


oleh Julwita AZ · 33 Bab
“Bunda, Ayah, Kak Arvie, beri Arsy kesempatan ....” Arsy menatap satu per satu keluarganya, berharap secercah kasih sayang masih tersisa. Namun, yang ia temukan hanyalah dinginnya tatapan, air mata, dan penolakan. “Aku nggak punya adik pembunuh sepertimu.” “Saya nggak punya anak perempuan selain Vina.” Aron dan Arvie berucap bersamaan. Perih, itulah yang dirasakan Arsy. Sedangkan Meli—ibu Arsy hanya menumpahkan air mata, tanpa berkata sepatah kata pun. “Kamu tidak pantas berada di rumah ini. Pergi, jangan kembali lagi.” Arvie mendorong Arsy, hingga membuatnya hampir jatuh.
Di sebuah taman terdengar tawa dari berbagai keluarga, terlihat sangat bahagia, bisa quality time bersama keluarga tercinta, tepatnya minggu pagi, salah satu dari keluarga bahagia tersebut adalah keluarga Araska. Matahari pagi menyentuh dedaunan, menciptakan lukisan cahaya dan bayangan di atas rumput hijau tempat para keluarga menggelar tikar.
Di tengah suasana riuhnya, Vina dengan mata berbinar, menggenggam erat tangan mungil Ara. Kakinya bergerak nyaman, tumitnya sesekali terangkat dari tanah, tak sabar untuk segera bermain. Ara mendongak, menatap Vina dengan senyum cerah.
“Bunda, Vina sama Ara main dulu ya,” pamit seorang anak perempuan berumur sembilan tahun bersama sang adik.
Meli Araska yang duduk bersandar di batang pohon rindang sambil memperhatikan kedua putrinya tersenyum lembut.
“Mainnya jangan jauh-jauh, Sayang,” pesannya dengan nada penuh kasih.
"Siap, Bunda!" Vina dan Ara menjawab serempak. Dengan gerakan serentak pula, kedua gadis kecil itu mengangkat tangan kanan ke dahi, memberikan rasa hormat layaknya seorang prajurit cilik, sebelum akhirnya berlari menuju taman yang tidak terlalu banyak orang, agar bebas bermain lari-larian.
Aron Fernando Araska menatap tajam, Arvie, yang berdiri tak jauh darinya. Kerutan halus tampak di dahi Aron saat berbicara, matanya mengikuti pergerakan Vina dan Ara yang semakin menjauh dari tempatnya.
"Arvie, ikut sama adikmu. Jaga mereka, jangan sampai main terlalu jauh. Bunda dan Ayah tunggu di sini, kalau sudah selesai main, langsung balik," ucapnya dengan nada tegas, namun masih terdengar lembut, menandakan dengan anggukan kepala ke arah kedua adik Arvie.
Arvie, yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua adiknya dengan senyum tipis di bibir, mengangguk patuh.
“Siap, Ayah,” jawabnya seraya melangkah mendekati Aron dan Meli. Sejenak, memulainya beralih pada Vina dan Ara yang kini sudah tertawa riang sambil saling mengejar. “Ya sudah, Arvie ke sana dulu,” pamitnya dengan lambaian tangan singkat sebelum berlari kecil menyusul kedua adiknya.
Di sekeliling mereka, taman memamerkan keindahannya. Petak-petak bunga dengan warna-warni cerah menarik tertiup angin sepoi-sepoi, menebarkan aroma manis yang bercampur dengan segarnya udara pagi. Sinar mentari yang belum terlalu terik memeluk lembut kulit, menciptakan suasana hangat dan nyaman. Saat perbincangan, terlihat sekelompok anak laki-laki dengan semangat mengoper bola, sementara di sisi lain, beberapa anak perempuan saling berkejaran sambil sesekali tertawa lapar-bahak. Beberapa keluarga tampak duduk lesehan di atas tikar, berbagi bekal dan cerita, menciptakan pemandangan yang damai dan penuh kehangatan.
Arvie terus memperhatikan kedua adiknya yang sedang bermain lari-larian, sesekali tertawa, sesekali terjatuh lalu bangkit lagi. Senyum manis tersungging di wajah Arvie, merasa bahagia melihat adik-adiknya ceria. Namun, karena terlalu lama bermain, rasa haus mulai menyergap.
“Kalian tunggu di sini, ya. Jangan ke mana-mana. Kakak pergi beli minum dulu.” Arvie segera melangkah menuju pedagang kaki lima yang tak jauh darinya.
Ara dan Vina duduk di hamparan rumput, masih tertawa kecil sambil bercerita dan menunjuk awan yang membentuk aneka rupa. Vina menggambar sesuatu di tanah, sementara Ara memetik rumput-rumput kecil, menyusunnya menjadi lingkaran seperti mahkota.
Beberapa menit berlalu.
Setelah minuman berada di tangannya, Arvie kembali ke tempat saat meninggalkan sang adik. Namun, keduanya tidak ada, hingga memutuskan menemui kedua orang tuanya, berpikir bahwa kedua adik kesayangannya itu ada di sana.
"Ayah, Bunda, Ara dan Vina di mana? Kakak tinggal beli minum sebentar, udah hilang aja," cerocos Arvie dengan nada panik, langkahnya tergesa-gesa menghampiri Aron dan Meli yang masih duduk di bawah pohon rindang. Namun, ucapan Arvie terhenti seketika saat melihat perubahan drastis pada ekspresi kedua orang tuanya. Senyum lembut di wajah Meli lenyap, digantikan dengan kerutan khawatir yang mendalam. Mata Aron yang tadinya tenang kini memancarkan kecemasan.
"Mereka nggak ke sini," jawab Meli lirih, pandangannya menerawang, seolah membayangkan hal buruk. Ia menoleh cepat ke arah Aron, raut ketakutan jelas terlihat di wajahnya. "Jangan-jangan ...."
Tanpa menunggu Meli menyelesaikan kalimatnya, Aron bangkit berdiri dengan gerakan cepat. Rahangnya mengeras dan matanya bergerak gelisah mencari-cari di antara keramaian taman.
"Ayo, Bun. Kita cari," ajaknya dengan nada mendesak, langkahnya lebar dan cepat saat mulai memanggil nama kedua putrinya dengan suara yang sedikit meninggi, "Vina! Ara!"
Hati Meli semakin tak tenang. Langkahnya makin cepat, hampir berlari, menyusuri setiap sudut taman yang ramai oleh pengunjung. Orang-orang mulai memperhatikan keluarga itu yang nampak panik. Beberapa bahkan ikut membantu mencari.
Tak jauh dari pandangan, Meli menatap seorang anak menangis memanggil nama keluarganya agar segera menolong sang kakak.
"Yah, kita ke sana, seperti terjadi sesuatu," ucap Meli tercekat, jantungnya berdegup kencang merasakan firasat buruk. Matanya membulat dan tangannya tanpa sadar meremas lengan Aron.
"Vina, Ara." Tanpa menunggu jawaban suaminya, Meli langsung berlari secepat kilat menuju sumber keributan, menerobos kerumunan orang dengan wajah penuh kecemasan.
Saat Meli berhasil menembus barisan orang-orang dewasa yang mengerumuni sesuatu di tengah, pemandangan mengerikan langsung menghantamnya bagai petir. Di sana, terbaring seorang gadis kecil yang sangat familiar. Gaunnya yang berwarna cerah kini ternoda bercak-bercak merah pekat. Wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam rapat. Di sampingnya, gadis mungil yang tadi menangis histeris kini menatap nanar sosok kakaknya yang berlumuran darah, air mata masih terus membasahi pipinya.
"Kak Vinaaa!” teriaknya pilu, suaranya pecah di antara isak tangis yang menyayat hati.
Tubuh Vina terbujur lemah di atas rerumputan, darah mengalir dari perutnya yang tertusuk. Wajah pucatnya tak lagi menunjukkan tawa. Tangannya masih menggenggam rumput yang tadi ia petik. Ara berlutut di samping tubuh Vina, wajahnya basah oleh air mata, tubuhnya gemetar, dan kedua tangannya berlumur darah.
“Ara, apa yang kamu lakukan terhadap kakakmu?” teriak Aron menatap tajam pada sang putri—Ara.
“Kamu membunuhnya!” hardik sang bunda. Mata gadis mungil tersebut semakin mengeluarkan air mata kepedihan.
“Bukan, bukan Ara yang membunuh, Kakak.” Ara membela diri mencoba menjelaskan, tetapi tak mampu merangkai kata yang tepat. Suaranya serak. Tangisannya pecah semakin keras. Tapi, tak satu pun mendengarkan.
“Jangan mengelak lagi, bukti ada digenggamanmu, Ara!” Lagi-lagi Aron membentak sang putri tanpa mau mendengar penjelasannya.
Tangan si gadis mungil—Ara, semakin bergetar menjatuhkan pisau yang digenggamnya, pisau yang baru dicabut dari perut sang kakak. Pisau sepanjang 17,78 cm, dilengkapi dengan alur pisau dan bagian jempol yang berlekuk untuk pegangan yang lebih nyaman.
Kerumunan orang semakin ramai. Beberapa mulai bergumam, sebagian menggelengkan kepala tak percaya, dan sebagian lain menatap tajam kepada gadis kecil itu seakan ia adalah monster mungil yang telah merenggut nyawa saudaranya sendiri.
Kedua orang tuanya segera membawa Vina ke rumah sakit, berharap putrinya masih bisa diselamatkan. Sedangkan Arvie menatap sendu sang adik secara bergantian.
“Kakak kecewa. Pembunuh." Lirih Arvie yang masih terdengar jelas di telinga Ara. Setelah itu, berlari mengikuti langkah kedua orang tuanya.
Ara hanya terdiam. Tubuhnya terasa lemas. Telinganya berdenging, tetapi kalimat yang tadi diucapkan Arvie terulang-ulang di kepalanya. Matanya mulai kehilangan fokus. Napasnya tersengal.
“Ara bukan pembunuh!” teriak si gadis mungil disertai isak tangis yang tiada henti. Dirinya pun sadar bahwa ia ditinggalkan sendiri di taman.
“Ara bukan pembunuh!” Kalimat itu terus diulang hingga pandangannya menjadi gelap dan tak sadarkan diri.
Tak ada yang menggenggam tangannya. Tak ada pelukan atau kata penguatan. Dunia kecil Ara runtuh hanya dalam satu hari—dalam satu luka yang bahkan bukan ia yang membuatnya.
Di langit, matahari masih bersinar terang. Namun di hati Ara, hari itu adalah awal dari malam panjang yang tak kunjung usai.

Julwita AZ
60 Pengikut · 3 Novel