


oleh skyliexe · 9 Bab
Pikiran Alayya selama ini sudah terjawab oleh takdir. Dewi, ibu Alayya yang merupakan seorang janda harus menikah dengan Ardi, seorang duda kaya atas permintaan ibunya. Kejadian ini membuat Alayya yang terbiasa hidup sederhana, mendadak harus tinggal di rumah mewah. Dikelilingi aturan dan kekayaan yang terasa asing serta penekanan lingkungan baru. Sementara Randi—putra tunggal Ardi—pun harus beradaptasi dengan kehadiran dua wanita baru di hidupnya sebagai pengganti ibu dan adik perempuannya. Akankah Alayya dapat menjalani hidupnya dengan status yang baru? Mampukah Randi menerima keberadaan mereka dan hidup akur bersama?
"Aduh, jam segini Emak belum pulang juga,” ucapku lirih.
Jika berniat untuk menghitungnya, sebanyak sepuluh kali putaran sudah kujajali. Berjalan bolak-balik sambil sesekali mengintip keluar jendela. Ada rasa tak nyaman yang menjejak dalam hati.
Sejenak kekhawatiran menguasai ruang pikiran, menyatu dengan panik tak karuan. Hujan tak lagi menjadi rinai, bak semakin dendam bulirnya menghantam tanah.
Semakin keras malam dibuatnya oleh gerombolan air-air yang memberi suara riuh. Bercengkerama dengan guntur yang bersahutan dan kilatan petir membelah udara. Aku merinding saat mereka menyambar bersamaan.
Lebih merinding lagi saat sedari tadi aku belum melihat sosok emak dari balik luruhnya gumpalan awan. Meneduh adalah perkiraanku saat ini karena jika dipikirkan jam kerja Emak seharusnya sudah usai sejak dua jam yang lalu. Namun, yang menjadi kegelisahanku saat ini adalah masih belum ada tanda-tanda kabar dari Emak sampai sekarang.
Minimal mengabariku bila ia masih dihantam gemuruh yang membuatnya terdiam di pinggiran. Aku menatap layar ponsel, jam digital yang muncul di layar menunjukkan pukul sepuluh malam. Detiknya semakin merangkak naik sampai pikiranku berubah menjadi kacau.
"Apa Emak baik-baik aja?" Kalimat itu terus menghantuiku.
Jujur saja tak biasanya Emak pulang terlambat hingga larut seperti ini. Untuk pertama kalinya pun tak menampakkan kabar kepadaku, rentetan panggilan dan pesan sudah dilayangkan.
Meski begitu, belum ada satu balasan yang aku terima. Aku semakin panik, dengan cepat jariku mengetikkan nama "Emak" di kotak pencarian kontak lalu segera menelepon wanita paruh baya itu. Percobaan kali ini berhasil, aku merasakan getaran ponselku pertanda bahwa ponsel di seberang sana telah aktif.
“Mak?! Kenapa belum pulang sih? Gak lihat jam apa? Pacaran mulu mentang-mentang janda." Aku menggerutu.
“Loh, Neng kangen sama saya, ya?” tanyanya dari balik telepon.
Aku mengerutkan kening, suara di balik telepon itu tak sama dengan suara Emak, suara yang aku dengar barusan adalah suara berat milik lelaki.
Buru-buru aku mengecek kembali nomor yang tertera di bilah telepon, benar saja ini kesalahanku karena salah memencet nama kontak. Seharusnya aku memencet bertuliskan “Emak’’, kecerobohanku meronta membalik kontak menjadi “Mang Galon”—sebutan paman/orang yang lebih tua laki-laki dalam bahasa Sunda—yang aku panggil.
“Loh, ini Mang Aep kan?” tanyaku memastikan.
“Siapa lagi kalo bukan saya, Neng. Malem-malem gini telepon saya mau ngajakin apel, ya, Neng?” tanyanya cengengesan.
“Mang mau saya getok enggak? Udah dulu ,ya, Mang! Alayya lagi darurat ini,” ucapku dengan cepat.
Aku mematikan telepon sepihak, malas menanggapi bapak-bapak tua ganjen itu. Hujan semakin deras, rasanya rintik-rintik garang itu tak memberi celah untuk mereda. Kegelisahanku semakin memuncak, bahkan aku baru sadar jika aku lupa mengucap kata maaf pada Mang Aep yang sudah menjadi korban "salah pencet".
Dua belas kali terhitung gerakan bolak-balik yang aku lakukan saat ini, ya, aku hanya melampiaskan kepanikanku dengan gerakan ini. Bukannya aku tak ingin menyusul Emak ke tempat kerja, tetapi aku tahu keberadaan Emak saat ini. Malam yang semakin menggelap dan mencekam membuatku ciut duluan.
Aku hanya bisa pasrah, rasa pegal pada kakiku mulai menghajar hingga kursi diam itu menampung tubuhku. Tak tahu harus apa, aku hanya menatap layar ponsel dan menghitung jumlah pesan yang kukirimkan pada Emak. Sudah delapan puluh pesan teks yang mengganggu ponsel Emak. Meski demikian, ia tetap tak terusik dan tak meninggalkan jejak untuk menangkal kegelisahan.
Klik.
Sempat berkedip walau akhirnya lampu seketika padam menyeluruh. Guntur menggelegar, menyimpan kegelisahanku sementara di balik gelapnya bilik. Cahaya terang hanya berasal dari layar ponsel yang masih menyala. Aku terperanjat, takut dalam diriku membalut sempurna pikiran yang mulai meracau. Merangkulku lekat dalam rintiknya yang mendemo membuatku gemetar.
Samar-samar aku mendengar suara ketukan dari pintu luar. Langkah kaki yang terkesan diseret terasa semakin dekat. Jantungku berdegup dengan kencang, tanganku gemetar dan kakiku seketika melemas.
Dengan ragu ingin mendekatkan diri pada jendela yang melukiskan bayangan hitam yang terpancar dari cahaya petir. Aku menggeleng, tetapi tetap harus aku cek demi keamanan rumah dan tentunya diriku. Penasaranku menang melawan keraguan.
Bermodalkan senter yang ada di ponsel, pelan-pelan kulangkahkan kaki tanpa suara ke daun pintu yang tertutup rapat. Embusan napas kulepaskan tiap kali ingin berusaha mengintip dari celah kain gorden.
Irisku membulat saat menangkap seseorang mengenakan pakaian serba hitam tanpa wajah yang terpampang jelas—seperti orang yang sedang membelakangi—seketika dadaku tak lagi beraturan dengan napasnya.
Sial, aku tak bisa mengendalikan perasaanku yang memburu. Mataku terpejam, lalu berbagai doa kulangitkan hanya untuk menetralkan rasa takut. Sosok itu memperhatikan sekeliling. Spontan aku menutup celah gorden.
Rapat. Menghindari tatapannya yang mungkin akan mengungkap keberadaanku saat ini. Ingin meminta tolong pun sulit. Apalagi hujan deras, teriakan sekeras pun akan tersamarkan oleh hujan.
Aku mengintip lagi. Membuka sedikit celah dan mengarahkan sebelah mataku untuk mengobati rasa keingintahuan. Keningku berkerut saat gerak-geriknya membuatku keheranan. Semakin ditelisik sosok hitam itu tampak sedang memainkan meteran listrik.
Kayaknya dia yang matiin lampu. Gawat, dia mau masuk ke rumah berarti.
Aku menghembuskan napas kasar. Berkali-kali aku memaksa diri untuk mengeluarkan sebuah cara untuk mencegah segalanya agar tak terjadi. Belum sampai jarum panjang naik sedikit, aku sudah mendapatkan ide brilian. Sebuah rencana kilat yang muncul begitu saja dalam ruang pikiranku.
"Pintar!" kataku.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, segera aku melesat menuju tempat yang sangat membantuku. Senter ponsel bertugas sebagai penunjuk jalan. Mengarahkan aku menuju dapur untuk mengambil sebuah karung besar. Kutuang beras yang tersisa segenggam ke dalam gelas belimbing dan karungnya aku pakai untuk menyergap manusia aneh di depan.
Rencanaku kali ini adalah menangkap manusia hitam itu dengan tanpa napas kepalanya. Bermodalkan karung dan panci di atasnya lalu berteriak sekencang mungkin agar tetangga dapat membantuku. Tak peduli hujan yang menghalangi, setidaknya aku akan membuat kepalanya mengalami vertigo berat. Asal jangan sampe meninggal aja.
“Gaskeun! Mampus, deh!” Senyum ala psikopat tersungging di wajahku. Hati dan pikiran mantap untuk melancarkan aksi berisiko ini.
Kubuka dengan lebar mulut karung hingga menganga. Senter ponsel kumatikan lalu mengamankannya di balik saku piama. Dalam gelap aku mengendap. Setapak demi setapak tanpa suara mendekap udara yang semakin berdebar.
Kuterka sosok itu masih berdiam diri mengotak-atik meteran tak bersalah itu. Awalnya aku ragu, tetapi kuhiraukan segala pengganggu dan langsung membuka pintu.
“DASAR MALING!” Cekatan aku mengurung kepala sosok hitam itu.
Sekuat tenaga tetap menahan gerakanku. Menyalurkan pemberontakan dan berusaha menangkal pergerakanku yang semakin erat dan kewalahan.
“Dikira aku bakal takut apa!”

skyliexe
1 Pengikut · 1 Novel