


oleh Eliyona · 136 Bab
Rinjani adalah seorang wanita yang mengalami amenore primer. Kondisi di mana seorang perempuan tidak mengalami menstruasi sama sekali. Ini menyebabkan Rinjani tidak mungkin memiliki keturunan. Meski mengetahui kondisi sang kekasih, Wijaya tetap menikahi Rinjani. Sampai menginjak 5 tahun usia pernikahan, Wijaya mulai menginginkan kehadiran seorang anak. Ia memutuskan menyewa seorang ‘gundik’ bernama Saraswati tanpa sepengetahuan Rinjani. Setelah kesepakatan di antara keduanya, Saraswati setuju hamil. Syaratnya selama kehamilan, Wijaya harus membayar ‘jasa’ sesuai harga gundik yang berlaku. Wijaya setuju, asalkan Saraswati bisa menyembunyikan hubungan mereka dari sang istri dan menyerahkan bayinya setelah melahirkan.
Rinjani melempar foto kenangannya dengan Wijaya. Hatinya tercabik, mengingat kenangan 20 tahun silam. Ia berteriak histeris. Merasa dibodohi.
“Anak gundik sialan! Andai tidak terpaksa aku tidak akan mengasuhmu! Arkhhhhhh!”
Ia mengacak rambutnya, mengempas tubuhnya di atas kasur mewah.
“Puas kamu, Mas?” pekiknya. “Puas kamu melihat aku sengsara sekarang. Bayi yang kau puji malaikat dulu, sudah berubah menjadi iblis, ia ingin membuatku mati perlahan. Hatiku perih setiap kali aku melihat wajahnya. Sakit!”
Siluet masa lalu berputar. Seperti pusaran angin. Membawa Rinjani ke masa 20 tahun lalu.
—
Flashback
"Kita akan punya bayi, Rinjani!”
Suara Wijaya memecah keheningan ruangan. Rinjani tersentak, meletakkan gelas teh di atas meja.
“Maksud Mas apa?” tanyanya pelan, matanya menatap sang suami heran.
Wijaya menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Aku ingin mengadopsi bayi perempuan, Ran. Seorang bayi yang baru lahir.”
“Adopsi?” Suara Rinjani meninggi sedikit. “Tapi kenapa mendadak sekali? Mas bahkan belum pernah membicarakan soal ini sebelumnya.”
Wijaya mengusap wajah, mengatur napas. “Aku habis menabrak pasangan suami-istri, Rin. Keduanya meninggal di tempat. Beruntung bayinya selamat. Sebagai bentuk tanggung jawab, aku ingin merawatnya.”
Rinjani terdiam lama. Jantungnya berdetak tak karuan. Kata ‘menabrak’, membuat degupnya berdetak cepat. “K-kalau keluarga suami istri itu menanyakan bayinya bagaimana? Apa mereka minta tanggung jawab? Mas gak dilaporkan polisi kan?” Rinjani mencecar Wijaya dengan pertanyaan. Panik.
Wijaya menatapnya sayu. “Mereka pendatang. Tak ada sanak keluarga di sini. Bayi malang itu sendirian, Rin,” jawabnya lirih.
Keheningan melingkupi suasana. Desir angin menambah ketegangan. Rinjani menggenggam ujung meja, menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh iba. “Apa ada yang lapor ke polisi?”
“Aku sudah urus semuanya,” jawab Wijaya cepat, seolah tak ingin memperpanjang. “Yang penting sekarang, bayi itu butuh keluarga. Butuh seorang ibu.”
Rinjani menelan ludah menyadari kekurangannya. Ia tak akan pernah bisa hamil, karena mengidap sesuatu yang langka. Meski Wijaya bisa menerima, tapi hatinya kecilnya tetap saja merasa ada yang kurang dalam rumah tangganya.
“Bagaimana, Rin?” Suara Wijaya menyentaknya. “Kamu mau kan?”
Rinjani tak ada pilihan lain selain mengiyakan. “Baik, Mas. Tapi aku ingin semua surat-menyurat, terkait akta kelahiran dan yang lain ….”
Wijaya menyela cepat, seakan sudah tak sabar. “Aku sudah mengatur semuanya. Di akta anak itu sudah tertulis nama kita. Dia anak kita, tak akan ada orang yang tahu kalau malaikat kecil itu bukan anak kandungmu.”
Rinjani bergegas beranjak. Memakai mantel, berjalan mengiringi Wijaya. Masuk ke dalam mobil.
Di balik kemudi, wajah Wijaya tampak tegang. Matanya lurus menatap ke depan. Menginjak gas lebih kuat.
Mobil melaju. Raungannya berlomba dengan gawai milik Wijaya yang terus berbunyi.
“Kenapa tidak diangkat, Mas?” tanya Rinjani hati-hati, memecah keheningan yang menyesakkan.
Wijaya menoleh cepat, lalu kembali menatap jalan. “Biarkan saja, Rin. Itu hanya nomor iseng.”
“Tapi dari tadi terus berdering. Jangan-jangan itu dari polisi? Atau rumah sakit?”
Wijaya tak menjawab. Ia malah menekan gas lebih dalam, membuat mobil melaju lebih kencang.
Rinjani mencuri pandang pada wajah suaminya. Ada kegelisahan aneh di sana. Namun, sebelum ia sempat bertanya, mobil berhenti di depan rumah sakit ibu dan anak.
Udara dingin menerpa wajah Rinjani begitu mereka turun. Ia mengikuti langkah suaminya yang terburu-buru menuju lobi rumah sakit. Seorang wanita berpakaian suster, menghampiri, seperti sudah mengenal suaminya. “Pak Wijaya, ya?”
“Iya.”
“Mari ikut saya untuk melihat anak Anda. Sekalian mengambil akta kelahiran.” Wijaya mengangguk, menggandeng tangan Rinjani, mengikuti langkahnya.
“Ibu bayi masih belum ….”
“Suster!” Wijaya memotong, tak memberi kesempatan perawat bicara. “Antar saja kami ke ruang bayi, ambil akta dan semua selesai. Saya sudah mengatur semuanya.”
“B-baik, Pak,” jawab suster gugup.
“Ibunya belum apa ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rinjani.
“Belum diurus surat kematiannya. Sudah, gak usah dipikirkan.” Wijaya memeluk pundak Rinjani.
Sampai di ruang bayi, Rinjani melihat sosok mungil dari balik kaca. Hanya satu bayi saja yang terbaring di ranjang khusus. Tak mungkin kalau bayi itu akan tertukar.
Rinjani menatap lama, dadanya sesak, matanya berair. “Mas, dia cantik sekali,” bisiknya.
Wijaya berdiri di sampingnya, lengkungan kecil terlihat di dua sudut bibirnya. “Bayi itu anak kita, Rin,” ucapnya datar. “Aku sudah memberinya nama. Leana Amora Yasmin.”
Rinjani mengerucutkan bibir. “Buat nama kok gak berunding dulu sih, Mas?”
“Ya, maaf. Aku panik. Akta harus jadi cepat. Makanya aku langsung kasih nama.”
“Apa kita akan langsung membawanya pulang?” Mata Rinjani berbinar senang.
“Tentu saja. Setelah aku mendapat akta, kita langsung bawa si Lea,” balas Wijaya.
Tak menunggu lama, perawat datang. Dengan senyum ramah, ia menyerahkan selembar kertas berstempel resmi.
“Ini, Pak Wijaya. Akta kelahiran atas nama Leana Wijaya,” ucapnya lembut.
Rinjani menatap akta itu lama, dadanya bergetar haru. Leana Amora Yasmin, anak Bapak Wijaya Prasetyo dan Ibu Rinjani Agista.
“Akhirnya, mimpiku jadi kenyataan, Mas.” Suara Rinjani bergetar.
Wijaya tersenyum simpul. Mengambil alih akta di tangan sang istri.
“Selamat, Pak, Bu. Mulai hari ini, Leana resmi menjadi tanggung jawab Anda berdua,” tambah perawat itu, sambil menyerahkan bayi pada Rinjani. Tak hanya itu, sang perawat juga menyerahkan beberapa perlengkapan bayi. Seperti selimut, botol susu, dan pakaian mungil.
Rinjani mengangguk, menahan air mata. “Terima kasih, terima kasih banyak, Sus,” bisiknya, penuh kebahagiaan yang campur haru.
Sementara Wijaya hanya menepuk bahunya singkat, lalu berbalik tanpa kata.
“Sudah, ayo kita pulang. Kita harus menyiapkan pakaian untuk Leana, bukan?”
“Iya, Mas. Aku juga akan mengabari Mbak Fatma. Dia pasti kaget aku punya bayi.”
Sejenak Wijaya diam. Menghela napas, memikirkan sesuatu. “Bilang saja kalau bayi ini anakmu. Lahir dari rahimmu. Keluargamu juga cuma Mbak Fatma kan?”
Rinjani mengangguk. “Iya, tapi apa boleh begitu?”
“Boleh saja. Toh secara legalitas Leana anak kita. Mbok Fatma juga di luar negeri. Biarkan dia tahu Leana anakmu. Biar dia senang punya keponakan.”
Rinjani langsung setuju.
—
Keesokan paginya, matahari baru naik ketika Wijaya bersiap ke kantor. Rinjani menatap suaminya yang sudah rapi dengan jas abu-abu.
“Mas, hati-hati di jalan, ya. Nanti aku mau beli perlengkapan bayi. Leana butuh tempat tidur dan stroller kecil.”
Wijaya mengangguk pelan. “Iya, Ran. Boleh saja. Beli apa saja untuk malaikat kecil kita. Tapi, jangan keluar rumah dulu. Pesan lewat telepon saja. Aku ada nomor tokonya.”
“Kenapa?” tanya Rinjani heran. “Aku kan ingin ajak Leana jalan-jalan juga. Aku mau pamer sama teman-temanku. Mereka pada gak percaya aku punya anak.”
Pria itu hanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Biar kamu gak capek. Leana juga masih merah, belum bisa ajak keluar rumah.” Wijaya mencium kening istrinya sekilas dan pergi.
Begitu mobil suaminya meninggalkan halaman, Rinjani langsung menelepon toko perlengkapan bayi. Suara ceria, menyambutnya penuh semangat. “Toko Erna Jaya, bisa dibantu?”
“Iya, Mbak. Saya mau pesan box bayi, stroller, popok, dan beberapa baju ukuran newborn. Tolong kirim hari ini, ya. Alamatnya di Perumahan Graha Tirta, blok S7. Untuk pembayaran bisa ditagih di rumah.”
Setelah memesan, ia menatap Leana yang terlelap di ranjang kecilnya di ruang tamu.
“Kamu akan punya boks baru,” ujarnya sambil mengambil foto Leana.
Jam menunjukan pukul 9 saat bel rumah berbunyi. Rinjani tersenyum.
“Itu pasti pesananku. Cepat sekali, satu jam sudah datang. Besok-besok, aku mau pesan lagi, ah,” gumamnya sambil bergegas menuju pintu. Namun saat pintu terbuka, Rinjani terperangah.
Di hadapannya berdiri wanita muda, cantik tapi pucat. Rambutnya terurai acak, matanya sembap. Tubuhnya sedikit gemetar, dengan suara serak ia bertanya, “Assalamualaikum, apa benar ini rumah Tuan Wijaya?”
Rinjani menautkan alis, bingung. Matanya melirik sekilas ke arah pagar. Ternyata dia lupa mengunci.
“Walaikumsalam. Mbak siapa ya?”
Wanita itu menatap Rinjani begitu dalam, penuh luka. “Saya Saraswati,” katanya. “Ibu kandung Leana. Selingkuhan suami Anda, Wijaya."

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel