


oleh Dina0505 · 94 Bab
Kisah cinta Reihan dan Sakinah yang menuai berbagai konflik dan masalah. Memicu sang nenek, Hilda Pratama untuk melakukan balas dendam melalui Sakinah yang dianggap cucu dari musuh bebuyutannya yang juga orang yang paling dicintai Hilda yaitu Jamie Wirayuda. Reyhan yang merupakan cucu kesayangan Hilda dimanfaatkan oleh Hilda untuk misi balas dendamnya pada Jamie Wirayuda yang merupakan kakek dari Sakinah. Siapa sangka pertemuan dua keluarga itu menyingkap tabir tentang masa lalu Hilda bersama Jamie. Akankah dendam diantara Hilda dan keluarga Wirayuda akan berakhir damai, lantas bagaimana akhir kisah cinta Reyhan dan Sakinah?
Wanita berumur delapan belas tahun itu, menatap sendu pada seorang pria di hadapannya. "Kapan kau akan kembali? Apakah kau akan meninggalkanku?" tanyanya menatap pria yang dicintainya dengan suara lirih.
"Aisya, aku hanya pergi untuk mengikuti perintah orang tuaku. Papa ingin aku kuliah di luar negeri, supaya aku bisa meneruskan usaha Papa. Aku janji setelah aku sukses aku pasti akan kembali," ucap pria berumur dua puluh tiga tahun itu sambil menangkup wajah kekasihnya.
"Aku percaya padamu. Aku pasti menunggumu." Senyum tipis terukir di wajah sendu gadis itu.
"Jamie?" panggil seorang wanita paruh baya yang sedang mencari anak lelakinya.
Jamie menoleh ke arah depan. "Mama sudah memanggilku. Dia pasti telah mencariku ke sekeliling rumah ini. Untung saja, tidak ada yang mengetahui keberadaan kita dan tempat rahasia ini." Senyumnya merekah, menatap kekasihnya sambil tetap menajamkan pendengarannya pada suara kaki yang mulai mendekat ke gubuk kecil, yang dirinya bersama Aisya sedang berada.
"Pergilah. Sebelum ibumu melihat dan menghajar kita," ujar wanita itu sambil menatap ke arah pintu itu dengan rasa cemas.
"Iya, tetapi ucapkan sesuatu padaku." Jamie memeluk kekasihnya.
Wanita itu semakin ketakutan dengan langkah kaki yang semakin mendekat. "Pergilah James, aku tidak ingin kau mendapatkan masalah." Wanita itu menatapnya dengan penuh permohonan.
"Baik, aku akan pergi, tetapi katakan dulu kau mencintaiku," pinta lelaki itu sambil memegang tangan Aisya.
"Aku mencintaimu Jamie," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih Aisya. Aku juga mencintaimu. Aku pergi dulu ya." Jamie mengecup kening wanita itu dengan lembut dan meninggalkannya di gubuk kecil itu.
"Mama, mau ke mana?" tanya Jamie mendekati Amira mamanya.
"Sepertinya aku mendengarkan suara seorang wanita di tempat itu," ucap Amira penasaran.
"Itu mungkin perasaan Mama saja. Di sana hanya ada gubuk kecil yang tidak ada penghuninya, atau jangan-jangan Mama mendengar suara kuntilanak?" goda Jamie sambil menakuti mamanya.
"Ah, kau ini, hanya ingin menakuti Mama saja. Sudahlah ayo kita berangkat sebelum papamu marah karena menunggu terlalu lama," ajak Amira pada anaknya.
Jamie mengikuti langkah mamanya dan menuju ke mobil yang telah menunggu mereka.
"Kenapa lama sekali? Dari mana saja kalian" ucap lelaki paruh baya itu kepada mereka.
"Maaf, Pa. Tadi aku mencari Jamie ke seluruh penjuru rumah ini," jelas Amira pada Arman suaminya.
"Ayo, cepat kita berangkat. Perjalanan ke kota sangat lama. Kalau tidak berangkat sekarang nanti akan menambah waktu yang sangat lama." Arman membukakan pintu mobil untuk istrinya kemudian mengendarai mobilnya.
***
Beberapa waktu setelah kepergian Jamie, Aisya merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, sepertinya dia mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan.
"Aisya bersabarlah, aku akan meminta bantuan," ujar Sarah yang sedang mulai panik, lalu menemui tetangga untuk membantu proses persalinan Aisya.
Ketika Aisya berpisah dengan Jamie, sebenarnya Aisya sedang mengandung anak Jamie, tetapi Aisya tidak mengatakannya karena dia ingin memberi kejutan pada Jamie. Dia sangat yakin lelaki yang dicintainya itu, akan kembali menemuinya. Namun, sampai saat ini lelaki itu tidak juga menampakkan dirinya.
Para tetangga berdatangan untuk membantu proses kelahiran bayi Aisya. Dengan penuh perjuangan Aisya mengerahkan seluruh tenaganya.
Setengah jam berlalu, bayi mungil itu lahir ke dunia. Suara tangisannya memenuhi ruangan kamar.
