


oleh Sfrauf · 100 Bab
Bagi Semesta Aruna, hidup adalah urutan angka dan kendali mutlak. Pindah ke SMA Asrama Nusantara baginya hanyalah tugas untuk membenahi sistem yang berantakan. Namun, pertahanan Sasta runtuh saat berhadapan dengan Atlas Anindito. Atlas adalah anomali. Kapten basket yang lebih sering memanjat pagar daripada menyentuh buku pelajaran. Dia nakal, ceplas-ceplos, dan hobi menginjak-injak aturan yang Sasta jaga. Namun, di balik keringat dan tawa remehnya, Atlas menyimpan luka besar tentang beban keluarga. Saat keteraturan menabrak kekacauan, Sasta sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dirapikan.
Ujung-ujung besi gerbang SMA Asrama Nusantara (Asnu) itu mencuat kayak deretan taring yang haus darah. Hitam, pekat, dan dingin.
Di mataku, itu bukan simbol pendidikan masa depan yang gemilang kayak di brosur. Itu jeruji penjara. Dan barusan, palu vonisnya baru saja diketuk oleh Papa dan Mama.
Aku menghela napas. Kaca jendela Alphard ini sampai berembun kena napas kaku dariku sendiri. Aku menatap pantulanku di sana. Kuncir ponytail yang terlalu kencang sampai kulit kepala terasa ketarik, dan kacamata perak yang bertengger kaku. Sempurna, pikirku pahit. Sempurna sekaligus menyedihkan.
"Sasta, Papa sama Mama kirim kamu ke sini bukan buat hukuman." Suara bariton Papa memecah keheningan kabin yang kedap suara itu.
Aku tetap bungkam. Mataku cuma terpaku pada koper-koper besarku yang baru saja diturunkan sopir di lobi. "Terus apa, Pa? Hadiah hiburan karena aku gagal jadi Ketua OSIS gara-gara insiden itu?"
"Bukan begitu," sahut Mama. Tangannya mencoba mengelus pundakku, tapi aku refleks bergeser. "Kamu terlalu kaku, Sayang. Hidup itu bukan cuma soal angka seratus atau laporan proker yang rapi. Di Asnu, kamu harus belajar jadi manusia."
Menjadi manusia? Aku tersenyum sinis dalam hati. Di sekolah lama, aku ini definisi manusia yang berhasil. Aku yang pegang kendali, aku yang bikin garis, dan aku yang memastikan semua orang nggak melenceng.
Sekarang? Aku dibuang ke asrama pinggir kota yang udaranya bikin menggigil, harus berbagi oksigen dengan orang asing, dan tunduk pada aturan yang bukan buatanku.
"Sudah sampai, Non." Suara Pak Dirman terdengar ragu, seolah nggak tega melepaskanku di sini.
Begitu pintu terbuka, udara dingin langsung menampar wajahku. Ada aroma tanah basah dan sisa hujan semalam, bau yang asing dan terasa "kotor" bagi hidungku yang terbiasa dengan pengharum ruangan otomatis.
Proses check-in di administrasi benar-benar siksaan bagi syaraf perfeksionisku. Antrean berantakan, formulir lecek, dan petugas yang sibuk menyeruput kopi instan sambil kerja seadanya.
"Semesta Aruna? Pindahan Jakarta yang itu?" Bu Endang, petugas itu, membetulkan kacamatanya yang miring.
"Iya," jawabku pendek. Jari-jariku gatal banget ingin merapikan tumpukan map di mejanya yang miringnya nggak simetris itu.
"Gedung Merpati, kamar 304. Sekamar berempat. Ini kuncinya, jangan hilang. Hilang denda lima puluh ribu," kata Bu Endang datar.
"Empat orang?" Suaraku naik satu oktaf. "Satu kamar berempat?"
Bu Endang tertawa, suaranya serak kayak kertas yang diremas. "Ini asrama, Neng. Bukan hotel. Sana, cepat beresin barang sebelum apel."
Aku menyeret koper melintasi koridor. Pemandangan di sana bikin aku mual: siswi-siswi tertawa sambil bawa ember mandi, bau mi instan cup yang menyengat, dan baju-baju yang digantung sembarangan. Kacau, batinanku. Tempat ini butuh dikalibrasi ulang.
Di kamar 304, sambutannya malah lebih parah.
"WOI! SIAPA TUH?"
Seorang gadis berkaus band berdiri di atas kasur, mengacungkan kuas kayak mau ngajak duel. Bau tiner langsung menusuk hidungku. Di lantai, botol cat berserakan kayak habis kena ledakan.
"Aku Sasta. Penghuni baru," ucapku sedatar mungkin, meski perutku mulai melilit melihat kaus kaki kotor di pojok meja.
"Oh! Anak Jakarta itu!" Gadis itu melompat turun. Lantai kayu berderit protes. "Aku Lula. Santai aja, kamar ini emang agak ... 'ekspresif'."
Aku nggak menjawab. Aku mengeluarkan botol disinfektan dan mulai menyemprot tempat tidurku seolah-olah ada virus mematikan di sana.
Dalam sejam, sudut kamarku berubah jadi anomali. Rapi, simetris, dan steril. Kontras dengan sisa ruangan yang mirip gudang seni.
Sorenya, perutku yang kosong mulai protes. Aku memutuskan keluar, berjalan mengikuti naluri melewati deretan beringin besar yang tampak angker, hingga langkahku terhenti di dekat pagar kawat di ujung area putri.
Bruk!
Seorang cowok mendarat dari atas pagar setinggi dua meter. Jaket hoodie hitam, celana seragam yang digulung asal-asalan, dan bau martabak manis yang sangat berdosa tercium dari kantong kresek di tangannya.
"Kamu ... kamu baru saja manjat?" Aku membelalak.
Cowok itu terlonjak, tapi cuma sedetik. Dia malah nyengir, memperlihatkan rambut berantakan dan mata yang berkilat nakal.
"Duh, kaget," ucapnya dramatis. "Anak baru ya? Kaku amat kayak kanebo kering."
Aku melipat tangan di dada. Mode Ketua OSIS-ku bangkit dari kubur. "Memanjat pagar itu pelanggaran Pasal 12 Poin B. Kamu bisa diskors."
Cowok itu malah terkekeh. Dia mendekat, aroma keringat dan cokelat martabak menguar kuat.
"Aturan itu buat ditaati, Neng. Tapi di sini, kalau laper tengah malem, pagar itu cuma pajangan." Dia mengedipkan mata. "Namaku Atlas. Dan kalau jadi kamu, aku nggak bakal lapor. Kecuali mau diganggu 'penunggu' sini."
Aku mendengkus. "Ancaman receh. Nama kamu saya catat."
"Silakan." Atlas mengedikkan bahu, lalu menyodorkan kreseknya. "Mau? Masih panas. Anggap aja pajak perkenalan."
Aku menatap martabak itu, lalu menatap wajah Atlas yang tanpa dosa. Gila, batinku. Untuk pertama kalinya, aku ketemu orang yang menganggap aturan cuma saran opsional.
"Nggak. Simpan aja martabak ilegal kamu itu." Aku berbalik, berjalan cepat dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Entah karena marah, atau karena aku baru saja menabrak tembok bernama "kekacauan".
Di belakangku, Atlas menggigit martabaknya dengan santai. "Cantik sih, tapi galaknya ngalahin Ibu Asrama. Bakal seru nih si 'Nona Aturan'."
Aku nggak menoleh. Tapi di kepalaku, nama Atlas sudah menempati urutan pertama dalam daftar orang yang harus aku awasi. Atau mungkin, orang yang bakal merusak seluruh hidup teraturku.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel