


oleh Rahma S.R · 52 Bab
Cintaku adalah kamu, dan realitanya kau hanya ilusi, fatamorgana yang sulit kuraih, seperti bintang di langit. Di balik sorotan lampu dan kamera, Mala merupakan aktris muda berbakat dan harus menghadapi konflik cinta dan realita dengan lawan mainnya, Rakha. Rakha, aktor pendatang baru, jatuh cinta pada Mala sejak pandangan pertama. Di usia belasan, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: cinta, karir, atau pendidikan. Akankah mereka menemukan kebahagiaan atau justru terjebak dalam permainan cinta dan kesuksesan? Bisakah mereka mempertahankan mimpi tanpa kehilangan hati? Semua bergantung pada keputusan mereka.
Ponsel Rakha terus berbunyi tanpa henti, padahal pagi masih sangat awal. Saat itu, Rakha baru saja memulai aktivitas paginya.
Mendengar suara ponsel yang berdering, ibu sambungnya, Bunda Wina, segera memanggilnya.
"Mas Rakha, ada telepon masuk tuh," katanya sambil tetap sibuk di dapur.
Rakha yang sedang melakukan senam pagi langsung menghentikan kegiatannya. Ia berjalan menuju bundanya yang sedang menyiapkan sarapan. Sesampainya di sana, Rakha mengecup kening ibunya dengan lembut.
"Dari siapa, Bun?" tanyanya.
Tanpa menoleh, Bunda Wina menjawab, "Mana Bunda tahu, Mas? Bunda cuma dengar ponselmu berdering terus sejak tadi."
Rakha mengangguk, lalu melangkah menuju meja ruang keluarga. Saat melihat nama yang tertera di layar, dahinya mengernyit heran.
"Om Alex?" gumamnya.
Ia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang ingin disampaikan oleh manajernya sepagi ini? Bukankah jadwal syutingnya baru dimulai siang nanti?
Tanpa berpikir panjang, Rakha menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan.
"Assalamualaikum, Om," sapanya.
"Waalaikumsalam," jawab Om Alex di seberang telepon.
"Ada apa, Om?" tanya Rakha langsung.
"Rakha, surat kontrak kerja kamu sudah turun. Kamu bisa mulai syuting untuk film barumu," ujar Om Alex.
Rakha mengangguk meskipun tahu manajernya tak bisa melihatnya. "Jadi, kapan kita mulai syuting?" tanyanya.
"Mungkin besok. Kita akan bertemu di lokasi syuting, sekalian Om kenalkan kamu dengan partner mainmu nanti."
"Baik, kalau begitu sampai jumpa besok, Om. Assalamualaikum," ucap Rakha sebelum menutup panggilan.
"Waalaikumsalam," sahut Om Alex.
Setelah panggilan berakhir, Rakha meletakkan ponselnya di atas meja. Bunda Wina, yang tak sengaja mendengar percakapan itu, mendekat dan bertanya.
"Siapa, Mas?" tanyanya.
"Om Alex, Bun," jawab Rakha singkat.
Bunda Wina hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Ia kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya menata makanan untuk sarapan.
Melihat ibunya sibuk, Rakha bergegas menghampirinya untuk membantu. Namun, sebelum sempat bergerak lebih jauh, Bunda Wina justru menghentikannya.
"Sudah, nggak apa-apa. Tinggal sedikit lagi, kok," ujarnya lembut.
"Mas, lebih baik kamu panggil Ayah dan Nenek untuk sarapan," lanjutnya.
"Baik, Bun," sahut Rakha, lalu melangkah ke ruang tengah.
Ia menemukan ayah dan neneknya sedang bersantai menonton televisi.
"Ayah, Nenek, Bunda mengajak kita sarapan. Ayo!" ajaknya.
"Ayo," jawab mereka serempak.
Pagi itu, mereka menikmati sarapan bersama, bercanda, dan berbincang hangat dalam kebersamaan.
Pagi-pagi sekali, Rakha sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia bersiap berangkat ke lokasi syuting yang telah dibagikan oleh manajernya. Hari ini, ia pergi bersama Bunda Wina.
Saat mereka hampir sampai, Bunda Wina bertanya, "Mas, benar ini lokasinya?"
Rakha melirik layar ponselnya sejenak sebelum mengangguk. "Benar, Bun. Ini tempatnya."
Mendengar jawaban putranya, Bunda Wina segera memarkirkan mobil.
"Kita parkir di sini saja, ya?" ujarnya pelan.
"Iya, Bunda," sahut Rakha.
Mereka turun dari mobil dan berjalan mencari Om Alex. Tak butuh waktu lama, dari kejauhan, manajernya melambaikan tangan.
"Mas Rakha, sini!" serunya.
Rakha menoleh ke arah suara. "Itu Om Alex, Bun," katanya seraya menunjuk ke arah manajernya.
Mereka pun segera menghampiri Om Alex, yang sudah menunggu.
"Halo, Bunda. Apa kabar?" sapa Om Alex ramah.
Bunda Wina tersenyum tipis. "Baik dong. Kan mau mengantar Mas Rakha kerja di tempat barunya," ujarnya bercanda.
"Kalau begitu, ayo kita ke lokasi syuting," ajak Om Alex. "Mas Rakha, ayo!"
Rakha hanya mengangguk dan mengikuti langkah mereka.
Saat tiba di lokasi, suasana sudah cukup ramai. Para aktor dan aktris terlihat bersantai, termasuk seorang gadis yang sedang asyik dengan ponselnya. Om Alex mengajak Rakha mendekat.
"Mas, itu partner mainmu nanti. Kalian akan menjadi pemeran utama dalam proyek film ini," jelas Om Alex.
Rakha hanya diam, mengikuti langkah manajernya. Ia masih belum tahu banyak tentang film yang akan dibintanginya, jadi ia memilih untuk mendengarkan saja.
Setelah mendekat, Om Alex memanggil gadis itu.
"Mala!"
Gadis yang sedang duduk itu menoleh. Ia terlihat sedang bermain ponsel bersama ibunya yang menemaninya. Begitu mendengar namanya dipanggil, ia segera bangkit dan berjalan menghampiri mereka.
"Iya, Om?" jawab Mala dengan ramah.
Om Alex memperkenalkan mereka. "Mala, ini Rakha. Dia lawan mainmu nanti."
Mala mengalihkan pandangannya ke arah Rakha. Dengan senyum tipis, ia mengulurkan tangan.
"Hai, aku Mala."
Rakha menyambut jabatan tangannya dengan ekspresi datar.
"Aku Rakha," sahutnya dengan nada dingin.
Ia segera melepaskan tangan Mala, membuat gadis itu sedikit terkejut. Mala sempat terdiam sejenak, mengamati ekspresi Rakha yang begitu kaku dan dingin. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah ia bisa bekerja sama dengan pria ini di lokasi syuting.
"Buset, dingin banget," gumamnya dalam hati.
Baru kali ini ia bertemu lawan main yang begitu cuek dan kaku. Namun, bukannya takut, Mala justru merasa tertantang.
"Sepertinya menarik. Aku harus bisa mencairkan sikap cowok cool satu ini," batinnya.
Sementara itu, Rakha juga berpikir hal yang sama. Saat pertama kali melihat Mala, ia langsung tertarik. Bukan hanya karena wajahnya, tetapi juga karena gayanya yang jauh dari kesan feminin.
"Buset, tomboy amat nih cewek," gumamnya.
Ia semakin tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Mala bukan tipe gadis yang biasa ia temui. Apakah ia bisa mendekati gadis ini?
Rakha tersenyum kecil dalam hati.
"Seru juga sepertinya," batinnya.
Rakha menatap Mala sesaat. Gadis itu masih berdiri di depannya, ekspresinya santai, tapi sorot matanya tajam.
Mala menyilangkan tangan di dada, satu alisnya terangkat. "Kenapa? Lihat-lihat? Ada yang aneh di wajahku?" tanyanya santai, tapi jelas menantang.
Rakha menghela napas pendek, menyeringai tipis. "Nggak. Cuma jarang aja lihat cewek yang gayanya kayak kamu."
Mala tertawa kecil, lalu menepuk ringan bahu Rakha. "Santai aja, Bro. Aku juga jarang lihat cowok yang mukanya kayak papan es gini."
Rakha mengernyit, menatap Mala dengan ekspresi tak percaya. "Papan es?" ulangnya.
"Iya, dingin banget ekspresinya. Ini nanti di film kita beneran ada romansa, kan? Gimana mau bikin baper kalau wajah kamu kayak robot?" canda Mala, menatapnya dengan smirk jahil.
Rakha menahan senyum. Bukannya kesal, ia malah semakin tertarik. Mala benar-benar berbeda dari gadis lain.
"Kita lihat nanti siapa yang lebih bisa akting," balas Rakha santai, matanya berbinar penuh tantangan.
Mala terkekeh. "Oke, deal. Kalau aku berhasil bikin ekspresi kamu nggak kaku di film ini, kamu harus traktir aku makan!"
Rakha berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Baik, tapi kalau aku tetap cool sampai akhir syuting, kamu yang traktir aku."
Mala menjulurkan tangan. "Deal?"
Rakha menatapnya sebentar, lalu menjabat tangannya. "Deal."
Om Alex yang sedari tadi melihat interaksi mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Wah, sepertinya bakal jadi syuting yang menarik," gumamnya pelan.

Rahma S.R
2 Pengikut · 2 Novel