


oleh Aulia Hazuki · 94 Bab
Mata batin Nadine yang tak sengaja terbuka saat acara Jerit Malam di sekolahnya membuatnya bergabung dengan Antasena Ghost Club, klub buatan anak-anak penyuka misteri di sekolahnya. Mereka lalu berusaha menyingkap misteri menggunakan kemampuan baru Nadine. Tapi terbukanya mata batin Nadine itu menimbulkan banyak masalah bagi dirinya sendiri. Apa yang kemudian akan dilakukan oleh Nadine?
"Ini udah tahun 2025," kata seorang siswi dengan suara kesal.
"Dan masih adain acara Jerit Malam?!" tambahnya dengan emosi. Dia melipat tangan di depan jaket merah tebal yang dipakainya di luar baju pramukanya. Dia lalu menggeram.
"Katanya untuk melestarikan tradisi," balas seorang cowok yang sedang asyik main ponselnya. Dia tampaknya tidak peduli pada apa pun yang terjadi di sekitarnya. Jari-jemarinya lincah bergerak di atas layar ponselnya.
"Tradisi apaan! Ini mah buat menyiksa kita!" balas si siswi yang lalu cemberut.
"Ya kalo kamu nggak mau sih silakan ya, tapi nanti nggak boleh ikut yang lain balik ke sekolah." Tiba-tiba terdengar suara dari belakang si siswi.
"Aaakkk!!!" jerit si siswi yang ketahuan.
"Sasha, nanti kamu nggak boleh ikut balik ke sekolah ya. Nginep di sini aja," balas orang yang tadi mengagetkannya, panitia acara MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) untuk para murid baru SMA Antasena.
Namanya Arga dan dia terkenal yang paling menakutkan di antara panitia lainnya, apalagi jabatannya kepala panitia. Dia memandang Sasha dengan pandangan galak, seakan siap mencaploknya hanya dalam satu tatapan mata.
"Aaah, Kak, jangan gitu dong. Cuma bercanda, kok. Ya? Nanti aku tetap ikut kok, Kak," rajuk Sasha. Di wajahnya yang cantik tapi terkesan judes terpasang ekspresi memelas. Dia jelas lebih rela mengiba daripada diancam oleh Arga.
"Pffft. Ya udah," kata Arga lalu segera berlalu dari pandangan.
"Ish untung ganteng," julid Sasha segera, begitu Arga sudah jauh dari pandangan.
"Kamu sih Sa, pake protes segala," kata seorang siswi cantik lainnya yang berambut panjang. Dia memakai kardigan ungu muda di luar seragam pramukanya.
Mulut Sasha segera mencebik.
"Ya kan aku menyuarakan aspirasi siswa, Nad," katanya membela diri.
"Nggak ada dari kita yang suka acara macam beginian. Mending acara api unggun biasa sambil cerita horor, nah itu baru seru!" lanjutnya.
"Aku lumayan suka ide itu," kata cowok yang mirip dengan cowok pertama yang memegang ponsel. Hanya saja dia memakai kaca mata.
Sasha segera dengan sengaja menulikan telinganya, tidak mau menanggapi kalimat cowok itu.
"Tapi Sasha bener sih. Buat apa acara ini? Mana pake panggil orang pintar segala buat buka mata batin kita," kata siswi lainnya, gadis manis memakai kaca mata. Dia tampak agak ketakutan ketika mengatakan kalimat terakhir.
"Nggak usah dipikirin, Ris. Itu cuma orang pintar boongan kok," kata cowok pertama yang tadi menjawab. Dia masih asyik menatap ponselnya.
"Santai bener kamu Van. Tapi semoga lah. Kamu nggak takut, Nad?" tanya si cewek berkaca mata yang ternyata bernama Arisa.
Nadine, yang tadi mengenakan kardigan ungu mengedikkan bahu.
"Lumayan, sih. Tapi bener kata Alvan, yang dipanggil kan orang pintar bohongan aja. Masa sih mata batin kita dibuka beneran?" balasnya.
"Itu mah akal-akalan panitia aja," bisik Sasha lalu mendengkus. Dia jelas masih malas dengan acara itu. Baginya, rasanya seperti disuruh masuk ke bangunan berhantu dan menginap semalaman. Di benaknya sebenarnya tadi ada pikiran, bagaimana kalau mata batin mereka benar-benar dibuka? Bisa-bisa hidupnya nggak akan tenang lagi!
Nadine dan Arisa lalu saling berpandangan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian para siswi dikumpulkan di lapangan basket sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tadi mereka semua dikumpulkan setelah selesai ibadah shalat Maghrib selesai.
Di depan mereka, para panitia berkumpul, terdiri dari lima perempuan dan tujuh laki-laki. Semuanya memakai identitas panitia, yaitu jaket hitam dengan kartu bertuliskan "PANITIA MPLS" yang dikalungkan ke leher.
"Ayo kumpul semua, baris yang rapi!" teriak Arga melalui pengeras suara.
"Sebentar lagi acara dimulai lalu kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Di setiap kelompok panitia akan mengundi mana anggota yang akan dibuka mata batinnya setelah itu acara Jerit Malam akan langsung dimulai!" lanjutnya lantang.
"Garis start mulai dari gerbang masuk sekolah sebelah kanan lalu selesai di gerbang sekolah sebelah kiri. Paham semua?!" pungkasnya.
"Paham, Kak!!!" Seluruh peserta berteriak bersamaan.
Setelah itu acara dimulai. Setelah berdoa terlebih dahulu, Arga lalu menggerakkan panitia lainnya untuk membuat kelompok bagi para siswa baru. Setiap kelompok beranggotakan lima orang.
"Yang dipanggil namanya maju ya dan buat barisan!" kata seorang panitia cewek yang bernama Citra. Penampilannya tomboy dengan rambut dipotong pendek, wajahnya tegas dan tatapan matanya tajam.
"Alvan!" Dia mulai memanggil.
"Nadine! Alvin! Arisa! Selina!" lanjutnya.
Semua yang dipanggil segera membuat satu barisan, kecuali cewek terakhir yang dipanggil.
"Selina lagi di UKS, Kak, dia tadi udah izin enggak ikut," jelas Arisa.
Citra mengangguk.
"Oke jadi kelompok kalian cuma beranggotakan empat orang ya, soalnya yang lain udah pas semua," katanya.
"Iya, Kak, siap," balas Nadine dan Arisa bersamaan.
Di barisan sebelah, Sasha dipanggil, diikuti empat murid lainnya. Ekspresi wajahnya terlihat malas tapi berusaha disembunyikannya, takut disemprot panitia lagi.
"Kok bisa si kembar barengan satu kelompok?" tanya Nadine lalu mendecakkan lidah.
Alvan dan Alvin, yang tadi dipanggil oleh Citra lalu cengengesan identik. Mereka berdua sama-sama ganteng, dengan gaya rambut sama. Yang membedakan hanyalah satu. Alvin memakai kaca mata.
"Namanya juga kembar, Nad. Takdir, wkwk," kata Arisa.
"Oke! Semuanya udah komplit ya! Panitia akan mengundi siapa yang bakalan dibuka mata batinnya, biar adil! Nggak ada yang protes ya?!" tegas Arga.
Mulut Sasha segera mencebik mendengar kalimat terakhir. Dalam hati dia mulai was-was kembali dan berdoa sepenuh hati agar bukan namanya yang terpilih nantinya.
Setiap panitia lalu membawa sebuah wadah plastik yang diisi nama para murid yang dilipat sehingga tidak ketahuan kertas mana punya siapa.
Citra lalu mengambil sebuah kertas, diikuti panitia lainnya.
Dia lalu membuka kertas di tangannya. Nadine dan Arisa saling berpegangan tangan sambil memandang satu sama lain. Masing-masing berharap bukan mereka yang akan terpilih. Arisa menelan ludah mengikuti setiap gerakan Citra seolah setiap saat namanya bisa saja dipanggil.
Sementara itu si kembar malah saling bertaruh. Kalau di antara mereka berdua ada yang terpilih, wajib memenuhi apa pun yang diminta oleh yang lainnya.
"Beliin skin yang mahal ya nanti," kata Alvan.
"Kalo menang. Kalo aku yang menang sih aku minta figurin, oke?" balas Alvin. Ngeri sekali keduanya minta sesuatu yang sama-sama mahal.
Citra selesai membuka kertas, lalu dia melihat ke arah anggota kelompoknya. Dia lalu tersenyum lebar, yang malah membuat Nadine dan Arisa semakin parno. Rasanya mereka siap meledak kapan saja.
"Yang terpilih ...." Dia sengaja tidak menyelesaikan kata-katanya agar menimbulkan kesan dramatis.
Sekaligus biar anggota kelompoknya merasa sedikit tertekan. Benar-benar trik yang seram, pikir Arisa segera dengan sedikit kesal.
Akhirnya Citra membuka mulutnya dan meneriakkan satu nama.
"... Nadine!"

Aulia Hazuki
32 Pengikut · 6 Novel