


oleh thearraaa · 65 Bab
Setelah kematian ayahnya yang mencurigakan, Judith Eveline berusaha hidup seorang diri. Dirinya tidak pernah tahu jika ayahnya seorang mafia yang menyamar sebagai polisi. Sampai suatu hari, seorang pria tua datang menawarkan bantuan, memberikan informasi alasan kematian ayahnya. Judith pun mendaftarkan diri menjadi anggota kepolisian, dan terpilih menjadi seorang detektif muda yang berada di bawah pimpinan anak calon presiden—Emily Lamar, yang ternyata anak dari seseorang yang memerintahkan untuk membunuh ayah Judith. Judith pun terlibat cinta dengan seorang mata-mata illegal—Devano Franklyn, pemuda yang membantu Judith dalam membalaskan dendam pada keluarga Emily.. Sebuah perjalanan panjang Judith dalam membalaskan dendam ayahnya dengan menyembunyikan identitasnya.
Satu bulan setelah kematian ayahnya yang terlihat tidak wajar, Judith berusaha menjalani hidupnya seorang diri. Dirinya telah kehilangan tujuan hidupnya yang semula memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pelukis yang mana harus ia lepaskan. Tidak ada orang tua lagi di sisinya, maka tidak ada harapan untuk dirinya bisa bertahan hidup.
Instansi kepolisian tempat sang ayah bekerja memberikan tunjangan hidup untuk Judith hingga gadis itu berusia 21 tahun. Setelahnya Judith harus keluar dan mencari jalan hidupnya sendiri. Ia seharusnya bersyukur karena tempat ayahnya bekerja tetap memberinya santunan, tetapi apa dan ke mana ia harus pergi setelah dirinya tidak lagi dijamin oleh instansi kepolisian.
Seorang pria yang berada di seberang jalan tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah Judith. Ia yang kebingungan pun menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kirinya, memastikan apakah pria tua yang berada di seberang jalan melambaikan tangan ke orang lain. Namun, dugaannya ternyata salah, pria tua itu memang datang untuk menemuinya.
“Bisa kita bicara di tempat lain? Ada hal yang ingin aku beri tahu kepadamu terkait informasi tentang ayahmu.”
Judith bukan gadis penakut, ia merupakan gadis pemberani yang mandiri sebelum ayahnya pergi meninggalkan untuk selamanya. Perasaannya kembali bergejolak ketika pria yang tidak dikenalnya ingin berbicara dengan serius tentang ayahnya. Di saat itu Judith berpikir bahwa memang benar kematian ayahnya sangat tidak wajar dan dirinya yang pemberani kembali muncul untuk mengetahui alasan di balik kematian sang ayah.
“Kepercayaan ayah?”
Diletakkannya kembali ice chocolate yang hendak ia minum di atas meja. Judith tidak percaya mendengar perkenalan singkat pria di hadapannya yang mengatakan bahwa ia adalah orang kepercayaan sang ayah. Pria tua yang mengaku dirinya bernama Amar Janssen merupakan bawahan dan orang kepercayaan yang dimiliki oleh ayahnya. Bagaimana mungkin Judith mempercayainya jika umur dan perawakan pria itu saja tampak jauh lebih tua dari sang ayah.
“Kau tidak mempercayaiku, Judith?”
Tanpa berpikir panjang, Judith langsung menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak bohong karena ia memang tidak percaya pada kata-kata yang diucapkan oleh Amar.
“Aku sudah menduganya,” ucap Amar yang mana mengeluarkan beberapa cetakan foto dari dalam saku jaketnya. “Foto-foto tersebut bukti bahwa aku sudah mengenal ayahmu dari semenjak ia masih muda hingga masuk ke akademi kepolisian.”
Judith meraih foto-foto yang diberikan oleh Amar kepadanya. Dipandanginya satu per satu foto tersebut yang mana belum pernah ia lihat sebelumnya. Foto-foto seorang pemuda yang sangat mirip dengan ayahnya. Sejak kecil, Judith tidak pernah tahu bagaimana raut wajah sang ayah ketika masih muda. Yang ia tahu sang ayah pasti sangat tampan ketika masih muda dulu.
“Foto-foto ini memang mirip dengan ayah, tapi sepertinya kau salah orang.” Judith meletakkan kembali foto tersebut di atas meja, tetapi memisahkan foto-foto tersebut dengan foto ayahnya ketika memakai seragam kepolisian. “Terlebih lagi yang aku tahu ayah merupakan pria biasa saja, bukan seseorang yang terlahir dari keluarga kaya.”
Tidak ada kebohongan dari penuturan Judith. Satu lagi yang ia ketahui sedikit tentang ayahnya adalah sang ayah dan ibu berasal dari panti asuhan. Ayahnya menikah dengan sang ibu karena sudah lama mengenal semenjak masih berada di panti.
Kedua orang tuanya adalah orang sederhana, bahkan jika bisa dikatakan termasuk orang miskin hingga sang ayah berhasil masuk ke akademi kepolisian. Namun, semua foto-foto muda yang ia lihat barusan seolah dirinya melihat sisi lain dari ayahnya. Sisi lain yang mengatakan bahwa sang ayah merupakan seseorang yang terlahir dari keluarga kaya.
“Sebelum aku menceritakan tentang ayahmu lebih jauh, sebaiknya kuceritakan dahulu tentang diriku sendiri.” Amar terlihat menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku merupakan putra dari seorang pengawal mafia besar bernama David Segarra. David Segarra mempunyai seorang putra bernama Adrian Segarra yang merupakan ayahmu.”
Cukup terkejut mendengar apa yang diucapkan Amar, Judith ingin segera menyela ucapan pria di hadapannya itu. Namun, Amar tidak memberinya kesempatan untuk Judith berkomentar tentang apa yang diucapkannya. Amar terus menceritakan semua hal yang berkaitan dengan ayah Judith.
“Ayahku merupakan pengawal pribadi David, sedangkan ibuku merupakan salah seorang juru masak di kediaman Segarra. Itu sebabnya aku mengenal Adrian sejak dirinya masih kecil.”
Amar menghentikan ucapannya sebentar dan terlihat menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Terjadi suatu hal yang sangat besar yang mana memaksa Adrian mengganti identitasnya menjadi Evan Ramsey. Ia pun dititipkan di salah satu panti asuhan. Tentu saja dengan diriku sebagai seseorang yang selalu mengawasi ayahmu dari jauh.”
“Ayahmu kemudian menikah dengan seorang gadis yang merupakan salah satu anak yang berasal dari panti asuhan yang sama. Kau pasti mengetahui cerita tentang pertemuan mereka berdua, bukan?” Judith terlihat ragu, tetapi dirinya tetap menganggukkan kepalanya pelan.
“Semua kisah tentang ayah dan ibumu memang benar, kecuali tentang identitas ayahmu. Evan merahasiakan identitasnya termasuk pada ibumu karena banyak orang jahat yang mengincar ayahmu.” Amar terlihat menarik napasnya dalam dan memejamkan matanya sebentar, membuat Judith cukup gugup mendengar apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya.
“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Judith yang mulai tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.
Amar mengembuskan napasnya kasar dan menatap serius ke arah Judith. “Semua hal yang coba disembunyikan dengan baik tentu saja akan ketahuan. Ibumu mengetahui identitas Evan yang sebenarnya, mungkin kau merasakan ada hal yang aneh beberapa bulan sebelum ibumu meninggal. Evan dan Celine bertengkar hebat karena hal itu.”
Judith mencoba mengingat apa yang terjadi dua tahun yang lalu. Seketika ingatan tentang orang tuanya yang bertengkar hebat hampir setiap harinya memang benar. Hubungan tentang kedua orang tuanya sangat harmonis, tetapi beberapa bulan sebelum ibunya meninggal memang terlihat sangat kacau.
“Jangan bilang kecelakaan ibu disebabkan ia terlalu terpikirkan pada identitas ayah yang sebenarnya?” Judith mencoba menebak pikiran aneh yang tiba-tiba muncul.
Sang ibu sudah pasti kecewa karena lebih dari dua puluh tahun dibohongi oleh sang ayah. Lalu sang ibu harus kehilangan nyawanya karena kecelakaan. Ibunya pasti terlalu memikirkan dan merasa sangat kecewa sehingga tidak fokus dalam mengendarai mobil.
Akan tetapi, bukan anggukan dari Amar yang ia terima, melainkan gelengan kepala dari pria tua di hadapannya itu. Amar tiba-tiba mengeluarkan sebuah surat yang sudah terlipat dari dalam saku jaketnya. Diberikannya surat itu kepada Judith yang mana langsung dibaca oleh Judith saat itu juga.
“Celine meninggal bukan karena kecelakaan, tetapi ia dibunuh oleh para pembunuh bayaran. Ayahmu sengaja menutupi kasus kematian ibumu agar kau tidak terlalu terpukul akan kematiannya,” jelas Amar ketika Judith tengah membaca surat tentang kematian ibunya.
Betapa hancurnya Judith saat mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya. Ibunya yang malang. Judith tidak tahu harus bereaksi apa setelah mendengar semuanya. Yang Judith tahu saat ini, ia marah dan benci kepada ayahnya sendiri.
“Jangan membenci ayahmu karena itu bukan kesalahannya,” ucap Amar seolah bisa menebak pikiran Judith.
Bagaimana bisa Amar mengatakan bahwa semua yang terjadi pada hidup Judith adalah bukan kesalahan sang ayah. Andai saja sang ayah mau setidaknya sedikit terbuka dan percaya pada ibunya, kemungkinan ibunya masih hidup saat ini. Kemungkinan sang ibu masih bersama dan menemani Judith.
“Setelah kematian ayahmu, mereka sekarang sedang mengincar kau, Judith. Walau aku akan selalu melindungimu dari jauh, kau harus tetap berhati-hati pada apa yang terjadi di sekitarmu.” Amar kembali menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan sejak bertemu dengan Judith. “Balaskan dendam ayah dan kakekmu, Judith. Dekatilah musuhmu dan mendaftarlah ke akademi kepolisian.”
***

thearraaa
1 Pengikut · 1 Novel