“Let
me out!”
Wanita itu menjerit sejak 15 menit yang lalu tanpa henti. Ia terus memukul
pintu besi yang menguncinya di dalam sana dengan brutal hingga kulit tangannya
memerah dan mengeluarkan darah.
“Open
this fucking door! I am not crazy! I am not–“ Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke
lantai. Sepertinya tubuhnya sudah mulai lelah. Kemudian ia mulai mengacak
rambutnya kasar dan menangis di dalam ruangan itu.
“Aggrh!”
“Please
... someone.”
Nada suaranya melemah dan suara isak tangisnya lebih mendominasi. Ruangan itu
menjadi lebih senyap.
Sementara
dua petugas yang menatapnya di belakang layar CCTV mulai merasa iba.
“Dia
Zaylee Walther, bukan?” tanya salah satunya.
Pria
lain mengangguk. “Ayahnya memasukkannya ke rumah sakit ini karena dia ditemukan
mengonsumsi narkoba dan berselingkuh dari tunangannya sehari sebelum pernikahan
mereka. Sangat disayangkan, padahal dia akan menjadi penerus Tuan Vornedio
Walther, pria paling kaya di kota ini.”
Mereka
kembali menatap ke layar CCTV untuk melihat wajah wanita itu yang begitu kacau.
Zaylee
Walther, seorang wanita yang digadang akan menjadi the next
billionaire dan menggantikan posisi ayahnya sebagai pemilik sah perusahaan
Walther, kini terjebak di rumah sakit rehabilitas dengan keamanan super ketat
yang terisolasi di ujung kota. Dua orang itu mencoba menerka apa sebenarnya
yang terjadi sehingga wanita cantik yang sering tersorot media itu kini
terjebak di tempat seperti ini?
***
Beberapa
bulan sebelumnya. Angin dingin menyapa kulit pucat wanita yang mengenakan dress
putih menjuntai ke tanah saat ia turun dari tangga kecil yang berada di taman.
Di mana cahaya dari lampu malam menyentuh wajahnya yang indah, bahkan membuat make-up
tipisnya terlihat lebih jelas. Lalu senyum di bibir tipis merah mudanya
mengembang seperti bulan sabit di atas sana. Sementara anak poninya terjatuh di
samping pipi seperti ombak di lautan. Ia terlihat bak dewi hingga membuat semua
mata yang berada di sana terpesona oleh kecantikannya.
Suara
musik mengalun lembut mengiringi tiap langkah kaki yang mengenakan heels
berwarna perak yang berkilauan. Bola matanya yang berwarna biru itu bersinar
menatap tubuh pria yang telah menunggunya di bawah tangga dengan jas hitam rapi
di mana bunga mawar putih terselip di kantong bajunya. Rambut hitam yang ditata
rapi sangat cocok dengan wajahnya. Alisnya yang hitam tebal membuat tatapan
matanya menjadi begitu menenggelamkan.
Dia
adalah David Watson, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
“Zaylee,
jangan terlalu banyak tersenyum. Kau harus tetap menjaga ekspresimu.” Wanita
yang berdiri di sampingnya mengangkat dagu Zaylee, agar ia tidak terlalu
terpesona. Bagaimana pun juga ia adalah putri dari Vornedio Walther.
Zaylee
Walther namanya. Penyandang marga Walther, sebuah keluarga ternama di Amerika
Serikat dan pemilik perusahaan terbesar yang menduduki peringkat ke 2 paling
disegani. Saat ini, ayahnya–Vornedio masih menjadi pengurusnya, pria berusia 57
tahun yang sebentar lagi akan memilih untuk pensiun.
Zaylee
adalah pewaris dari keluarga Walther, ia telah dijodohkan dengan David Watson.
Perjodohan itu harus dilaksanakan sebagai penghubung bisnis keluarga juga
sebagai syarat jika Zaylee ingin menjadi penerus Vornedio.
Malam
ini adalah malam pertunangan mereka yang dirayakan oleh seluruh perusahaan di
bawah naungan Walther. Namun, ada sesuatu yang berdesir hangat di hati Zaylee
saat menyadari tatapan David ternyata tidak tertuju padanya sepenuhnya. Ia
melirik ke arah Zoe, adik kandungnya yang kini berjalan di belakang. Tatapan
mata pria itu bersinar dan senyumnya mengembang, tapi bukan untuk dirinya.
Ia
mendekat ke arah David dan mencoba membangun hubungan di depan semua orang yang
hadir. Bagaimana pun juga mereka akan menikah. David akan menjadi miliknya,
begitu juga dengan perusahaan Walther. Ia tidak perlu bersedih, bukan?
