Malam di Kadipaten Madangkara merangkak lambat. Bulan purnama seolah tertelan gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah di atas atap-atap pendopo agung. Sunyi mencekam, tetapi di balik dinding-dinding kayu jati berukir relief suci, denyut kehidupan istana justru bergemuruh dalam ketakutan.
Di dalam kamar peristirahatan utama, Ki Demang Wirapati—penguasa sepuh yang disegani—terbaring lemah di atas ranjang kayu sawo matang. Napasnya tersengal, berat, dan berbau logam amis. Racun malam telah menjalar melampaui batas pertahanan tabib istana.
"Jangan mendekat, Raras," bisik Wirapati dengan suara serak, jemputannya yang keriput mencengkeram erat selimut kain tenun sutra. Matanya menatap tajam ke arah pintu geser yang terbuat dari kayu nangka.
Nyai Rarasati, selir kesayangan sang Demang, melangkah masuk tanpa suara. Kain jarik batik motif Sido Mukti yang ia kenakan bergesekan pelan, menciptakan irama monoton yang mengiris kesunyian. Senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum duka, melainkan seringai kemenangan yang disembunyikan di balik selendang tipis berwarna tembaga.
"Kesehatan Kanjeng Demang adalah prioritas hamba," ucap Rarasati lembut, dan nadanya dingin menusuk tulang. "Mengapa Kanjeng tampak begitu gelisah? Bukankah malam ini seharusnya menjadi malam yang damai bagi kita?"
Wirapati mendesis, berusaha menegakkan tubuhnya yang lumpuh separuh. "Kau perempuan licik. Racun di cawan teh itu ... kau yang membubuhkannya bersama Ki Patih, bukan?"
Rarasati berhenti tepat di sisi ranjang. Ia menunduk, menatap lelaki yang selama puluhan tahun menjadi pelindungnya tanpa secercah pun rasa iba.
"Kanjeng sudah terlalu tua untuk memahami arah angin," bisik Rarasati, sengaja merendahkan suaranya agar hanya terdengar oleh mereka berdua. "Nusantara ini butuh pemimpin baru yang berani melangkah, bukan pemimpin yang terus gemetar memikirkan kutukan sumpah leluhur."
"Kau salah, Raras!" seru Wirapati tertahan, napasnya semakin memburu. "Pusaka Bayangan Senja tidak akan pernah tunduk pada tangan yang berlumuran darah pengkhianatan! Di luar sana, dia sedang mengawasi kita."
"Dia?" Rarasati mengangkat alisnya, tertawa kecil. "Maksud Kanjeng si pemburu bayaran yang sudah lima tahun diusir dari tanah ini? Arya? Jangan bermimpi, Kanjeng. Ia tidak akan sempat menyelamatkan siapa pun, bahkan dirinya sendiri."
Tiba-tiba, suara dentang lonceng perunggu berbunyi nyaring dari garda depan istana. Klonceng bahaya!
Rarasati tertegun. Senyum di wajahnya memudar seketika. "Suara apa itu?"
Sebelum perempuan itu sempat berbalik, jendela besar kamar berderit terbuka, membawa serta embusan angin malam yang membawa aroma hujan dan darah segar.
Seorang lelaki berdiri tegak di atas ambang jendela. Jubah hitam panjangnya basah oleh embun, dan sebilah pedang ramping terselip rapi di pinggangnya. Wajahnya separuh tersembunyi di balik kerudung kain kelam, tetapi sepasang mata tajamnya menghujam lurus ke arah Rarasati tanpa keraguan.
"Kau." Rarasati mundur setengah langkah, napasnya tercekat. "Arya?"
Arya melangkah masuk tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun di atas lantai papan kayu. Langkahnya tenang, tetapi setiap detik kehadirannya memenuhi ruangan dengan tekanan udara yang menyesakkan.
"Kau terlambat lima tahun untuk merayakan kematianku, Nyai." Suara Arya rendah, berat, dan menggema di sudut-sudut kamar.
Rarasati menggigit bibirnya, mencoba menutupi kepanikan yang mulai merayap di dadanya. Ia segera berteriak memanggil para pengawal. "Prajurit! Tangkap penyusup ini! Bunuh dia sekarang juga!"
