


oleh Lita Ashari · 32 Bab
Pernikahan yang dulu sangat indah, kini berubah penuh luka akibat kesalahpahaman. Alin Saputri, harus merasakan dilema setelah kesalahpahaman itu tidak benar. Ia harus memilih antara dua lelaki yang sama-sama dicintainya. Apa yang dilakukan Alin selanjutnya? Tetap setia dengan pernikahan, atau sebaliknya?
“A—apa, Pak?!” Rifki Argantara bertanya sekali lagi dengan wajah sumringah dan senyum melebar. Kedua matanya seakan berkaca karena terharu.
Membuat Alin Saputri yang berdiri dengan memegang senampan makanan dan minuman sedikit bergetar keheranan. Ia seakan bisa merasakan ada sesuatu menggembirakan yang sedang menyelimuti perasaan sang suami.
Ia pun dengan perlahan menghampiri dan ikut duduk membersamainya. Ia sungguh sangat penasaran apa yang ada di tengah pembicaraan suaminya dengan lawan bicaranya di telepon.
Namun, ketika itu Rifki masih berbicara dengan lawannya. Mau tak mau, mengharuskan Alin bersabar menunggu untuk mendapat kepastian.
“Ada apa, Mas? Kok mukanya kayak campuran senang dan sedih gitu?” tanya Alin sesaat setelah Rifki sudah kembali mengantongi ponsel hitamnya ke dalam saku kemeja.
“Aku akhirnya keterima kerja, Sayang. Aku terharu mendengarnya. Karena rencananya, setelah ini aku akan pergi mencari kerja. Auto nggak jadi deh keluar rumah gara-gara ini."
Alin tersenyum lebar. “Wah yang benar, Mas? Selamat ya, aku ikut senang mendengarnya.”
“Benar, Sayang … ini saja barusan Pak Hadi bagian HRD kantor baruku yang telepon. Aku akan diletakkan di bagian kepala pembangunan, karena kebetulan sedang ada penyelenggaraan proyek baru. Aku pun juga tak mengerti kok Mas langsung ditempatkan di bagian itu.”
“Oh, gitu. Ya, harusnya bersyukur dong, Mas, Alhamdulillah berarti secepat itu, Mas dipercaya. Ya, mungkin bosnya tertarik dan langsung percaya sama pengalaman Mas sebelumnya. Kan Mas Rifki dulu kerjanya juga di perusahaan kontraktor.”
“Iya sih, Mas tahu, Mas harus bersyukur, tapi terlalu cepat nggak sih ini? Mengingat, baru tiga hari lho masa tunggu Mas untuk kerja di sini.”
“Mas, semua itu nggak ada yang nggak mungkin asal kita mau usaha. Mas sudah membuktikannya, dan hasilnya luar biasa. Kamu keterima kerja, dan itu berarti kamu sudah bisa menafkahi aku secara penuh. Memenuhi kebutuhan rumah tangga kita seperti sedia kala.”
Rifki merasa sedikit lega meskipun ia tetap berekspresi menghembuskan napas beratnya. Ada rasa dilema yang menyelimutinya.
Melihatnya, Alin hanya bisa memegang lengan berisi sang suami. Mengelusnya penuh cinta dengan harapan bisa memberi kekuatan dan keyakinan untuk sang suami tersayang. “Ayo, sudahlah, Mas, jangan gitu. Aku yakin kok kamu bisa. Aku bakal dukung kamu selalu.”
Rifki tersenyum senang dan perlahan tangan satunya meraih tangan sang istri. Ia menggenggam dan mengelusnya. “Terima kasih, Sayang. Mas harap kamu akan selalu setia di sisi Mas sesibuk apa pun Mas nanti.”
“Hahaha, ya pastilah, Mas. Kita 'kan sudah berjanji di hari pernikahan. Kita harus sehidup semati, dan saling percaya adalah salah satu kunci utamanya.”
“Iya, kamu benar sekali, Sayang. Aku beruntung memiliki kamu.” Alin tersenyum malu.
“Ya sudah, biar lebih santai dan enakan lagi. Nih, aku bawakan camilan kesukaanmu. Apalagi kalau nggak pisang goreng dan teh.”
