Namaku Adella Saputri. Semua orang biasanya memanggilku dengan sebutan Della. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Jika melihatku sekarang, mungkin tidak ada satu pun yang menyangka bahwa sejak kecil hidupku dipenuhi dengan pengalaman yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan rangkaian kata-kata. Masa kecilku sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Aku dilahirkan di tengah keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Ayah dan Mama merawatku dengan sepenuh hati. Bukan hanya kedua orang tuaku yang menjagaku, di samping itu ada Nenekku. Nenek adalah orang tua perempuan dari Mamaku. Nenek selalu berada di sisiku. Aku tipikal anak yang ceria. Suka bermain dan berlari dengan teman-teman. Ketika itu, aku belum memahami bahwa hidup telah menyiapkan jalan yang berbeda.
Meski dikelilingi kasih sayang keluarga, ada satu hal yang selalu membuat Nenek memandangku dengan tatapan yang sulit kupahami. Sesekali beliau mengusap kepalaku sambil tersenyum, tetapi di balik senyum itu tersimpan kekhawatiran yang tidak pernah mampu kujelaskan.
"Waktunya belum tiba," gumam Nenek pelan suatu sore.
Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa maksud ucapannya. Aku hanya mengangguk, lalu kembali berlari mengejar teman-temanku.
Hari-hariku dipenuhi tawa. Sepulang sekolah, aku bermain petak umpet, lompat tali, atau bersepeda di sekitar rumah. Rumah kami berada tidak jauh dari area pemakaman. Bagi orang dewasa, tempat itu mungkin terasa menyeramkan. Namun, bagi anak-anak seusiaku, pemakaman hanyalah sebuah tempat luas yang sering dijadikan arena bermain.
Mama sebenarnya sering melarangku bermain terlalu jauh. "Della, jangan lama-lama di dekat kuburan, ya!" pesan Mama setiap kali aku hendak keluar rumah.
"Iya, Ma," jawabku singkat, meski sering kali rasa penasaran membuat langkahku tetap mengarah ke sana bersama teman-teman.
Aku sama sekali tidak merasa takut. Bagiku, tempat itu sunyi, teduh, dan dipenuhi pepohonan besar yang membuat suasananya sejuk pada siang hari.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa di tempat itulah hidupku perlahan mulai berubah.
Suatu siang, saat usiaku menginjak enam tahun, matahari bersinar begitu terik. Aku dan beberapa teman bermain di sekitar area pemakaman. Di sana terdapat sebuah becak tua yang sudah lama terbengkalai. Catnya mengelupas, rodanya dipenuhi karat, dan sebagian badannya tertutup debu.
Karena penasaran, aku naik ke dalam becak itu seorang diri. Teman-temanku masih asyik bermain beberapa meter dariku.
Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kaki, membayangkan seolah-olah sedang mengendarai becak keliling kampung.
Beberapa saat kemudian, becak itu bergoyang pelan. Awalnya kupikir hanya tertiup angin. Aku mencoba mengabaikannya. Sayangnya, goyangannya semakin terasa.
Aku menoleh ke kanan. Tidak ada siapa pun. Aku melihat ke kiri. Masih tetap sepi.
Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Saat itulah pandanganku tertuju ke depan. Di hadapanku berdiri sesosok perempuan tua yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rambutnya memutih, wajahnya dipenuhi keriput, dan tatapannya tertuju lurus kepadaku.
Tubuhku seketika membeku. Aku tidak mampu bergerak ataupun bersuara. Peristiwa itulah yang menjadi awal dari rangkaian pengalaman-pengalaman aneh yang kemudian mengubah hidupku sedikit demi sedikit.
Aku memejamkan mata sekuat tenaga. Di dalam benakku, hanya ada satu keinginan, semoga ketika kubuka mata lagi, sosok itu sudah menghilang. Namun, saat kelopak mataku perlahan terbuka, perempuan tua itu masih berdiri di tempat yang sama.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Tatapannya tidak terlihat marah, tetapi juga tidak menghadirkan rasa tenang. Ada sesuatu di dalamnya yang membuat bulu kudukku berdiri.
