satu ibu tetangga menyerahkan anak perempuannya kepada seorang pegawai Belanda demi utang yang tak sanggup dibayar. Anaknya tak pernah kembali.
Sejak itu, Anum menyimpan benci.
Bukan hanya pada sistem, tapi pada takdir.
Pada siang hari yang terik, suara sepatu kuda menggetarkan tanah. Kereta mewah berwarna hitam emas lewat di jalan tanah merah desa. Di dalamnya, seorang nyonya Belanda duduk anggun, lengkap dengan topi lebar dan gaun renda menjuntai. Di belakang kereta itu, beberapa anak pribumi membawa kotak-kotak dan peralatan makan—berjalan cepat agar tak ketinggalan.
Anum berhenti menimba air. Ia menatap perempuan kulit putih itu dengan mata dingin.
“Dia cuma duduk, dan semua orang sibuk melayaninya,” gumam Anum. “Kita kerja seharian, tapi tidak satu pun yang menganggap kita manusia.”
Hari itu ia pulang ke rumah dengan kaki lecet, tapi dalam hatinya ada keinginan baru yang tumbuh.
Waktu begitu cepat berganti. Langit sudah mulai gelap, Anum mendengar batuk ibunya makin parah. Ia menuangkan air rebusan jahe dan menyuapkannya perlahan.
“Aku pernah bermimpi, Anum!" Lirih ibunya. “Kau duduk di sebuah rumah besar, lantainya dingin seperti batu, ada lampu-lampu gantung dan musik dari kotak emas, tapi wajahmu tak lagi seperti anakku," ujar ibunya.
Anum tidak menjawab. Ia tahu ibunya sering bermimpi aneh sejak sakit-sakitan.
Tapi malam itu, saat ibunya tertidur, Anum duduk di depan pintu. Angin malam membawa bau tanah dan kayu bakar, tapi pikirannya melayang jauh ke arah Batavia—kota yang sering disebut oleh pedagang keliling. Kota yang katanya ada istana, kapal besar, dan rumah-rumah seperti kastil.
Di sela lamunan itu, Anum masih ingat waktu kecil, ia pernah ditampar oleh pemilik toko roti di pasar.
Anum baru berusia sembilan tahun saat itu, hanya berdiri di depan etalase, memandangi roti manis yang baru ke luar dari oven. Baunya membuat perutnya berkeruyuk. Ia tidak mencuri. Ia hanya menempelkan wajahnya ke kaca.
Tapi, pria Belanda itu keluar dari toko dan menampar pipinya.
“Anak kampung tidak tahu malu! Jangan sentuh barang orang Eropa!” bentaknya, memakai bahasa Belanda.
Tak ada yang membelanya. Ibunya hanya menarik tangan Anum dan membawanya pergi sambil menangis dalam diam.
Malam itu Anum mendengar percakapan orang tuanya dari balik pintu bambu.
“Kalau saja kita punya darah Belanda, mungkin hidup tak segelap ini,” kata ayahnya sebelum wafat.
Hari-hari berlalu, Anum tetap bekerja di sawah. Tapi dalam diam, ia mulai menyimpan uang—sisa upah menenun, upah mengantar barang, bahkan menjual gelang kawin ibunya. Semua demi satu tujuan, meninggalkan Desa Karangjati.
Ia ingin pergi ke Batavia. Bekerja di rumah orang Belanda. Hidup di bawah atap megah. Menjadi lebih dari sekadar anak desa.
Ibunya, tentu saja, menentang.
“Kamu pikir kota itu akan menyambutmu dengan karpet merah? Mereka akan memperlakukanmu lebih buruk dari sini, Num.”
“Lebih buruk dari ini?” Anum menunjuk ke arah sawah. “Apa yang lebih buruk dari melihat ibu sendiri dipermalukan karena tak bisa bayar utang beras?”
Ibunya terdiam. Matanya basah, tapi tak ada jawaban yang bisa ia beri.
Pagi hari, di bulan Agustus, langit kelabu dan embun masih melekat di daun-daun pisang, Anum mengikat kainnya kuat-kuat dan menyelipkan koin terakhir ke dalam ikat pinggang.
Ia tidak membawa banyak. Hanya sehelai selendang batik, secarik alamat dari mulut tetangga yang katanya mengenal keluarga Belanda di Batavia, dan keinginan untuk membalik nasibnya.
Sebelum pergi, ia menatap ibunya yang tertidur lemas. Ia mengecup kening wanita tua itu dengan pelan.
“Aku akan kembali, Bu. Bukan sebagai pengemis. Tapi sebagai perempuan yang dunia harus hormati.”
Anum menatap jauh dan bertekad untuk melanjutkan nasib baik.