“Mas lagi ngetren bikin banyak asuransi tahu. Temen-temenku banyak yang bikin, bahkan merekomendasikan juga padaku. Boleh ya aku ikut bikin juga? Anggap buat tabungan masa depan Ziyad juga kita,” ujar Sani tenang sembari meletakkan cangkir teh hangat manis favorit suaminya di meja kaca ruang tamu.
Arkan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kacamata minus berkulit penyu yang bertengger di hidungnya meluncur turun saat jemarinya membolak-balik tumpukan kertas polis bertuliskan logo perusahaan asuransi terkemuka. Mata pria itu berkilat penuh keheranan, bola matanya bergerak cepat menghitung jumlah map berstempel merah yang dijajarkan Sani di hadapannya.
“Sebanyak ini, Sayang? Kamu serius? Ini ada sepuluh polis!” Suara Arkan meninggi, nada bicaranya menunjukkan kepanikan yang kentara. Ia mengambil salah satu dokumen dan menatap angka klaim pertanggungan di lembar utama. “Bagaimana kita angsurnya tiap bulan?”
Sani menyunggingkan senyum tipis—senyum manis terlatih yang selama delapan belas tahun pernikahan selalu berhasil meluluhkan Arkan. Wanita itu mendaratkan diri di samping suaminya, mengusap bahu kaku itu dengan lembut.
“Ya pake gaji PNS kamu, lah Mas,” sahut Sani enteng, menatap tepat di manik mata Arkan.
Arkan menghela napas panjang kemudain mengusap wajahnya kasar, seolah tumpukan kertas di hadapannya adalah beban yang teramat berat. “Gaji, Mas kan udah kasih kamu semua tiap habis gajian, Yang. Mas tinggal pegang buat bensin aja. Kalau disedot sepuluh polis sekaligus, kita mau makan apa tiap bulan?”
“Udah gampang itu nanti aku yang atur,” potong Sani cepat dengan nada suara tenang yang tak membantah. Jemarinya mengambil pena berujung emas dari dalam kotak kecil, membuka lembar penandatanganan di polis pertama, lalu menyodorkannya ke tangan Arkan. “Kamu cuma perlu tanda tangan di sebelah sini. Semua nama ahli waris sudah tertulis atas nama Ziyad dan aku. Ini demi keamanan kita, Mas. Kalau terjadi apa-apa di luar sana, setidaknya kita punya penjamin.”
Arkan menatap Sani lekat. Ada keraguan merayap di matanya, tetapi rasa bersalah yang terkubur dalam membuatnya tak sanggup menolak. Pria itu mengambil pena tersebut. Goresan tinta hitamnya perlahan membubuhkan tanda tangan di sepuluh berkas polis asuransi jiwa satu per satu.
Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa sepuluh polis ini bukanlah penjamin masa depan keluarga, melainkan sekoci penyelamat yang sengaja disiapkan Sani untuk menenggelamkannya sampai ke dasar kemelaratan.
Malam harinya, setelah memastikan Arkan terlelap pulas akibat pengaruh teh yang dicampuri racikan penenang, Sani melangkah ke luar rumah secara diam-diam. Ziyad sudah menunggunya di dalam mobil hitam yang terparkir dua blok dari kompleks perumahan. Di kursi kemudi, duduk Iyan—pria tegap berstelan gelap yang menjadi orang kepercayaan Sani selama ini.
Sani membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Deru mesin terdengar halus saat Iyan melajukan kendaraan membelah keheningan jalanan kota.
“Bagaimana, Bu Sani? Semua dokumen sudah ditandatangani Pak Arkan?” tanya Iyan membuka percakapan sembari memperhatikan spion tengah.
“Sudah, Yan. Sepuluh polis tuntas tanpa curiga,” jawab Sani datar. Dada yang biasanya sesak kini terasa sangat hampa. Tak ada lagi air mata yang menetes. Tangisannya sudah habis bertahun-tahun lalu saat suaminya dengan terang-terangan berselingkuh di belakangnya. Kala itu Sani jelas meraung dan marah pada Arkan, tetapi kali ini ....
Mungkin hati Sani sudah berada di titik mati rasa setelah berulang kali diselingkuhi. Apalagi Arkan benar-benar melampaui batas: ia menikahi diam-diam selingkuhannya, yang tak lain adalah Laras, sahabat Sani sendiri.
“Strategi selanjutnya sudah siap, Ma?” Suara Ziyad memecah lamunan Sani. Remaja itu menoleh dari kursi depan dengan tatapan tajam memancarkan kekecewaan pada sosok ayahnya.
“Semua sesuai rencana, Sayang. Begitu Papa kamu mengeksekusi ide konyolnya untuk pura-pura hilang di laut demi menemani Laras melahirkan, kita langsung bergerak,” tegas Sani. “Iyan akan mengurus klaim darurat, pengalihan aset, dan penjualan rumah atas nama kamu. Saat Papa kamu selesai berpura-pura, dia akan sadar kalau status hukumnya sudah tak punya apa-apa lagi.”
Ziyad mengangguk tegas. “Aku udah urus berkas pendaftaran kuliahku di Australia, Ma. Paspor dan visa kita berdua siap dalam dua minggu.”
Iyan menambah kecepatan mobil. Namun, dari balik spion tengah, Sani melihat raut wajah pria itu berubah agak ragu. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat.
“Ada apa, Yan? Ada kendala hukum di lapangan?” tanya Sani mengamati perubahan sikapnya.
Iyan menghela napas panjang. Ia menghentikan mobil tepat di pinggir jalan yang sepi di bawah pendar lampu remang-remang. Pria itu memutar badannya menatap Sani dengan raut serba salah.
“Bukan masalah hukum, Bu Sani. Ini tentang Laras,” bisik Iyan pelan.
Kening Sani berkerut. “Kenapa dengan Laras? Kamu menemukan informasi penting tentangnya?"
“Iya, Bu.” Iyan menelan ludah, suaranya terdengar makin berat. “Saya melakukan investigasi latar belakang mendalam pada Laras sebelum masa pernikahan sirihnya dengan Pak Arkan. Dan ada satu hal yang belum pernah Bu Sani ketahui sebelumnya.”
Sani menahan napas, merapatkan mantel yang mengenainya. “Apa maksudmu, Yan? Katakan yang jelas.”
Iyan menatap Sani lurus-lurus, menyampaikan fakta yang sukses membuat jantung wanita itu berdetak kencang.
“Laras sebelum menikah dengan pria pertama lalu menjadi janda, dan sebelum akhirnya bersama Pak Arkan. Dia adalah mantan kekasih, lebih tepatnya cinta pertama Pak Arkan sewaktu mereka masih duduk di bangku SMP.”
Mata Sani membelalak sempurna. Lidahnya mendadak kelu, mencoba mencerna jaring kebohongan yang terpintal selama belasan tahun di depannya.
“Jadi sahabatku dulunya mantan kekasih suamiku?"