


oleh sweetchocosin · 84 Bab
Kami dibesarkan untuk bersandiwara—aku dituntut menjadi ahli waris yang santun, sedangkan ia diharuskan tampil layaknya primadona. Orang tua kami menyebutnya tanggung jawab, sedangkan kami menyebutnya bertahan hidup. Malam itu, di bawah cahaya remang-remang pesta, kami melupakan isi naskah yang seharusnya sudah berada di luar kepala. Semesta seolah menyusut ketika bibirku merasakan esensi manisnya, membuatku mengabaikan segala prinsip yang sejak dulu melingkari leherku. Dia adalah penyimpangan pertamaku—dan aku menyukainya. Seminggu kemudian, secara mengejutkan, orang tua kami menikah, dan dunia bertepuk tangan. Tepat saat itulah kami belajar bahwa beberapa kebohongan tidak seharusnya diceritakan, tetapi hanya perlu dijalani. Dengan indah.
Hai, aku—atau kau?—sepuluh tahun lagi.
Kalau kau bisa membaca surat ini, itu artinya kau selamat. Kuharap.
Dengar, aku tahu kau tidak selemah itu hingga memutuskan mengakhiri hidupmu, meski sebenarnya aku agak tidak yakin bahwa sebenarnya kau sanggup.
Bagaimana aku bisa tahu? Mari kita anggap sebagai ... firasat? Aku adalah kau di masa lalu, sialan. Tentu saja aku akan menjadi orang pertama yang paling mengerti dirimu. Dan, ugh, bisakah kau bersikap lembut pada orang lain, kumohon?
Di tempat mana pun nantinya dirimu berada sepuluh tahun ke depan, kuharap, kau tidak lagi kesusahan dalam bersosialisasi. Perbaiki kontrol emosimu juga. Tidak semua orang tahu seperti apa busuknya keluargamu, Ayu. Mereka seharusnya tidak pantas menerima kerutan di dahimu.
Oh, kuharap kau tidak berubah menjadi menyebalkan. Ibu pasti menginginkanmu tumbuh menjadi gadis seanggun dan seagung dirinya. Meski kau benci sepatu berhak, kau harus terbiasa. Pria jaman sekarang sangat dangkal, sayang. Kau harus bersikap feminin kalau ingin dilirik.
Ingat kalimat pembuka novel Pride and Prejudice yang kau baca saat masih SMP? Itu novel pertama dan terakhir yang pernah kau baca. Entah kalau sepuluh tahun lagi kau lebih suka membaca novel daripada komik seperti sekarang.
“Merupakan kebenaran yang diakui secara universal, bahwa seorang pria lajang yang memiliki kekayaan besar, pasti menginginkan seorang istri.”
Dan kau harus tahu, Ayah kemungkinan tidak lagi membiayaimu setelah kau lulus kuliah. Dia sangat membenci mantan istrinya, dan kau sendiri merupakan duplikat wanita itu. Kalau aku menjadi Ayah, mungkin aku bahkan tidak akan sudi mengeluarkan satu persen pun uang untuk kau hambur-hamburkan.
Aku menulis surat ini beberapa jam sebelum malam inagurasi mahasiswa baru Universitas Bestari dimulai. Sebuah langkah awal dalam menentukan masa depanku nantinya. Aku tidak akan mencari beasiswa, karena kalau begitu, Ayah tidak akan mengirimiku uang. Bagaimanapun aku anaknya, kan? Darah dagingnya. Dia seharusnya mengunjungiku, atau paling tidak mengirim pesan bahwa keberadaanku bukanlah sebuah kesalahan.
Kuharap—kenapa ada terlalu banyak harapan di surat ini, ya?—aku tidak lagi menjadi bebannya sepuluh tahun lagi. Kau bisa membantuku mewujudkannya, kan? Aku mencintai Ayah. Bahkan mungkin melebihi perasaanku pada Ibu. Tapi apa yang dilakukan ibuku benar-benar keterlaluan.
Hubunganku dengan Ayah sudah terlalu renggang dan mungkin agak mustahil untuk bisa diselamatkan. Aku bahkan tidak tahu harus memulainya dari mana kalau sewaktu-waktu kami tidak sengaja berpapasan. Ibu sudah bertekad untuk tidak meninggalkan kota ini meski keretakan keluarga kami nyaris menghancurkan reputasinya sebagai penyanyi opera.
Ada banyak tempat di dunia ini yang belum pernah kau kunjungi. Atau makanan aneh-aneh yang entah mengancam keselamatan lambungku, atau kesejahteraan ginjalmu. Pokoknya, hiduplah sebagaimana mestinya. Jangan pernah berhenti mencoba untuk tersenyum.
Aku tahu kau kehilangan alasan melengkungkan bibirmu setelah apa yang terjadi, tapi aku benar-benar ingin melihatnya lagi setidaknya sepuluh tahun mendatang. Apa kau bisa melakukannya?
Dengar, mungkin ini terkesan sembrono, tapi kupikir malam inagurasi adalah momen yang tepat untuk melepaskan diri, bukan begitu? Akan ada banyak mahasiswa baru yang berkumpul, kakak senior, bahkan alumni yang pasti berasal dari keluarga berada. Ini pesta Universitas Bestari, Ayu. Bisa kau bayangkan ada berapa banyak calon orang-orang berpengaruh di masa depan berkumpul di tempat itu?
Aku tidak pernah menganggap diriku jelek (kuharap, dengan amat sangat, hal itu tidak berubah dalam sepuluh tahun ke depan) meski harus kuakui pakaian yang kukenakan tidak lebih dari sekadar kaos polos dan celana jeans.
