Rumah besar dan cantik itu baru terlihat sepi. Hanya dua lampu kecil terlihat menyala di dua kamar yang bersebelahan.
Di kamar depan, seorang gadis remaja berbaring gelisah dalam tidurnya. Wajahnya terlihat ketakutan, ada kerutan di dahinya yang menandakan tidurnya tidak tenang.
“Jangan … tolong … pergi … jangan ganggu aku … lepaskan!!”
Gadis remaja itu bangun seketika dan segera duduk. “Mama!!”
Teriakannya membuat seorang wanita berumur empat puluhan tahun yang baru saja berbaring di kamar sebelah, segera berlari menuju kamar gadis itu. Putrinya yang duduk di ranjang menatap padanya dengan tubuh gemetar. Air matanya mulai membasahi pipinya yang halus. Wanita itu mendekap gadis belia yang masih tampak ketakutan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Mama bersama kamu … Mereka tidak ada di sini, kamu aman." Pelukan hangat itu perlahan membuat Fernanda kembali tenang. Detak jantungnya yang sebelumnya begitu cepat berangsur normal. Tangan dan tubuhnya yang gemetar mulai tenang.
“Kenapa aku masih mimpi buruk, Ma? Kenapa?” Gadis itu masih dalam pelukan mamanya.
“Sudahlah, Fernanda … Mama temani kamu tidur malam ini, ya?” Diusapnya pipi putri kecilnya yang cantik.
Perlahan dia mengajak putrinya kembali berbaring. Dia peluk Fernanda agar kembali bisa terlelap.
Hampir setengah tahun lalu, Fernanda mengalami kejadian mengerikan. Saat pulang les bersama dengan temannya, ada sekelompok anak jalanan yang datang mengganggunya. Fernanda sudah berpisah dengan temannya dan berjalan sendirian menuju ke rumah.
Anak-anak itu menarik Fernanda dan hampir menodainya. Fernanda mengalami trauma berat dengan apa yang dia alami. Hingga lebih dua minggu Fernanda tidak bisa ke sekolah. Dia hampir tidak tidur selama berhari-hari. Setiap hampir terlelap muncul bayangan peristiwa itu membuat Fernanda menjerit-jerit histeris.
Lambat laun, dengan kesabaran, dia bimbing Fernanda agar pulih. Dia dan suaminya sempat membawa Fernanda ke psikolog agar jiwanya kembali sehat. Ternyata ada saat tertentu di mana Fernanda masih saja ketakutan dan belum sepenuhnya pulih. Perlu waktu, entah sampai kapan gadis kecilnya yang baru menginjak remaja itu akan baik-baik saja.
*****
“Mama!! Tolong!!” Teriakan itu kembali membuat heboh seluruh isi rumah.
“Ya, Tuhan! Fernanda!?” Wanita cantik dengan tubuh cukup tinggi dan langsing itu terkejut melihat putrinya mendekap mulut dan hidungnya. Darah segar mengalir di antara jari-jari tangannya.
Wajah gadis itu pucat pasi. Dia gemetar.
“Sayang, Celia! Ada apa?!” Seorang pria gagah menyusul di belakang Cecilia.
“Fernanda, Mas Yo! Lihat!” Celia berkata sambil menahan air mata yang hampir tumpah di pipinya.
“Oke, aku ambil peralatan dulu.” Pria itu keluar kamar dan tidak lama muncul dengan tas hitam di tangannya. Dia mengeluarkan peralatan medis dan mulai memeriksa putrinya.
“Ma … aku kenapa?” tanya Fernanda dengan suara sedikit gemetar.
“Biar Papa lihat dulu, Sayang. Sebentar selesai,” Celia menenangkan Fernanda.
Fernanda menurut saja saat papanya memeriksa kondisinya.
“Mas Yonathan … Gimana?” Celia bertanya dengan sedikit cemas.
“Tidak bisa terlihat dengan alat seadanya, Celia. Kita harus ke rumah sakit,” jawab Yonathan.
“Oke, kita pergi. Aku siapkan dulu Fernanda.” Celia mengganti pakaian putrinya. Gadis itu lemas lunglai seperti tidak ada daya.
Tidak lama, mobil putih keluar dari rumah besar itu meluncur menuju rumah sakit. Yonathan, seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di kota ini. Sudah beberapa waktu Fernanda sering merasa pusing, menggigil, sering berkeringat dingin tiba-tiba.
Sejauh ini dia hanya mendapati putrinya mengalami lemah jantung. Tetapi melihat yang terjadi sekarang, dia curiga ada sesuatu yang lebih dari itu. Segera dia menghubungi dokter yang lain, untuk melakukan tes lengkap untuk putrinya.
Di kamar di rumah sakit, perlahan kondisi Fernanda mulai stabil. Dida tidak lagi pucat, tetapi masih lemah. Celia terus ada di sisinya, tidak mau putrinya itu merasa takut.
“Celia .…” Yonathan menepuk bahu Celia yang duduk di kursi di sebelah ranjang.
Celia menoleh dan melihat suaminya. Wajahnya lesu, ada guratan kesedihan yang dalam di sana. Celia tahu ada sesuatu yang tidak baik dengan kondisi Fernanda.
“Bagaimana, Mas?” tanya Celia.
Yonathan menarik nafas dalam, memandang putrinya yang tidur dengan tenang di atas ranjang.
“Apa ada sesuatu?” tanya Celia lagi.
“Ayo kita bicara.” Yonathan mengajak Celia ke luar kamar, duduk di kursi di depan kamar itu.
Celia menunggu suaminya bicara.
“Fernanda … positif … Leukimia.” Pelan Yonathan berkata. Ini sangat berat untuk dia sampaikan pada istrinya.
“Ya Tuhan ….” Celia memegang kedua tangan Yonathan. “Mas yakin? Ini beneran?”
Mata Celia sudah berair. Rasanya ada yang menusuk dalam di dadanya, pedih.
Yonathan mengangguk. “Aku sudah berikan hasilnya pada Aldy. Dia akan jadi dokter pribadi Fernanda. Berharap, ini belum menyebar ke mana-mana, sehingga sebisa mungkin jika memang Tuhan kehendaki, Fernanda bisa sembuh.”
“Tidak … tidak, Mas … Aku ga mau … Kenapa putri kita? Kenapa Fernanda?” Celia seketika menangis. Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
Yonathan menyentuh lembut bahu Celia. Rasanya dia pun masih tidak percaya, putri tunggal mereka, yang begitu ceria dan penuh semangat harus mendapati kenyataan ini. Tubuhnya yang imut digerogoti penyakit mematikan.
“Anakku … satu-satunya, ya Tuhan ….” Celia menoleh ke dalam kamar, melihat Fernanda yang masih terlelap.
*****
“Apa?! Jadi aku kena kanker darah?” Fernanda setengah berteriak dan melotot pada mamanya.
Celia memegang lengan Fernanda dan mengangguk.
“Pa?” Fernanda menoleh pada papanya. Yonathan tampak tegang dan sedih.
“Ya, Sayang .…” Yonathan menatap putrinya itu dengan wajah makin gundah.
“Papa dokter, kan? Papa pasti bisa menyembuhkan aku. Beri aku obat paling baik, Pa!” Fernanda memandang Yonathan.
Yonathan meraih Fernanda dalam pelukannya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dalam dekapan papanya.
Yonathan dan Celia akhirnya memilih mengatakan yang sebenarnya pada Fernanda, karena kondisinya yang semakin menurun. Dia tidak bisa lelah, sering pingsan dan mimisan. Mual, muntah, juga menggigil.
Mereka sudah memastikan akan menghentikan aktivitas Fernanda di luar rumah. Sekolah pindah di rumah, homeschooling, tidak mungkin Fernanda ikut belajar penuh di kelas. Dan mereka harus menjelaskan semua pada Fernanda. Dia hampir empat belas tahun, dia sudah bisa mengerti apa yang terjadi.
Berulang kali Fernanda bertanya kenapa dia mudah sekali lelah, kenapa masih harus minum obat dan kontrol terus ke dokter. Tidak mungkin Yonathan dan Celia hanya menutupi terus mengenai kondisi Fernanda yang sebenarnya.
“Sampai kapan, Pa? Sampai kapan aku bisa bertahan?” bisik Fernanda pada Yonathan.
“Jika panjang empat tahun.” Pedih, tapi Yonathan tidak mau lagi menyembunyikan kenyataan pada putrinya.
Fernanda makin merapatkan pelukannya pada Yonathan dan air mata berderai lagi dari pipinya yang halus itu.
**
Jika kamu tahu kapan saatnya usiamu akan berakhir, apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu? Melakukan apapun yang kamu mau dan kamu suka? Atau melakukan apa yang paling membuat orang-orang yang kamu cintai bahagia?
Andai … waktu bisa dihentikan … Aku mau menghentikannya ….
Agar aku tidak berjalan menuju saat aku hanya bisa menarik nafas untuk terakhir kali.
-Fernanda-