Langkah kaki Rani terasa ringan ketika memasuki lobi gedung tinggi berlapis kaca itu. Pagi itu, matahari menebarkan sinarnya dengan lembut, memantulkan kilau ke dinding kaca yang menjulang.
Jantungnya berdegup kencang, seolah ikut berlari bersama langkahnya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan impian, sebuah perusahaan besar yang namanya sudah terkenal di seluruh kota.
Ia menatap sekeliling, mencoba menyerap suasana baru. Orang-orang lalu-lalang dengan raut wajah serius.
Ada yang membawa map, ada yang sibuk dengan ponsel, dan ada pula yang berjalan cepat sambil berbincang dengan rekan kerja. Semua tampak profesional, membuat Rani sedikit minder dengan dirinya yang sederhana.
Ia merapikan kemeja putih dan rok hitam selututnya, lalu mengikat erat tali rambut yang sudah rapi. Tidak istimewa memang, batinnya, tapi niatku untuk bekerja keras harus cukup.
“Permisi, selamat pagi. Saya Rani, karyawan baru,” ucapnya sopan.
Petugas resepsionis menoleh, senyum ramah terlukis di bibirnya. “Selamat bergabung, Mbak Rani. Ini kartu aksesnya.” Ia menyerahkan sebuah tanda pengenal.
“Silakan langsung ke lantai sepuluh, ruang HR. Ada briefing untuk karyawan baru.”
“Terima kasih.” Rani menerima kartu itu dengan kedua tangan, lalu melangkah ke lift. Di dalam, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak mau berhenti.
Ketika pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Rani segera melangkah keluar. Ruangan kantor tampak luas dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Ia terpaku sejenak, mengagumi desain modernnya hingga nyaris menabrak seorang pria yang berjalan cepat.
“Eh, maaf!” seru Rani buru-buru sambil menyingkir.
Pria itu hanya melirik sekilas. Tatapannya dingin, tajam, sebelum kembali melangkah tanpa sepatah kata.
Rani menelan ludah, merasakan sorot mata itu menusuk hingga membuatnya merasa kecil. Ia buru-buru melanjutkan langkah ke ruang HR. Setelah sesi perkenalan selesai, Rani mendapat arahan bahwa ia akan ditempatkan di divisi pemasaran. Semangatnya semakin membuncah. Ini dia kesempatan yang selama ini kucari.
Siang harinya, ia memutuskan membeli kopi di kafe kecil dekat lobi untuk menyegarkan pikiran. Dengan hati-hati, ia membawa cangkir kopi panas itu menuju lift. Takdir seolah ingin mempermainkannya.
Saat pintu lift terbuka, seseorang keluar dengan langkah terburu-buru. Tubuh mereka bertabrakan.
“Ah!” Rani terperanjat. Cangkir di tangannya terlepas, kopi panas muncrat, membasahi jas hitam pria itu. Aroma kopi segera memenuhi udara, meninggalkan noda kecokelatan yang mencolok di kain mahal tersebut.
“Oh Tuhan! Saya, minta maaf!” Rani panik, buru-buru merogoh tisu dari tasnya.
“Biar saya bersihkan, sekali lagi saya minta maaf!”
“Jangan sentuh!” Suara pria itu tajam, membuat Rani terhenti.
Ia mendongak, mendapati pria yang tadi ditemuinya di koridor. Tatapan tajamnya kini menusuk lebih dalam.
“Lihat apa yang sudah kamu lakukan,” ucapnya dingin. “Jas ini baru saja kupakai untuk rapat penting. Harganya tidak murah.”
“Saya benar-benar tidak sengaja, Pak.” Rani menunduk, suaranya bergetar. “Saya akan bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab?” Pria itu menyeringai tipis. “Kamu tahu berapa harga jas ini? Gajimu cukup menutupinya?”
Rani menggigit bibirnya. “Sekali lagi, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud ceroboh.”
Pria itu menyilangkan tangan di dada. “Nama kamu siapa?”
“Rani.”