Tapi aku memiliki wajah Ibu. Dan Ibu punya banyak klub penggemar khusus yang kebanyakan isinya adalah pria mata keranjang. Walau seharusnya kita tidak boleh bangga akan hal itu, aku yakin kau setuju untuk memanfaatkan tampang kita. Benar, kan?
Ya, kan?
Astaga, mengapa tanganku menjadi sangat dingin? Aku ingin sekali menjadi liar meski hanya satu kali, satu malam, tapi kenapa rasanya sulit? Seluruh perempuan di kelasku sudah pernah berciuman. Walau ada yang belum pernah, mereka sudah melakukannya saat malam perpisahan dengan pasangan dansa mereka.
Sial, mengapa pula aku terkena flu dan tidak ikut merayakannya? Aku seharusnya tidak membeli es campur saat langit sedang mengamuk. Sekarang, aku harus menanggung konsekuensi tidak akan merasakan ciuman pertama sebelum menginjak dua puluh tahun.
Oh, tolong katakan sepuluh tahun lagi kau sudah berciuman.
Sudah, kan?
Aku yakin kau mungkin belum menikah—karena siapa yang ingin menikah setelah satu-satunya pernikahan yang tumbuh bersamamu bukan sesuatu yang layak dijadikan patokan?—tapi setidaknya kau harus melepaskan ciuman pertamamu. Kau bisa mati sebagai perawan tua, tapi bibirmu ....
Sialan, apa sih yang kubicarakan? Tidak mungkin aku menulis hal-hal mesum dalam sebuah surat yang kutujukan untuk diriku sendiri sepuluh tahun ke depan.
Ayu, seandainya kau membaca surat ini, apakah kau akan tertawa, atau malah menangis? Aku benci menangis, Ayu. Kau tidak boleh melakukannya di atas kertas yang sudah repot-repot kutulis untukmu. Dan camkan kata-kataku, kau tidak boleh mengencani siapa pun.
Kau boleh mencium banyak pria, tapi jangan pernah melibatkan perasaan, oke? Kalau kau sempat merasa ragu dengan kalimat itu, coba ingat-ingat lagi bagaimana akhir dari cerita orang tua kita. Cinta itu fana, sayang. Tidak pernah abadi. Ada berapa banyak keluarga bahagia yang kau kenal? (Oh, bagaimana bisa aku lupa kalau kita tidak pernah punya teman.)
Baiklah, lupakan pertanyaanku tadi. Coba kau pikirkan berapa banyak pasangan yang harus bersandiwara di depan kamera hanya untuk menjaga citra sebagai keluarga harmonis? Cinta memang perasaan yang nyata, tapi tentunya kau tidak akan dengan tolol merelakan hidupmu untuk emosi dangkal yang tidak awet sepertinya, kan?
Apalagi pejantan dari spesies kita bukan makhluk yang punya banyak keunggulan. Mereka semua konyol dan bodoh. Otak mereka terlalu lembek dan tidak tajam. Kalau sepuluh tahun lagi pada akhirnya kau berakhir bersama salah satu di antara mereka, aku pasti akan—akan—sial, bagaimana caranya aku menghukum diriku sendiri di sepuluh tahun kemudian?
Pokoknya, kau harus berhati-hati. Aku juga akan berhati-hati nanti malam. Ciuman harusnya tidak akan sampai membuatku terjangkit penyakit kusta, kan? Sial, mengapa aku jadi memikirkan hal-hal menakutkan? Padahal aku sudah menyusun rencana ini sejak jauh-jauh hari.
Mengintai, mendekat, berbicara seadanya, berciuman. Dan pergi setelahnya. Tanpa menoleh ke belakang. Itu seharusnya tidak terlalu sulit, benar?
Aku bahkan sudah menonton banyak video tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap di depan seorang pria. Aku sudah berusaha keras berlatih untuk bersikap bodoh di depan cermin, membayangkan macam-macam percakapan yang mungkin akan terjadi sebelum acara ciuman itu terjadi.
Berpura-pura tidak berotak adalah sesuatu yang sulit dilakukan, kau tahu? Dan aku melakukannya hanya untuk satu ciuman. Satu ciuman, Ayu. Satu ciuman.
Ugh, kalau aku tidak dibesarkan dengan seluruh adat istiadat dan norma masyarakat kalangan atas, mungkin aku akan langsung memilih pria dengan acak dan menciumnya tanpa basa-basi. Apalah dayaku kalau seluruh tata krama itu terlalu melekat bahkan meski aku membencinya sampai ke sumsum tulang belakang.
Oh, sampai mana kita tadi? Hm, kurasa kita tidak sampai mana-mana. Bagaimana kalau kau memberiku dukungan dari tempatmu agar aku bisa melakukan misi ini dengan baik? Aku melakukannya untuk kita berdua, kau tahu itu. Meski seharusnya akulah yang memberimu dukungan atas apa yang akan kau lakukan di masa depan, aku benar-benar membayangkan kalau kau tersenyum penuh arti kepadaku saat ini.
Sepertinya sudah waktunya aku pergi.
Hai, Ayu. Aku mungkin belum pernah bahagia, tapi aku di masa depan, paling tidak sepuluh tahun mendatang, akan merasakannya, kan?
Aku ingin kau menjadi pribadi yang sekuat baja, sehingga orang-orang akan keseleo saat mencoba menginjak-injakmu.
Dan lebih dari apa pun, kuharap kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Kau tahu kau adalah satu-satunya yang kucintai, kan?
Dari dirimu, sepuluh tahun yang lalu.

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel