


oleh umi roihan · 100 Bab
Amara tak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang disukainya di masa putih abu-abu. Akankah cinta Amara goyah di saat rumah tangganya diterpa masalah? Atau, Amara harus tetap bertahan sementara hubungannya dengan sang suami mulai hambar?
Lalu lintas kendaraan roda dua maupun roda empat menyesaki jalan yang penuh polusi udara siang hari itu. Matahari yang mulai terik membuat Amara sesekali mengusap keringat yang mengucur di dahinya.
"Ini macet nggak habis-habis. Bisa telat nanti sampai di sekolah Naura," gerutunya.
Kemacetan mulai terurai. Amara kembali melajukan roda dua keluaran tahun 2018 itu. Saat hendak berbelok ke arah kanan, tak disangka di sana sedang ada razia.
"Huft, bikin tambah lama aja. Nau, maafin mama kalau telat ya, Sayang," gumamnya.
"Permisi, Bu, boleh lihat surat-suratnya?" sapa seorang petugas polisi begitu Amara sampai di kerumunan beberapa orang itu.
"Sebentar, Pak, saya ambil dulu di jok motor."
Amara kemudian menurunkan standar motornya dan membuka jok. Diambilnya dompet berwarna pink yang tersimpan di sana.
Amara mengambil KTP dan juga SIM miliknya tetapi tak menemukan STNK motor yang dia kendarai.
"Pak, STNK saya ketinggalan di rumah. Tadi saya buru-buru mau jemput anak sekolah."
"Harusnya Ibu lebih teliti lagi. Karena surat-suratnya tidak lengkap, Ibu saya tilang, ya."
"Yah, Pak, saya nggak bawa uang lebih. Ini di dompet cuma ada dua puluh ribu."
"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja, salah satu rekan polisi yang ada di hadapan Amara mendekati mereka.
"Siap, Ndan! Ibu ini tidak membawa STNK kendaraan."
"Kamu tangani yang sebelah sana saja. Biar Ibu ... "
"Amara, Ndan."
"Biar Ibu Amara saya yang tangani."
"Siap, Ndan."
Amara hanya terdiam mengamati kedua polisi berbeda pangkat itu. Lidahnya kelu untuk bersuara karena biar pun sudah sekian lama tak berjumpa, Amara masih ingat betul dengan wajah komandan polisi yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Saya minta maaf, Pak, lain kali saya akan lebih teliti lagi," ucap Amara sambil menundukkan kepala.
"Tak apa Bu, tetapi peraturan harus tetap dilaksanakan. Ibu bisa ambil kendaraan Ibu di kantor kami nanti."
"Lalu saya gimana pulangnya, Pak? Anak saya sebentar lagi pulang sekolah. Tolonglah, Pak, lepaskan saya kali ini."
"Maaf, Bu, peraturan tetaplah peraturan."
Ternyata dia sama sekali tak mengingatku. Apa karena penampilanku yang berubah? Ataukah memang hanya aku yang mengingatnya? Tapi, aku yakin nggak salah orang. Apalagi, di name tag itu jelas tertulis nama lengkapnya. Amara berkata dalam hatinya.
"Ya sudahlah, Pak, mungkin memang sudah nasib saya hari ini mengajak anak saya pulang jalan kaki. Padahal, cuaca sedang panas begini."
Amara melangkah gontai setelah diberi surat tilang oleh polisi bername tag Bayu Prawira itu. Belum juga jauh ia melangkah, terdengar seruan Bayu memanggilnya.
"Begini saja, Bu, biar saya antar untuk menjemput anak Ibu."
"Oh, tidak usah, Pak, nanti merepotkan. Biar saya naik ojek saja. Lagipula, sekolah anak saya sudah dekat, kok. Bapak juga sedang bertugas."
Amara tersenyum kemudian mengangguk pada Bayu dan meneruskan langkahnya. Bayu tertegun. Dia seolah pernah melihat senyum manis Amara entah di mana. Tanpa banyak kata, Bayu mengambil motornya dan menyusul Amara.
"Mari, Bu Amara, biar saya antar. Atau, saya harus memanggilmu, Ara?"
Amara terbelalak kaget mendengar Bayu memanggil nama kecilnya.
"Kok Bapak tahu nama panggilan saya, Ara?"
"Saya hanya menebak. Apa benar kamu Ara, adik kelas saya waktu SMA dulu?"
"Oh, jadi Pak Bayu ini ... saya takut salah mengenali orang tadi."
Amara tersenyum sumringah. Dia memang tak salah mengenali. Lelaki gagah ini memang Bayu, seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Sebelas tahun tak bertemu muka, ternyata Bayu masih mengingatnya.
"Oh ya, kamu bilang tadi mau jemput anak kamu? Sekolah di mana?"
"Anak saya sekolah di TK dekat sini, Pak."
"Jangan terlalu formal, Ra. Aku berasa puluhan tahun lebih tua dari kamu," ucap Bayu yang ingin Amara berbicara nonformal dengannya.
"Oh maaf tapi memang seharusnya kan saya bersikap hormat pada Pak Bayu."
Bayu mengibaskan tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Please, jangan panggil aku kayak gitu. Panggil aja kakak seperti panggilan yang dulu kamu sematkan di depan namaku."
"Baiklah Pa-, eh, Kak Bayu. Aku permisi dulu kalau begitu."
"Biarkan aku mengantarmu, Ra. Aku nggak bisa toleransi kalau masalah tilang. Seenggaknya, aku nggak terlalu merasa bersalah melihat kamu pulang naik ojek sementara motor kamu ditahan."
Amara tampak bimbang. Di satu sisi, ia ingin menerima pertolongan Bayu. Namun, di sisi lain, dia tak ingin menjadi bahan pergunjingan tetangga nantinya. Apalagi, jika ada yang melapor pada suaminya yang pencemburu berat itu.
"Ra, kok malah melamun. Ayo, naik!" Bayu mengulurkan helm yang semula ada di motor Amara. Bayu sempat mengambilnya tadi.
Amara mengangguk kecil lalu memakai helmnya. Lalu, wanita itu duduk di jok paling belakang sambil berpegangan pada behel.
"Kok jauh banget sih, Ra? Nanti kamu jatuh, lho."
"Aku nggak enak banyak yang lihat."
"Nggak usah dihiraukan. Mereka anak buahku."
Amara pun sedikit beringsut tetapi masih memberi jarak pada Bayu. Lelaki berpakaian polisi lengkap itu kemudian melajukan motornya menuju sekolah TK yang sebelumnya telah ia tanyakan pada Amara.
"Kamu apa kabar, Ra? Lama juga ya, kita nggak ketemu."
"Sebelas tahun."
"Ah iya, bahkan sudah lebih dari satu dekade. Kamu agak berubah Ra, makanya aku pangling. Jadi agak chubby sekarang."
"Bilang aja kalau aku gendut, Kak."
Tawa menguar dari bibir Bayu.
"Enggak, jangan tersinggung. Jujur, kamu sangat berbeda daripada waktu sekolah dulu."
"Ya jelas lah beda. Orang waktu sekolah nggak bisa ngerawat diri. Tahunya hanya belajar sama main. Mana tahu soal perawatan segala macam."
"Kamu jauh lebih cantik sekarang. Dulu juga cantik sih, cuma emang seperti yang kamu bilang tadi. Kurang terawat. Pasti beruntung banget yang jadi suami kamu. Nyesel rasanya aku melepas kamu waktu itu, Ra."
Debaran mulai melanda hati Amara. Dulu, mereka tak pernah sedekat ini. Hanya Amara yang diam-diam mengagumi Bayu, sang ketua OSIS. Amara sadar, dia hanyalah salah satu anggota OSIS yang tak begitu mencolok. Bayu juga mungkin hanya sekedar mengenal Amara sebagai salah satu anak buahnya semasa ia menjabat.
Jangan Amara, jangan sampai kamu terjebak dalam perasaan semu ini. Dia hanyalah masa lalu. Pertemuan sekarang ini juga pasti hanya sebuah kebetulan belaka. Jangan geer karena perkataan lelaki ini. Batin Amara terus mengingatkan dirinya agar tak terlena.
"Ra, kok diam? Kamu sakit?"
"Aku nggak papa. Oh ya, Kak Bayu anternya sampai sini aja. Biar aku pulang sendiri nanti."
Tak terasa mereka sampai juga di depan sekolah tempat Naura belajar.
"Aku antar saja, Ra. Aku khawatir sama kamu. Anggap saja sebagai pertolongan seorang teman."
Teman. Iya, hanya teman. Itu yang selalu kamu katakan saat itu. Tak ingin berhubungan lebih karena katanya kamu udah punya pacar. Batin Amara lagi.
"Ra, kok malah melamun."
"Nggak usah, Kak. Kak Bayu kan juga lagi tugas."
"Bisa diatur, Ra. Kamu tenang aja."
Belum juga Amara menanggapi, teriakan Naura singgah di telinganya. Amara tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Amara agak membungkukkan badannya agar Naura bisa merasuk ke dalam pelukannya.

umi roihan
67 Pengikut · 3 Novel