Kereta klandestin berderit pelan, berhenti di peron gelap Stasiun Garuda Selatan. Cakrananta Mahadewa melangkah turun, jubah hitamnya menyapu lantai berdebu. Syal menutupi wajahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang memindai sekitar. Tubuhnya penuh luka—bekas pedang, peluru, dan sesuatu yang lebih dalam, tak terlihat. Dia bukan lagi Prajurit Bayangan, pasukan elite yang dikira musnah setelah Perang Perbatasan, tapi langkahnya masih pasti, seperti tak pernah lupa medan perang.
Stasiun bawah tanah ini tersembunyi di perut Arkanastra, kota futuristik yang jadi jantung Nusantara. Di atas sana, distrik Skyline berkilau dengan menara kaca dan hologram iklan yang menyala 24 jam. Gedung-gedung menjulang, drone pengintai berdengung, dan elite hidup dalam kemewahan, tapi di Lurung, dunia bawah, rakyat berdesakan di gang sempit, dikelilingi bau oli, sampah, dan kabel-kabel kusut.
Arkanastra adalah perpaduan aneh, teknologi canggih berdampingan dengan hutan purba di pinggir kota, tempat reruntuhan kuil kuno dan patung-patung prajurit Nusantara masih berdiri, menyimpan rahasia yang tak tersentuh waktu.
Cakrananta menaiki tangga berkarat, dorongan di dadanya bukan cuma dari luka fisik. Dia kembali ke kota ini bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pemburu. Di luar stasiun, udara malam Arkanastra menyengat, bercampur aroma hujan dan asap mesin. Hologram raksasa di langit memamerkan wajah seorang wanita Svara Waskita.
Tulisan di bawahnya berbunyi, “Pengumuman Calon Suami Svara Waskita, Distrik Skyline, Malam Ini.” Nama itu seperti pisau, menusuk kenangan lama. Svara, gadis yang pernah menyelamatkannya dari kematian, alasan dia masih bernapas.
“Aku nggak telat, waktunya masih cukup,” gumam Cakrananta, menarik syal lebih rapat. Dia melangkah ke kegelapan, menuju Skyline.
Distrik Skyline adalah dunia lain. Lampu neon biru dan emas menyapu jalanan, memantul di mobil-mobil levitasi yang melaju tanpa suara. Pesta pengumuman diadakan di Menara Kristal, gedung dengan dinding kaca yang memancarkan kilau bak berlian.
Di dalam, pejabat dan bangsawan berbaur, gelas-gelas kristal berdenting, dan musik di udara terasa seperti mimpi, tapi Cakrananta tahu, di balik senyum mereka, ada intrik dan kekuasaan yang bermain.
Dia menyusup lewat pintu servis, menghindari drone keamanan yang melayang di langit. Jubahnya menyatu dengan bayangan, gerakannya cepat dan tak bersuara. Di dalam ballroom, kerumunan berkumpul di depan panggung megah. Svara berdiri di sana, berkerudung merah, tubuhnya kaku. Cahaya sorot membuat wajahnya pucat, tapi Cakrananta masih bisa lihat matanya—mata yang dulu penuh api, kini redup.
“Kita semua tahu Svara Waskita adalah simbol Arkanastra,” kata pembawa acara, suaranya bergema. “Malam ini, kita sambut calon suami pilihannya!”
Tiga pria melangkah ke panggung. Yang terakhir, putra konglomerat Naga Timur bernama Dhruva, menyeringai lebar. Dia merenggut mikrofon dan menunjuk Svara.
“Kau harusnya bersyukur, Svara. Aku rela turun derajat demi nama keluargamu yang udah jatuh!”
Tawa pecah di kerumunan. Wajah Svara memerah, tangannya mencengkeram kerudung. Cakrananta merasakan darahnya mendidih. Dia tahu Svara dipaksa, tahu ini semua cuma permainan politik untuk mengikat keluarga Waskita yang tersisa ke Naga Timur.
Cukup.
Cakrananta melangkah ke depan, melewati kerumunan yang mulai berbisik. Jubahnya terlepas, memperlihatkan bekas luka di lengannya. Dia naik ke panggung, suaranya dingin, tapi mengguncang ruangan.
“Kau lupa satu calon.”
Dhruva memutar kepala, matanya menyipit. “Kau siapa, berani masuk ke sini?”
Cakrananta menatap lurus ke mata Dhruva. “Orang yang bakal menghancurkan kalian dari dalam.”
Kekacauan meledak. Penjaga berlarian, teriakan memenuhi ruangan. Svara menoleh, matanya melebar mengenali Cakrananta. Sebelum penjaga sempat menangkap, Cakrananta meraih tangan Svara dan lari. Mereka menerobos kerumunan, menuju pintu darurat. Di belakang, Dhruva berteriak, “Tangkap mereka! Jangan biarkan kabur!”
Jalanan Skyline berubah jadi medan perang. Drone keamanan menyala merah, menyapu jalan dengan lampu sorot. Cakrananta dan Svara berlari ke gang sempit, napas mereka cepat. Mobil levitasi hitam meluncur di belakang, lampunya menerobos kegelapan.
“Kau kenapa balik, Cakra?!” tanya Svara, suaranya setengah marah, setengah takut.
“Aku udah bilang, jangan cari aku lagi!”
“Aku nggak bisa ninggalin kau kayak gitu,” jawab Cakrananta, menarik Svara ke balik kontainer sampah.
“Mereka mau pake kau buat politik. Aku nggak izinin.”
Svara menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Kau nggak ngerti. Aku nggak punya pilihan. Keluargaku—”
Kata-katanya terputus oleh ledakan. Asap mengepul, jalanan di depan mereka hancur. Mobil levitasi berhenti, pintunya terbuka. Prajurit berbaju hitam turun, membawa senjata listrik yang berdengung. Cakrananta mendorong Svara ke belakang, tangannya meraih pisau di ikat pinggang.
“Lari, Svara!” teriaknya.
“Tapi—”
“Lari!”
Svara berlari, tapi ledakan kedua mengguncang tanah. Cakrananta terlempar, kepalanya membentur tembok. Dunia berputar, suara tembakan dan teriakan memudar. Dia mencoba bangun, tapi sesuatu menghantam dadanya. Sebelum gelap menelannya, dia melihat Svara ditarik oleh asap, wajahnya penuh darah.
Cakrananta tersadar di reruntuhan lorong bawah kota. Bau logam dan debu menyengat hidungnya. Svara ada di pelukannya, wajahnya hangus akibat ledakan. Luka itu mengerikan, tapi napasnya masih ada, lemah. Cakrananta menggertakkan gigi, menggendong Svara dengan tangan gemetar. Dia tahu satu tempat yang mungkin bisa menolong Padepokan Wisesa, tempat terakhir yang masih menyimpan warisan spiritual Nusantara.
Lorong-lorong Lurung gelap dan sempit, penuh genangan air dan suara tetesan pipa bocor. Cakrananta bergerak cepat, menghindari drone yang masih mencari. Di Padepokan Wisesa, seorang tabib tua menyambutnya tanpa banyak tanya.
“Letakkan dia di sini,” katanya, menunjuk meja kayu di tengah ruangan.
Cakrananta meletakkan Svara, tangannya berlumur darah. Tabib itu mengeluarkan ramuan kuno, cairannya berpendar hijau. “Ini Teknik Penyelarasan Energi Garuda,” gumam tabib.
“Butuh pengorbanan.”
“Apa aja,” jawab Cakrananta tanpa ragu.
Tabib mengangguk, menusukkan jarum ke lengan Cakrananta. Darahnya menetes ke ramuan, menyala seperti api. Simbol kuno di lengan Cakrananta—warisan Prajurit Bayangan—berkilau, memenuhi ruangan dengan cahaya. Dia menatap Svara, berbisik, “Jangan mati ... aku belum sempat melindungimu.”
Ramuan itu mengalir ke tubuh Svara. Tubuhnya bergetar, lukanya perlahan menutup, tapi prosesnya lambat, dan Cakrananta merasa tenaganya terkuras. Dia hampir roboh, tapi tangan tabib menahannya. “Kau harus kuat, anak muda. Ini belum selesai.”
Tiba-tiba, cahaya meledak dari dalam gua di belakang padepokan. Svara tersentak bangun, napasnya tersengal. Wajahnya kembali mulus, seperti sebelum luka. Cakrananta menatapnya, lega bercampur kaget, tapi ada yang beda. Matanya, yang dulu cokelat hangat, kini berwarna emas menyala, seperti mata elang yang siap menerkam.
“Cakra.” Suara Svara pelan, tapi ada kekuatan baru di dalamnya.
“Apa yang terjadi padaku? Apa yang telah terjadi. Cakra.”
Sebelum dia bisa jawab, suara gemuruh mengguncang gua. Dinding-dinding bergetar, debu berjatuhan. Dari kegelapan, sepasang mata merah menyala, menatap mereka. Sesuatu yang bukan manusia, bukan mesin, mendekat dengan langkah berat.