


oleh Nevin Alja Nadira · 10 Bab
"Yang sangat dekat justru yang paling berbahaya. Waspadalah." Kalimat itu selalu melekat dalam benak Luna, gadis blasteran Jawa-Jamaika yang tumbuh dengan luka. Ketika orang yang paling ia percaya justru menyeretnya ke dalam bahaya, Luna harus memilih antara kesetiaan dan kebenaran. Sebuah rahasia keluarga terbongkar, Luna harus mengambil keputusan yang mengguncang segalanya. Namun, ketika peluru menembus, semua terlambat. Siapa pengkhianat sebenarnya? Dan kenapa sang ayah menangis sambil memeluk tubuh putrinya yang tak lagi bernyawa?
Sore itu, Luna baru saja sampai di rumah. Seragamnya masih abu-abu putih, kusut dan basah oleh peluh. Ia meletakkan tas di bangku ruang tengah saat suara Nenek terdengar.
“Lun, gimana sama ayahmu? Sudah dicari tahu?”
Luna tak langsung menjawab. Wanita paruh baya yang dipanggil nenek itu menatapnya tajam, lalu mendesak.
“Lun, suara Nenek kurang jelas, ya?”
“Hah?” sahut Luna, bingung.
“Nek, bisa enggak nanti aja nanyanya? Luna baru pulang, mau istirahat. Nenek tahu, kan? Ayah enggak akan ngabarin Luna, apalagi kasih duit. Sudah sepuluh tahun, lho,” keluhnya pelan.
Nama lengkapnya Alluna Sandewi Atmaja, tapi semua memanggilnya Luna.
“Justru itu,” kata neneknya Dewi.
“Kamu enggak mikir? Ayahmu enak-enak di sana sama dunia barunya, sedangkan kamu di sini sama Nenek yang udah tua dan enggak punya apa-apa.”
“Nek, aku juga sudah berusaha sendiri selama ini. Aku ambil part-time, jualan juga di sekolah. Luna enggak akan ngerepotin Nenek atau anak-anak Nenek yang lain. Luna enggak akan berhenti sekolah,” katanya dengan nada yakin.
“Huft, terserah kamu. Saya sudah tua. Saya cuma ingin menikmati sisa hidup saya dengan hal-hal menyenangkan sebelum mati. Pastikan kamu enggak merepotkan saya.”
Perempuan tua itu pun beranjak pergi. Rambut hitamnya tinggal sisa, wajahnya penuh kerutan. Ia meninggalkan Luna yang diam mematung, menahan tangis.
“Kenapa, sih, semuanya enggak pernah ngerasa cukup? Masih untung aku mau kerja sambil sekolah. Memang ya, orang dewasa selalu nyebelin,” bisiknya lirih.
Tangisnya hanya sebentar. Selebihnya, ia menangis dalam hati setiap kali menghadapi situasi seperti ini. Sudah biasa.
Ia membentuk karakter ceria, humoris, pecicilan, semuanya cuma pelindung. Di balik itu, ada luka yang bahkan tak satu orang pun tahu.
Beberapa menit kemudian, suara lain menyela dari balik pintu yang baru saja terbuka.
“Lun, apa kabar kamu? Udah punya pacar? Jangan pacaran dulu, deh. Nanti kayak orang tuamu, nikah duluan, ujung-ujungnya kamu terlantar gini. Eh, Tante enggak maksud nyakitin, loh. Tapi bener, kan?”
Itu suara Ria, kakak ayahnya, yang baru datang dari Magelang.
‘Hadeh, baru datang udah bikin onar nih Tante Menor. Bisa-bisa aku kerja jadi enggak semangat. Jawab enggak, ya? Kalau enggak dijawab, dibilang enggak sopan. Bodo, ah. Jawab sesukanya aja,’ batin Luna sambil memutar bola matanya.
“Iya, Tan. Luna sehat. Tante sehat juga? Bener banget, Luna enggak mau pacaran dulu. Fokus sekolah aja biar tambah pintar. Enggak kayak anak Tante yang dari SD selalu peringkat akhir, padahal enggak terlantar. Eh, maaf, keceplosan, hehe.”
Tanpa menunggu reaksi, Luna melenggang pergi. Ria hanya bisa menggigiti bibir dan mengumpat dalam hati.
Ternyata, ibunya Ria, mendengarkan dari dapur.
“Tolong dong, Bu. Alluna dikasari lagi biar tahu adab, tuh. Yang tinggal sama dia kan Ibu, masa enggak bisa ajarin?” keluh Ria dengan nada menyindir.
“Halah, Ria. Kamu kan tahu, dia sama aja kayak bapaknya. Sudahlah, jangan bahas anak itu. Ayo, ajak suamimu makan.”
Ironisnya, makanan yang disantap dengan lahap oleh mereka adalah hasil masakan gadis yang baru saja dihina habis-habisan. Hanya sang nenek yang tahu soal itu.
***
"Lun, aku bingung sama ayahku. Kenapa, sih, laki-laki paling susah diajak ke rumah sakit?"
Suara Alya memecah lamunan. Ia mencatat database pelanggan di kasir.
"Lun! Luna? L-u-n-a! Heh, Luna! Kamu dengerin aku curhat enggak, sih?"
"Hah? Eh, i-iya, Al. Apa tadi? Sampai mana ceritamu?" sahut Luna, tergagap, sambil celingukan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aduh, Lun. Kamu tuh mikirin apa, sih? Bentar lagi kan gajian," ujar Alya, cengengesan.
"Yee, baru juga minggu kemarin. Masa udah mau gajian lagi aja?" Luna menjitak pelan kepala sahabatnya, diiringi cekikikan mereka berdua.
Mereka sudah dekat sejak kecil. Alya tahu betul isi kepala Luna meski gadis itu tak pernah cerita. Ia hanya berusaha menghibur.
Alya juga ambil part time karena ayahnya sakit-sakitan. Tapi setidaknya, kasih sayang di rumahnya tak pernah kurang. Luna? Entahlah.
Mereka masih belasan tahun, tapi sudah harus bekerja keras. Siang belajar tujuh jam lebih, malamnya banting tulang demi bertahan hidup.
Masa remaja yang seharusnya menyenangkan harus dikorbankan. Tapi semoga semua ini jadi bekal untuk masa depan.
Pukul 21.45. Saatnya pergantian shift di minimarket tempat mereka bekerja. Luna harus pulang. Tapi dia ingin tetap di sini. Tempat ini lebih terasa seperti rumah dibanding rumahnya sendiri.
"Serius, nih, udah jam segini? Boleh enggak, sih, nginep di sini aja? Pasti Tante Ria masih di rumah. Nenek makin semangat nge-judge aku kalau ada dia," gerutunya pelan.
"Aku dengar, loh," ujar Alya tiba-tiba, menepuk pundak Luna.
"Duh, kamu kebiasaan banget suka ngagetin. Tapi udah biasa, sih. Aku cuma kesal aja. Kamu belum dijemput?" Luna berusaha mengalihkan dengan canda.
"Luna si putri cantik capek banget mau tidur, nih."
"Haha, sorry. Kamu tadi kayak orang gila ngomong sendiri. Iya, deh, putri cantikku. Putri jelek juga capek banget," balas Alya, tertawa.
Motor hitam keluaran 2012 berhenti di pinggir jalan. Jemputan sahabatnya sudah tiba.
Luna menghela napas. Ia menatap kepergian Alya dan adiknya dengan nanar.
Kesepian seperti tak pernah mau pergi darinya.
Ia mulai mengayuh sepedanya pelan sambil bergumam, "Sebentar lagi Luna pulang ke rumah neraka."
Senyum miris terbit di bibirnya.
"Semangat, Lun. Semangat," ucapnya lagi.
Ia menatap lampu jalan yang temaram, menahan sesak yang pelan-pelan menyusup ke dada.
"Besok pasti lebih baik atau minimal enggak lebih buruk dari hari ini," bisiknya lirih, seperti sedang menguatkan dirinya sendiri.
Di ujung jalan, Luna menarik napas dalam, lalu mengayuh lebih cepat. Seolah ingin segera melewati malam panjang yang selalu terasa berat.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Luna mengerem sepedanya pelan, merogoh tasku yang tergantung di setang, lalu menatap layar ponsel yang retak di sudut.
Nama ‘Alya’ terpampang. Ia mengangkat dengan satu tangan, suara angin malam menyapa dari kejauhan.
"Halo, Al?"
"Lun, kamu udah nyampe rumah?" tanya Alya khawatir.
"Belum. Baru mau belok ke gang depan."
"Serius enggak mau nginep di rumahku aja? Tante Ria pasti masih di situ, kan?"
"Hmm, iya. Tapi enggak enak juga numpang terus. Lagi pula, aku juga kangen sama kasurku yang tipis," jawab Luna sambil berusaha tertawa.
"Kamu tuh selalu bisa bercanda di tengah kekacauan."
"Kalau enggak bercanda, aku bisa gila, Al."
Luna menarik napas panjang, suaranya mulai bergetar. "Aku cuma capek. Tapi enggak apa-apa. Aku baik-baik aja, kok."
"Lun."
"Hm?"
"Kalau suatu hari kamu udah enggak kuat, kamu enggak harus bilang apa-apa. Tinggal datang aja. Rumahku enggak akan nutup pintu buat kamu."
Sunyi sesaat di antara mereka. Lalu Luna menjawab pelan, "Makasih, Al. Kamu enggak tahu betapa berartinya itu buatku."
"Udah, sana pulang, sebelum si putri cantik keburu jadi putri es karena kedinginan."
"Hehe, siap. Putri cantik pamit, ya."
Telepon ditutup. Luna kembali mengayuh sepedanya. Kini, langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

Nevin Alja Nadira
2 Pengikut · 2 Novel