"Mau sampai kapan kamu lihat cermin, Theia?" tanya seorang gadis berambut hitam dikepang dengan kaca mata kepada gadis di depannya. Usianya 17 tahun.
"Sampai aku merasa aku cukup cantik buat pergi ke sekolah, Gwyn," kata gadis berusia sama yang dipanggil Theia sambil mematut diri di cermin. Dia merapikan rambut pirang panjangnya untuk kesekian kalinya, dan merapikan seragam sekolahnya. Dia benar-benar sangat cantik, dengan wajah oval, hidung mancung, kulit putih bersih, dan mata biru yang menawan.
Gwynette Adley, sahabat Theia, hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
"Nggak usah munafik. Kamu tahu kamu yang paling cantik di seluruh Neredia," katanya dengan sebal.
Ditegur seperti itu, Theia bukannya tersinggung malah semakin kelihatan senang. Dia merapikan lipstik merah lembutnya dan kemudian mengedipkan satu matanya kepada bayangannya di cermin, yang kontan membuat Gwynette serasa mau muntah.
"Ayo cepat berangkat sekolah. Selepas sekolah nanti sekolah akan mengumumkan siapa saja murid yang bertahan dan yang gugur," kata gadis itu mengingatkan.
Theia akhirnya menatap sahabatnya untuk pertama kalinya.
"Nggak usah khawatir. Aku cantik, kamu jenius. Kita nggak akan tersingkir. Aku udah mempelajari sejarah eliminasi Neredia," katanya dengan penuh percaya diri.
Gwynette melengos.
"Sekalinya kamu belajar, malah tentang sejarah eliminasi Neredia ya," katanya sarkas.
Theia mengedikkan bahu.
"Itu berguna," katanya singkat.
"Yuk. Bis sekolah sudah menunggu kita di depan," kata Gwynette sambil menatap jam tangannya.
Mereka lalu keluar dari rumah Theia dan memasuki sebuah bus sekolah berwarna kuning yang sudah sampai di depan halaman rumah.
"Hei! Lihat itu Theia! Theia, lihat sini, dong!" teriak seorang siswa dari dalam bus, sambil menjulurkan kepalanya dari jendela.
Theia segera mengibaskan rambutnya sambil tersenyum menawan.
"Hai, Jordan," sapanya.
Jordan, siswa itu, segera tampak sumringah.
"Hei! Dia tahu namaku! Kamu benar-benar luar biasa, Theia!" pujinya lalu Theia segera meniupkan ciuman kepadanya, dan membuat Jordan langsung limbung ke kursinya.
Sementara itu Gwynette hanya mendengarkan tanpa bisa berkata apa-apa. Dia sudah biasa melihat kepopuleran sahabatnya, dan juga sudah hafal dengan kebiasaan Theia dalam menanggapi semua pujian itu.
Dia lalu menatap ke atas, ke arah langit yang masih juga memerah, entah untuk berapa lama lagi. Dia teringat, lima tahun lalu, tahun 2026, dunia belum seperti sekarang. Dulu, planet dan tempat tinggal mereka sama seperti tempat lainnya di Bumi. Mereka masih bisa melihat langit biru, masih bisa melihat burung beterbangan di langit dan bintang ketika malam hari. New York masih merupakan kota metropolitan yang megah.
Lalu hari menakutkan itu pun datang. Tempat mereka diserang oleh banyak meteor besar yang menabrak semua bangunan dan meninggalkan hawa panas yang menyengat. Hawa panas itu tidak pernah hilang, dan membuat asap membumbung di jalanan yang terpanggang.
Hari-hari awal, semua orang masih bisa mencoba bertahan, mereka tidak keluar dari rumah mereka. Mereka tetap di dalam rumah. Listrik terputus, menyebabkan mereka semua tidak bisa menyalakan AC ataupun kipas angin. Kulkas dan mesin pendingin lainnya pun juga mati.
Banyak orang akhirnya tidak bisa bertahan dari kondisi itu. Pelan-pelan, satu persatu tumbang. Pemerintah sudah berusaha mencari cara mengatasi keadaan, tapi baru beberapa saat kemudian mereka mendapatkan ide.
Mereka mendapatkan konsepnya dari rumah kaca yang masih bertahan setelah serangan mematikan tersebut. Tanaman yang masih hidup segera diselamatkan, lalu dibangunkan bangunan kaca tebal seperti kubah yang sangat besar. Tindakan darurat untuk mendapatkan udara bersih dan sinar matahari segera dilakukan, dan bangunan kaca itu pun dikembangkan menjadi rumah-rumah baru bagi para warga yang selamat.
