


oleh Minchio · 123 Bab
Netherlandsch-Indies adalah sebuah negara yang terkenal karena kekayaan alamnya yang melimpah. Banyak pengusaha dari Belanda yang hijrah ke sana untuk berbisnis dan menetap. Di wilayah Pasoendan, seorang gadis muda bernama Ratna Sari sering dijodohkan oleh ibunya dengan beberapa pemuda pribumi dari keluarga ningrat hingga anak keturunan Belanda. Selain kesal karena kerap dijodohkan, Ratna juga tidak pernah menyukai lelaki Belanda karena tingkah mereka menyebalkan. Tetapi, rasa benci itu mendadak sirna saat dia mengenal Nicholas. "Buku siapa ini?" Ratna mengambil sebuah buku berbahasa Belanda yang tergeletak di bawah pohon. "Itu punyaku," jawab seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru yang indah.
Ratna Sari baru saja muncul dari ambang pintu, dia melangkah anggun menuju ruang tamu menemui ibunya dan pemuda berdarah campuran yang menunggunya penuh harap. Pemuda itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang bagian ujungnya digulung sampai siku. Ratna Sari kemudian duduk di sebelah ibu.
"Ratna kenalkan ini Dave dan Dave ini Ratna Sari anak tante," ucap wanita itu suaranya terdengar mengalun lembut.
"Bi Onah, makanannya sudah siap?" tanya ibu Ratna kepada pembantunya seorang wanita paruh baya yang sejak tadi menunggu di teras.
"Sudah siap, Nyonya!" Bi Onah menjawab sambil mengarahkan jempolnya ke arah halaman.
Di halaman rumah terlihat sebuah meja dengan taplak kain bergaris hitam putih. Semua itu telah disiapkan untuk tempat Ratna menjamu Dave, anak pengusaha cerutu. Di atas meja terdapat hidangan sederhana. Mulai dari roti lapis, buah segar, hingga teh manis di dalam cangkir antik terbuat dari porselen, Dave dan Ratna Sari akhirnya pergi menuju halaman.
"Semoga mereka saling cocok ya, Bi Onah," ujar ibu Ratna yang berdiri di sebelah pembantunya. Keduanya melihat ke arah Ratna Sari dan Dave yang mulai duduk saling berhadapan.
Ratna Sari dan Dave saling menatap dan tersenyum. "Kau cantik sekali, Ratna," puji Dave.
"Terima kasih. Jadi, kau anak keturunan, kan?" Ratna sebenarnya sudah tahu jika lelaki di depannya bukan pribumi. Meskipun dia memiliki kulit yang gelap dan wajah pribumi tapi bola matanya berwarna lain, bola matanya berwarna biru. Ratna hanya basa-basi mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Iya, ayahku berasal dari Belanda." Dave melihat ke arah cangkir berisi teh manis, tatapannya mengarah pada semut kecil berwarna hitam yang berusaha naik ke ujung cangkir. Dave tiba-tiba mengambil semut itu serta membunuhnya.
"Pencuri kecil," gumamnya dingin. Ia lalu mengelap tangannya ke taplak meja.
"Kenapa kau membunuh semut itu?" tanya Ratna kaget.
Dave mengangkat bahunya. "Semut itu juga tahu makanan dan minuman ini bukan miliknya, tapi dia tetap saja mencurinya. Jika dia pergi dari meja ini dengan membawa makanan, sebentar lagi kawanannya akan datang. Ratna, terkadang masalah kecil harus segera diatasi sebelum menjadi besar."
Nada suara Dave membuat Ratna tak nyaman. "Itu terlalu kejam, mereka hanya hewan kecil yang tidak memiliki akal, sedangkan kita manusia kan memiliki akal, dari pada membunuh, lebih baik membuangnya ke tanah."
Dave tersenyum tipis, lalu meneguk teh di cangkirnya, meskipun terlihat tenang, tetapi hatinya bergejolak. Dia merasa terhina dengan ucapan Ratna Sari, Dave berusaha menahan amarahnya demi mendapatkan Ratna Sari yang terlihat sangat cantik.
Meskipun Ratna termasuk keluarga berada karena kedua orang tuanya memiliki perkebunan yang luas serta pabrik teh, baginya Ratna tetap pribumi yang akan selalu dipandang rendah oleh dia serta orang-orang Belanda yang ada di negara ini, sekalipun terhormat, mereka tetap saja kelas dua.
Setelah ucapan Ratna, keheningan pun terasa di antara mereka, bahkan angin sepoi-sepoi juga aroma manis dari bunga di sekitar tidak bisa menenangkan keadaan yang mulai terasa panas.
"Apa teh ini diproduksi sendiri? Maksudku, dari pabrik keluarga kalian?" Dave masih memegang cangkirnya.
"Iya, itu teh yang kami produksi, Dave. Maaf atas ucapanku tadi, sejujurnya aku selalu memberi makan semut. Mungkin itu terdengar aneh bagi kau, tapi aku menyukai semut, meskipun mereka kecil tapi mereka bisa mengatasi masalah bersama-sama," ucap Ratna Sari dengan lembut.
"Aku tahu maksud ucapan kau itu, negara ini tidak bisa merdeka karena semua orang tidak bergerak dan bekerja sama mengusir penjajah, kan?"
"Aku tidak berpikir ke arah itu, tidak usah membahas hal sensitif ya!" Ratna menjadi canggung, dia meminum teh miliknya dengan perlahan.
"Kalau liburan sekolah tiba, bagaimana kalau kau ikut aku ke Batavia. Keluargaku akan pergi ke sana untuk menemui kerabat kami." Dave tersenyum lebar.
"Ah, Batavia ya. Terus terang aku penasaran dengan suasana di Batavia, tapi aku tidak bisa ikut, terima kasih sudah mengajakku."
"Kalau begitu sepulang sekolah aku ingin mengajak pergi ke toko es krim di kota, boleh?"
"Boleh saja, eh maksudnya ke Kota Bandoeng? Apa tidak terlalu jauh pergi ke sana hanya untuk membeli es krim?"
"Tidak jauh, aku sering ke sana dengan supir pribadiku."
"Oh begitu." Ratna menghela napas, sebenarnya dia tidak tertarik dan berminat menerima tawaran dari Dave, kejadian semut tadi sudah merubah pandangan Ratna. Baginya, semua anak keturunan Belanda selalu menyebalkan.
"Lihat itu, semutnya berdatangan," ucap Dave melihat ke arah gerombolan semut yang berbaris ke piring berisi roti selai. Dave berusaha menyingkirkan semut-semut itu, tapi Ratna menepis tangan Dave hingga keduanya saling bertatapan.
"Tolong jangan dibunuh ya," pinta Ratna Sari.
Dave lalu memilih meniup semut-semut yang ada di atas meja. Dave menghela napas panjang, dia merasa kesal dengan Ratna Sari, tapi di sisi lain dia tertarik dengan kecantikan dan pesona Ratna Sari.
"Terima kasih, tapi kau tidak perlu melakukan itu." Ratna Sari tersenyum kecil.
"Ratna, mereka hanya hewan kecil pengganggu, mereka pencuri." Dave kembali duduk di kursinya.
"Ratna, meskipun engkau cantik tetapi aku tidak menyukai sikap itu, memberi makan semut adalah hal terkonyol yang pernah aku dengar. Jika bukan karena permintaan ibuku, aku juga tidak akan sudi berada di sini. Tapi aku akan sedikit bermain-main dengan kau sebelum aku pergi."
Dave menatap Ratna dengan dalam, tetapi Ratna memilih membuang pandangannya ke arah kolam ikan. "Ayo dimakan roti selainya, itu selai buatanku terbuat dari buah nanas segar dari perkebunan kami," ucap Ratna sesaat setelah melirik ke arah Dave lagi.
"Benarkah? Jadi kau sengaja membuat ini untuk pertemuan kita, ya?" Dave tersenyum kemudian meraih roti selai yang ada di atas piring porselen putih.
"Iya." Ratna tersenyum hambar lalu mengambil roti miliknya. Ia memotong roti itu sedikit lalu membuangnya ke atas tanah, tak lama gerombolan semut pun mendekati remahan roti selai itu.
Dave menghela napas seraya mengunyah roti di dalam mulutnya, selai nanas itu terasa manis dan menyegarkan, tapi kelakuan Ratna membuatnya geram. Hingga Dave pun tak tahan untuk mengkritik Ratna, "Ratna, itu membuang-buang makanan, kalau aku melakukannya di depan ibuku, dia bisa memarahi aku."
Sindiran halus Dave membuat Ratna tersenyum. "Kalau ibuku tidak pernah mempermasalahkan itu."
Saat keduanya menikmati roti selai nanas, dari arah pintu rumah muncul ibu Ratna berjalan ke arah luar dengan membawa rantang susun berisi makanan. "Ratna, Ibu pergi ke pabrik teh dulu, ya."
Ratna menoleh, dia mengangguk sambil tersenyum. Ratna melihat ibunya yang melangkah menuju mobil mereka, seorang sopir pria paruh baya segera membuka pintu untuknya. Jendela mobil dibuka lebar, ibunya tersenyum dari dalam kendaraan sambil melambaikan tangan ke arah Ratna dan Dave.
Setelah ibu Ratna benar-benar pergi, suasana di halaman semakin sepi, Ratna dan Dave terdiam sambil menikmati makanan yang ada di atas meja. Sampai tiba-tiba Dave menggeser kursinya mendekati Ratna. "Bagaimana kalau kita juga pergi keluar?" bisiknya.
Ratna tersenyum ragu, lalu menunduk melihat roti selai miliknya yang tersisa satu. Dave menghela napas dan mencoba meraih tangan Ratna Sari. "Ratna, apakah kita bisa lebih dekat? Meskipun kita berbeda pandangan tentang semut itu." Dave pun mengelus tangan Ratna.
Ratna menarik tangan, menatap Dave dengan tajam. "Dave, aku tidak nyaman, maaf!"
Kekecewaan terlihat di mata Dave, tiba-tiba dia bangkit dari kursinya dan mengambil gelas porselen antik di dekat Ratna, melempar gelas itu ke arah bebatuan dekat kolam ikan, suara pecahan gelas memecah keheningan di halaman rumah.
Ratna Sari kaget, melihat benda yang selalu dihargai oleh ibunya pecah berkeping-keping. Gelas itu adalah gelas koleksi ibu sebagai hadiah dari seorang pengusaha Tiongkok saat keluarganya menjual teh kepada mereka.
"Dave, kau gila!" seru Ratna.

Minchio
92 Pengikut · 6 Novel