“Jangan bilang kamu lupa membawa jaket lagi, Indira? Angin di kota pesisir ini terkenal suka menusuk tulang kalau malam, dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk melihatmu bersin-bersin besok pagi di galeri.”
Suara bariton yang hangat itu mengalun lembut di tengah deru angin laut yang berbisik di sela-sela jembatan kayu. Indira, yang sedang asyik membenahi letak syal rajut di lehernya, sontak menoleh.
Ia mendapati James sudah berdiri tepat di sampingnya, membawa dua cangkir kertas berisi cokelat panas yang mengepulkan uap tipis ke udara malam. Aroma manis cokelat berpadu sempurna dengan asinnya udara laut, menciptakan sensasi nyaman yang seketika merayap ke dalam dada Indira.
Indira mendengkus pelan, meski bibirnya tak kuasa menahan senyum simpul yang terbit begitu saja.
“Aku bukan anak kecil lagi, James. Aku tahu kapan harus melindungi diriku sendiri. Lagi pula, jaketku ada di dalam mobil, tersimpan rapi di kursi belakang,” balas Indira dengan nada jenaka, pura-pura merajuk sambil melipat kedua tangan di depan dada.
James terkekeh pelan. Tawanya renyah, sebuah suara yang selalu berhasil membuat debar jantung Indira berirama sedikit lebih cepat dari biasanya. Pria berpostur tegap itu menyerahkan salah satu cangkir hangat kepada Indira, sementara jemari hangat mereka sempat bersentuhan sejenak.
Sentuhan sederhana itu selalu berhasil mengirimkan sengatan halus yang menggelitik kulit, sebuah kehangatan instan yang mengalahkan dinginnya malam di kota kecil tersebut.
“Bagi seseorang yang sering melupakan kunci rumah dan kerap meninggalkan buku sketsanya di kafe, argumen ‘bukan anak kecil’ itu sama sekali tidak meyakinkan, Nona Indira,” goda James telak, matanya yang berwarna cokelat gelap memantulkan binar jenaka di bawah temaram lampu jalan pesisir.
Indira hanya bisa tertawa kecil, menerima cangkir cokelat panas tersebut dan membiarkan uap hangatnya menghiasi ujung hidungnya. Malam ini, sekali lagi, Indira merasakan sebuah ketenangan yang absolut. Kota kecil tempat mereka tinggal menawarkan ritme hidup yang lambat, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk ambisius kota metropolitan.
Di tempat inilah, di antara deretan bangunan tua berarsitektur klasik, jalanan berbatu yang bersih, serta deburan ombak yang tenang di ujung cakrawala, Indira membangun dunianya yang sederhana, dan di pusat dunianya yang tenang itu, berdiri sosok James.
Hari-hari Indira belakangan ini terasa begitu sempurna, seolah dirajut dari benang-benang kebahagiaan yang tak pernah putus.
Pagi hari dimulai dengan secangkir teh chamomile di depan toko bukunya, disusul oleh kunjungan-kunjungan kecil dari James saat jam istirahat tiba. Pria itu selalu membawa sesuatu yang manis, entah sepotong pai apel hangat dari toko roti langganan atau sekadar setangkai bunga liar yang dipetiknya di pinggir jalan. James adalah definisi dari ketulusan yang menjelma menjadi manusia. Perhatiannya tidak pernah terasa berlebihan atau dibuat-buat, semuanya mengalir begitu natural, seolah keberadaan Indira adalah hal paling berharga yang harus dijaga dengan segenap jiwa.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kayu yang membentang di sepanjang garis pantai. Suasana malam itu begitu sepi, hanya ditemani oleh suara langkah kaki mereka yang bergesekan dengan papan kayu serta gelegar ombak yang menghantam karang di kejauhan. Kota kecil ini sedang tertidur lelap, menyisakan ketenangan magis yang seolah sengaja diciptakan hanya untuk mereka berdua.
“Kamu melamun lagi, Indira. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya James memecah lamunan. Pria itu menoleh, menatap Indira dengan sorot mata penuh perhatian yang selalu mampu membuat Indira merasa menjadi satu-satunya wanita paling aman di muka bumi.
Indira menggeleng pelan, meneguk sedikit cokelat panasnya yang menyisakan rasa manis di lidah. “Tidak ada apa-apa, James. Aku hanya, merasa sangat bersyukur. Terkadang semuanya terasa begitu indah, hingga aku takut ini semua hanya mimpi.”
James menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menghadap penuh ke arah Indira. Angin malam sempat meniup helai rambut hitam Indira, dan dengan gerakan yang sangat lembut, James mengulurkan tangan untuk menyelipkan helai rambut itu ke belakang telinga wanita tersebut. Jemarinya sempat singgah sejenak di pipi Indira, mengelusnya dengan kelembutan yang membuat napas Indira tertahan seketika.
“Ini bukan mimpi, Indira. Ini nyata, dan aku akan pastikan hari-hari seperti ini tidak akan pernah berubah,” ucap James dengan suara yang begitu rendah, tegas, sarat akan emosi yang tulus. Ada kesungguhan yang luar biasa di dalam sepasang mata itu, membuat Indira merasa bahwa masa depan adalah sebuah tempat yang sangat menyenangkan untuk dinantikan.
Mereka melanjutkan jalan-jalan kecil itu hingga tiba di sebuah bangku taman kayu yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Bulan sabit menggantung sempurna di langit malam, memantulkan cahaya perak di atas permukaan air yang bergelombang tenang. Indira duduk di sebelah James, menikmati keheningan yang nyaman. Tidak perlu ada kata-kata yang diucapkan untuk mengisi ruang di antara mereka, kehadiran masing-masing sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan segalanya.
Indira merebahkan sedikit kepalanya di bahu bidang James. Pria itu langsung merangkul pundak Indira, menariknya lebih dekat ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Bau parfum beraroma citrus dan kayu cendana yang khas dari tubuh James menguar di indra penciuman Indira, memberikan rasa damai yang teramat sangat. Di dalam dekap itu, Indira merasa seluruh beban hidup, segala lelah mengurus galeri seni kecilnya, dan penat dari rutinitas seakan menguap begitu saja.
Bagi Indira, James bukan sekadar kekasih. Pria itu adalah rumah tempat ia pulang, pelabuhan paling aman setelah lelah mengarungi luasnya samudra kehidupan. Tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam benak Indira bahwa kebahagiaan sempurna ini memiliki batas waktu. Ia menikmati setiap detik, setiap tarikan napas, dan setiap debar jantung yang menyatu di dalam keheningan malam itu.
Di balik dekapan hangat yang terasa begitu abadi, waktu terus berputar tanpa henti. Alam semesta seolah sedang menyiapkan babak baru yang sama sekali tidak terduga di balik tirai kegelapan malam.
Tanpa sepengetahuan Indira, ponsel yang berada di dalam saku mantel James tiba-tiba bergetar pelan. Getaran itu begitu samar, hampir tenggelam di bawah suara deburan ombak pantai. James, yang semula tengah memejamkan mata menikmati momen kedamaian bersama Indira, mendadak menegakkan punggungnya. Gerakan itu begitu cepat, cukup membuat Indira mendongak dengan alis bertaut heran.
James merogoh saku mantelnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih merangkul Indira. Layar ponsel yang menyala terang di tengah kegelapan malam memantulkan cahaya putih ke wajah James. Seketika itu juga, senyuman hangat yang sedari tadi menghiasi bibir pria tersebut meluntur, lenyap tak bersisa dalam hitungan detik.