


oleh Tya Oline · 90 Bab
Apa jadinya ketika kamu menempuh sebuah pendidikan dan memilih tinggal di sebuah asrama, tetapi justru bermunculan arwah-arwah penghuni asrama yang sebelumnya dikabarkan hilang? Apa kamu akan bertahan dan memecahkan misteri kemunculan mereka atau justru memilih pergi?
Arumdalu mengedarkan pandangan ke penjuru bangunan tiga lantai dan terdiri dari dua gedung utama. Halamannya luas, tetapi terlihat kurang terawat. Setidaknya, itulah isi kepala Arumdalu saat melihat rumput-rumput yang tampak meninggi di beberapa tempat.
"Silakan, Nak Arum. Di sini, kalau pagi memang sepi. Semua santrinya pergi ke pondokan buat belajar. Ayo, Bu Karsih pasti sudah selesai merapikan kamar untukmu." Wanita paruh baya bergamis lebar itu, mengajak Arumdalu menyusuri koridor gedung di sebelah kanan, lalu menaiki tangga menuju lantai tiga.
Mata Arumdalu tidak lepas dari pintu-pintu dengan keterangan nomor kamar di sisi kirinya. Hening.
"Ada berapa santri di asrama sini, Bu?" tanya Arumdalu setelah sampai di tengah lorong lantai atas.
"Di bagian sini, ada sekitar tiga puluh santri, Nak. Gedung sana itu," jawab wanita tersebut, lalu jarinya menunjuk pada gedung seberang. "Di sana sudah penuh. Ada sekitar enam puluh santri." Dia melanjutkan kalimat yang sempat terjeda.
"Kamarnya sudah siap, Bu Wid." Baru saja Arumdalu akan bertanya lagi, seorang wanita dengan kisaran usia tiga puluh tahunan keluar dari pintu ruangan paling ujung.
"Oh, iya. Makasih, Mbak. Kenalkan, ini Nak Arum yang nanti nempati kamar ini. Nak Arum, ini Mbak Ayu. Dia nanti yang akan membantu mengurus keperluan kalian selama di asrama sini. Nanti ada lima pengurus lainnya juga, termasuk Bu Karsih. Sekarang, Nak Arum masuk dulu. Silakan istirahat dan rapikan bawaannya. Ibu mau ke kantor yayasan buat nyerahkan berkas."
"Baik, Bu. Terima kasih, Mbak Ayu," sahut Arumdalu. Dia membungkuk sopan.
Arum langsung menyeret kopernya memasuki kamar. Ada tiga ranjang dengan kasur single di sana. Semua tampak rapi, tetapi ada sebuah selimut yang terlipat rapi di atas bantal. Arum paham, itu tanda, jika dua ranjang lain sudah ada yang memakai.
"Aduh, Arumdalu!" Sebuah suara membuat gadis lima belas tahun itu tersentak.
"Eh, astagfirullah, Mbak. Ada apa?" Arum memutar tubuh dan mendapati Mbak Ayu terengah di ambang pintu.
"Maaf, lupa ngasih tahu, kasurmu yang di ujung ini. Dekat pintu. Lemarinya juga sudah mbak bersihkan. Simpan barangmu di situ."
"Oh, oke, Mbak. Makasih banyak, ya. Mbak Ayu, manggil aku Arum aja, semua juga manggilnya Arum."
"Oke. Mbak mau balik ke dapur lagi. Nanti kalau sudah selesai beres-beres, kamu ke dapur aja. Sekalian kenalan sama pengurus lain."
"Iya, Mbak. Makasih." Arum mundur beberapa langkah, lalu meletakkan ranselnya ke ranjang. Kain seprai berwarna hijau muda yang menutup permukaan kasur, tampak rapi dan wangi.
Tanpa menunggu, Arum segera membuka koper besarnya, lalu mengeluarkan tumpukan pakaian miliknya. Memasukkan satu demi satu ke lemari plastik berwarna cokelat berpadu cream di sisi ranjang. Dia tersenyum puas saat pakaiannya telah tersusun rapi, berikut dengan buku-buku tulis dan perlengkapan lain.
"Huft, ternyata cukup melelahkan. Tanganku pegel karena nyeret koper naik tangga tadi," monolog Arum dan dia pun menggerakkan tangannya dengan gerakan memutar ke belakang. "Aku ke dapur ajalah. Di sini juga mau ngapain. Belum ada teman satu kamar yang datang."
Usai menutup pintu ruangan, Arum berhenti dan menyapukan pandangan ke sekitar bangunan gedung. Di bagian kiri gedung yang dia tempati, terdapat beberapa pohon buah dan bunga. Di bawah pepohonan tersebut, ada bangku-bangku taman. Di seberang pagar asrama, setelah tampak lapangan rumput cukup luas, terdapat hutan akasia. Perkiraan Arum, hutan tersebut cukup luas.
Kemudian, setelah puas memandangi lingkungan, Arum menoleh ke gedung asrama yang ada di seberang tempatnya berdiri. Bangunannya terlihat lebih besar dan bersih. Cat dinding juga terlihat baru.
'Mungkin perawatannya memang bergantian. Next time pasti ganti gedung sini yang direnovasi,' batin Arum, lalu dia berjalan menyusuri koridor lantai tiga, menuju ke bagian tengah yang terdapat anak tangga.
"Eh!" seru Arumdalu, lalu dia hentikan langkah dan menoleh ke ujung koridor yang terdapat sebuah ayunan besi berukuran cukup besar. Dia mundur selangkah.
"Aku nggak salah lihat, kan? Katanya ibu asrama, semua santriwati sedang di pondok, belajar. Kenapa masih ada yang di asrama?" Arum berbicara sendiri setelah diam di tempatnya, belum berniat menoleh.
"Dek Arum, kenapa berdiri di situ, malah bengong? Sini, temani aku bersihin halaman aja!" seru Mbak Ayu dari bawah pohon di halaman.
"Eh, astagfirullah, Mbak Ayu! Kenapa ngagetin, sih?" Arum ikut berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
Sekilas Arum melirik lagi ke ayunan. Namun, tidak lagi menemukan apa yang dia lihat beberapa menit sebelumnya. Tanpa sadar, kakinya melangkah menuruni anak tangga dan terus berjalan ke arah Mbak Ayu. Dia terus saja bergumam perihal apa yang dilihatnya.
"Aku nggak salah lihat, kan? Tadi beneran ada orang di situ, tapi waktu ada suara Mbak Ayu, kenapa jadi ilang? Apa dia masuk ke kamarnya? Tapi, kenapa nggak ada suaranya? Minimal ada suara pintu, kan?"
"Hei, berjalan sambil bicara sendiri. Pamali, Dek Arum," ucap Mbak Ayu. Dia menepuk bahu Arumdalu karena gadis itu berjalan pelan, sementara wajahnya seperti orang bingung.
"Heh, Mbak Ayu. Anu, itu tadi, di atas ada ...."
"Mbak Ayu, dipanggil Bu Wid, tuh. Dia ada di aula belakang." Seorang wanita seusia Mbak Ayu tiba-tiba saja menghampiri.
"Oh, iya. Aduh, Dek Arum, tolong lanjutin dulu kerjaanku, ya. Dikit lagi, kok. Nanti kalau sudah dikumpulin, langsung di bakar saja. Itu tempat membakar sampahnya ada di pojok. Aku pamit dulu."
"Jangan selalu ingin tahu tentang apa yang kamu lihat kalau ingin tenang di tempat ini, Arumdalu."
"Maaf, Kak, maksudnya apa, ya? Selalu ingin tahu apa? Aku, bahkan belum satu hari di sini. Emang ada apa?" sahut Arumdalu heran.
"Apa pun yang kamu lihat, anggaplah tidak pernah terlihat. Itu saja pesanku. Permisi."
"Dih, aneh banget. Apa maksudnya coba? Kenal juga belum, udah seenaknya aja ngasih peringatan." Arumdalu mengoceh sendiri sepeninggal wanita muda tadi. Gadis itu pun melanjutkan pekerjaan Mbak Ayu sesuai pesan, sebelum wanita itu pergi menemui ibu kepala asrama, Bu Widya.
Ketika sedang asyik menyapu, tanpa sengaja Arumdalu mendongak karena membetulkan hijabnya yang sedikit melorot menutupi mata. Saat itulah dia kembali mendapati hal sama, dengan apa yang dia lihat di dekat tangga.
Gadis berwajah mungil dengan hidung kecil, mancung, dan juga bibir berlekuk indah. Gadis itu mengenakan gamis cream dan hijab senada. Wajahnya tampak pucat dan lemah, tetapi sorot matanya tajam dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Arumdalu terus menatap wajah ayu tersebut tanpa berkedip. Ada sesuatu yang berbeda setiap kali kelopak mata indah itu berkedip, tetapi Arumdalu tidak paham, apa sesuatu itu.

Tya Oline
103 Pengikut · 7 Novel