Para ilmuwan benar-benar sangat berjasa kala itu, didukung oleh dukungan finansial dari banyak orang terkaya. Mereka lalu bekerja sama untuk membangun kubah-kubah kaca yang sama di berbagai tempat di belahan dunia yang juga hancur karena serangan meteor. Kaca-kaca tebal itu dirancang tahan udara panas.
Sebenarnya usaha untuk menyingkirkan meteor itu dan menangani hawa panas itu sudah coba dilakukan, tapi bagaimana bisa dunia yang setengah hancur secepat itu bisa bangkit? Mereka tidak tahan berada di luar lama-lama. Kulit mereka akan tersengat oleh hawa panas yang luar biasa. Akhirnya, tindakan cepat untuk bertahanlah yang hanya bisa dilakukan saat itu.
Bumi kemudian berupaya untuk sembuh. Di dalam kubah-kubah kaca itu, tanaman ditumbuhkan kembali dan diperbanyak untuk menghasilkan oksigen. Dipasang alat untuk menghalau hawa panas dan menangkap sinar matahari untuk membantu tanaman tetap biaa tumbuh. Jalan-jalan kembali dibangun, ritme kehidupan baru mulai berjalan. Nama baru untuk tempat itu segera dibuat.
Neredia, singkatan dari Next Rebuild Diaspora.
"Ayo, Gwy, kamu melamun lagi," kata Theia lalu menarik tangan Gwynette yang masih memandangi langit yang merah seperti darah.
Gwynette mendesah dan segera masuk ke dalam bus. Seperti biasa, dia duduk di sebelah Theia, sementara itu barisan depan juga sudah penuh terisi.
"Cyrus nggak naik bis lagi?" tanya Gwynette sambil memandang ke sekelilingnya. Cyrus adalah sahabatnya dan Theia juga. Mereka dekat sejak Sekolah Menengah Pertama.
Theia segera mendesah.
"Sejak kapan anak itu mau naik bis? Orang super kaya sepertinya lebih suka naik kendaraan pribadi. Plus dia bisa berangkat berdua dengan Ava," katanya sambil memandang ke luar jendela.
Gwynette menaikkan alisnya.
"Oooh! Dia sudah berhasil mendekati Ava?" tanyanya.
Theia tersenyum.
"Begitulah. Mereka kan memang awalnya sahabat dari kecil, seperti kita. Makanya kedekatan mereka beda," jawabnya.
Gwynette menganggukan kepala.
"Benar juga. Bagus deh. Ava itu baik dan asyik. Dia juga manis sekali," pujinya.
Theia mengangguk.
"Selera Cyrus memang bagus. Semoga saja Ava bisa menjadi anggota geng kita yang baru. Aku gemas sekali ingin mendandaninya," balasnya.
Gwynette memutar bola matanya.
"Kamu suka menjadikan orang sebagai eksperimen, ya?" tanyanya.
Theia menatapnya.
"Lho, untuk menonjolkan pesona, dong. Itu yang membuatku bertahan selama ini kan, btw," balasnya enteng.
Gwynette segera mendesah. Ada satu lagi fakta tentang dunia baru yang mereka tinggali. Fakta yang diam-diam dibencinya, tapi dia tidak berbuat apa-apa untuk mengubahnya.
Fakta yang banyak menelan korban setiap tahunnya dan terus dilakukan tanpa seorangpun bisa protes.
Sistem Eliminasi Neredia.
"Jangan bicarakan soal itu, Theia. Aku nggak suka," katanya.
Theia segera sadar akan apa yang diucapkannya lalu menutup mulutnya dan memeluk Gwynette.
"Astaga, maafkan aku! Aku memang tidak peka!" serunya segera.
Gwynette tersenyum hambar.
"Lagi pula kita bisa ditegur karena membicarakan soal itu, kamu tahu," katanya kemudian.
Theia mengangguk dalam pelukannya.
"Aku tahu. Oke, sekarang kita bahas hal lain yang lebih penting. Apakah tahun ini akan ada yang curang lagi?" tanyanya.
Gwynette memutar bola matanya untuk yang kesekian kalinya.
"Pastinya. Nggak ada siapa pun yang mau dieliminasi," katanya dengan jengah.
Theia mengangguk.
"Karena itu berarti kita akan mati," katanya pelan, nyaris berbisik karena topik yang sedang mereka bahas memang sangat tabu.
Gwynette memandang sekelilingnya dan mengangguk.
"Dibunuh, lebih tepatnya," bisiknya kemudian.