"Ayah! Apa-apaan ini! April, kan, sudah bilang mau ambil jurusan hukum? Kenapa harus ikuti mau Ayah masuk fakultas sejarah?" Suara cemprengku melengking, memutus keheningan ruang keluarga yang semula hanya diisi suara televisi. Aku berdiri dengan napas memburu, kedua tangan mengepal di sisi rok denim. Di atas meja kopi marmer, selembar kertas bukti penerimaan mahasiswa baru tampak seperti vonis mati bagiku.
Zuko, ayahku menghela napas berat. Pria paruh baya itu meletakkan cangkir kopinya perlahan, mencoba meredam emosi putrinya.
"Ini sudah menjadi kesepakatan bersama, April! Tolong mengertilah. Sebagai anak tertua kamu harus melanjutkan penelitian itu, kamu harus bantu musnahkan kutukan keluarga kita, April." Garis-garis lelah di wajahnya mendadak tercetak lebih jelas saat ia mengingatkan kembali tentang masalah besar yang menimpa keluarga mereka selama ini.
Aku mendengus, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang dipoles lip tint tipis. "Kesepakatan bersama? Bersama siapa? Ayah dan Bunda saja, kan? April enggak pernah diajak mufakat, Yah!"
Sebagai model remaja yang baru saja menghiasi baliho kosmetik di pusat kota, membayangkan diri harus berkutat dengan debu museum dan manuskrip kuno rasanya seperti lelucon buruk. Fakultas sejarah menurutku sangat norak, kuno, dan benar-benar ketinggalan zaman. Mau ditaruh di mana muka ini saat bertemu rekan-rekan sesama model nanti?
"Tapi kenapa harus April yang melakukannya, Yah? April ini perempuan, jika Ayah lupa?" cecarku lagi. Mata bahkan mulai berkaca-kaca, menuntut keadilan.
Selama ini, Aku tahu betul silsilah keluarga. Secara kebetulan, garis keturunan yang mendapat tugas gila meneliti artefak dan kutukan masa lalu itu selalu jatuh ke tangan kaum adam. Baru kali ini, di generasinya, Aku menjadi keturunan peneliti sejarah pertama yang berjenis kelamin perempuan. Kenapa harus aku? Kenapa bukan Baim saja yang jelas laki-laki.
Zuko bangkit dari sofa, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua pundak putrinya yang gemetar.
"Ayah janji akan bantu kamu, April! Mana mungkin Ayah biarkan anak gadis Ayah pergi meneliti sendiri? Yang terpenting dan yang utama, kamu ikhlas dulu lakuin semuanya untuk keluarga kita," ujar Zuko lembut, menatap lurus ke dalam manik mata April.
Aku melengos, melepaskan cengkeraman tangan ayah dengan halus, kemudian menunduk pasrah, menatap ujung sepatu yang mendadak terlihat jauh lebih menarik. Bahu pun merosot. Impian untuk memakai toga dari fakultas hukum yang sangat bergengsi di angkatan kini kandas total. Hancur berkeping-keping sebelum sempat dimulai. Mau menyalahkan takdir atau mengutuk leluhur yang entah siapa juga rasanya percuma sekarang.
"April mau ke kamar dulu, Yah! Besok sudah mulai ospek hari pertama, bukan?" ucapku suaranya melemah, kehilangan separuh energi yang menggebu-gebu tadi. Tanpa menunggu jawaban sang ayah lagi, Aku memutar tubuh cepat. Langkah kaki terdengar berdentum berat di atas lantai kayu, meninggalkan ruang keluarga dengan awan mendung yang bergelayut di kepala.
Zuko memandangi punggung putrinya dengan rasa bersalah yang meremas dada. Ia baru saja hendak melangkah, berniat mengantar putri sulungnya itu ke kamar untuk kembali membujuknya.
Akan tetapi, sebuah tangan lembut namun tegas terlebih dahulu mencekal pergelangan tangannya. Tari, sang istri, menggeleng pelan menatap Zuko dari sofa.
"Biarkan April sendiri dulu, Mas!" bisik Tari menenangkan.
Zuko mengembuskan napas pasrah, bahunya ikut merosot. Ia menurut, merasa tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan ujaran sang istri.
Di dalam kamar bernuansa pastel, Aku langsung menghempaskan tubuh ke atas kasur. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga, membasahi bantal bulu angsa kesayangan.
"Kutukan sialan," umpatku lirih pada langit-langit kamar.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sedikit. Kepala seorang bocah laki-laki menyembul dari balik pintu. Itu Baim, adikku yang baru berusia sepuluh tahun, masih memegang mainan bongkar pasang di tangannya.
"Kak April nangis? Karena besok harus pakai topi kerucut dari kardus, ya?" tanya Baim polos, melangkah masuk tanpa berdosa.
Aku buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangan, lalu melempar bantal kecil ke arah sang adik. "Keluar, Baim! Kakak lagi pusing!"
"Galak amat. Pantesan ditinggal pacar," cibir Baim sambil menjulurkan lidah, lalu kabur sebelum aku sempat melemparinya dengan barang yang lebih berat.
Kehadiran Baim sukses membuyarkan kesedihanku, berganti dengan rasa jengkel yang memuncak. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Besok adalah hari pertama ospek di Universitas, tempat fakultas sejarah yang sangat dibenci.
Aku mendesah gusar, bangkit dari kasur, berjalan menuju meja rias untuk membersihkan sisa maskara yang luntur. Namun, pandangan justru teralih pada sebuah buku Kerajaan Adora. Buku itu adalah artefak yang dibawa ayah dari ruang kerja dua hari lalu, satu-satunya petunjuk fisik tentang kutukan keluarga mereka yang belum terpecahkan.
"Gara-gara benda ini, hidup aku hancur," gumamku jengkel.
Rasa penasaran yang tiba-tiba membuncah mengalahkan rasa kesal. Aku mendekati meja tersebut. Tangan terjulur, menyentuh permukaan buku yang terasa sangat dingin, sangat kontras dengan suhu kamar yang hangat karena pendingin ruangan. Di bagian tengah buku, terdapat sebuah batu permata merah darah yang meredup.
Deg.
Jantungku berdegup kencang secara tidak wajar saat ujung jemari bersentuhan dengan batu merah tersebut. Rasa hangat yang aneh mendadak menyengat kulit, menjalar cepat ke pergelangan tangan.
"Aw! Apaan, sih?" Aku tersentak, refleks menarik tangan kembali.
Aku mengernyit, memandangi telapak tangan yang terasa kesemutan. Namun, keanehan tidak berhenti di situ. Selama beberapa detik, batu merah di atas kotak kayu itu tampak berkilau redup, seperti detak jantung yang berdenyut lambat, sebelum akhirnya kembali mati total.
Bersamaan dengan meredupnya batu itu, sekelebat bisikan asing yang terdengar seperti bahasa daerah kuno terngiang di telinga, disusul suara ringkik kuda yang samar. Kepalaku mendadak pening, membuatku harus berpegangan pada tepi meja agar tidak limbung.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, memandang sekeliling kamar yang tetap sepi dan normal. Angin malam di luar jendela bahkan tidak berembus.
"Aku pasti cuma kecapekan gara-gara stres mikirin kuliah besok," bisikku pada dirinya sendiri, mencoba rasional meski bulu kuduk meremang hebat.
Sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit berdenyut, April melangkah gontai menuju tempat tidur. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Di bawah selimut, April memejamkan mata erat-erat, berusaha melupakan kejadian barusan. Dia tidak tahu, bahwa kilatan merah di buku tadi adalah tanda bahwa waktu untuk garis keturunannya sudah mulai berjalan mundur. Dan besok pagi, di gerbang Fakultas Sejarah, takdir baru yang tak terduga mungkin sudah menantinya.