


oleh Sfrauf · 34 Bab
Dapur bagi Nareswari adalah wilayah terlarang sejak Ibu pergi setahun lalu. Namun, sebuah buku resep lusuh menyeretnya kembali ke sana. Nares mencoba memasak takjil peninggalan Ibu, satu persatu untuk mengobati sunyi yang menyesakkan selama Ramadan. Ternyata, di balik manisnya bubur candil dan gurihnya santan, tersimpan rahasia yang tidak pernah Ibu ceritakan. Ditemani Saka, Nares menelusuri jejak kebaikan Ibu yang tersembunyi. Apakah Nares sanggup menyelesaikan resep terakhir di malam takbiran, saat ia menyadari bahwa Ibu pergi meninggalkan lebih dari sekadar kenangan, tapi juga sebuah janji yang belum terpenuhi?
Pukul tiga pagi, dan dapur ini masih terasa seperti makam.
Aku berdiri mematung di ambang pintu, menatap ubin keramik putih yang tampak kusam tertimpa cahaya lampu neon yang berkedip-kedip sebelum menyala stabil.
Setahun lalu, di jam yang sama, ruangan ini tempat paling berisik sekaligus paling hangat di dunia.
Aku bisa mendengar denting sudip beradu dengan wajan, aroma bawang putih yang digeprek, dan suara radio kecil Ibu yang memutar lagu-lagu lawas sebagai teman memasak sahur.
Ibu selalu bilang, memasak sahur adalah ibadah pertama dalam sehari, jadi harus dilakukan dengan senyum, meski nyawa belum terkumpul sepenuhnya.
Sekarang? Nyatanya sunyi itu begitu pekak hingga telingaku terasa sakit. Tidak ada aroma tumisan, tidak ada uap nasi yang mengepul, dan yang paling menyakitkan, tidak ada sapaan lembut yang memaksaku mencuci muka.
Dapur ini kehilangan jiwanya, menyisakan deretan panci yang tergantung rapi, tampak dingin dan asing.
"Nares?"
Suara Ayah memecah lamunan. Beliau muncul dari arah kamar dengan sarung yang tersampir di bahu dan rambut sedikit berantakan.
Wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Garis-selah itu menetap permanen di sana sejak hari pemakaman Ibu setahun yang lalu.
Ayah pria yang kuat, aku tahu itu. Namun, setiap kali melewati dapur ini, ia sengaja mempercepat langkahnya agar tidak perlu menoleh terlalu lama ke arah meja makan yang kosong.
"Iya, Yah," jawabku pelan, mencoba menetralkan nada suaraku. "Nares baru mau nyalain kompor."
Ayah berjalan mendekat, lalu mengusap puncak kepalaku sekilas, gerakan canggung yang sering beliau lakukan belakangan ini.
"Jangan masak yang repot-repot, Res. Ayah sudah pesan makanan lewat aplikasi online tadi sebelum bangunkan kamu. Sebentar lagi abangnya sampai."
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak mendengar kata 'pesan'. Rasanya seolah-olah kami sedang mengusir kehadiran Ibu dari rumah ini secara perlahan.
"Tapi, Yah ... Nares mau coba buat telur balado resep Ibu. Bahannya sudah siap dari semalam."
Ayah tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya mampir di bibir, tapi tidak sampai ke mata.
"Besok-besok saja, ya? Ayah tidak mau kamu telat sekolah karena repot di dapur sendirian. Lagi pula, rasa telur balado Ibu itu ... sulit ditiru, kan? Ayah khawatir kalau rasanya beda, kita malah jadi semakin sedih."
Kalimat itu telak menghantamku. Bukan karena Ayah meragukan kemampuanku, tapi karena aku tahu beliau sedang berusaha melindungi hatinya sendiri.
Mencicipi masakan yang mirip tapi tak sama dengan buatan Ibu, mungkin akan membuatnya hancur lagi sebelum imsak tiba.
Kami dua orang yang sama-sama terluka, tapi memilih cara yang berbeda. Aku ingin merengkuh kenangan itu, sementara Ayah ingin menyimpannya rapat-rapat dalam kotak yang tak tersentuh.
Aku hanya mengangguk lemah, lalu mematikan kembali lampu dapur.
Kami akhirnya makan sahur di ruang tengah, duduk di atas karpet di depan televisi yang menyiarkan acara komedi yang sebenarnya sama sekali tidak lucu.
Kami makan dalam diam yang panjang. Hanya suara kunyahan dan denting sendok plastik yang sesekali terdengar. Nasi kotak yang dipesan Ayah terasa seperti kertas di lidahku. Tawar dan dingin.
Aku menatap butiran nasi itu, membayangkan betapa berbedanya jika ini adalah nasi uduk hangat buatan Ibu dengan taburan bawang goreng yang melimpah.
"Nares, hari ini pulang sekolah jam berapa?" tanya Ayah setelah meneguk air putihnya.
"Jam dua, Yah. Ada pertemuan ekskul sebentar," jawabku sambil merapikan kotak plastik bekas makan kami yang tampak menyedihkan.
"Kalau nanti kamu capek, tidak usah mencari takjil ke pasar ya. Nanti Ayah belikan saja sepulang kerja. Kamu mau apa? Kolak pisang? Atau biji salak?"
Aku menatap Ayah lekat-lekat. "Aku mau buat sendiri, Yah. Mau coba resep yang dulu sering Ibu ajarkan. Boleh, kan?"
Ayah tampak ragu sejenak. Beliau menatapku seolah ingin melarang. Namun, akhirnya mengangguk pelan.
"Terserah kamu, Nak. Asal jangan dipaksakan. Ingat, ini Ramadan pertama kita tanpa Ibu ... kita harus belajar jalan pelan-pelan."
Setelah Ayah berangkat ke masjid, aku tidak kembali ke kamar. Langkah kakiku justru menuntun kembali ke dapur yang gelap. Kubuka lemari kabinet atas, mencari-cari sesuatu di balik tumpukan kaleng kerupuk tua.
Aku menemukan sebuah benda yang terbungkus kain serbet tua. Sebuah buku tulis dengan sampul bermotif bunga yang warnanya sudah memudar. Di halaman depannya, ada tulisan tangan Ibu yang rapi. Catatan Rasa untuk Nareswari.
Tanganku gemetar saat mengusap sampulnya. Ada aroma sisa rempah yang entah bagaimana masih melekat di serat kertasnya.
Saat itulah, selembar kertas kecil jatuh dari selipan buku. Sebuah resep kolak ubi, tapi di bagian bawah ada catatan tambahan. 'Cari Pak Marwan di gang belakang pasar. Dia suka yang ubinya lembut dan lebih banyak santannya.'
Dahiku berkerut. Siapa Pak Marwan? Kenapa Ibu memasak khusus untuknya? Rasa ingin tahu yang sudah lama mati di dalam diriku tiba-tiba berdenyut kembali.
Ramadan ini memang sangat berbeda. Sunyi dan hampa. Namun, melihat buku di tanganku, aku merasa Ibu sedang berbisik dari balik kenangan. Seolah-olah beliau belum benar-benar pergi, melainkan hanya pindah ke dalam barisan kalimat di resep ini.
Aku mengusap air mata yang nyaris jatuh. Tidak, Nares. Kamu tidak boleh menangis di atas resep Ibu. Nanti santannya pecah, begitu canda Ibu dulu. Kututup buku itu dan membawanya ke dada, memeluknya erat-erat.
Di luar, langit mulai membiru. Untuk pertama kalinya dalam setahun, aku merasa punya tujuan hidup yang nyata. Akan kuhidupkan kembali dapur ini dan mencari tahu siapa Pak Marwan sebenarnya.
"Aku akan buat kolak hari ini, Bu. Tanpa santan yang pecah," bisikku pada kesunyian yang kini terasa sedikit lebih bersahabat.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel