


oleh dheblume · 101 Bab
Karleen, prajurit muda yang kuat dan cerdas memiliki rahasia besar yang menjadi kunci bersatunya dunia demon dengan manusia demi tujuan yang tidak mulia oleh segelintir orang yang berkuasa memanfaatkan kekuatan demon untuk mengendalikan dunia. Karleen yang perlahan mengetahui rahasia dalam dirinya memberontak agar tujuan yang ingin dicapai oleh elit militer tidak tercapai. Berkat bantuan orang-orang terdekat Karleen terutama Warren-sosok kapten yang selalu membantu Karleen-, dia bisa bertahan. Namun, ada sebuah insiden yang membalikkan keadaan Karleen yang seharusnya menjadi bahagia. Mampukah Karleen dan orang terdekatnya menghindari insiden tersebut? Bagaimana jika demon benar-benar menguasai dunia?
Perempuan berambut hitam legam bermata emas itu sibuk membantu ibunya mengaduk adonan roti sambil bersenandung kecil. Mereka tidak butuh karyawan lain untuk menjalani bisnis turun temurun keluarga Becker. Karleen, yang baru saja lulus dari sekolah akhir, belakangan ini sering membantu ibunya. Ayahnya baru saja kembali setelah mengantarkan pesanan dari blok sebelah.
Karleen yang menunggu roti matang dari pembakaran duduk bergabung dengan ibu dan ayahnya. Dia ingin berdiskusi mengenai masa depannya serta bertanya mengenai sesuatu yang tidak pernah diajari di sekolahnya, demon. Makhluk yang diyakini sebagai perusak di muka bumi. Karleen selalu mendengar perkataan kakek Weber yang bilang bahwa demon adalah musuh manusia. Mereka berusaha memusnahkan umat manusia dan menguasai dunia.
“Ibu, Ayah! Aku ingin mendiskusikan sesuatu,” ucap Karleen lembut.
“Kau ingin mendiskusikan apa, Sayang?”tanya Nyonya Becker tampak membersihkan celemeknya dari tepung yang menempel.
“Anu, Yah, Bu, tahun depan aku ingin bergabung menjadi prajurit.”
Tuan dan Nyonya Becker melempar pandangan dan bingung. Mereka paham di usia Karleen sekarang adalah waktu yang tepat untuk berdiskusi mengenai profesi yang akan ditekuni remaja yang sedang mengalami masa peralihan menuju dewasa seperti Karleen.
“Kau tidak salah, Sayang? Kau bilang ingin menjadi prajurit?” Tuan Becker bertanya.
“Iya, Yah, aku yakin. Aku sangat ingin menjadi prajurit.”
“Dari sekian banyak profesi, mengapa kau ingin memilih menjadi prajurit?” Giliran Nyonya Becker yang bertanya kepada Karleen.
“A-aku, ingin menegakkan keadilan dan menciptakan kedamaian, Bu.” Karleen sedikit gugup. Dia tidak ingin salah memberi jawaban kepada orang tua angkatnya.
“Alasan yang mulia. Tetapi mengapa? Desa kita sudah sangat aman dan damai. Jika kau menjadi prajurit kau tidak akan tinggal bersama kami lagi, ibu mencemaskan itu.” Nyonya Becker menggenggam tangan Karleen erat. Karleen membalas genggaman ibunya dan tersenyum.
“Tidak perlu khawatir, Bu. Aku akan selalu mengirim surat dan mengunjungi kalian. Lagi pula aku belum diterima sebagai prajurit. Ada banyak langkah yang harus aku lalui terlebih dahulu. Makanya dari sekarang aku meminta izin dan berlatih untuk tes di akhir tahun.”
Nyonya dan Tuan Becker tersenyum. “Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Kami akan mendukungmu,” respon Tuan Becker.
Nyonya Becker mendekati Karleen dan memeluknya. Karleen tidak menyangka akan semudah ini mendapatkan izin dari kedua orangtuanya.
“Ayah? Aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Karleen hati-hati. Dia takut akan mendapatkan jawaban yang tidak sesuai karena yang ingin dia tanyakan mengenai hal yang sensitif.
“Apa itu, Kar?”
“Apa Ayah tahu mengenai demon, penyihir, atau makhluk mitologi yang nyata? Maksudku benaran ada di bumi.”
Tuan Becker tertawa pelan. Beberapa detik kemudian tawanya memudar dan berganti dengan kening yang berkerut. “Apakah kau membaca buku tentang makhluk mitologi, Kar?”