“Oke, pasti enak nih buatan istri sendiri.”
“Hihihi, makan saja. Kan aku sudah biasa membuatnya untuk kamu. Pasti enaklah.”
Rifki hanya tertawa. Ada benarnya juga sih omongan sang istri. Bukankah selama ini sang istrilah yang memasak untuknya sehari-hari.
Akhirnya, mereka pun makan bersama. Sesekali, candaan pun jadi selingan. Begitu sangat hangat dan romantis.
“Oh, ya, ada yang lupa, Sayang,” ujar tiba-tiba Rifki setelah semua makanan dan minuman habis.
“Lupa? Lupa apa, Mas?” sahut Alin cepat.
“Tolong kamu besok bangunkan aku ya, jam lima. Siapkan kemeja putih, dasi, sepatu dan jaketku. Aku akan masuk lebih awal.”
“Lho, mulai masuknya besok, Mas, bukan lusa?”
“Nggaklah, besok, Sayang. Kenapa?”
“Nggak kok, nggak apa-apa, cuma kaget saja. Lagian, eman nggak sih, Mas, kalau masuk besok? Besok Sabtu lho. Besoknya lagi Minggu, 'kan libur.”
“Ya—tapi, begitulah perintahnya. Masa Mas harus buat peraturan sendiri. Lucu dong.”
“Hahaha, ya nggak begitu juga, Mas. Ya eman saja gitu.”
“Terus terang, kalau eman ya Mas eman, tapi, gimana lagi. Ya sudahlah, tak apa,” kata Rifki. “Mendingan kamu masuk dan bawa balik peralatan ini. Kamu nggak usah mikir. Siapkan saja besok seperti kataku.”
“Oh oke, baiklah, Mas.” Alin kemudian berdiri, mengangkat nampannya, lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Rifki, ia masih setia duduk di situ. Ia ingin berpikir barang sejenak. Ia ingin ada sedikit gambaran tentang langkah apa yang harus dia ambil kemudian hari. Masalahnya, ia tahu benar bahwa kantornya sekarang lebih wah dari pada kantornya yang lama. Otomatis, ia akan dituntut lebih dalam hal performa.
***
“Mas,” panggil lembut Alin kepada Rifki yang tengah bermain ponsel di atas ranjang.
“Ada apa?” sahut Rifki bertanya, ia menatap sang istri sekilas, kemudian kembali lagi fokus ke ponsel.
Alin mengernyit, ia penasaran sebenarnya apa yang tengah suaminya lakukan dengan ponselnya. Alin pun memutuskan menghampiri dan duduk di sebelah Rifki.
“Mas kok belum mau tidur sih? Ini sudah jam sepuluh lho. Besok katanya mulai masuk?” Alin sengaja memberi sedikit pendahuluan, agar tak terkesan mencurigai.
“Iya, Sayang, bentar lagi. Sayang nih kalau Mas sudahi baca artikel. Lagi fokus.”
‘Oh, ternyata dia lagi baca, kukira. Hhh, untung aku tanya dulu. Kalau nggak, nggak tahu deh, bakal gimana pikiranku.’
“Emm artikel? Maksudmu artikel apa, Mas?”
“Artikel tentang profil kantorku yang sekarang. Ternyata lumayan besar dari perkiraan Mas. Lihat, nih!” Rifki membalas sambil memperlihatkan ponselnya kepada Alin. Alin pun lega dan senang sang suami melakukan itu. Ia pun melihat dan membacanya secara perlahan tapi pasti.
“Oh, iya, Mas, sangat besar ya,” kata Alin, sejurus kemudian menatap Rifki dan tersenyum manis. “Wah, kamu hebat. Aku salut kepadamu Mas.”
Rifki membalas senyuman itu. Namun, belum sampai lama, ia merubah mimik wajahnya menjadi datar. Membuat Alin semakin mengernyit dan merasa bersalah.
“Kenapa, Mas? Ada masalah? Apa yang kamu pikirkan?”
“Aku akan menjawabnya, tapi kamu harus jujur dan siap menerima nantinya.”
Alin terkesiap, hingga mulutnya pun membentuk huruf O.

Lita Ashari
78 Pengikut · 2 Novel