


oleh Ammah111 · 94 Bab
Aku bisa setia padamu, walaupun badai menerjang hidupku. Namun, ketika badai itu terus-menerus mengoyak tubuhku, bolehkah aku berpaling mencari pelangi yang bisa menyembuhkanku? "Apa tawaranmu waktu itu masih berlaku, Arion?" "Tawaran apa?" "Selingkuh.”
Kehidupan pernikahanku yang semula begitu membahagiakan dan terasa hangat, entah mengapa menjadi pernikahan yang mencekam dan juga suram.
Mas Asgar yang semula memperlakukanku dengan sangat baik, kini berubah menjadi sosok yang tidak aku kenali sebelumnya.
Dia menjadi pribadi yang berbeda ketika derajat ekonomi kami berada di puncak. Aku selalu diacuhkan, dikasari, bahkan dicaci maki berulang kali oleh laki-laki yang sangat aku cintai itu.
Aku sering bertanya-tanya, apa kesalahan yang telah aku lakukan hingga sikap Mas Asgar berubah?
Adakalanya, aku ingin menyerah dengan pernikahan ini. Namun, sadar jika tidak memiliki siapa pun di dunia ini membuat semua tekadku surut.
Aku menghela napas panjang berulang kali menatap aneka masakan yang tersaji di atas meja makan.
Sepertinya, masakan sebanyak ini akan terbuang percuma karena orang yang aku tunggu tidak akan pulang.
Apa Mas Asgar tidak ingat, jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh?
“Asgar belum pulang?” tanya Alya–sahabatku yang saat ini sedang meneleponku.
“Belum. Mungkin dia sibuk.”
“Udah coba dihubungi?”
“Nomornya nggak aktif.”
“Maaf, nih, ya. Aku bukannya ngomporin, tapi memangnya kamu nggak curiga dengan Asgar?”
Aku menautkan kedua alisku mendengar pertanyaan Alya. “Memangnya curiga kenapa?”
“Awal-awal menikah, sesibuk apa pun Asgar, dia pasti akan meluangkan waktu untukmu. Namun, sekarang dia beralasan sibak-sibuk terus, jangan-jangan–” Alya menjeda kalimatnya. “Jangan-jangan suamimu punya wanita lain.”
Deg!
Jantungku seketika bergemuruh mendengar ucapan Alya. Selama ini aku tidak pernah menaruh rasa curiga pada Mas Asgar karena aku sangat memercayainya.
“Mas Asgar nggak mungkin seperti itu,” kataku mencoba tenang.
“Apa pun mungkin terjadi, kok. Banyak, tuh, laki-laki di luar sana yang tiba-tiba berubah dengan istrinya karena memang mempunyai wanita idaman lain.”
“Tapi, Mas Asgar nggak mungkin seperti itu, Al. Dari zaman pacaran, dia tipikal laki-laki yang setia.”
Alya terdengar membuang napas dengan kasar di seberang sana. “Terserah kamu aja, deh! Yang terpenting, kamu harus ada rasa curiga dengan Asgar!”
Setelah berkata demikian, Alya langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan sepihak.
Aku menatap layar ponsel yang telah menghitam dengan nanar. Sekelebat pikiran buruk kepada Mas Asgar tiba-tiba memenuhi otakku.
Benarkah Mas Asgar mempunyai wanita idaman lain sehingga sikapnya berubah padaku?
Aku beralih duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan kacau balau. Perkataan Alya barusan berhasil meracuni pikiranku.
Segera kuhubungi nomor telepon Mas Asgar kembali. Rasa kecewa seketika menghampiriku. Lagi-lagi, nomor Mas Asgar tidak aktif. Pesan teks yang aku kirimkan padanya sejak tadi siang juga hanya dibaca dan tidak dibalasnya sama sekali.
Sudut netraku tiba-tiba menghangat. Ucapan Alya tadi, apakah benar-benar nyata?
Suara pintu diketuk berulang kali membuatku tersentak. Rasa kecewa yang menelusup kalbu mulai sirna begitu saja. Apakah yang mengetuk pintu saat ini adalah Mas Asgar?
Aku segera menghapus air mataku dan membenarkan penampilanku. Malam ini, aku sengaja berdandan untuk menyenangkannya. Bahkan, pakaian yang kukenakan cukup terbuka agar Mas Asgar tergoda padaku.
Begitu kurasa penampilanku sudah cukup rapi. Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari menuju daun pintu untuk membukanya.
“Mas As–” Aku seketika mengatupkan bibirku ketika yang berdiri di depan pintu saat ini ternyata bukanlah Mas Asgar.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam terlihat sedang menggendong tas ransel berdiri tepat di depanku. Wajahnya ditutupi oleh kacamata dan juga masker hitam.
Aku tertegun menatapnya sejenak. Siapa orang ini? Kenapa dia bisa masuk ke area rumahku?
Tunggu! Apa jangan-jangan … dia adalah maling?
Tubuhku seketika gemetaran karena ketakutan. Dengan cepat aku memundurkan langkah untuk menutup pintu kembali. Namun, belum sempat aku menutupnya, tangan laki-laki tersebut sudah menahannya terlebih dahulu.