Karleen menggeleng. “Aku mendengar cerita dari Kakek Weber. Dia berkata saat dia masih menjadi prajurit, mereka pernah melawan demon di daerah pesisir. Dan mereka menang. Kakek Weber juga pernah bilang, bahwa di suatu daerah di negara kita terdapat tempat rahasia yang menjadi sarang demon. Tempat itu sudah disegel beratus-ratus tahun lamanya. Tetapi di beberapa celah terkadang ada yang rusak sehingga demon-demon kecil dapat keluar dan menyerang manusia. Bagaimana jika mereka masih ada dan menyerang kita? Kakek Weber bilang demon itu adalah musuh manusia dan mereka memiliki tujuan untuk menguasai dunia dengan menghancurkan peradaban manusia. Kakek We-”
Ucapan Karleen terpotong. “Itu hanya dongeng Karleen. Kenapa kau mempercayai omongan Kakek Weber?”
“T-tapi, Yah, Kakek Weber tidak berbohong. Aku sangat yakin bahwa yang diceritakan Kakek Weber adalah kebenaran.”
“Sayang, Kakek Weber itu sudah sangat tua. Mungkin itu hanya dongeng turun-temurun dari para leluhurnya. Jika memang itu nyata, mengapa kau di buku sejarah kita tidak tertulis?” Nyonya Becker menimpali.
“Hmm, baiklah. Itu artinya aku mempercayai dongeng. Berarti demon dan makhluk-makhluk mitologi seperti itu tidak ada di bumi, kan?”
“Tidak ada, itu hanya dongeng saja,” jelas Tuan Weber singkat. “Jika tidak ada yang ingin didiskusikan lagi ayah akan melanjutkan pekerjaan.”
Tuan Becker pamit kepada Nyonya Becker dan Karleen. Karleen termenung memikirkan perkataan Kakek Weber. Meskipun dia sudah sangat tua, Karleen percaya bahwa yang dikatakan Kakek Weber bukan omongan belaka. Itu kenyataan yang tidak semua orang tahu kebenarannya. Karleen sudah terlalu lama penasaran dengan apa yang dikatakan Kakek Weber. Jika itu benar, salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan Karleen menjadi prajurit.
Di tengah kesibukan Karleen dengan pikirannya, dia baru ingat sedang memanggang roti. “Astaga!” Karleen sontak berlari ke pemanggangan dan mengecek keadaan roti. Untung saja rotinya tidak hangus. Dia mengeluarkan roti yang baru masak dan mendinginkannya pada loyang berjaring.
Karleen dan ibunya sibuk menyusun roti di etalase. Dia masih penasaran dan ingin bertanya lebih lanjut dengan ibunya mengenai masalah demon tadi. Tidak hanya demon saja, dia ingat dengan jelas bahwa Kakek Weber menceritakan manusia keturunan penyihir yang hidup berdampingan dengan kita.
“Ibu, apakah penyihir itu beneran ada?”
Nyonya Becker yang sedang menyusun roti bagel mengalihkan pandangannya kepada Karleen. Dia tampak sedikit menimbang-nimbang menjawab pertanyaan Karleen.
“Soal itu, kakekmu pernah menceritakan kepada ibu. Hanya saja ibu menganggap itu semua cuma dongeng.”
“Memangnya kakek bercerita tentang apa, Bu?” Karleen mendekati ibunya dan memerhatikan Nyonya Becker dengan serius.
“Dahulu kala, di negara kita. Ada sekumpulan penyihir yang hidup berdampingan dengan manusia. Mereka sama seperti kita, mereka makan, minum, bekerja, memiliki keturunan, dan melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan. Akan tetapi, suatu ketika ada seorang saksi mata yang melihat seorang penyihir menggunakan kekuatannya untuk membunuh manusia. Sejak saat itu, mereka tidak mempercayai lagi penyihir dan membakar penyihir hidup-hidup agar mereka tidak memiliki keturunan dan tidak bisa mengatur kehidupan manusia dengan kekuatan mereka.
Meski begitu, beberapa saksi mengetahui kekuatan apa saja yang dimiliki oleh penyihir. Salah satunya adalah kehidupan abadi. Mereka memiliki banyak kekuatan yang tidak banyak diketahui oleh manusia karena tidak ada yang membahas hal itu hingga sekarang. Jika kau ingin membaca mengenai mereka, kau bisa membaca buku dongeng tentang penyihir.”
Nyonya Becker tersenyum dan mengelus rambut Karleen yang panjang. “Hmm, aku pikir itu hanya dongeng saja. Mengapa Ibu tidak pernah menceritakan itu kepadaku dulu?”
“Karleen, kau tahu sendiri bahwa kau tidak suka dibacakan dongeng sebelum tidur, kan? Kau lebih suka membaca sendiri buku-bukumu yang lebih banyak mengenai aksi dan laga.”
Nyonya Becker tertawa kecil. “Ya, memang benar sih, Bu.”
Kling!
Pintu toko terbuka lebar. Terdapat dua sosok yang tidak asing bagi mereka berdiri berdampingan sambil tersenyum. Laki-laki dan perempuan sebaya Karleen berdiri sejajar dan berjalan menghampiri Nyonya Becker dan Karleen.

dheblume
5 Pengikut · 1 Novel