Wajah Rayna berseri penuh bahagia. Senyum tak henti menghiasi bibirnya setiap kali matanya menyapu pernak-pernik pernikahan yang tertata di kamarnya. Besok adalah hari besar, hari pernikahannya.
Jam menunjukkan pukul 00.15 WIB. Tapi, Rayna belum mengantuk. Jantungnya berdebar, pikirannya sibuk membayangkan hari esok. Ia akan menikah dengan pria yang sudah empat tahun ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Ia duduk di lantai, merapikan foto, kartu ucapan, dan hadiah dari teman-teman yang tak bisa hadir. Matanya mulai berat, tapi senyumnya belum hilang.
Rayna lalu beranjak ke tempat tidur, menarik selimut, dan menatap langit-langit kamar sebentar. Hatinya penuh harap. Dengan senyum yang masih mengembang.
“Ya Tuhan, aku tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Di mana akhirnya aku akan menjadi seorang istri. Semoga Engkau memberikan kami kemudahan. Aamiin.” Doa Rayna lirih sebelum akhirnya mulai memejamkan mata.
Namun, matanya kembali terbuka saat terdengar suara ketukan pada jendela kamarnya.
Tok! Tok!
“Ray, buka. Ini aku!” Suara seorang pria terdengar, setengah berbisik.
Rayna terkejut. Ia sangat kenal dengan suara itu. Dengan cepat, ia menyibak selimut, bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Rayna membuka gorden dan benar saja, dugaan Rayna tepat. Pelakunya adalah Revandra, kekasihnya.
“Eh, Andra, kamu? Kenapa ke sini?” bisik Rayna sambil celingukan, lalu membuka jendela.
Tanpa menjawab, Andra langsung masuk ke kamar lewat jendela. Rayna terlihat gugup. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah pintu. Ia takut kalau ayahnya tiba-tiba masuk dan melihat Andra yang menyelinap masuk diam-diam. Bisa habis nanti Andra babak belur! Membayangkan itu saja sudah membuat Rayna ngeri.
“Ada apa? Bagaimana kalau ada orang yang tahu kamu ke sini? Kita tidak boleh ketemu dulu sebelum menikah. Apa sebegitu gak sabarnya kamu, hm?” cercanya pelan.
Malam ini adalah malam midodareni. Kedua mempelai seharusnya tidak bertemu sebelum akad. Tapi bukan itu maksud kedatangan Andra. Ada hal lain yang ingin ia sampaikan.
Andra hanya diam. Wajahnya gelisah. Tatapannya menyiratkan begitu banyak beban berat yang sedang dipikul.
“Andra!” Rayna menggoyangkan lengan Andra yang hanya diam dengan mata menerawang.
“Sayang, bicara padaku. Kamu kenapa?”
Andra tak menjawab. Ia berjalan ke arah ranjang, menjatuhkan tubuhnya di atasnya dengan posisi terlentang, mata nyalang menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Bingung harus mulai dari mana. Dia juga takut, takut menyakiti hati Rayna. Hal itu sudah pasti.
Rayna hanya berdiri memperhatikannya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menggerayangi hatinya.
Air matanya jatuh tak terduga di sudut matanya. Andra segera menyekanya. Ia bangkit, tersenyum simpul, dan mengulurkan tangan, membimbing Rayna duduk di sampingnya.
“Ray, aku minta maaf." Akhirnya Andra angkat bicara.
Rayna menoleh dengan wajah nanar. “Maaf?” tanyanya tak mengerti. “Untuk apa?”
“Untuk semua yang telah aku lakukan kepadamu.”
Rayna tersenyum tipis, menggeleng. “Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Apa yang telah kamu lakukan?”
“Aku ….” Andra menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia benar-benar terlihat kacau malam ini. Bukankah seharusnya dia bahagia?
“Iya, kamu kenapa?” Rayna semakin bingung.
Andra menunduk lemah. “Aku tidak bisa menikah denganmu, Ray,” ucapnya lirih.
Rayna menatapnya, tidak mengerti. Seakan Andra berbicara dengan bahasa asing.
Rayna tertawa kecil. “Andra, apaan, sih? Jangan main-main. Bercanda kamu gak lucu. Gak baik loh bercanda kayak gitu. Kalau gak jadi beneran gimana? Kita tinggal menghitung jam sebelum resmi jadi suami-istri—”
Andra memotong ucapannya, “Aku serius. Aku tidak bisa meneruskan semua ini.”
Andra menatap Rayna dengan sorot penuh kepedihan.
“Maafkan aku, Ray. Aku tidak bisa menikahimu. Maaf.”
Andra menunduk, menyisir rambutnya yang kini semakin berantakan.
Bagaikan disambar petir, dalam sekejap hati Rayna hancur berkeping. Dadanya berdebar kencang. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya seketika pudar, lenyap entah ke mana.
“Kamu pasti bohong kan, Andra?” Rayna menggeleng tidak percaya.
Andra mengangkat satu tangan, membelai pipi Rayna dengan lembut dan entah kenapa itu membuat Rayna semakin terluka. Matanya sudah penuh embun.
