


oleh Dewi Murni Suwi Tyastanti · 10 Bab
Sean, idola dan juga model yang tampan, tapi penuh syarat — hanya punya kurang dari dua hari untuk mencari asisten pengganti. Dia butuh orang cerdas, tangguh, dan bisa mengurus segalanya tanpa masalah. Yang dia tak harapkan adalah Alira. Alira gadis ceria yang selalu menyelimuti dirinya di balik pakaian oversize, sepertinya jauh dari kriteria Sean. Tapi karena waktu terbatas, dia hanya bisa menerimanya. Apa yang Sean tidak tahu, di balik baju yang lebar itu tersembunyi tubuh yang indah, dan Alira sebenarnya adalah putri konglomerat yang kabur dari rumah untuk mencari kebebasan.
Ruang pemotretan studio terang benderang, disinari oleh sepuluh lampu besar yang memancarkan cahaya terang sehingga suhu di dalam sedikit meningkat. Udara terasa kaku, campuran dengan bau riasan, pewangi baju, dan sedikit keringat yang tercium dari orang-orang yang sibuk bekerja.
Sean berdiri di tengah panggung yang ditutupi karpet hitam, mengenakan jas kulit hitam yang tebal namun pas di badannya yang langsing dan tegap, celana jeans hitam ketat yang menonjolkan bentuk paha, dan sepatu bot hitam yang mengilap seperti cermin.
Rambutnya disusun sedikit miring ke kiri oleh penata rambut, dengan beberapa helai rambut yang sengaja dibiarkan terbangun untuk menciptakan kesan misterius dan sedikit liar, persis seperti yang diminta oleh tim kreatif untuk sampul majalah fashion terkemuka.
Matanya yang berwarna coklat tua terlihat dalam, penuh dengan ekspresi yang ia susun dengan hati-hati, seolah-olah setiap pandangan adalah bagian dari aksi yang ia mainkan.
"Sean, ke kiri sedikit! Tanganmu agak kaku, santai saja, bayangkan kamu sedang menatap orang yang kamu cintai!" teriak fotografer, Pak Dedi, sambil memegang kamera DSLR yang besar dengan lensa panjang. Tangannya bergoyang-goyang untuk memberi isyarat, matanya tetap terpaku pada layar belakang kamera.
Sean mengikuti perintahnya dengan gerakan yang lembut, tubuhnya berputar sedikit sehingga cahaya lampu menyinari sisi wajahnya yang lebih rata. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh rahangnya dengan jari-jari yang ramping, dan menatap lensa dengan pandangan yang seolah-olah sedang berbicara tanpa kata-kata. Di balik lensa, Pak Dedi tersenyum puas, jempolnya terangkat ke atas.
"Bagus! Sangat bagus! Ini yang kita butuhkan untuk sampul majalah! Sekarang, ubah posisi. Berdiri dengan sikap lebih percaya diri!"
Di sudut ruang yang lebih gelap, Leo duduk di depan meja kecil yang dipenuhi dengan kertas dan gadget. Laptopnya terbuka, layarnya menampilkan jadwal mingguan yang padat dengan tulisan merah untuk acara penting. Dia mengenakan kemeja biru tua dan celana slacks hitam, rambutnya disusun rapi seperti biasa. Tangannya menekan tombol keyboard dengan cepat, sesekali mengangkat kepala untuk memeriksa syuting, matanya yang tajam segera menangkap setiap detail yang kurang sempurna.
"Leo, suhu di sini makin panas, bisa tolong turunkan AC sedikit?" tanya salah satu pekerja teknis yang berkeringat.
Leo mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Sudah kubilang ke petugas gedung. Nanti akan turun."
Sementara itu, Renata berdiri di samping lemari pakaian yang besar dan berwarna putih. Tangannya sibuk menyusun baju-baju pengganti yang dibawa untuk syuting hari itu. Dari kemeja putih katun yang rapi dengan kerah yang presisi, sampai jaket denim biru tua yang santai dengan jahitan yang terlihat. Penampilan Renata selalu modis setiap harinya. Rok karet hitam pendek yang menonjolkan kakinya yang ramping, blazer abu-abu yang rapi dengan bros kecil di dada, dan rambutnya diikat ponytail rapi sehingga tidak menghalangi pandangnya.
"Kak Ren, baju selanjutnya apa? Pak Dedi bilang mau ganti gaya ke yang lebih kasual," tanya Asih, pekerja studio yang membantunya. Wajah Asih terlihat ceria, tapi juga sedikit tegang. Dia tahu betapa ketatnya standar Renata dalam hal penampilan.
Renata mengangkat kepala sejenak, memandang ke arah panggung di mana Sean masih dalam pemotretan, lalu kembali ke lemari.
"Ambil kemeja biru muda itu, lalu celana chino coklat yang agak longgar. Jangan lupa ambil ikat pinggang kulit coklat muda untuk melengkapi. Pastikan semua rapi, tidak ada kerutan yang terlihat."
Renata mengambil baju itu dari lemari dengan tangannya yang terbiasa, memeriksanya satu per satu sebelum menyerahkannya ke Asih. Dia tahu semua pakaian Sean seperti tangannya sendiri, sudah tiga tahun ia menjabat sebagai stylist dan asistennya. Setiap detail penampilan Sean selalu dia atur, mulai dari pakaian sampai aksesoris yang terkecil. Dia ingat semua preferensi Sean. Sean tidak suka kemeja yang terlalu ketat di leher, Sean menyukai warna abu-abu dan hitam, dan Sean selalu menginginkan sepatu yang nyaman meskipun tidak harus terlihat mewah.
"Kak Ren, kamu sudah bekerja sejak pagi, tidak mau istirahat sebentar?" tanya Asih dengan nada prihatin.
Renata tersenyum lembut. "Nanti saja, Asih. Syuting hari ini harus selesai sebelum sore. Kalau selesai cepat, kita bisa istirahat sebentar."
Syuting berlanjut selama satu jam lagi, dengan Sean berganti pakaian sebanyak empat kali. Pertama, gaya kasual dengan kemeja biru muda dan celana chino. Dia terlihat seperti pria muda yang santai tapi tetap berkelas. Kedua, gaya formal dengan jas hitam lengan pendek dan kemeja putih tanpa dasi, kesan yang cerdas dan percaya diri. Ketiga, gaya edgy dengan jaket kulit hitam dan celana jeans sobek, sesuai dengan citra idola yang modern. Keempat, gaya mewah dengan jas kemerahan yang mencolok dan celana slacks hitam untuk halaman dalam majalah.
Setiap kali Sean berganti pakaian di ruang ganti kecil di samping panggung, Renata selalu ada di sana. Dia membantu melepas jas Sean dengan hati-hati, menyetel kerah kemeja sehingga tidak miring, memastikan ikat pinggang pas di pinggangnya, dan menutup lengan baju yang terlalu panjang. Sean jarang bicara saat berganti pakaian, tapi dia selalu mengangguk sebagai tanda terima kasih. Dia tahu betapa pentingnya peran Renata dalam setiap syuting.
"Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan, Ren," ucap Sean sekali, saat Renata menyetel kerah kemejanya. Suaranya lembut, hanya bisa didengar oleh keduanya.
Renata tersenyum, tapi wajahnya terlihat sedikit lelah. "Itu tugasku, Sean. Semua harus sempurna."
Akhirnya, Pak Dedi menurunkan kamera dan menghela napas lega. "Cukup! Hari ini cukup bagus. Semua foto terlihat hebat, pasti akan jadi sampul yang luar biasa. Terima kasih kepada semua orang, terutama Sean dan Renata!"
Seluruh tim bersorak kecil, merayakan selesainya syuting yang panjang. Sean keluar dari posisi di tengah panggung, mengambil handuk dari meja untuk mengeringkan keringat di alis dan dahinya. Dia mendekati Leo yang sedang menutup laptopnya.
"Jadwal besok apa?" tanya Sean, menyegarkan tenggorokannya dengan minum air.
"Syuting iklan skincare pagi pukul sembilan, lalu ada janji temu dengan direktur label sore pukul tiga. Setelah itu, ada wawancara dengan media online pukul lima," jawab Leo, membuka agenda di ponselnya. "Semua sudah diatur oleh Renata, tempat, waktu, dan semua kebutuhan."
Sean mengangguk, puas dengan penjadwalan yang rapi. Dia lalu melihat ke arah Renata, yang sedang menyusun baju-baju ke dalam tas kerja yang besar. Tangannya bergerak cepat, tapi langkahnya terlihat agak lambat. Wajahnya yang biasanya cerah dan penuh energi sekarang terlihat sedikit pucat, dengan garis-garis kelelahan di sekitar mata.
Sean ingin mendekatinya untuk bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi tiba-tiba Renata berbalik dan melihatnya. Matanya terlihat gelap, penuh dengan sesuatu yang Sean tidak bisa pahami, seolah-olah dia sedang menahan sesuatu yang berat.
"Sean, Leo, bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Renata dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. Suaranya sedikit gemetar, tapi dia berusaha tetap tenang.
Kedua pria itu saling menatap. Leo mengangkat alis, merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa. Sean mengangguk. "Tentu. Ke mana?"
"Ke ruang tunggu yuk, agar lebih tenang. Semua orang di sini masih sibuk," jawab Renata, memegang tasnya dengan erat.
Leo mengangguk dan mengikutinya, dengan Sean di belakangnya. Mereka keluar dari ruang pemotretan yang ramai ke koridor yang sunyi, lalu memasuki ruang tunggu yang kecil di ujung koridor. Ruangan itu dihiasi dengan kursi abu-abu dan meja kecil, dengan jendela yang melihat ke taman kecil di luar. Cahaya matahari sore menyinari ruangan, membuatnya terasa lebih hangat dan tenang.
Renata duduk di salah satu kursi, menempatkan tasnya di depannya. Tangannya memegang tutup tas dengan erat, jari-jarinya meremas kainnya. Sean dan Leo duduk di depannya, menatapnya dengan pandangan yang penasaran dan sedikit khawatir.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Ren?" tanya Leo, yang tidak sabar menunggu.

Dewi Murni Suwi Tyastanti
1 Pengikut · 1 Novel