Pintu kamar mendobrak terbuka. Tiga orang prajurit pengawal pribadi berzirah kulit tebal dan membawa tombak bermata ganda menerobos masuk dengan wajah beringas.
"Habisi dia!" perintah Rarasati sambil menunjuk ke arah Arya.
Arya sama sekali tidak bergeming. Ia melirik sekilas ke arah Ki Demang Wirapati yang terbaring sekarat, lalu kembali menatap tiga prajurit yang kini mengurungnya.
"Kalian memilih jalan yang salah di malam yang buruk," gumam Arya pelan.
Prajurit pertama menerjang maju dengan tusukan tombak mengarah tepat ke jantung Arya. Gerakan itu cepat, tetapi bagi Arya, itu tampak seperti gerakan lambat di dalam air.
Screett.
Tanpa menarik pedangnya sepenuhnya dari sarung, Arya menangkis ujung tombak menggunakan gagang pedang, membelokkan arah serangan ke samping, lalu menghantamkan siku kanannya ke dada prajurit tersebut. Prajurit itu terpental hebat, menabrak lemari kayu hingga pecah berkeping-keping.
"Tahan! Jangan biarkan dia bergerak!" seru prajurit kedua sambil mengayunkan parang panjang.
"Kalian hanya budak dari intrik yang lebih besar," balas Arya dingin, melompat ringan menghindari tebasan, lalu mendarat tepat di belakang prajurit kedua.
Bugh!
Sebuah tendangan telak di tengkuk membuat prajurit kedua pingsan seketika sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Prajurit ketiga, yang tersisa, gemetar hebat. Tombak di tangannya bergetar liar. Ia menatap rekan-rekannya yang sudah tak berdaya, lalu menatap Arya yang kini berdiri hanya berjarak dua langkah darinya.
"Maju, atau pulanglah malam ini membawa keluargamu?" tanya Arya tajam, matanya menyipit menguji mental lawan.
Prajurit itu menjatuhkan tombaknya, berlutut sambil menyerah. "Ampun... ampun, Tuan Muda. Kami hanya menjalankan perintah Ki Patih."
Di sudut ranjang, Ki Demang Wirapati membuka matanya sedikit lebih lebar. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengulurkan tangan yang gemetar ke arah Arya.
"Arya, anakku," lirih Wirapati terbata-bata. "Pusaka itu jangan biarkan jatuh ke tangan mereka."
Arya mendekati pembaringan sang ayah angkat. Ia berlutut, menatap wajah sepuh yang dulu mengajarinya ilmu pedang dan kehormatan hidup.
"Aku pulang, Ayah," kata Arya lembut, kontras dengan suaranya yang tadi mengancam. "Aku tidak akan pergi sebelum semua rahasia malam ini terungkap."
Rarasati, memanfaatkan situasi saat perhatian Arya terpusat pada Wirapati, perlahan meraba belati beracun yang terselip di balik ikat pinggangnya. Matanya memerah penuh kebencian.
"Kau tidak akan pernah keluar dari istana ini hidup-hidup, Arya!" teriak Rarasati histeris, lalu melompat menerjang dengan belati terhunus ke punggung Arya.
Arya tidak menoleh. Tangan kirinya bergerak cepat bagai kilat menyambar pergelangan tangan Rarasati, memutar sendinya hingga belati tersebut terlepas dan berdenting jatuh ke lantai.
Prang!
Rarasati memekik kesakitan saat Arya membalikkan tubuhnya dan mencengkeram kerah bajunya dengan kuat, memaksa perempuan itu berlutut tepat di samping ranjang Ki Demang Wirapati.
"Permainan baru saja dimulai, Nyai," bisik Arya tepat di telinga Rarasati, membuat darah perempuan itu membeku seketika. "Katakan padaku, di mana Ki Patih menyembunyikan dokumen rahasia kerajaan?"
Rarasati mendengkus, mencoba mempertahankan harga dirinya meski keringat dingin membasahi pelipisnya. "Kau pikir aku akan memberitahukannya semudah itu?"
Arya tersenyum tipis, lalu melirik ke arah jendela di mana bayangan-bayangan prajurit tambahan mulai terlihat berkumpul di halaman luar.
"Kau tidak punya pilihan lain," jawab Arya tenang. "Karena malam ini, bayangan-bayangan Nusantara akan menuntut keadilan.