


oleh Rayhan Rawidh · 28 Bab
Di dunia dengan sihir dan teknologi, kehidupan Jenara berubah drastis ketika dia mendapat undangan ke Akademi Teknologi Sihir. Di akademi tersebut, para jenius muda menggabungkan mantra dengan sains, menciptakan keajaiban yang tak terbayangkan. Namun, akademi itu tidak hanya menyediakan ilmu pengetahuan. Ketika Jenara mengenakan kacamata ajaibnya, dia mengungkap rahasia, sabotase, dan ancaman yang dapat menghancurkan keseimbangan antara sihir dan teknologi. Bersama teman-temannya Mima, Fido, dan Tulsa, Jenara memulai perjalanan penuh tantangan, penemuan, dan pencarian untuk menyelamatkan kampus mereka. Dari bisikan tengah malam yang misterius hingga turnamen berisiko tinggi, Jenara dan kawan-kawan menjelajahi dunia yang penuh keajaiban, inovasi, dan juga marabahaya.
Di kota kecil tempat di mana dengungan mesin bercampur dengan bisikan mantra, rumah Jenara berdiri sebagai perpaduan sempurna antara sihir dan teknologi. Dindingnya, yang dihiasi dengan kaligrafi rune kuno, diterangi oleh lampu teknologi tenaga surya yang bersinar lembut.
Jenara, dengan rambutnya yang hitam legam kemilau disorot sinar matahari dan mata yang cemerlang bagai semburat cahaya cakrawala senja, adalah perwujudan dari dualitas ini. Garis keturunannya, dari penemu intelektual termasyhur dan penyihir agung terkuat, telah memberinya rasa ingin tahu bawaan dari lahir untuk kedua dunia.
Ketika dia berada di kamarnya, jari-jarinya dengan lincah menari di antara membuat roda gigi kecil dan menelusuri mantra pelindung. Kamar itu sendiri adalah cermin bagi jiwanya. Setengahnya diisi dengan alat-alat mekanis dan setengahnya lagi dengan artefak dengan kekuatan gaib penuh rahasia.
Ketika dia dengan cermat menyesuaikan roda gigi kecil pada penemuan terbarunya, suara lembut yang berdesir menarik perhatiannya. Seekor gagak berbulu perak, sayap metaliknya memantulkan sinar matahari, bertengger di ambang jendela kamarnya, memegang amplop yang terlihat mewah di paruhnya.
Jenara mendekat dengan perasaan campur aduk, antara waspada yang menjadi naluri penyihir dan penasaran yang menjadi dasar penelitian para ilmuwan.
Burung gagak itu, yang tampaknya memahami maksud Jenara, dengan lembut meletakkan amplop itu di ambang jendela sebelum kemudian terbang, meninggalkan jejak debu peri yang berkilauan. Amplop itu sendiri merupakan keajaiban. Dibuat dari bahan yang terasa seperti perkamen paling lembut, warnanya berubah-ubah menakjubkan membentuk pola kaleidoskop berbagai bentuk geometri.
Ternyata di dalamnya tertanam sirkuit-sirkuit kecil yang berdenyut dengan cahaya lembut, yang menciptakan pola-pola rumit yang mengingatkan pada simbol-simbol magis dari zaman dahulu.
Dengan napas tertahan, Jenara dengan hati-hati membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu yang terbuat dari bahan berkilau yang sama. Ketika tangan Jenara menyentuhnya, simbol-simbol itu bergerak-gerak menyusun ulang diri mereka sendiri untuk membentuk kata-kata yang ditulis dengan jenis font cursive yang indah.
"Jenara yang terkasih," demikian bunyinya, "Anda dengan hormat diundang untuk bergabung dengan Akademi Teknologi SIhir."
Kata-kata itu disertai dengan lambang roda gigi yang dijalin dengan tongkat mantra, yang melambangkan perpaduan sempurna antara teknologi dan sihir.
Prestise akademi itu diketahui oleh semua orang di kota itu. Di sanalah para pemikir paling cemerlang menyelidiki misteri sihir dan keajaiban teknologi.
Menerima undangan untuk menjadi mahasiswa di sana merupakan kehormatan yang hanya bisa diimpikan oleh sedikit orang, dan undangan tersebut menunjukkan potensi penerimanya.
Jantung Jenara berdebar kencang karena kegembiraan dan harapan yang meluap. Akademi tersebut merupakan tempat di mana hasrat ganda dapat berkembang, tempat perdebatan orang tuanya akan menemukan keselarasan.
Sambil memegang undangan tersebut, di dalam hatinya dia membayangkan petualangan yang menantinya. Juga tantangan yang akan dihadapinya, serta warisan yang ditakdirkan untuk diciptakan olehnya.
Kabar tentang undangan tersebut menyebar ke seluruh rumah Jenara bagai api yang membakar hutan di musim kemarau. Menjelang malam, seluruh keluarga telah berkumpul di ruang tamu., Amplop yang berkilauan diletakkan dengan anggun di atas meja kopi.
Ruangan itu dipenuhi dengan arura campuran kegembiraan, kekhawatiran, dan rasa ingin tahu yang nyata. Ibu Jenara, seorang teknolog terkenal di kota itu, adalah orang pertama yang berbicara.
"Akademi Teknologi Sihir," katanya sambil merenung. jarinya menelusuri lambang pada amplop tersebut. "Ini suatu kehormatan, Jenara. Namun ingat, teknologi adalah masa depan. Sihir, meskipun menarik, memiliki keterbatasan."
Ayah Jenara, seorang penyihir dengan garis keturunan yang dapat ditelusuri kembali ke pendiri kota, mengangkat sebelah alisnya.
"Sihir adalah warisan kita," balasnya dengan lembut. "Itulah esensi dari siapa kita. Akademi ini menyadari potensi untuk menggabungkan kedua dunia. Sebagai putri kita, Jenara memiliki yang terbaik dari kita berdua dalam dirinya."
Terjebak di antara pandangan orang tuanya yang bertolak belakang, Jenara menatap adiknya, Monte, untuk meminta dukungan. Namun, wajah Monte justru tampak dipenuhi rasa iri.
"Kenapa harus dia?" gumam Monte, nyaris tak terdengar. Jari-jarinya berkedut seolah ingin merapal mantra. "Aku telah berlatih sihir dua kali lebih keras. Itu tidak adil."
Sebelum Jenara dapat menjawab, neneknya, yang tertua di ruangan itu dan gudang tambo sejarah keluarga, turun tangan.
"Cukup," katanya. Suaranya membawa tekanan yang membuat ruangan itu hening.
"Ini bukan tentang sihir versus teknologi atau siapa yang lebih pantas. Ini momennya Jenara."
Dia menoleh ke Jenara, tatapannya melembut.
"Cucuku, akademi ini adalah tempat belajar yang hebat, tetapi juga tempat yang menuntut penuh tanggung jawab. Dunia berada di persimpangan jalan, dan kamu memiliki kesempatan untuk membentuk jalannya. Rangkullah sihir dan teknologi, karena bersama-sama, paduan keduanya dapat menciptakan keajaiban."
Ruangan itu hening sejenak, setiap anggota tenggelam dalam pikiran. Nenek Jenara, Zasmine, memberi isyarat agar dia duduk di sampingnya. Perapian tua berderak, menghasilkan bayangan menari-nari di dinding rumah mereka yang menurut ukuran warga kota, cukup sederhana.
Meskipun sudah tua, mata Zasmine berbinar dengan kebijaksanaan dari tahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya dan kisah-kisah yang tak turukur banyaknya.
"Sebelum kota ini menjadi mercusuar persatuan antara sihir dan mesin," Zasmine memulai, suaranya lembut namun berwibawa, "dunia kita terpecah belah."
Berabad-abad yang lalu, tanah itu terbagi menjadi dua faksi yang dominan: Penyihir Edhenonia dan Teknolog Vorta. Edhenonia adalah wilayah pesona alam gaib, tempat udara berkilauan dengan mantra dan sungai-sungai mengalir dengan berbagai ramuan. Para Penyihir meyakini sumber kekuatan berasal dari unsur-unsur alam, mengambil kekuatan dari tanah, angin, api, dan air.
Sebaliknya, Vorta adalah keajaiban inovasi.
Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, kendaraan terbang, dan mesin-mesin canggih menghiasi cakrawalanya. Para Teknolog mengandalkan kekuatan logam dan mesin, memanfaatkan energi dari sumber-sumber yang dianggap tidak alami oleh para Penyihir.

Rayhan Rawidh
24 Pengikut · 5 Novel