"I love you very much, Ray. But I can't do this."
“Aku tidak siap untuk berkomitmen. Setiap kali memikirkan pernikahan, seperti ada tali kasat mata yang menjerat leherku. Aku merasa tercekik, sesak ....”
“Aku, aku.” Andra tampak putus asa, matanya berkaca-kaca.
“Kenapa, Andra? Aku salah apa?” bisik Rayna dengan suara bergetar. Ia tak mampu lagi menahan air mata yang kini mengalir deras.
Andra menggeleng cepat. “Tidak, kamu tidak salah. Di sini, aku yang salah. Aku terlalu bajingan. Aku tidak bisa bersyukur atas apa yang aku miliki. Aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak berlari. Aku merasa dipenjara saat sampai di satu titik. Tapi makin aku tahan, rasa itu malah makin kuat.”
“Kalau memang sesulit itu untukmu, kenapa kamu melamarku?” tanya Rayna putus asa.
Andra tergugu, kalut. “Aku tidak bisa menolak saat Ayah memintaku menikahimu. Kita sudah pacaran empat tahun. Tentu saja yang selanjutnya adalah menikah, bukan? Tapi ternyata, tidak semudah itu. Aku belum siap. Dengan mencintaimu saja itu enggak cukup. Aku belum siap untuk menikah. Aku baru sadar, masih banyak hal yang ingin aku raih. Masih banyak mimpi yang ingin aku wujudkan. Dan menikah bukan salah satunya.”
Andra menatap Rayna sendu. “Kalau kamu menginginkan aku tetap di sini, aku akan tetap di sini untukmu, Ray."
Rayna menggeleng pelan sambil terisak. Sakit sudah pasti. Tapi Rayna mengerti. Ia tahu Andra mencintainya. Tapi cinta saja tidak cukup untuk mengorbankan impian dan kebebasannya. Rayna tidak boleh egois.
"Pergilah!” Suara Rayna pecah.
“Ray!” Andra menegang.
“Aku mengerti. Kita memiliki impian yang berbeda. Kita tidak bisa memaksakan untuk tetap bersama kalau salah satunya tidak bahagia. Untuk apa?” Tangan Rayna terkepal erat. Ia menahan emosi yang membuncah. Ingin ia tumpahkan segalanya.
Andra tak kuasa. Hatinya perih, melihat wanita yang ia cintai menangis karenanya. Tapi, hatinya yang lain, tidak bisa.
"I'm sorry, Ray. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu dan menggoreskan luka di hatimu, Ray. Pukul aku. Caci maki aku. Bila itu bisa meringankan rasa sakitmu. Maaf, aku tidak bisa menjadi laki-laki yang bisa membuatmu bahagia.”
Rayna menatapnya sendu. Seharusnya dia yang terluka. Tapi kenapa terlihat seperti Andra yang paling menderita? Ia ingin mencabik, menghajarnya habis-habisan. Tapi untuk apa?
Rayna hanya bisa menggeleng lemah. Tak tahu harus bicara apa. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa diam dan pasrah.
“Aku akan menjelaskan pada Ayah,” ucap Andra sungguh-sungguh.
Dengar cepat Rayna menggeleng. Berani sekali dia.“Tidak perlu. Aku yang akan menjelaskan pada Ayah,” jawab Rayna cepat.
“Tapi.”
“Pergilah. Dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di depan aku dan Ayah.”
“Ray!” Andra menjambak rambutnya sendiri, frustasi. “Aku janji, aku pasti kem—”
“Pergi, Andra!” sentak Rayna.
“Ray, aku—”
“Good bye, Andra. Pergilah dan semoga kita tidak pernah bertemu lagi!” Rayna memejamkan mata dengan kuat. Ia tidak sanggup melihatnya benar-benar pergi. Saat matanya terpejam, seakan sebuah layar tak terlihat muncul. Menayangkan semua kenangan mereka. Begitu banyak kenangan indah yang membuat air mata Rayna terus mengalir.
Andra bimbang. Hatinya sakit. Tapi ini keputusannya. Ia merengkuh Rayna mesra, untuk terakhir kalinya. Tapi justru itu makin menyakitkan. Air matanya jatuh, tersedu di pundak Rayna. Nafasnya tersengal pilu. Rayna hanya diam. Membeku. Rasa sakitnya sama. Bahkan mungkin lebih.
"Maaf,” kata terakhir yang dibisikkan Andra tepat di telinga Rayna sebelum tubuhnya benar-benar menjauh.
Butuh dua hati untuk saling jatuh cinta. Tapi hanya cukup satu hati untuk membuat cinta itu menjadi luka.
Rayna membuka mata, dan Andra sudah tidak ada. Ia menangis dalam diam. Tubuhnya lemas, tak berdaya. Ia jatuh terduduk di lantai, dengan tatapan hampa. Tangisnya pecah tak tertahan. Semua impian, harapan, satu per satu mati. Dalam semalam, Andra membawanya terbang setinggi langit. Lalu menjatuhkannya jauh ke lembah berduri.