“Jangan ganggu aku! Atau aku akan teriak!” teriakku lantang sok berani, padahal rasanya sudah seperti mau pingsan.
“Aku bukan orang jahat!”
“Kalau bukan orang jahat, ngapain tengah malam begini datang ke rumah orang?”
“Jadi, kamu nggak mengenali aku?”
“Nggak! Aku nggak mengenali kamu! Sana pergi!”
Ia tiba-tiba melepas masker dan juga kacamata yang dikenakannya. “Kalau sekarang bagaimana? Masih belum mengenali aku juga?”
Aku menatapnya dengan seksama. Wajah rupawan, hidung mancung, alis tebal, serta memiliki tatapan mata yang tajam, tapi menenangkan. Ia seakan mengingatkanku dengan seseorang. Namun, siapa?
“Aku Arion. Masa kamu lupa, Mbak?”
“Arion? Arion siapa?”
“Adik iparmu.”
“Adik ip–” Kedua mataku langsung melebar dengan sempurna. Memori pada orang bernama Arion seketika berputar di otakku. “Astaghfirullah! Kamu beneran Arion?”
“Iya, Mbak. Masak aku bohong.”
“Ya, ampun. Maaf-maaf. Ayo, silakan masuk.” Segera tanganku melebarkan daun pintu, lalu menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
Arion Hyuga Hartono adalah si bungsu dari keluarga Hartono–alias adik iparku.
Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Karena tuntutan ekonomi, begitu lulus sekolah ia langsung pergi ke luar negeri menjadi TKI.
Aku sungguh tak menyangka, bertahun-tahun tidak bertemu dengan Arion, baik penampilan atau fisiknya saat ini berubah drastis hingga membuatku tak langsung mengenalinya.
“Sekali lagi aku minta maaf, aku tadi sungguh nggak mengenali kamu.”
Arion terkekeh mendengar ucapanku. Ia lantas meletakkan bokongnya di atas sofa, sementara tas ransel besar yang dibawanya ia letakkan di sudut ruang tamu.
“Nggak apa-apa, Mbak. Lagi pula, ini juga salahku tengah malam begini datang ke rumahmu. Maklum, pesawat yang kutumpangi sempat delay beberapa jam.”
“Owalah. Kalau begitu sebentar, ya. Aku buatkan minum dulu.” Aku melangkahkan kakiku menuju dapur membuatkan minum untuk Arion.
Beberapa saat kemudian, aku kembali ke ruang tamu dalam keadaan membawa nampan berisi secangkir teh hangat.
“Minumlah,” kataku lalu duduk tak jauh darinya.
“Terima kasih, Mbak.” Arion terlihat mengulurkan tangannya mengambil cangkir teh tersebut dan menyesapnya secara perlahan.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku begitu ia telah meletakkan cangkir pada posisinya tadi.
“Aku baik. Kamu sendiri bagaimana, Mbak?”
Sebenarnya kabarku tidaklah baik, tapi aku tak mungkin mengatakannya pada Arion. “Alhamdulillah, aku juga baik. Ngomong-ngomong … kamu pulang dari luar negeri, kok, nggak ngabarin dulu?”
Pemuda yang wajahnya tidak mirip Mas Asgar itu hanya terkekeh mendengar pertanyaanku.
“Sengaja, Mbak. Aku mau kasih kejutan untuk Mama. Pekan depan Mama ulang tahun.”
Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Sungguh, dia anak yang baik sekali. Rela pulang dari luar negeri hanya untuk memberikan kejutan ulang tahun mamanya–atau yang biasa kupanggil dengan mama mertua juga.
“Kamu sudah makan belum?”
“Belum, Mbak.”
“Makan dulu, yuk!” Aku mengajak Arion memasuki ruang makan.
Begitu sampai di ruangan bernuansa putih tersebut, ia terlihat takjub dengan aneka makanan yang berjejer di atas meja.
“Wow, masakanmu banyak sekali, Mbak! Apa hari ini sedang ada acara?”
“Hmm … sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dan Mas Asgar yang ketujuh. Jadi, aku memasak makanan banyak.”
“Tapi, kok, terlihat masih utuh?”
“Mas Asgar belum pulang dan sepertinya dia nggak akan pulang. Jadi, makanlah semuanya.”
Tanpa bertanya lagi, Arion menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Tangannya bergerak mengambil aneka makanan yang berada di atas meja dan memindahkan ke atas piringnya.
Begitu ia menyendokkan makanan tersebut ke mulutnya, ia langsung menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Kenapa? Apa masakanku nggak enak?”
“Bukannya nggak enak, Mbak! Ini enak banget ngalah-ngalahin masakan restoran bintang lima!” Dia mengacungkan kedua jempolnya ke arahku, lalu makan dengan sangat lahap.
Aku tersenyum tipis melihat reaksinya yang sedikit berlebihan. Bahkan, Mas Asgar sendiri belum pernah memuji masakanku sampai segitunya.
“Syukurlah kalau enak.” Setidaknya, rasa kecewaku sedikit berkurang karena ada yang memakan masakanku.
“Oiya, beberapa hari ke depan, apakah aku boleh nginep di sini, Mbak?”

Ammah111
73 Pengikut · 3 Novel