“Kau
terlihat cantik, Zaylee,” puji David.
Zaylee
mencoba menelusuri kalimat barusan. Menatap bola mata cokelat pria di
hadapannya. Ia berharap kalimat itu ke luar dengan jujur, tapi ia hanya
menemukan ruang kosong di dalamnya. Ia menghibur dirinya sekali lagi.
“Thank
you.”
Jawaban itu sekilas terdengar lebih serak dari yang ia duga.
Upacara
pertunangannya akan dimulai. Semua orang mulai berkumpul dan membuat sedikit
kerumunan. Suara musik pun mengalun lebih teduh dan romantis.
Lalu
David mulai berlutut di hadapan Zaylee sambil mengangkat cincin berlian yang
berkilau di bawah lampu malam. Berlian khusus yang dibuat untuk pertunangan itu
yang harganya mencapai 90.000 dollar. Harga yang cukup fantastis hingga
semua mata menatap iri dengan ke dua pasangan istimewa itu. Cincin berlian yang
dibalut mewah dengan kotak berwarna hitam elegan.
“Zaylee,
will you marry me and be my wife for the rest of my life?” Suaranya mengaung lembut dan manis.
Sekilas ia terlihat seperti pria yang begitu memikat. Hingga berhasil membuat
Zaylee benar-benar akan terjatuh ke dalam pelukannya.
Zaylee
mengangguk. “Yes, I will.”
Ada
sesuatu yang berdesir hangat di dalam hatinya. Ia bahagia, tentu saja telah
memenuhi permintaan sang ayah untuk terakhir kalinya. Setelah pernikahan mereka
berlangsung, Zaylee akan resmi menjadi pewaris mutlak dari Walther Company.
Ia akan bahagia bersama dengan David sebagai suaminya, lalu ia akan melahirkan
anak-anak yang cantik dan tampan. Serta akan bermain di halaman mansion mereka.
Masa depan yang ia bayangkan sekilas begitu menjanjikan.
Perlahan
David berdiri dan menarik jari manis Zaylee sambil memasangkan cincin itu.
Zaylee yang terlalu terpaku dengan benda bulat indah dan melingkar di jari
manisnya seketika teralihkan. Saat ia mulai menyadari, sekali lagi tatapan
David berpaling darinya.
Suara
tepuk tangan meriah memecahkan keheningan itu. Semua orang berdatangan
mengucapkan selamat untuk mereka berdua. Lalu Zoe memeluknya dari belakang.
“Selamat,
Zaylee. Aku turut bahagia. Akhirnya kau akan menikah. Ah, aku pasti akan sangat
merindukanmu nanti.”
Zaylee
tersenyum. Merasa sikapnya tidak pantas untuk cemburu pada adiknya sendiri.
Jadi Zaylee mencoba membuang pikiran negatif yang masih terus berkeliaran di
kepalanya.
“Zaylee,
bisa kemari sebentar?” Zaylee menoleh ke arah ayahnya. Mencoba bergabung dan
menyapa para tamu, pria itu memperkenalkannya dengan beberapa rekan bisnis yang
belum pernah ia temui sebelumnya. Misalnya Dawson, pria yang mengelola
perusahaan berlian di Inggris, lalu Margaret, wanita yang dijuluki the
mother of fashion. Mereka akan bekerja sama dengannya membangun perusahaan
Walther ke depan, jadi Zaylee harus membuat hubungan baik dengan mereka semua.
Setelah
perbincangan itu selesai, Zaylee berniat kembali pada David, tapi langkah
kakinya terhenti saat menatap pria itu dengan Zoe terlihat begitu akrab.
Mereka
tertawa bersama, saling melempar tatapan yang entah mungkin sekilas terlihat
lebih dalam dari tatapan orang biasanya. Zaylee meneguk ludahnya kasar, ia
tidak ingin cemburu, seharusnya ia tidak boleh cemburu, tapi hatinya tidak bisa
dibohongi ada rasa sakit yang menjalar di sana.
Zaylee
menarik napasnya kasar dan berjalan ke arah minuman dan meraih segelas anggur.
Ini adalah malam pertunangannya. Mereka akan menikah. Apa lagi yang harus ia
khawatirkan saat David akan resmi menjadi miliknya?
Ia
terlalu meremehkan hubungan mereka. Ia juga terlalu meremehkan tanda yang
diberikan oleh alam untuknya.