“Jangan pernah beri ruang pada rasa takut, Kawan. Sekali kau ragu, aspal malam ini yang akan menelanmu bulat-bulat.”
Suara Barata memecah keheningan di sudut pelataran stasiun pengisian bahan bakar umum yang sudah tutup sejak pukul sepuluh malam.
Di sekitarnya, belasan mesin sepeda motor berkapasitas besar meraung-raung rendah, menciptakan getaran yang merambat melalui telapak kaki hingga menembus dada. Udara malam ibu kota beraroma khas, campuran bensin beroktan tinggi, asap knalpot racing yang pedas di hidung, serta embusan angin dingin yang terjebak di antara himpitan gedung-gedung beton pencakar langit.
Lampu-lampu reklame neon berpendar warna-warni, memantul di atas bodi motor yang mengilap terkena basah sisa gerimis sore.
Di tengah kerumunan anak muda berjaket kulit itu, Rian berdiri bersandar pada tangki motor sport hitam legam miliknya. Helm full-face bercorak gelap bertengger di siku kanannya, sementara kedua tangannya terlipat di dada di balik jaket tebal penuh emblem dan lencana kebanggaan.
Tatapan matanya tajam, menyapu wajah satu per satu anggota geng motor Vortex yang malam itu berkumpul untuk mendengarkan instruksi penting. Bagi mereka yang berdiri di hadapannya, Rian bukan sekadar ketua geng biasa, ia adalah lambang dari ketangguhan absolut di atas jalanan ibu kota yang terkenal kejam dan tidak pernah memberikan kesempatan kedua bagi yang lemah.
Bagi Rian, jalanan ibu kota bukanlah sekadar tempat berlalu-lalang kendaraan komersial atau lintasan sederhana untuk melepas penat setelah seharian menghadapi penatnya rutinitas dunia siang hari. Lebih dari itu, aspal adalah rumah sekaligus panggung pertarungan tempat ia melarikan diri sejauh-jauhnya dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Setiap tikungan tajam di jalan raya, setiap jengkal lampu penerangan jalan yang temaram, menyimpan memori tersendiri tentang bagaimana ia belajar bertahan hidup di tengah rimba metropolitan yang egois.
Di tempat ini, kecepatan bukan sekadar hobi yang mendatangkan kepuasan adrenalin semata, melainkan harga diri yang harus dijaga mati-matian dengan pertaruhan nyawa.
“Malam ini kita pastikan jalur Lingkar Selatan bersih dari segala bentuk pengganggu,” lanjut Rian dengan suara bariton yang tenang, berwibawa, memotong deru mesin yang sedari tadi berdengung rendah.
“Kalian tahu betul apa konsekuensinya jika ada kelompok lain yang mencoba mencaplok wilayah kekuasaan kita tanpa izin. Vortex tidak pernah mundur sejengkal pun, dan kita tidak pernah mau berbagi aspal dengan pecundang.”
Sorak-sorai pendek bersahut-sahutan menyambut perkataan tersebut, memecah kesunyian malam. Sorot mata para anggota memancarkan loyalitas mutlak dan fanatisme yang membara.
Mereka adalah sekumpulan anak muda yang sebagian besar tersisih dari struktur sosial formal, remaja patah arah yang kehilangan pegangan, pemuda putus sekolah yang tidak memiliki masa depan jelas, hingga mereka yang sengaja melarikan diri dari rumah yang retak dan penuh dengan kekerasan. Di dalam keluarga besar Vortex, mereka menemukan tempat bernaung, sebuah ikatan darah buatan yang disatukan oleh deru mesin, kesamaan nasib, dan solidaritas tanpa batas yang jarang mereka temukan di dunia luar.
Rian sendiri masuk, terjerumus ke dalam lingkaran hitam ini bukan karena ambisi kekuasaan kosong atau sekadar mencari sensasi murahan. Bertahun-tahun lalu, sebuah tragedi keluarga yang merenggut nyawa orang terdekatnya telah merenggut seluruh rasa aman dari dalam hatinya, meninggalkan rongga kosong di dada yang tidak pernah bisa disembuhkan oleh nasihat bijak orang dewasa maupun aturan ketat institusi formal.
Ketika dunia nyata menolaknya mentah-mentah, memandangnya sebelah mata, jalanan malam menyambutnya dengan tangan terbuka lebar. Di atas sadel kuda besi, hantaman angin malam yang menerpa tubuh seolah menghapus rasa sakit di kepala, menyisakan sensasi kebebasan semu yang amat candu.
Ia mengenakan jaket kulit tebal peninggalan sang kakak, satu-satunya harta berharga yang tersisa dan dirawatnya dengan penuh kehati-hatian.
Jaket itu sudah terlihat kusam di beberapa bagian siku, berhias goresan aspal akibat kecelakaan kecil di masa lalu, sarat akan makna pertahanan diri yang mendalam. Bagi Rian, aturan sosial dibuat semata-mata untuk dilanggar demi menegakkan keadilan versi mereka sendiri, dan rasa takut adalah sebuah kelemahan fatal yang akan mengantarkan seseorang pada kehancuran di dunia yang keras ini.
“Rian, berdasarkan informasi dari anak-anak, lewat jalur utara ada laporan pergerakan mencurigakan dari kelompok Black Jack,” bisik Dito, tangan kanan sekaligus sahabat karib Rian, sambil mendekatkan wajahnya di tengah kebisingan knalpot free-flow. Wajah Dito tampak tegang di balik pantulan cahaya lampu jalan.
Rian menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis, mematikan.
“Biarkan mereka datang mendekat. Justru itu yang kita tunggu-tunggu dari tadi. Malam ini kita beri mereka pelajaran berharga agar tidak sembarangan menginjak wilayah kekuasaan kita.”
Tanpa aba-aba berlebihan yang membuang waktu, Rian mengenakan kembali helm full-face miliknya, mengaitkan tali pengamannya dengan bunyi klik yang tegas, lalu melompat lincah ke atas jok motornya.
Kunci kontak diputar ke posisi on, menyalakan panel indikator digital yang berpendar terang di tengah kegelapan malam. Ia menekan tombol starter, dan seketika raungan mesin berkapasitas 650cc itu membahana, menggetarkan udara di sekitarnya. Suaranya menggelegar bagaikan auman singa kelaparan yang siap menerkam mangsa di kegelapan malam tanpa ampun.
**
Satu per satu anggota Vortex mengikuti gerakannya dengan presisi tinggi. Puluhan lampu depan sepeda motor menyala serentak, membelah pekatnya malam dengan sorot putih terang yang menyilaukan mata para pengguna jalan lain. Konvoi itu bergerak perlahan meninggalkan area SPBU, menyatu dengan arus lalu lintas kota yang mulai lengang menjelang tengah malam.
Bagi pengendara mobil pribadi atau pejalan kaki yang kebetulan berpapasan di jalan raya, rombongan Vortex adalah pemandangan yang menakutkan dan mengintimidasi, sekelompok bayangan hitam berkecepatan tinggi yang membawa teror tersendiri di jalanan. Namun, bagi Rian, saat ban motormu mencengkeram aspal mulus jalan tol kota, segala beban pikiran yang menumpuk di kepala seolah menguap begitu saja bersama kepulan asap knalpot. Yang tersisa di dalam benaknya hanyalah fokus mutlak, titik pandang di depan sana, tarikan tuas gas di tangan kanan, dan keseimbangan tubuh menghadapi hukum gravitasi fisik.
Mereka melaju kencang menembus terowongan flyover dengan kecepatan di atas rata-rata. Suara deru puluhan knalpot memantul keras di dinding beton jalan layang, menciptakan simfoni bising yang memacu detak jantung hingga berdegup kencang di dalam dada.