Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak sore tak lantas mendinginkan udara di dalam ruang tamu megah itu. Mentari berdiri mematung di dekat jendela kaca setinggi langit-langit, meremas jarinya sendiri hingga buku-buku kuku itu memutih. Di meja kaca tengah ruangan, sebuah layar ponsel memancarkan kilau terang, menampilkan notifikasi aplikasi perbankan yang baru saja berbunyi.
Satu transferan lagi. Nominalnya fantastis, cukup untuk membeli sebuah mobil sedan baru, dan nama penerimanya tetap sama, tak pernah berubah selama delapan bulan terakhir: Savia.
"Kamu mengiriminya uang lagi, Mas?" Suara Mentari terdengar bergetar, memecah kesunyian yang mencekam.
Adrian yang sedang melonggarkan dasinya di atas sofa hanya menghela napas panjang. Pria itu memijat pangkal hidungnya, menyiratkan kelelahan yang nyata. "Mentari, tolong. Jangan mulai lagi malam ini. Mas baru saja pulang dari kantor dan kepala Mas mau pecah."
"Bicara, Adrian!" potong Mentari, suaranya naik satu oktaf. Ia memutar tubuh, menatap suaminya dengan mata yang mulai menggenang. "Dua ratus juta? Untuk apa? Itu bukan sekadar uang nafkah, Mas! Bahkan anak kalian baru berumur empat tahun. Kebutuhan apa yang menghabiskan uang sebanyak itu setiap bulan?"
"Itu urusan Mas dengan Savia," jawab Adrian dingin, tanpa berani menatap mata istrinya.
“Urusanmu dengannya? Lalu aku ini apa di rumah ini? Cuma pajangan?” batin Mentari menjerit. Dada wanita itu terasa dihantam bongkahan batu besar. Rasa sesak menggelembung, menuntut untuk dihempaskan.
"Aku istri kamu sekarang!" bentak Mentari, melangkah mendekati meja. Ia menunjuk layar ponsel Adrian yang masih menyala. "Aku berhak tahu ke mana uang suami aku mengalir! Jangan jadikan aku orang bodoh di rumahku sendiri!"
Adrian berdiri mendadak. Kursi jati di belakangnya terdorong kasar hingga menimbulkan bunyi derit tajam. "Jaga bicaramu, Mentari! Savia masih punya hak atas kehidupan Mas!"
"Hak apa?" Mentari tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipenuhi rasa pahit. "Hak untuk terus memerasmu? Atau hak untuk memastikan aku tetap merasa seperti benalu di pernikahan ini?"
"Bangsat, Mentari! Tutup mulutmu!" maki Adrian spontan, wajahnya memerah padam. Emosinya membumbung tinggi, mengikis habis kesabaran yang tersisa. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia! Jangan asal bicara kalau tidak tahu sejarahnya!"
Mentari terpaku. Kata makian itu menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Selama delapan bulan menikah, belum pernah sekalipun Adrian mengumpat di hadapannya.
"Ya, aku memang tidak tahu apa-apa!" bisik Mentari, suaranya parau. "Karena kamu tidak pernah mengizinkan aku tahu! Kamu selalu menyembunyikan dia di balik alasan 'tanggung jawab masa lalu', tapi ini bukan tanggung jawab, Mas. Ini gila!"
"Mentari, berhenti—"
"Tidak!" potong Mentari cepat, enggan memberi ruang bagi Adrian untuk berkelit. "Kamu pikir aku tidak dengar desas-desus di luar? Orang-orang di media sosial mulai membicarakan kita. Mereka bilang aku merebut kamu dari Savia. Mereka bilang kamu masih menafkahi Savia karena kamu belum bisa move on!"
"Biarkan saja mereka bicara apa!" potong Adrian, memotong kalimat Mentari dengan nada tak kalah keras.
"Bagaimana bisa biarkan?!" sergah Mentari lantang. Ia meremas pinggiran meja kaca. "Nama baikku dipertaruhkan di sini, Adrian! Aku dicap pelakor, sedangkan mantan istri agungmu itu disanjung seperti martir! Dan kamu? Kamu cuma diam dan terus mengiriminya uang!"
Ponsel di atas meja mendadak bergetar hebat. Nama Savia terpampang jelas di layarnya.
Pemandangan itu bagai minyak yang disiramkan ke atas kobaran api. Mentari tertawa getir melihat betapa cepatnya Adrian melirik ke arah ponsel tersebut.
"Angkat," tantang Mentari, menatap Adrian lurus-lurus. "Angkat ponsel itu dan katakan padanya di depan mukaku, kalau dia harus berhenti mengganggu suami orang!"
Adrian memalingkan wajah, menyambar ponselnya tanpa menjawab tantangan Mentari. "Mas harus angkat ini di luar. Ini penting."
"Mas!" jerit Mentari saat Adrian berbalik membelakanginya. "Kalau kamu melangkah keluar dari ruangan ini untuk mengangkat telepon dari wanita itu." Ia menggantung kalimatnya, berusaha menahan gumpalan tangis yang menyumbat tenggorokan. "jangan pernah balik ke kamar kita malam ini."
Langkah Adrian terhenti sejenak di ambang pintu. Bahunya menegang, dan ia tidak menoleh sedikit pun.
"Jangan anak-anak, Mentari," gumam Adrian pelan, dan berhawa dingin. "Kamu tidak akan suka jika tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Pria itu melangkah keluar, menutup pintu kaca ruang tamu dengan hempasan keras yang menggema ke seluruh penjuru rumah.
Brak!
Mentari luruh ke lantai yang dingin. Suara hujan di luar mendadak terdengar begitu bising, seolah merayakan kehancuran batinnya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, meresapi rasa dingin yang menjalar dari ubin porcelain hingga ke tulang rusuknya.
Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Mas? Rahasia apa yang membuatmu begitu ketakutan pada wanita itu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, menjelma menjadi teka-teki beracun. Mentari tahu, pernikahan yang baru seumur jagung ini bukan lagi soal mempertahankan cinta, melainkan tentang bertahan hidup di tengah perang dingin yang tak pernah ia pilih, dan malam itu, di bawah guyuran hujan kota yang lambat laun meredup, Mentari bersumpah tidak akan lagi menjadi bayangan yang pasrah dibodohi.
***
Mentari menyapu air matanya kasar, menyambar kunci mobil di atas meja. Langkah kakinya pasti, memburu Adrian yang masih berdiri di lorong dekat garasi.
"Mau ke mana kamu, Mentari?" cegat Adrian begitu sadar istrinya melintas.
"Mencari kebenaran," desis Mentari, matanya menatap tajam.
"Jangan gila!" Adrian menahan pergelangan tangan Mentari. "Ini sudah malam!"
"Yang gila itu kamu, Mas!" Mentari menghempaskan tangannya kuat-kuat.
Aku tak sudi lagi ditindas.
"Tolong, dengarkan Mas dulu—"
"Dengar apa lagi?" potong Mentari cepat. "Dengar kebohongan baru?"
"Ini demi keselamatan kita!" teriak Adrian frustrasi.
Mentari tertawa getir. "Keselamatan kita? Atau keselamatan simpanan rahasiamu dengan Savia?"
Tanpa menunggu jawaban, Mentari melangkah lebar menuju pintu keluar, meninggalkan Adrian yang terpaku membisu.