


oleh Sfrauf · 94 Bab
Bagi Semesta Aruna, hidup adalah urutan angka dan kendali mutlak. Pindah ke SMA Asrama Nusantara baginya hanyalah tugas untuk membenahi sistem yang berantakan. Namun, pertahanan Sasta runtuh saat berhadapan dengan Atlas Anindito. Atlas adalah anomali. Kapten basket yang lebih sering memanjat pagar daripada menyentuh buku pelajaran. Dia nakal, ceplas-ceplos, dan hobi menginjak-injak aturan yang Sasta jaga. Namun di balik keringat dan tawa remehnya, Atlas menyimpan luka besar tentang beban keluarga. Saat keteraturan menabrak kekacauan, Sasta sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dirapikan.
Bau kapur tulis yang samar bercampur dengan aroma parfum body mist murah di lorong kelas. Semuanya terasa begitu normal. Terlalu normal, malah.
Aku menatap pantulan diriku di cermin toilet, mencoba menyesuaikan kerah seragam SMA Nusantara yang sedikit miring. Rambutku kucir kuda asal-asalan, persis seperti Sasta yang biasanya, bukan Sasta yang dua hari lalu baru saja memimpin pertahanan di sebuah pulau terpencil.
"Ayo, Sas! Nanti kita telat masuk pelajaran Pak Broto. Kamu tahu sendiri dia paling benci murid yang datang telat apalagi udah mulai nerangin rumus fisikanya." Suara teriakan Lula menggema dari luar pintu toilet.
Aku menarik napas panjang, menepuk pipiku pelan. "Iya, bentar! Lagi pasang ikat rambut!"
Aku keluar, mendapati Lula sudah berdiri dengan tangan di pinggang. Matanya yang bulat itu menatapku dengan selidik. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang tahu, kecuali Atlas dan Bima. Kami sepakat untuk mengubur rapat-rapat kejadian di pulau itu, menganggapnya sebagai mimpi buruk yang sudah berakhir.
"Kamu pucat banget," celetuk Lula sambil menyamakan langkah denganku. "Habis begadang nonton drama Korea lagi, ya? Awas, loh, mata pandamu makin parah."
Aku tertawa renyah, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Iya nih, maraton episode terakhir. Seru banget, sampai lupa waktu."
Kami berjalan melewati lapangan basket. Di sana, terlihat Atlas sedang dikerubungi teman-temannya. Dia mengenakan seragam yang tampak rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Gurat-gurat ketegangan di wajahnya sudah hilang, digantikan oleh senyum santai yang biasanya justru membuat anak-anak perempuan di sekolah ini histeris. Dia melirik ke arahku, memberikan kedipan kecilnya tentu cuma aku yang tahu artinya.
"Ih, Atlas makin ganteng aja ya abis liburan kemarin," bisik Lula, menyenggol lenganku dengan sikunya.
"Liburan apanya? Dia kan cuma pulang kampung," balasku mencoba setenang mungkin.
"Ya, pokoknya gitulah. Eh, nanti sore ada ekskul robotik, kan? Kamu jadi ikut? Katanya ada alat baru loh dari donatur misterius. Keren banget, bisa ngedetek frekuensi suara jarak jauh."
Aku terdiam. Frekuensi suara? Jangan-jangan itu sisa-sisa teknologi Aethelgard yang tanpa sengaja terbawa masuk ke sekolah melalui sistem donasi otomatis yang diatur oleh AI Nusantara.
"Oh, ya? Aku lihat nanti deh, lihat kondisi," ujarku sambil mempercepat langkah.
Sesampainya di kelas, suasana sudah riuh. Bima duduk di bangkunya, tampak asyik mengobrol dengan Gani. Bima terlihat jauh lebih segar, meski sesekali dia memijat pelipisnya. Mungkin itu sisa-sisa efek samping proses pemisahan data.
"Eh, Sasta!" Gani melambai dengan semangat. "Tahu nggak, katanya minggu depan bakal ada perayaan hari jadi sekolah. Bakal ada lomba antar asrama. Asrama putra lawan asrama putri lombanya banyak, dari olahraga sampai ketangkasan."
Aku duduk di bangkuku, tepat di depan Bima. "Lomba apa aja?"
"Banyak! Basket, debat, sampai bikin instalasi seni yang paling ramah lingkungan," jawab Bima dengan nada yang jauh lebih ceria dari biasanya. "Gani udah daftarin di kategori debat sama ketangkasan teknologi."
"Aku ikut debat ajalah," kataku sambil mengeluarkan buku catatan. "Lagi pula, aku kan anak teladan, harus jaga citra dong."
Gani tertawa terbahak-bahak. "Teladan dari mana? Kamu kan yang kemarin berani protes ke guru BK soal aturan jam malam asrama yang terlalu ketat!"
Kami bertiga tertawa. Sungguh, momen sesederhana ini terasa seperti kemewahan yang tak ternilai harganya. Di luar sana, dunia mungkin sedang mencari jawaban tentang Pak Praboto yang jatuh karena skandal besar. Namun, di dalam dinding kelas ini, kami hanyalah sekumpulan remaja yang pusing memikirkan tugas dan perayaan sekolah.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Pak Broto masuk dengan langkah yang tegas. Wajahnya yang keriput tampak sangat serius, tapi matanya tidak lagi memancarkan kewibawaan yang menakutkan seperti biasanya.
