"Amitaaa!"
Teriakan riang seorang anak laki-laki terdengar dari balik pintu kamar.
Gadis yang sedang tenggelam dalam bacaannya itu langsung menoleh. Begitu menyadari siapa pemilik suara tersebut, ia segera meletakkan bukunya dan beranjak dari ranjang.
Saat pintu terbuka, seorang anak laki-laki berusia empat tahun sudah berdiri di sana dengan senyum lebar.
"Hei, sejak kapan kamu datang?" tanyanya sambil berjongkok dan merentangkan kedua tangan.
Mylo langsung memeluknya erat.
"Wah, Mylo berhasil membuat Zura keluar dari goa!" seru seorang lelaki dari ruang tengah.
Ucapan itu langsung disambut tawa oleh seluruh penghuni rumah.
"Abang!" protes Zura.
"Memangnya salah? Dari tadi kami datang, kamu masih betah bersembunyi di kamar."
Zura hanya mendengus pelan. Ia memang lebih nyaman menghabiskan waktu bersama buku dibanding duduk berlama-lama mengobrol di ruang keluarga.
"Amita, ayo main!" ajak Mylo sambil mengangkat sebuah mainan dinosaurus.
Seorang perempuan yang berdiri di sampingnya tersenyum. "Kita baru sampai, Mylo. Tunjukkan dulu oleh-oleh yang kamu bawakan untuk Amita."
Mata anak itu langsung berbinar. Ia menarik tangan Zura menuju ruang makan.
"Amita pasti suka!"
Suasana rumah terasa hangat malam itu. Berbagai hidangan memenuhi meja makan. Percakapan saling bersahutan di antara suara sendok dan tawa kecil Mylo.
"Amita, Mylo punya banyak buku baru," ucap anak itu antusias. "Nanti Amita yang bacakan, ya?"
"Baik, Tuan Mylo," jawab Zura sambil tersenyum.
Anak itu terkikik puas.
Di tengah suasana hangat tersebut, pikiran Zura sesekali melayang pada satu hal yang terus menghantuinya.
Besok.
Hanya satu kata, tetapi terasa begitu berat.
Besok adalah hari pengumuman.
Hari yang menentukan apakah mimpinya selama bertahun-tahun akan menjadi kenyataan atau justru berakhir sebagai angan-angan.
Beberapa saat kemudian, Zura perlahan menutup buku sambil mengelus kepala si pemiliknya yang sudah tertidur pulas. Pintu terbuka dengan suara pelan.
"Kamu pasti memikirkan hasil pengumuman besok," ucap seorang wanita yang sudah berdiri di ambang pintu.
Zura mengangguk. "Bagaimana kalau aku gagal?"
Pertanyaan yang sama sejak beberapa minggu terakhir terus berputar di kepalanya.
Effie menggenggam tangannya.
"Kami tetap mendukungmu, apa pun hasilnya."
Zura tersenyum tipis. Mudah diucapkan, tetapi tidak semudah itu diterima.
"Aku mau kembali ke kamarku."
Zura bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
Di kamarnya, Zura berbaring di ranjang sambil melihat ponselnya. Telunjuk mulai bergerak naik turun menggeser layar ponsel. Terlukis senyum di bibirnya saat melihat foto seseorang.
Orion Pratama.
Seseorang yang dia kagumi sejak menjelang seleksi perguruan tinggi. Awalnya Zura hanya mendengar desas-desus tentang Orion, putra sulung guru BK di sekolahnya. Zura mencari tahu akun media sosial Orion hanya karena penasaran. Namun, lama-kelamaan ia mulai terbiasa mengunjungi akun itu hampir setiap hari.
"Aku kira rasa ini tidak akan bertahan lama," gumamnya pelan.
Dia kembali menatap foto itu.
"Ternyata aku salah."
Zura tersenyum kecil. Ia bahkan tidak ingat sejak kapan kebiasaannya memeriksa unggahan Orion menjadi bagian dari rutinitas sehari-harinya.
Ia mematikan layar ponsel lalu memeluk guling. Besok segalanya akan berubah. Setidaknya, itu yang ia yakini sebelum akhirnya tertidur.
Keesokan harinya, tepat pukul 15.00 WIB, Zura sudah duduk di depan laptop. Tangannya dingin. Jantungnya berdegup tidak karuan. Situs pengumuman akhirnya berhasil terbuka. Dia memasukkan nomor peserta dan tanggal lahir, lalu menekan tombol hasil sambil memejamkan mata.
Saat matanya perlahan terbuka, satu kata pertama yang ia baca.
Selamat.
Bukan.
Dia terdiam sesaat.
Bukan ucapan selamat yang muncul, melainkan ucapan semangat dan jangan menyerah. Tubuhnya seketika membeku. Perlahan air mata mulai mengalir. Dadanya sesak, dia mulai terisak.
Gagal.
Ia gagal.
Segala usahanya terasa sia-sia. Semua seakan lenyap hanya dalam satu detik.
Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskannya untuk belajar, tumpukan buku yang memenuhi meja belajar, dan doa-doa yang selalu mengiringi setiap langkah kecilnya menuju mimpi.
Nyatanya, semua itu tetap tidak cukup.
Hingga malam tiba, Zura memilih mengurung diri di kamar. Ketukan pintu terdengar berkali-kali. Namun, ia tidak menjawab.
"Zura." Suara kakaknya terdengar dari balik pintu. "Kamu masih punya jalur lain."
Tidak ada jawaban.
"Kegagalan satu kali bukan akhir semuanya."
Zura memejamkan mata. Andai sesederhana itu. Andai mimpi yang runtuh bisa diganti hanya dengan kalimat penyemangat.
Malam semakin larut. Zura duduk di tepi ranjang. Mata sembapnya mulai mencari sesuatu. Dia mengambil ponselnya, mencoba menghibur diri. Zura menghela napas melihat unggahan lama di akun Instagram Orion.
"Bodoh. Sangat bodoh."
Zura menertawakan dirinya sendiri.
"Jadi benar ya."
Dia menatap foto itu cukup lama.
"Lagi sibuk-sibuknya ujian masuk perguruan tinggi malah jatuh hati."
Senyumnya terasa pahit.
Saat akan menutup aplikasi, sebuah unggahan baru muncul di beranda. Itu unggahan terbaru Orion. Foto langit sore dengan tangkapan layar hasil seleksi yang sebagian ditutupi dan satu kalimat singkat.
"Finally, langkah pertama menuju mimpi."
Jantung Zura seolah berhenti sesaat. Tanpa sadar, ia membuka kolom komentar. Puluhan ucapan selamat memenuhi unggahan itu.
"Selamat masuk FK, Bro!"
"Akhirnya calon dokter."
"Keren. Selamat masuk Fakultas Kedokteran impian!"
Zura menatap layar cukup lama. Hari ini, ia baru saja menerima kabar bahwa dirinya gagal meraih kampus impian.
Sementara Orion ....
Orang yang selama ini hanya berani ia kagumi dari kejauhan, justru sedang merayakan keberhasilannya menggapai mimpi.
Untuk pertama kalinya, Zura bertanya-tanya.
Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang selalu berhasil sampai ke tujuan?
Bersambung ....