


oleh penaku · 21 Bab
Aku tak menyangka, sebuah ungkapan cinta dapat berubah menjadi bilah tajam yang dapat melukai hati seseorang. Darahnya bahkan menempel dan sulit dihilangkan. Ini kisah tentangku yang tersayat luka, tentang Danudara yang dihantui trauma, tentang Sakalingga yang menabur derita, tentang Betari yang hancur, tentang Yudayana yang kecewa, tentang Senandung yang mengkhianati, tentang Sagara yang tak ingin gagal lagi, dan tentang Jenggala yang akhirnya menderita dalam penyesalan. Semua, masih jelas terangkum dalam memori ingatanku.
Hal paling membahagiakan dalam hidupku adalah ketika pada akhirnya, seseorang yang pernah berjanji untuk selalu setia memilih berdiri di sisiku, menikahiku, dan menjalani kehidupan bersamaku tanpa sekat. Bebas sebagai dua insan yang saling memiliki, terhanyut dalam hari-hari dipenuhi cinta dan kebersamaan.
Mimpi yang semula sama sekali tidak kupercaya akhirnya menjelma nyata. Lahir di tengah berbagai perbedaan yang kami miliki. Tentang usia, tentang sifat, dan tentang kebiasaan yang membentuk diri masing-masing. Namun, tak pernah sekali pun aku menganggap perbedaan tersebut sebagai penghalang. Terlebih lagi, sebagian besar orang yang mengenal kami kerap menyebut bahwa kami adalah takdir yang tak terpisahkan, karena wajah kami yang begitu serupa, meski usiaku terpaut empat tahun lebih tua darinya.
Lagi pula, tiga tahun kebersamaan yang kami jalani sebelumnya berlangsung dengan baik, tanpa persoalan berarti. Dari sanalah aku kian yakin bahwa hidupku menjadi jauh lebih bahagia dan berwarna ketika bersamanya, kekasih yang kini telah menjadi suamiku selama 364 hari.
Aku bahkan menghitung hari demi hari yang kami lalui sejak pernikahan, sebab aku tak ingin melewatkan satu pun hal tentang dirinya, tentang pria yang kucintai sepenuh hati dan tentunya, dalam perjalanan itu, aku belajar bukan hanya untuk terus menumbuhkan cinta, tetapi juga berusaha menjadi istri yang baik baginya.
Di sela-sela kesibukan pekerjaanku, aku tetap menyempatkan diri menyiapkan makanan yang kuolah dengan tanganku sendiri, sebagai wujud perhatian dan kepedulian, agar ia tak pernah kekurangan kehangatan dariku.
"Hari ini kamu mau aku masakin apa, Sayang?" tanyaku.
Itu adalah pertanyaan yang selalu kuulang setiap pagi. Sebuah kebiasaan kecil sebelum kami berpisah sementara menuju kesibukan masing-masing.
“Sastra, aku ingin …,” jawabnya ragu, seolah mencari kata yang tepat.
“Ingin makan apa? Bingung, ya? Mau aku rekomendasiin menu gak? Tongseng daging? Udang asam manis? Atau sayur asem sama ikan asin goreng kesukaan kamu?” ujarku sambil menggoda, jemariku menyentuh ujung hidungnya dengan lembut. “Ayo, pilih satu.”
Ia terdiam sejenak, lalu menatapku dengan wajah yang tak lagi menyimpan senyum hangat.
“Aku ingin kita bercerai, Sas.”
Bagai badai yang datang tanpa angin pembuka, kalimat itu menghantam tepat di dadaku. Selama beberapa detik, aku hanya mampu termangu. Tatapanku lurus tertambat pada Jenggala, tanpa daya untuk sekadar mengedipkan mata.
“Mari kita bercerai, Sas,” ucapnya kembali, kali ini dengan nada yang lebih mantap, seolah ajakan itu hanyalah perkara ringan dan wajar, diucapkan di tengah suasana damai yang selama ini menaungi kehidupan kami.
Kedua sudut bibirku refleks melebar. Tawa singkat bahkan lolos begitu saja, menepis keseriusan kalimat itu, sebab aku memilih menganggapnya sebagai bagian dari kejutan yang disiapkannya menjelang hari anniversary pernikahan kami yang jatuh esok hari.
“Kalau mau kasih kejutan itu minimal siapin kado dulu dong, Sayang. Terus bukan hari ini juga, aniv kita itu masih sehari lagi. Kamu lupa ya?” ucapku, berusaha menampilkan ekspresi seceria mungkin bahkan ketika Jenggala sama sekali tak mengubah raut serius di wajahnya.
“Aku bukan lagi kasih kejutan, Sas. Aku memang beneran ngajak kamu bercerai.”
Kalimat itu menampar senyumanku tanpa ampun, menghapusnya hingga tak menyisakan jejak apa pun di wajahku. Keseriusan yang sama pun kini kuberikan kembali kepadanya, tepat pada kedua matanya yang justru beralih dariku.
“Kenapa tiba-tiba?” tanyaku datar, berusaha berdiri tegak di hadapan kenyataan pahit yang baru saja kudengar.
“Sebenarnya aku udah mikirin ini sejak beberapa minggu yang lalu, tapi baru hari ini aku punya keberanian buat ngomong ke kamu,” balasnya.
“Aku mencintai kamu, Gala.”
Ruangan itu seketika diliputi keheningan. Jenggala tak membalas ungkapan cintaku seperti biasanya. Ia diam tanpa ekspresi, tanpa raut bersalah sedikit pun, seakan kata-kataku tak sampai padanya.
“Aku nunggu ajakan menikah dari kamu selama bertahun-tahun, tapi bahkan aku gak perlu nunggu setahun buat nerima ajakan cerai dari kamu?”
Jenggala tetap diam.
Aku tak habis pikir memandangnya. Entah setan apa yang kini menguasai benaknya tetapi, ucapannya sama sekali bukan permainan. Ia mengatakannya dengan kesadaran penuh, dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mengakhiri pernikahan kami yang bahkan belum genap berusia satu tahun.
Sebenarnya, aku sangat mencintai Jenggala. Aku tak ingin berpisah, dan masih ingin selalu berada di sisinya. Namun, kata-kataku tiba-tiba terasa terbatas, tak mampu terucap, bahkan sekadar untuk mencoba mempertahankannya. Mungkin karena sikapnya yang terlalu datar, atau ajakan bercerainya yang datang begitu mendadak, sehingga aku masih belum mampu mencerna semuanya dengan utuh, apalagi merangkai kata-kata untuk membujuknya.
Hanya genangan air mataku yang mampu mengungkap kejujuran hatiku yang terluka saat ini. Berharap bahwa air mata itu juga sanggup meluluhkan Jenggala, membuatnya tetap bertahan di sisiku.
"Kamu gak perlu khawatir tentang apa pun, Sas, karena aku yang akan angkat kaki dari rumah ini dan aku yang akan mengurus perceraian kita sampai selesai. Maaf, aku membuatmu kecewa," ucap Jenggala seraya bangkit dari duduknya.
Ia lalu meraih sebuah koper yang sudah dipersiapkan untuk ia bawa pergi bersamanya.
"Aku gak akan mempertanyakan alasan kamu melakukan ini sama aku, Gala. Aku akan melupakan semua yang kamu katakan barusan kalau kamu mau batalin niat kamu buat ninggalin aku. Kita jalani lagi seperti biasanya, atau kalau perlu kita mulai lagi semua dari awal, ya. Aku akan perbaiki sikapku yang mungkin masih kurang buat kamu. Jangan pergi, Gala. Aku mohon!"
Aku mencengkeram lengannya, berharap genggaman ini bisa menahan badai yang akan menghancurkan hidupku.
Jenggala sempat berhenti sejenak, menoleh pada tanganku yang menahan lengannya. Ada jeda sesaat hingga aku berharap sekali jika kata-kataku mampu meluluhkan hatinya. Namun, dengan dingin ia menyingkirkan lenganku. Sebuah sentakan yang terasa seperti pecahan kaca menusuk ke dadaku. Ia kembali melangkah menuju pintu utama rumah kami.
"Kalau kamu benar-benar keluar dari pintu itu, jangan pernah berharap lagi untuk kita bisa kembali seperti dulu, Gala. Sekeras apa pun nanti penyesalan itu datang dari kamu, aku gak akan menerimanya. Sama halnya seperti yang kamu lakukan sekarang, aku juga akan mempertahankan keegoisanku, meskipun saat itu aku masih merasakan cinta yang sama seperti sekarang!"
Setiap kata yang keluar dari mulutnya menambah lapisan api yang membakar hatiku. Aku merasakan kehilangan yang tak bisa digambarkan, seperti bagian dari diriku ditarik pergi bersamanya.
Satu langkah terakhirnya membuat semua pertahanan yang kubangun hancur berkeping-keping.
Tangisku meledak, tak bisa lagi kubendung. Suara itu menggema di rumah yang kini menjadi saksi bisu kesedihan yang begitu pekat. Air mataku mengalir deras, menenggelamkan segala sisa ketenangan yang kupunya.

penaku
4 Pengikut · 4 Novel