Tanganku mulai gemetar. Aku ingin berteriak memanggil teman-temanku, tetapi suaraku seperti tertahan di tenggorokan.
Beberapa detik kemudian, perempuan tua itu mengangkat salah satu tangannya perlahan, seolah ingin memanggilku agar mendekat.
Jantungku berdegup semakin kencang. Tanpa berpikir panjang, aku melompat turun dari becak tua itu dan berlari sekencang mungkin.
"Della, tunggu kami!" teriak salah seorang temanku yang kebingungan melihatku berlari.
Aku tidak menjawab. Air mataku mulai mengalir. Napasku tersengal-sengal hingga akhirnya aku tiba di rumah.
"Mama! Mama!" seruku sambil memeluk tubuh Mama erat.
Mama yang sedang menyapu halaman tampak terkejut. "Astagfirullah, Della! Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Aku berusaha menjelaskan di sela-sela isak tangis. "Tadi di kuburan ada nenek berdiri di depan becak."
Mama mengusap punggungku pelan. "Mungkin kamu hanya kaget atau salah lihat karena terlalu lama bermain di bawah matahari," ucap Mama lembut, berusaha menenangkanku.
Aku mengangguk pelan, meski di dalam hati aku yakin apa yang kulihat terasa begitu nyata.
Tak lama kemudian, Nenek keluar dari dalam rumah. Beliau menatapku cukup lama. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.
"Della, sini dulu."
Aku menghampiri Nenek sambil masih mengusap air mata.
"Apa yang kamu lihat tadi?" tanya Nenek pelan.
Aku menceritakan semuanya, mulai dari becak yang bergoyang hingga sosok perempuan tua yang berdiri di hadapanku.
Nenek tidak langsung menjawab. Beliau hanya menarik napas panjang, lalu kembali mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.
"Kalau suatu saat kamu melihat sesuatu yang membuatmu takut, jangan panik," kata Nenek pelan. "Berdoalah kepada Allah dan mintalah perlindungan-Nya."
Aku mengangguk meski belum benar-benar memahami maksud nasihat itu.
Sejak hari itu, aku mulai menyadari ada pengalaman-pengalaman yang terasa berbeda dari apa yang dialami teman-temanku.
Sesekali aku merasa seperti melihat bayangan yang menghilang ketika aku menoleh. Kadang aku mendengar suara lirih yang tidak jelas asalnya. Setiap kali kuceritakan kepada orang lain, mereka hanya menganggapku terlalu banyak berimajinasi.
Aku pun memilih diam dan menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hati. Aku belum tahu, pengalaman di dekat becak tua itu hanyalah permulaan.
Di balik hari-hari yang tampak biasa, ada perjalanan panjang yang perlahan membawaku pada pengalaman-pengalaman yang akan menguji keberanian, keyakinan, dan cara pandangku terhadap kehidupan.
Malam setelah kejadian itu, aku sulit memejamkan mata. Setiap kali menutup mata, bayangan becak tua dan sosok nenek yang kulihat siang tadi kembali muncul dalam ingatanku.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin aku hanya terlalu lelah atau salah melihat. Namun, perasaan aneh itu belum juga menghilang.
Keesokan paginya, aku kembali menjalani hari seperti biasa. Aku berangkat sekolah, belajar bersama teman-teman, lalu pulang dengan langkah riang. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam pikiranku. Aku memilih menyimpan semuanya sendiri.
Sayangnya, perjalanan hidupku ternyata tidak berhenti sampai di sana.
Beberapa minggu kemudian, sebuah peristiwa lain kembali terjadi. Peristiwa itu jauh lebih membekas dalam ingatanku dan membuatku mulai menyadari bahwa hidupku akan dipenuhi pengalaman-pengalaman yang sulit kujelaskan dengan logika.
Saat itu usiaku masih enam tahun. Aku belum mengetahui bahwa setiap pengalaman yang datang akan membentuk diriku sedikit demi sedikit, mengajarkanku tentang keberanian, kesabaran, dan pentingnya berserah diri kepada Allah ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak mampu kupahami.