


oleh udin_kejepit · 53 Bab
Arkananta Cakrawala memiliki segalanya. Kekuasaan, ketampanan, dan gedung pencakar langit yang menjulang di bawah kakinya. Baginya, hidup adalah deretan angka dan transaksi bisnis yang dingin. Namun, sebuah surat wasiat dari kakeknya meruntuhkan segalanya. Demi takhta Cakrawala Group, Arkan dipaksa menikahi Aisyah—gadis desa yang hanya memiliki sepetak ladang cengkih mati dan prinsip yang tak bisa dibeli. Dari apartemen mewah ke rumah panggung yang berderit. Dari kopi mahal ke teh jahe di gelas kusam. Namun, takdir tidak pernah berpihak pada yang lemah. Dan Arkan akan belajar bahwa setiap kebahagiaan selalu dibayar dengan pengorbanan yang tak terbayangkan.
Roda hitam legam dari sedan mewah itu berputar dengan ritme yang konstan, tapi berat. Ban karet premium itu harus bergelut dengan permukaan jalanan tanah yang tidak rata, menciptakan bunyi kretek-kretek yang garing saat melindas kerikil dan ranting kering yang berserakan.
Arkananta Cakrawala, pria yang biasanya hanya menghirup udara dari sistem filtrasi tingkat tinggi di gedung pencakar langit, kini harus menyaksikan bagaimana kemewahan dunianya mulai dikuliti oleh alam.
Di luar sana, partikel debu berwarna cokelat kemerahan beterbangan seperti jutaan mikroskopis penari yang berpesta di bawah siraman cahaya matahari sore yang mulai miring. Debu-debu itu tidak sekadar terbang; mereka menempel pada badan mobil yang mengilat, menyamarkan cat hitam obsidian itu menjadi kusam.
Aroma pedesaan mulai menyusup melalui celah-celah paking pintu mobil yang seharusnya kedap suara. Ada aroma tanah kering yang terbakar matahari sepanjang siang, bercampur dengan bau tajam dari kotoran ternak yang terbawa angin dari kandang-kandang di kejauhan.
Arkan menarik napas panjang. Ia bisa merasakan sensasi kering di tenggorokannya, sebuah kontras yang nyata dari kelembapan udara kantornya yang selalu diatur pada angka 50 persen. Ia membenarkan letak jam tangan titanium di pergelangan tangan kirinya. Gesekan antara logam dingin itu dengan kulitnya memberikan sedikit rasa jangkar di tengah ketidakpastian ini.
Di sampingnya, duduk sang kakek, Danuwarso. Lelaki tua itu tampak tenang, meski garis-garis keriput di wajahnya yang setebal kulit kayu mahoni itu menunjukkan bahwa ia telah melalui ribuan senja seperti ini.
"Kakek yakin ini tempatnya?" tanya Arkan. Suaranya adalah bariton yang rendah, berat, dan mengandung getaran otoritas yang biasanya membuat para direktur menunduk. Namun di sini, suaranya seolah ditelan oleh luasnya hamparan sawah.
Danuwarso tidak menoleh. Matanya yang mulai mengeruh karena katarak tipis tetap tertuju pada sebuah bangunan di ujung jalan.
"Janji adalah utang, Arkan. Dan utang nyawa hanya bisa dibayar dengan ketulusan yang murni, bukan dengan angka-angka di rekening bankmu."
Mobil itu akhirnya berhenti total. Mesinnya yang halus mati dengan sekali sentuhan, meninggalkan keheningan yang tiba-tiba terasa memekakkan telinga. Begitu pintu mobil dibuka, suara alam langsung menyergap.
Bunyi gesekan ribuan daun bambu yang tertiup angin sore menciptakan simfoni srek-srek yang tak henti-henti. Ada suara aliran air yang konsisten dari parit kecil di samping jalan, airnya bening memantulkan warna langit yang mulai berubah menjadi jingga kemerahan.
Arkan turun dari mobil. Kaki yang dibungkus sepatu kulit domba asli itu menginjak tanah yang sedikit empuk dan lembap di bagian bawahnya. Ia bisa merasakan tekstur tanah itu melalui sol sepatunya yang tipis.
Di hidungnya, aroma kopi yang sedang disangrai secara tradisional mulai mendominasi. Bau sangit yang sedap, bercampur dengan aroma kayu bakar yang sedang membara di dalam tungku tanah liat.
Ia memandang rumah panggung di hadapannya. Kayu-kayu penyangganya tampak kokoh, berwarna gelap karena usia, tapi bersih dari sarang laba-laba. Angin sore meniup debu dari halaman, membuat Arkan harus sedikit menyipitkan mata. Ia melihat bulu-bulu halus di lengan jasnya kini tertutup serbuk sari bunga liar yang terbawa angin.
"Assalamualaikum." Suara Danuwarso menggema, memecah kesunyian yang dibangun oleh angin.
"Waalaikumussalam warahmatullah." Sebuah suara pria paruh baya membalas.
Tak lama kemudian, muncul Pak Rahman, atau Abah Rahman. Beliau mengenakan baju koko dari bahan katun yang sudah sering dicuci hingga serat-serat kainnya terlihat lembut, dipadukan dengan sarung tenun yang aromanya wangi setrikaan arang dan sabun batangan.
Di dalam ruang tamu, tidak ada sofa empuk. Mereka duduk di atas tikar pandan yang aromanya sangat khas—aroma tanaman yang dikeringkan dan dianyam dengan cinta.
Arkan merasakan tekstur anyaman itu sedikit menusuk melalui celana kainnya yang mahal, namun ia tidak berani mengeluh. Langit-langit ruangan itu tinggi, memperlihatkan susunan genting tanah liat yang mulai mendingin setelah terpapar panas seharian.
Lalu, dia muncul dari balik tirai kain berpola bunga mawar yang sudah memudar warnanya.
Aisyah.
Dia berjalan dengan langkah yang sangat ringan, seolah telapak kakinya nyaris tidak menyentuh lantai kayu. Ia membawa sebuah nampan kayu tua dengan tiga gelas teh di atasnya.
Saat ia mendekat, Arkan bisa mencium aroma yang berbeda dari semua wanita yang pernah ia temui. Tidak ada aroma parfum mahal yang menusuk hidung. Yang ada hanyalah aroma air wudu yang segar, bau sabun batang yang sederhana, dan wangi alami dari kulit seseorang yang menghabiskan waktunya di lingkungan yang bersih dari polusi.
Aisyah meletakkan gelas teh itu satu per satu. Arkan memperhatikan jemari gadis itu; bersih, dengan kuku-kuku yang dipotong rapi tanpa cat kuku.
Saat gelas teh diletakkan di depan Arkan, uap panasnya naik, membawa serta aroma melati liar yang kuat dan manisnya gula batu yang mulai mencair di dasar gelas.
"Silakan diminum, Kek, Mas," ucap Aisyah. Suaranya begitu rendah, hampir seperti bisikan angin di antara daun padi, tapi sangat jelas dan tenang. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Arkan. Pandangannya tetap terjaga ke arah lantai kayu yang mengilat karena rajin dipel dengan air rendaman serai.
Arkan merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan cinta, tentu bukan. Itu adalah rasa tidak nyaman karena ia merasa kehadirannya yang serba mewah ini adalah sebuah gangguan bagi kesucian ruangan tersebut.
Ia memerhatikan bagaimana cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding kayu menyinari butiran debu yang menari-nari di sekitar kerudung Aisyah, menciptakan aura yang membuatnya tampak sangat jauh untuk dijangkau.
"Arkan." Danuwarso memulai, suaranya kini lebih berat. "Ini adalah Aisyah. Putri dari sahabatku yang telah menyelamatkan nyawaku puluhan tahun lalu di hutan ini. Sesuai dengan apa yang sudah kita sepakati di Jakarta, sebelum kau memegang penuh kendali Cakrawala Group, kau harus membuktikan bahwa kau punya hati yang bisa merunduk. Kau akan menikahinya di sini, besok."
Kalimat itu jatuh seperti batu besar ke dalam kolam tenang. Arkan mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seirama dengan suara bedug yang mulai terdengar lamat-lamat dari masjid di lembah desa. Suara dug-dug-dug itu beresonansi di dalam dadanya, menciptakan rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan.
"Kami tidak butuh maharmu yang berupa saham atau gedung, Nak Arkan." Abah Rahman berbicara, setiap katanya terasa penuh bobot moral. "Kami hanya menitipkan amanah. Aisyah adalah mawar di desa ini. Jika kau membawanya ke kota, pastikan kau tidak memetiknya hanya untuk membiarkannya layu di dalam vas kristal yang dingin."

udin_kejepit
2 Pengikut · 2 Novel