Kabut pagi menebal di kaki Lembah Sembilan Gerbang. Udara berembus lembap, membawa aroma tanah basah dan daun tua yang gugur di antara akar pepohonan. Arga berdiri di bibir tebing, memandangi lembah yang seakan memanggil namanya dari kejauhan.
“Arga, kau yakin mau melanjutkan ini?” Suara Damar memecah keheningan. Wajahnya tampak khawatir, sementara tangannya menggenggam erat peta yang sudah robek di ujungnya.
Arga menatap lembah itu dalam-dalam. “Ayahku hilang di sana, Mar. Kalau aku berhenti sekarang, aku tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Saka, yang sejak tadi duduk di atas batu besar, menguap pelan. “Kau bicara seolah lembah itu cuma jalan setapak ke pasar. Orang-orang bilang siapa pun yang masuk tak pernah kembali.”
“Kalau begitu,” sela Nisa sambil menepuk debu di lutut celananya, “kita pastikan jadi yang pertama keluar dengan selamat.” Ia tersenyum tipis, tapi Arga tahu, di balik senyum itu ada rasa takut yang sama besar dengan tekadnya.
Langit berwarna abu-abu pucat. Burung-burung gagak melintas, terbang rendah seolah membawa pertanda. Arga menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Kita mulai sebelum matahari naik. Kabut ini bisa menutupi jejak kita.”
“Jejak dari siapa?” Damar bertanya, memiringkan kepala.
“Dari sesuatu yang mungkin mengawasi kita,” jawab Arga lirih.
Mereka berpandangan. Tak ada yang menanggapi. Hanya suara daun bergesek yang terdengar seperti bisikan samar.
Langkah pertama mereka menuruni lembah terasa berat. Akar-akar menjalar seperti ular tidur, dan kabut semakin pekat hingga jarak pandang tak lebih dari sepuluh langkah.
Saka menyalakan lentera minyak kecil. “Kalau aku tahu lembahnya sesuram ini, aku bawa saja ayam panggang dan pulang cepat.”
Nisa tertawa kecil. “Kau selalu bercanda di waktu yang salah.”
“Itu caraku menenangkan diri.” Saka mengangkat bahu. “Kalau aku diam, tandanya aku takut.”
Damar menyusuri jalan di depan, membaca peta dengan lampu lentera yang bergoyang.
“Menurut catatan ayahmu, Arga, Gerbang Pertama dijaga oleh sesuatu yang disebut Penjaga Bayang. Tidak dijelaskan bentuknya.”
“Penjaga Bayang?” Nisa mengulang dengan nada curiga. “Maksudmu seperti makhluk hidup?”
“Entahlah.” Damar menelan ludah. “Mungkin bayangan dari mereka yang gagal keluar.”
Arga terdiam. Hatinya berdebar. Ia teringat surat terakhir dari ayahnya yang ditemukan di ruang kerja. “Jika kau membaca ini, berarti aku belum kembali dari lembah. Jangan datang mencariku. Lembah itu tak hanya menyimpan rahasia, tapi juga ujian bagi hati.”
Arga datang juga.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di dataran rendah. Sebuah batu hitam berdiri tegak di tengah kabut, setinggi dua manusia dewasa. Pada permukaannya terukir simbol berbentuk lingkaran dengan sembilan titik di sekelilingnya.
“Ini pasti tanda Gerbang Pertama,” ujar Damar. Ia mendekat, mengusap permukaan batu itu.
“Kenapa terasa hangat?”
Arga ikut mendekat. Saat jarinya menyentuh batu, kilatan cahaya biru muncul sekilas dari ukiran. Mereka mundur serentak.
“Apa yang kau lakukan, Arga?” tanya Saka dengan nada panik.
“Aku hanya menyentuhnya. Batu ini bereaksi.”
Tiba-tiba kabut di sekitar mereka berputar, menciptakan pusaran kecil. Dari dalamnya muncul bayangan samar, tinggi, kurus, dan bergerak lambat seperti asap.
Nisa menjerit pelan. “Itu apa?”
“Penjaga Bayang,” gumam Arga tanpa sadar.
Makhluk itu tak bersuara, tapi setiap kali ia bergerak, udara menjadi lebih dingin. Lalu terdengar bisikan menggema di telinga mereka, "Siapa yang berani melangkah ke gerbang pertama?"
Arga menatap teman-temannya. “Aku Arga, putra Farel. Aku datang untuk mencari kebenaran.”
Bayangan itu menunduk sedikit. “Kebenaran tak selalu bisa ditanggung oleh yang mencarinya.”
“Kami siap menanggung apa pun,” sahut Nisa dengan nada gemetar, tapi tegas.
Bayangan itu mendekat, berhenti tepat di hadapan mereka. Lentera Saka bergetar, nyalanya redup.
"Jika ingin lewat.” Bisikan itu semakin dalam. “Bayarannya bukan darah, tapi keberanian."
Arga menelan ludah. “Apa maksudmu?”
"Buktikan bahwa hatimu tidak dikuasai oleh takut. Langkahkan kaki ke lingkaran itu, dan jangan menoleh ke belakang."
Damar menatap Arga, jelas ketakutan. “Kalau ini jebakan?”
“Kalau kita tak coba, kita tak akan tahu,” jawab Arga pelan, lalu menatap ketiga sahabatnya.
“Kalian bisa menunggu di sini. Aku—”
Belum selesai ia berbicara, Nisa memotong, “Jangan berpikir meninggalkan kami. Kalau kau maju, kami ikut.”
Saka menambahkan, “Setidaknya kalau kita hilang, kita hilang bersama.”
Arga tersenyum tipis, lalu melangkah ke dalam lingkaran batu. Kabut mulai berputar semakin cepat, dan suara lembah bergemuruh seperti ribuan langkah di kejauhan.
Saat langkahnya memasuki lingkaran, bayangan itu memudar, berganti cahaya lembut yang melingkupi mereka. Namun, di detik berikutnya, suara samar terdengar di benak Arga, suara ayahnya.
"Anakku, setiap gerbang bukan untuk dilewati, tapi untuk dipahami."
Arga tertegun. Ia mencoba menoleh, tapi ingatan akan pesan makhluk tadi menahannya. Perlahan, lingkaran batu memancarkan sinar yang menelan kabut.
Ketika cahaya mereda, mereka berdiri di tempat yang berbeda. Langit kini berwarna merah keemasan, dan di depan mereka terbentang jalan batu menuju lembah berikutnya. Di kejauhan, tampak sembilan menara batu berdiri seperti penjaga kuno.
Saka menatap sekeliling dengan wajah bingung. “Kita berpindah tempat?”
“Sepertinya,” jawab Damar lirih.
“Gerbang Pertama sudah terbuka.”
Nisa menatap Arga. “Apa kau dengar sesuatu tadi?”
Arga menunduk sejenak. “Suara ayahku.”
Semua terdiam. Hanya angin yang menjawab, membawa aroma lembah yang lebih dalam.
Dalam hatinya, Arga tahu perjalanan baru saja dimulai dan setiap gerbang bukan hanya ujian raga, tapi juga ujian hati.
Ia menatap ke depan, memantapkan langkah. Keberanian bukan berarti tanpa takut, batinnya, tapi tetap melangkah meski ketakutan itu ada.
Mereka pun berjalan menembus cahaya senja, meninggalkan Gerbang Pertama dengan tekad yang belum pernah sekuat ini.