Sabtu sore selalu menjadi waktu yang paling ditunggu Nadia setiap akhir bulan.
Bukan karena ia memiliki rencana untuk pergi ke pusat perbelanjaan, atau menikmati makan malam di luar. Justru sebaliknya, setiap Sabtu terakhir dalam sebulan, Nadia akan datang ke rumah Bu Sari di ujung gang dengan membawa sebuah amplop putih berisi uang setoran arisan.
Rumah itu tidak besar. Terasnya hanya cukup untuk beberapa kursi plastik yang disusun menghadap halaman. Di samping pintu, beberapa pot tanaman tersusun rapi. Aroma gorengan yang baru diangkat dari penggorengan sering kali menyambut siapa pun yang datang.
Sore itu, Nadia tiba beberapa menit sebelum waktu yang disepakati. Ia memarkir sepeda motornya di halaman, lalu mengambil amplop dari dalam tas.
“Sudah datang, Nad?” suara Bu Sari terdengar dari ruang tengah.
“Sudah, Bu.” Nadia tersenyum sambil melepas sandal.
Bu Sari mesem-mesem sambil menggoda Nadia. “Seperti biasa, paling cepat.”
“Bukan paling cepat. Takut lupa saja,” elak Nadia.
Bu Sari tertawa kecil. “Kamu ini. Selama ikut arisan, belum pernah sekali pun telat.”
Nadia hanya mengangkat bahu. Baginya, membayar tepat waktu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Ia hanya tidak ingin membuat orang lain menunggu karena kelalaiannya.
Di ruang tengah, beberapa anggota sudah duduk melingkar. Ada Bu Wati yang sedang membuka bungkus kue, Lilis yang sibuk membalas pesan di ponsel, dan Sinta yang sejak tadi bercerita tentang anaknya yang baru masuk sekolah.
Suasana begitu akrab. Mereka bukan sekadar anggota arisan. Sebagian sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Pernah saling menghadiri ulang tahun anak masing-masing, datang ketika salah satu keluarga mengalami musibah, bahkan beberapa kali pergi bersama untuk sekadar makan di warung dekat pasar.
Nadia duduk di samping Lilis. “Setoran?” tanya Lilis sambil mengulurkan tangan.
Nadia menyerahkan amplop. “Sudah lengkap. Coba dicek ulang.”
Lilis menimbang amplop itu di tangannya, lalu tersenyum. “Kalau semua orang seperti kamu, hidup Bu Sari pasti tenang.”
“Jangan memuji begitu. Nanti saya jadi besar kepala!” Sontak tawa kecil pecah di antara mereka.
Tak lama kemudian, anggota lain berdatangan. Pintu pagar berkali-kali terbuka, dan tertutup. Suara sandal beradu dengan lantai teras, suara salam, serta sapaan akrab memenuhi rumah sederhana itu. Di antara rombongan terakhir, muncul Rina.
“Nah, pengantin arisan datang juga,” goda Bu Wati.
Rina tertawa. “Pengantin apaan, Bu?”
“Sebentar lagi dapat uang banyak. Wajahnya pasti makin cerah!” tukas yang lainnya.
Rina duduk sambil mengibas-ngibaskan tangan. “Jangan begitu, Bu. Saya malah deg-degan.”
Nadia memperhatikannya sambil tersenyum. Rina memang salah satu anggota yang paling mudah disukai. Perempuan itu pandai membawa diri. Ia selalu menyapa orang terlebih dahulu, sering membawa makanan untuk dibagikan, dan hampir tidak pernah terlihat ikut bertengkar ketika terjadi perbedaan pendapat.
Bahkan ketika ada anggota yang lupa membawa uang setoran, Rina biasanya menjadi orang pertama yang berkata agar masalah tersebut dibicarakan baik-baik. Karena itu, ketika Rina menjadi penerima arisan bulan ini, semua orang ikut merasa senang.
“Rin, uangnya mau dipakai apa?” tanya Sinta kepo.
Rina tersenyum malu. “Buat kebutuhan rumah dulu.”
Sinta manggut-manggut seolah berpikir. “Rumahmu lagi direnovasi?” tanya dia akhirnya.
“Bukan. Ada beberapa keperluan yang harus dibayar.”
“Wah, berarti memang pas sekali dapat giliran.”
Rina mengangguk. “Makanya saya bersyukur ikut arisan ini.”
Nadia mendengarkan sambil membuka tutup botol air mineral. Ia tahu sedikit tentang keadaan Rina. Perempuan itu pernah bercerita bahwa akhir-akhir ini kebutuhan keluarganya meningkat. Suaminya sedang berusaha mengembangkan usaha kecil, sementara beberapa tagihan rumah tangga harus segera dibayar.
Tidak ada yang merasa curiga. Bukankah itulah salah satu alasan mereka mengikuti arisan? Menyisihkan uang sedikit demi sedikit agar pada waktunya bisa mendapatkan jumlah yang lebih besar.
Bu Sari kemudian mengambil buku catatan tebal dari atas meja. “Sudah lengkap semua?”
“Sudah,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.
Bu Sari menghitung satu per satu setoran yang terkumpul. Nadia memperhatikan namanya yang tercatat rapi di halaman tersebut. Di samping namanya terdapat tanda centang dari bulan pertama hingga bulan terakhir.
Entah kenapa, melihat deretan tanda itu membuatnya merasa tenang. Ia memang selalu berusaha menjaga kepercayaan orang lain.
Arisan bagi Nadia bukan sekadar kegiatan mengumpulkan uang. Ada janji yang melekat di dalamnya. Setiap orang menyerahkan uang dengan keyakinan bahwa orang lain juga akan melakukan hal yang sama.
Kalau satu orang berhenti membayar, putaran berikutnya akan terganggu. Karena itulah Nadia tidak pernah berani terlambat.
Setelah semua uang dihitung, Bu Sari menyerahkan amplop besar kepada Rina. “Ini bagian kamu.”
Rina menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih, Bu.”
“Jaga baik-baik,” pesan Bu Sari, menepuk bahu Rina pelan.
Rina tertawa kecil. “Pasti dong!”
Beberapa anggota bertepuk tangan, dan memberinya ucapan selamat.
“Selamat, Rin!”
“Jangan lupa traktir! Minimal gorengan satu keranjang!”
Rina tertawa semakin lebar. “Iya, iya. Minggu depan saya bawakan makanan.”
Nadia ikut tersenyum melihat suasana itu. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian, rumah yang sore itu dipenuhi tawa akan menjadi tempat berlangsungnya pertengkaran.
Tidak ada yang membayangkan bahwa nama-nama yang sekarang duduk berdampingan dengan begitu akrab akan saling menuntut penjelasan, dan tidak seorang pun berpikir bahwa selembar buku catatan arisan yang tampak biasa itu kelak akan menjadi salah satu benda paling penting dalam persoalan mereka.
Bagi Nadia, sore itu hanyalah sore biasa. Ia datang, membayar setoran, bercanda bersama teman-temannya, lalu pulang sebelum hari gelap.
Ketika Rina berdiri di depan pintu, dan melambaikan tangan, Nadia membalas dengan senyum.
“Pulang dulu, Rin. Besok jangan lupa kirim foto makanan yang kamu janjikan.”
Rina terkekeh menanggapi candaan Nadia. “Iya, Nad. Hati-hati. Tenang saja, saya tidak pernah ingkar janji.”
Nadia ikut tertawa. Kalimat itu terdengar ringan. Tidak ada seorang pun yang menganggapnya penting. Namun, kelak Nadia akan mengingatnya berkali-kali. Sebab pada hari ketika semuanya berubah, justru kalimat sederhana itulah yang paling sering terngiang di kepalanya.
Saya tidak pernah ingkar janji.
Sementara sore terus berjalan, satu per satu anggota meninggalkan rumah Bu Sari. Mereka pulang membawa tas masing-masing, percakapan seru, dan kehidupan yang akan datang esok harinya.
Tak ada yang tahu bahwa sebuah masalah besar akan terjadi, dan semuanya berawal dari uang arisan yang diterima dengan senyum.