“Rani,” ulangnya datar, seakan mengukir nama itu di ingatannya. “Mulai sekarang, hati-hati kalau berjalan. Saya tidak suka orang ceroboh berkeliaran di kantor ini. Ingat, saya akan mengingat wajahmu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik pergi. Rani hanya berdiri kaku, cangkir kosong masih tergenggam.
Sore harinya, di ruang rapat divisi pemasaran, Rani kembali terperangah. Pria yang sama kini duduk di kursi pimpinan, mengenakan kemeja putih rapi, jas baru, dan wajah tanpa senyum. Semua orang tampak menaruh hormat.
“Atasan kita hari ini akan memberikan pengarahan langsung,” bisik salah satu senior di samping Rani. “Beliau Pak Arga, manajer pemasaran.”
Rani menegang. “Jadi dia atasan langsungku?” Perutnya terasa melilit.
Arga mulai berbicara lantang, menjelaskan target, strategi, dan disiplin kerja yang ketat. Sesekali matanya menyapu ruangan, berhenti sesaat pada Rani. Tatapannya menusuk hingga Rani terpaksa menunduk.
Setelah rapat selesai, Arga menghampirinya.
“Jadi kamu karyawan baru di divisi saya,” kata Arga datar setelah rapat usai, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
Rani menegakkan bahu. “Saya akan berusaha keras, Pak. Saya tidak ingin mengecewakan.”
“Hm.” Arga menghela napas pelan. “Kita lihat saja nanti. Jangan sampai kecerobohanmu pagi tadi terulang. Saya tidak punya waktu untuk orang yang menyusahkan.”
Rani mengepalkan tangan di balik meja, menahan keinginan untuk membalas.
Hari pertama Rani berakhir dengan tubuh dan pikiran yang lelah. Ia duduk di halte bus, menatap kosong ke arah jalan raya yang mulai padat. Ingatannya kembali pada pertemuan buruk dengan Arga. Rasa kesal dan harga diri yang terusik bercampur jadi satu.
“Tidak apa-apa, Ran. Ini baru permulaan,” gumamnya lirih.
“Kalau dia keras, aku harus lebih keras lagi. Aku tidak boleh kalah.”
Rani menghela napas panjang. Ia tahu hari-hari ke depan tidak akan mudah. Arga bukan tipe atasan yang ramah bahkan mungkin lawan terberatnya di kantor. Namun, pekerjaan ini adalah mimpi yang sudah lama ia kejar.
***
Rani menunduk, jemarinya meremas ujung tas kerja. “Tidak ada seorang pun,” gumamnya pelan.
Seorang ibu paruh baya di sampingnya menoleh. “Maaf, Mbak, bicara sama saya?” tanyanya ragu.
Rani tersentak, lalu tersenyum kaku. “Ah, bukan, Bu. Saya hanya ngomong sendiri.”
Ibu itu terkekeh kecil. “Kerja pertama kali, ya? Wajahnya kelihatan capek.”
Rani menarik napas panjang. “Iya, Bu. Rasanya campur aduk. Senang, tapi juga, kesal.”
“Kesal sama siapa?” tanya si ibu, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
“Seorang manajer. Baru ketemu hari ini, arogan sekali. Rasanya ingin menyerah.”
“Namanya juga atasan.” Si ibu tersenyum lembut. “Kadang kerasnya memang sengaja, supaya kamu kuat.”
Rani menoleh, bibirnya menahan senyum getir. “Kalau keras untuk kebaikan, saya bisa terima. Kalau merendahkan di depan orang lain, saya benci rasanya.”
Si ibu menepuk bahunya pelan. “Buktikan saja kamu bisa. Orang seperti itu biasanya paling kaget kalau yang diremehkan justru berhasil.”
Rani menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Benar juga, Bu. Tidak ada seorang pun, termasuk manajer arogan itu, yang bisa menghancurkan tekad saya.”
Ketika bus berhenti, Rani berdiri. “Terima kasih, Bu.”
“Semangat, Nak,” balas si ibu sambil melambaikan tangan.
Rani menatap ke luar jendela bus yang mulai melaju. Di balik senyum yang baru terbit, hatinya masih menyimpan bara kecil dan benih kebencian yang lahir hari itu, benih yang diam-diam akan menuntunnya pada perjalanan panjang yang mengubah seluruh hidupnya.