Apakah dia tahu apa yang terjadi pada 'Sang Pendiri'? Atau mungkin, dia hanya guru fisika biasa yang sedang lelah dengan kehidupan?
"Selamat pagi, Anak-Anak," ucapnya datar.
"Pagi, Pak!" sahut seisi kelas serempak.
Pelajaran dimulai. Aku mencoba fokus pada rumus yang tertulis di papan tulis. Namun, pikiranku terus melayang pada pesan yang dikirimkan AI Nusantara tadi pagi di ponselku.
DATA TERSIMPAN AMAN. SEBELAS PILAR LAINNYA MULAI BERGERAK. TETAP WASPADA, SASTA.
Aku meremas ujung rok seragamku di bawah meja. Ancaman itu masih ada. Mereka tidak akan diam saja melihat kekuasaan mereka runtuh. Di balik ketenangan sekolah asrama yang indah ini, aku tahu bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar pergi.
"Sasta? Bisa tolong jelaskan hukum gravitasi yang tadi saya tulis?"
Aku tersentak. Pak Broto sudah berdiri tepat di depan mejaku. Keringat dingin mulai muncul di punggungku. Apa dia sedang mengujiku? Atau hanya kebetulan?
"Iya, Pak." Aku berdiri perlahan, mencoba mengingat kembali pelajaran yang sudah kubaca tadi malam. "Hukum gravitasi menyatakan bahwa setiap dua benda yang memiliki massa akan saling tarik-menarik ...."
Penjelasanku mengalir lancar. Pak Broto mengangguk, lalu berbalik kembali ke papan tulis. "Bagus. Jangan melamun, Sasta. Dunia ini punya banyak tarikan, tapi jangan sampai kamu kehilangan pijakanmu sendiri."
Kata-katanya terasa ganjil. Apakah dia sedang memberiku peringatan?
Setelah kelas usai, aku mengajak Atlas dan Bima ke taman belakang asrama. Tempat ini adalah area terlarang bagi mereka yang tidak punya urusan, namun bagi kami, ini adalah tempat terbaik untuk bicara tanpa didengar oleh siapa pun.
"Praboto jatuh," bisik Atlas saat kami sudah duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin. "Tapi bukan dia yang terkuat. Aku udah lacak beberapa koneksi sistem Nusantara. Ada satu orang lagi, dia perempuan menjabat di lembaga keuangan internasional. Dia yang ngedanain semua senjata yang dipakai di pulau kemarin."
"Dia siapa?" tanyaku.
"Belum tahu namanya, tapi dia punya simbol di dokumennya. Simbol seekor elang yang lagi ngecengkeram angka satu," jawab Atlas.
Bima menatap langit dengan tatapan kosong. "Elang? Elang itu simbol dari The Order of One. Mereka kelompok yang ngebagi dunia jadi dua belas bagian, mereka juga udah ada dari sebelum era kita."
"Dua belas bagian?" Aku tertegun. "Berarti selain Praboto dan wanita ini, ada sepuluh orang lagi?"
"Tepat sekali." Atlas mengangguk mantap. "Dan mereka semua tahu kalau Nusantara sekarang udah bangkit. Mereka pasti bakal ngirim seseorang buat mantau sekolah ini."
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari akun media sosial sekolah. Ada murid baru yang baru saja masuk ke grup angkatan. Namanya misterius, hanya tertulis 'V'.
"Kalian coba lihat ini?" Aku menunjukkan ponselku pada mereka.
Atlas dan Bima saling berpandangan. Wajah mereka berubah tegang. Di tengah suasana asrama yang damai dan persiapan lomba sekolah, musuh baru sepertinya sudah mulai menyusup ke tempat paling aman yang kami miliki: sekolah kami sendiri.
"Jangan bertindak gegabah," kata Atlas pelan. "Kita mainin peran kita sebagai siswa biasa. Biarin 'V' yang ngelakuin langkah pertama."
Aku menghela napas, menatap bangunan asrama putri yang megah di seberang sana. Sekolah ini indah, nyaman, dan penuh dengan kenangan. Namun sekarang, aku harus melihat setiap sudutnya sebagai medan tempur yang tersembunyi.
"Ayo balik ke asrama," ajakku. "Nanti jam makan siang ada menu favorit bakso malang. Jangan sampai ketinggalan."
Atlas tersenyum, meski matanya masih menunjukkan kewaspadaan. "Ide bagus. Aku udah lapar banget."
Kami berjalan kembali menuju asrama, berbaur dengan siswa lainnya yang sedang tertawa dan berlarian. Tidak ada yang curiga pada kami.
Kami hanyalah bagian dari kerumunan, membawa beban rahasia yang bisa menghancurkan dunia di dalam saku seragam kami. Musuh sudah ada di dalam pintu, dan permainan baru saja dimulai.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel