


oleh Alpinah · 5 Bab
Bagaimana rasanya dikhianati adik dan suami sendiri? Apa yang seharunya dilakukan kalau kenyataannya memang begitu? Sakit, sedih, marah, kecewa dan benci jadi satu—Laras harus menerima kenyataan pahit itu, diselingkuhi ketika hamil besar dan dicampakkan begitu saja, akan kah Laras membalas dendam? Seperti ada pembalasannya? Ayo yang penasaran bisa baca selengkapnya ....
"Mbak!"
Tangis adikku pecah ketika Aku baru datang untuk melihat jenazah kedua orang tuaku, aku berdiri dengan kaki yang sudah tak ada kekuatan, menatap lurus ke depan.Gemetar seluruh tubuhku bahkan aku ngga ada di saat-saat terakhir sisa hidup orang tuaku, apa aku masih layak dianggap anak?
Tubuhku jatuh memeluk kedua jasad orang tuaku, tangisku seketika pecah, aku limbung bahuku di cekal oleh suamiku dia masih terlihat tegas, safana menghampiriku lalu ikut memeluk bahuku,
Ibu terlihat pucat pasi banyak luka di tubuhnya , mereka meninggal karena kecelakaan, saat itu ibu dan ayahku mengendarai becak. Ibu yang baru saja pulang dari pasar, ditabrak dari belakang,
Safana tak berhenti menangis melihat ayah dan ibu sudah terbujur kaku, Safana adalah adikku satu-satunya yang sebenarnya bukan darah daging keluargaku
Dia anak yang ditemukan di jalan oleh Ibu waktu Safana baru berumur Enam tahun dia akhirnya ikut keluargaku walaupun keluargaku tidak bisa memberinya kekayaan seenggaknya dirumah ini dia dibesarkan dengan cinta. Aku anak tunggal dari keluarga ini tapi ibu akhirnya mengadopsi Safana menyekolahkannya walaupun hanya sebatas SMP karena terkendala biaya,
Keluargaku bisa dibilang sederhana Ayah yang hanya supir becak dan ibu sebagai rumah tangga, tapi di rumah ini aku dan Safana nggak pernah kekurangan kasih sayang,
Namaku Laras sejak dipinang oleh Mas Arif Aku dibawanya tinggal di kota karena di sana dia sudah punya rumah sendiri. Aku bertemu dengannya secara nggak sengaja di tempat kerja. Waktu itu pekerjaanku hanya pelayan di sebuah cafe, dia selalu datang hampir setiap hari hanya untuk membeli coffe dan duduk seharian di sana, bukan hanya dia yang seperti itu jadi nggak heran, perkenalan aku dan suamiku waktu itu sangat singkat,
Kebetulan Mas Arif juga anak satu-satunya dan mertuaku hanya tinggal ibu saja karena ayah Mas Arif sudah meninggal dunia sejak dia kecil. Itu pun ibunya tinggal jauh karena punya rumah sendiri jadi jarang berkunjung ke rumah. Aku hanya tinggal dengan suamiku berdua, pernikahan Aku dan Mas Arif juga belum lama mungkin baru sekitar tiga tahunan kalau pengantin baru masih anget sebenarnya.
Alhamdulillahnya di tahun ketiga pernikahan ini aku dapat kado terindah dari Allah berupa kehamilan dan usia kehamilanku sekarang menginjak empat bulanan. Masyaallah.
Suamiku kerja di sebuah perusahaan jadi karyawan biasa tapi hebatnya sudah kebeli rumah yang alhamdulillahnya cukup untuk tinggal berdua karena ada dua kamar satu ruang tamu, satu dapur dan ada ruang keluarga rumah sederhana minimalis itu berada di pinggiran kota.
Aku hidup bahagia dengan suami dia selalu memanjakan aku dengan berbagai cara nya, kadang pulang kerja selalu bawa buah tangan untukku, kadang membawa hadiah kecil, rumah tangga aku dan suami memang seharmonis itu, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Safana adik angkat yang sudah aku anggap sebagai adik kandungku itu rupanya memberiku kabar kalau orang tuaku di kampung mengalami kecelakaan dan membuat keduanya meninggal dunia.
Aku langsung pulang pada saat itu juga, ditemani oleh suamiku dia bela-belain pulang cepat dari kantor izin tentunya dan langsung bergegas pergi ke kampung halamanku yang jarak tempuhnya memakan waktu sekitar dua jam perjalanan.
"Bagaimana ini bisa terjadi Safana?" tanyaku pada adikku yang usianya sudah menginjak dewasa, aku dan dirinya hanya beda dua tahun lebih tua aku, di usia yang siap menikah dia masih lajang karena katanya mau bantu ibu dan ayah dulu mau mengabdi karena dia sudah dibantu sejauh ini, dia menjelaskannya sambil berlinang air mata, aku tak kuasa menatap wajahnya.
"Aku nggak tahu, Mbak, posisinya aku sedang mencuci pakaian tiba-tiba ada keramaian warga datang ibu dan ayah sudah tak bernyawa, katanya jadi korban tabrak lari" Aku semakin histeris, Mas Arif memelukku erat sambil mengusap bahu dan mencium puncak kepalaku, dia terlihat lebih tegar karena tidak ada di posisi aku sebagai anak yang kehilangan orang tuanya.
"Sabar ya, Sayang yang tegar jangan larut sama kesedihan kan masih ada aku," ucapnya lembut membuatku sedikit tenang, akhirnya setelah aku sedikit tenang proses pemakaman dilakukan hari itu juga, dari mulai dimandikan dikafani, disholati dan dikuburkan banyak pelayat datang dan mendoakan agar kedua orang tuaku tenang, pelayat silih berganti datang untuk berbelasungkawa.
Aku juga sebenarnya gamau berlarut-larut dalam kesedihan tapi kalau keduanya yang meninggal aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi selain suami, hal itu yang bikin sedih kalau masih ada ayah dan ibu seenggaknya aku nggak akan takut kalau ada apa-apa karena mereka selalu baik sama aku, sekarang dunia aku hilang,hilangnya mereka membuatku takut, kenapa Tuhan ambil keduanya dari hidupku?
“Sudah, dong, jangan dipikirkan terus. Kamu, loh, lagi hamil; kasihan anak yang ada di kandunganmu. Katanya, kalau ibunya sedih, bayinya juga ikutan sedih. Kamu harus kuat demi buah hati." Mas Arif menepuk pipiku pelan.
Aku tersenyum, ucapannya nggak salah. Aku memang tidak boleh larut dalam kesedihan. Proses pemakaman ibu dan ayahku. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Tak ada hambatan sama sekali. Setelah jenazah dikuburkan, para pelayat pun pergi. Aku tidak ada niatan untuk mengadakan acara tahlilan karena memang aku harus kembali ke kota, suamiku harus kerja. Bingung aku sekarang, apa aku harus tinggal beberapa hari disini mengurus tahlilan?
"Mas, tahlilan ibu menurut kamu bagaimana? Kamu Nggak bisa ya kalau lama-lama di sini?" tanyaku lembut. Mas Arif tersenyum.
"Aku harus kerja, sayang. Kalau nggak kerja, nanti kamu lahiran bagaimana biayanya? Memang kamu mau mengadakan tahlilan di sini?"
"Tentu saja,kasihan ayah dan ibu kalau aku sebagai anaknya malah tidak peduli. Seenggaknya tujuh hari, Mas."
"Ya sudah, aku bakal kirimkan uang untuk biaya tahlilan ibu dan ayah, tapi aku tidak bisa menemani kamu di sini. Bagaimana kalau kamu tetap di sini? Aku kerja nanti seminggu aku jemput kamu. Tahlilan cuma seminggu doang kan?"
"Beneran, Mas? Tapi bagaimana dengan makan kamu? Nanti kamu makan dari luar tidak sehat.”
"Kamu kan anak tertua nya kalau kamu ngga ada nggak bisa, aku bisa urus diri aku sendiri kamu disini saja temani Safa, kasihan dia." Aku mengangguk, aku setuju dengan ucapan Mas Arif karena kalau bukan begitu mau bagaimana lagi.
"Tapi kamu gak papakan aku tinggal seminggu?"
"Iya, gak papa, Sayang nanti malam setelah tahlil pertama aku langsung pulang ya? Besok harus masuk pagi." Aku mengangguk lalu memeluk Mas Arif, di pelukannya rasanya damai.
"Kamu belum keramas ya, Sayang? Rambutnya bau apek," celetuknya membuat aku terkekeh pelan ada saja tingkahnya.

Alpinah
0 Pengikut · 1 Novel