Aisya masih terbaring lemah, menatap bayi laki-laki yang digendong oleh Sarah dan meminta Sarah untuk mendekatkan wajah bayi itu padanya lalu mencium dan air mata pun mengalir di sudut matanya.
Dia merasa bahagia dengan kehadiran anggota baru dalam keluarganya. Lengkap sudah kebahagiaannya.
"Aisya, kau akan memberikan nama siapa pada anak ini?" tanya Sarah yang masih menggendong bayi merah itu.
Aisya baru saja akan berpikir tentang nama bayinya, tiba-tiba seorang wanita berpakaian hitam dengan jas dan kacamata hitam beserta lima orang pria berjas hitam menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Berikan bayi itu padaku, Sarah." Suara wanita itu menunjukkan keangkuhan.
"Nyonya Amira?" Sarah membelalakkan matanya melihat Amira bersama para pengawalnya.
"Jangan, jangan ambil anakku," pinta Aisya pada wanita itu.
"Bukankah aku pernah memperingatkanmu Aisya, jangan pernah mendekati putraku karena aku telah menjodohkannya dengan anak temanku, tetapi kau malah berhubungan dengannya dan lihatlah buah dari perbuatanmu. Kau memiliki anak dari Jamie tanpa pernikahan!" ucapan Amira benar-benar menusuk hati Aisya. Menikam jantungnya saat itu juga.
"Aku tahu Nyonya, tetapi aku sangat mencintai Jamie, kami saling jatuh cinta," jelas Aisya padanya.
"Cih, persetan dengan cinta. Kau hanya wanita tidak berkasta dan tak pantas untuk putraku. Kau tahu, mengapa aku mengajak Jamie pergi ke kota? Itu semua supaya dia terlepas dari jeratan wanita licik sepertimu." Amira berdecih dan semakin menghinanya.
Aisya menangis menahan sesak di dadanya. Rasanya ingin sekali dia membalas perkataan wanita itu, tetapi saat ini dia benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apa pun.
"Kau tidak perlu khawatir, Aisya. Mulai hari ini, kau tidak perlu menyusahkan dirimu dengan membesarkan anak ini! Aku akan membawa anak ini bersamaku."
Amira menyeringai dengan sorot mata menajam pada Aisya. Selanjutnya, dia membawa anak itu tanpa persetujuan dari Aisya dan menyuruh pengawalnya memberikan uang pada Aisya.
"Nyonya, jangan Nyonya," Sarah mencoba mencegahnya.
"Pergi sana, atau kau mau mati?" bentak salah seorang pengawalnya sambil mendorong Sarah hingga kepalanya membentur sudut tempat tidur.
"Anakku ... a–anakku, jangan bawa anakku." Suara Aisya terdengar lirih menatap orang-orang yang membawa paksa bayi yang baru saja dilahirkannya itu.
Amira memang terkenal sangat kejam dan tidak punya perasaan. Dia sengaja menyakiti Aisya karena tidak menyukai wanita itu, dengan kejamnya dia merebut anak Aisya.
Bukan tanpa alasan dia melakukannya, tetapi karena saat itu, putranya, Jamie telah menikah dengan perempuan pilihan Amira yang bernama Clara.
Namun, mereka tidak mempunyai anak. Begitu mendengar kehamilan Aisya, mereka sengaja membiarkan wanita itu merawat kandungannya sampai melahirkan lalu merebut anak itu dari Aisya supaya bisa menjadi pewaris takhta dari keluarga Arman Wirayuda, ayah Jamie.
Orang-orang yang berada di sekitar itu, hanya bisa menatap Aisya dengan sedih. Mereka juga tidak berdaya untuk melawan Amira beserta pengawalnya karena keluarga Arman Wirayuda merupakan orang berpengaruh dan sangat disegani.
Masyarakat di sana, banyak menerima bantuan keluarganya, oleh sebab itu mereka tidak berani menentangnya.
***
Dua puluh lima tahun kemudian.
Wanita tua itu masih terduduk di kursi goyangnya. Matanya mulai berkaca-kaca ketika teringat pada putranya yang diculik oleh Amira.
"Jika saja anakku masih hidup, mungkin sekarang aku telah melihatnya menikah dan mempunyai cucu darinya," gumam wanita itu dalam hati.
"Nyonya, Nyonya Hilda, apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang pelayan rumah itu memperhatikan wanita tua yang sedang menangis itu.
"Aku baik-baik saja." Wanita itu buru-buru menyeka air matanya sambil menoleh pada ART-nya.
"Nyonya, tadi Tuan Reyhan memberi kabar kalau dia telah menyelesaikan kuliahnya dan akan kembali hari ini ke rumah."
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan cucu kesayanganku," ucap Hilda sambil mengulas senyum di wajahnya.
"Cepat, siapkan makanan yang enak untuk cucuku dan jangan lupa bilang pada sopir untuk bersiap-siap menjemput kepulangannya," sambung Hilda kembali pada ART-nya.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel